THE LAST

THE LAST
Jalan terbaik (Spoiler)



"Semua telah berakhir tak mungkin bisa dipertahankan"


Suara deru mobil memasuki kawasan mansion keluargaku. Aku yang sudah menunggunya sejak tadipun segera berdiri menyambutnya. Seorang pria keluar dari mobil itu, aku pun segera menghampirinya. Terlihat ia tersenyum lalu melepas kacamata hitamnya. Akupun membalas senyumnya. Pria itu Alex pria yang sudah 2 tahun ini menjadi kekasih ku. Jujur aku agak takut ini kali pertama ia datang kerumah. Aku hanya takut dengan beberapa kemungkinan meski ia selalu berusaha memintaku untuk menepis setiap kemungkinan itu tapi tetap saja.


"Sudah lama menunggu?" Tanyanya padaku.


Aku mengangguk, "Al, kamu yakin?" Tanyaku balik.


Ia hanya mengangguk tanpa beralih menatapku, tapi entah kenapa setiap melihat matanya aku malah semakin merasa takut.


"Tapi Al..."


"Kita coba, hem?" Potongnya meyakinkanku dan mengenggam tanganku lalu menuju pintu utama.


Kami berjalan menuju ruang keluarga kulihat Daddy dan Mommy tengah menonton siaran televisi. Ya, kebetulan hari ini memang hari libur jadi semua berada di rumah.


"Dad, Mom" panggilku yang berhasil membuat mereka mengalihkan atensinya pada kami


"Selamat siang om, tante, saya Alex temennya Sheila" sapa Alex sopan.


"Siang, kamu gak bilang sayang kalau teman kamu mau kesini, saya Resha mommynya Sheila dan ini Davin daddynya Sheila" kata mommy sambil menyalami Alex lalu diikuti Daddy.


"Duduk nak Alex" Daddy mempersilakan Alex untuk duduk.


"Kamu temen kuliahnya Sheila?" Tanya Daddy sekilas kudengar saat aku pamit untuk mengambil minuman.


"Hanya luka jika kita bersama, karena jalan ini memang berbeda"


"Sheila" panggil Daddy ketika aku baru saja kembali setelah mengantar Alex keluar.


"Ada apa Dad?" Tanyaku.


"Duduk" serunya akupun menurut dan duduk disamping Mommy yang tersenyum dan membelai rambutku.


Perasaanku tak enak.


"Jadi pemuda itu pacar kamu?" Tanya Daddy.


Akupun tersenyum, lalu mengangguk mengiyakan.


Bagaimana Daddy bisa tahu apa Alex sudah memberi tahunya.


Ahh, kenapa aku harus meninggalkan mereka berdua, dan ketinggalan berita penting ini?


Terlihat Daddy menghela nafas, jujur aku takut melihat reaksinya ini. Aku belum siap jika...


"Dan dia Nasrani?" Lanjutnya membuatku menatapnya kaget.


"Bagaimana Daddy bisa tahu?" Tanyaku heran.


"Menurut kamu, siapa lagi yang akan menggunakan kalung salib" ujar Daddy tanpa melihatku.


Aku hanya terdiam mendengar ucapan Daddy yang terkesan datar itu.


"Jauhi dia" serunya yang kembali membuatku menatapnya tak terima.


"Dad..."


"Daddy bisa mengerti kalau itu butuh waktu, tapi segera jauhi dia sebelum semua terlambat"


Air mataku sudah meluncur begitu saja, "Daddy, whats wrong?"


Kali ini Daddy menatapku, " Kamu belum tahu kalau kalian itu berbeda?"


Aku menunduk rasanya hatiku begitu hancur sekarang. Aku tak menyalahkan pendapat Daddy karena itu memang 100% benar. Kita berbeda. Dan sudah sejak awal aku mengetahuinya namun aku tetap menyangkalnya. Alex terlalu berarti untukku, dan tak bisa kupungkiri. Aku mencintainya.


"Karena sampai kapanpun jalan kalian gak akan pernah sama, jika kalian masih di keyakinan masing-masing.


Daddy tahu mungkin kalian memang saling mencintai tapi, ada beberapa perbedaan yang gak bisa disatuin.


Kamu harus inget beberapa hal, Tuhan memang satu, tapi keyakinan kalian yang berbeda dan menyatukan dua adat dan keyakinan yang berbeda itu lebih sulit, dari kamu melupakannya.


Karena kalau kalian semakin berada jauh disana, maka itu akan semakin sulit. Sebaiknya kamu belajar mencintai seseorang, setelah kamu mencintai Tuhanmu" Terang Daddy lalu pergi berlalu.


Aku menundukkan wajahku dalam tak berani menatap mommy yang kini memelukku, rasanya sekarang aku hanya menginginkan pelukan mommy hatiku benar-benar hancur, aku tahu situasi seperti ini pasti akan datang. Dan kenapa harus hari ini.


Inilah yang aku takutkan.


Ya, aku dan Alex memang terbentur tembok tebal yang disebut keyakinan.


Aku muslim, sementara Alex Nasrani.


Sejak awal aku memang ragu dengan hubungan kami, tapi ia selalu meyakinkannya. Karena siapapun pasti tak akan bisa memilih dengan siapa ia akan jatuh cinta.


Dan ya, aku tak bisa menolak pesona yang dia berikan.


Alex terlalu lembut memperlakukanku, ia selalu menghormatiku, dia tak pernah mengucap kata kasar dan ia selalu membuatku menjadi wanita yang begitu spesial.


Dan hari ini...


"Semua yang terjadi tak akan kembali, jalan kita memang berbeda. Namun hati ini tak ingin kembali"


Sore ini aku memang sedang berada di kantornya. Ada hal penting yang harus aku bicarakan bersamanya.


Aku menggeser laptop yang menunjukkan artikel tentang hubungan beda keyakinan yang beberapa saat lalu kubaca padanya. Terlihat ia juga membacanya. Aku menghembuskan nafas dan beranjak menatap keramaian Jakarta sore itu dari balik jendela besar di kantor Alex.


"Sayang, apa terjadi sesuatu?" Tanyanya sepertinya ia memang selalu peka denganku.


Aku yakin sekarang ia sedang khawatir melihatku.


Aku menghela dan menghembuskan nafas kasar berusaha meyakinkan diriku sendiri.


"Mari kita berakhir" kataku tanpa berbalik aku tak siap melihat kekecewaan darinya.


"Why? Aku ada salah sama kamu?"


Aku menggeleng mencoba sekuat tenaga menahan tangisku.


Sampai kurasakan sepasang tangan kekar memelukku dari belakang, dapat kuhirup aroma maskulin ini aroma kesukaanku, aroma yang pasti akan selalu kurindukan.


"Aku ada salah sama kamu?" lirih Alex lagi yang kini menyimpan kepalanya dibahu kiriku.


"Jangan seperti ini" Aku mencoba melepas pelukannya namun ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku gak suka, kamu ngomong kayak gitu" ujarnya.


Aku berbalik menghadapnya sempurna.


"Maaf Al, tapi aku serius" kataku.


"Kenapa, ? Apa karena perbedaan kita?"


"Alex, sampai kapanpun kita gak akan bisa, kamu gak mungkin mengikuti aku dan akupun tidak akan bisa untuk mengikuti kamu"


Ia menatapku nanar, dapat kulihat matanya berkaca.


Maafkan aku Alex.


"Apa keseriusan dan perhatian aku selama ini tidak cukup untuk kamu?"


Aku menggeleng, "Kamu udah selalu jadi yang terbaik buat aku, selalu.


Tapi, lebih baik jika kita berjalan masing-masing ada beberapa hal yang gak bisa kita satuin, dan jujur aku lebih mencintai Tuhan aku"


"Sheil, segini aja? Segini aja setelah semua yang kita lalui, tiga tahun Sheila itu bukan waktu yang singkat"


"Maaf Al, tapi tolong hargai keputusan aku"


Terlihat ia mengacak rambutnya frustasi, "Aku akan bawa orang tua aku buat lamar kamu"


"Itu tidak mungkin..."


"Sheila, kita gak bisa berakhir gitu aja"


"Dan kita juga tak mungkin bersatu jika kita masih di keyakinan masing-masing"


Terlihat ia mendudukkan dirinya di sofa sambil menopang kepalanya dengan kedua tangannya.


"Kenapa kita harus seperti ini" lirihnya yang masih dapat kudengar.


Aku hanya terdiam menatap keluar jendela yang sudah mulai menggelap, tanpa terasa air mataku kembali menetes. Buru- buru aku menghapusnya aku tak ingin menangis di depan Alex setidaknya agar ini segera selesai dan tak begitu menyakitinya karena tangisanku.


Akupun ikut duduk disampingnya dan meraih wajahnya, aku mengusap rahangnya yang begitu tegas, mengusap dahinya yang berkerut agar kembali seperti semula, dan terakhir aku meraih bandul salib yang selalu terlingkar dilehernya aku mengusapnya kembali rasanya begitu sesak seperti ada sesuatu yang besar telah hilang begitu saja dari hidupku.


Alex mengambil kembali salib yang sedari tadi kupegang lalu memasukkannya kembali kedalam bajunya.


Aku mencoba tersenyum manis padanya "Setelah ini, aku ingin kau tetap jadi CEO yang keren jadi idola gadis-gadis, hem?" kataku mencoba melucu meski pada kenyataannya ia tak tersenyum sedikitpun.


Aku merapikan jasnya dan kembali tertawa hambar "Tetap jadi Tuan Alexander yang penuh kharisma, berwibawa, menyenangkan dan... kamu harus segera nemuin orang yang pantes buat kamu"


Ia masih tak bergeming hanya menatapku sendu.


"Aku pamit ya, jaga kesehatan !"


Karena ia tak berucap apapun akupun mengambil tasku hendak berlalu. Namun tangannya menarikku membuatku membentur dadanya dan memelukku.


Aku hendak melepaskan pelukannya, tapi ia semakin erat memelukku.


"Sebentar saja, kumohon" lirihnya yang membuatku terdiam namun tak membalas pelukannya.


Bagaimanapun aku tahu, ini mungkin akan jadi pertemuan yang terakhir.


Selamat tinggal Alex.


Selamat tinggal kenangan kita.


"Kuyakin kita akan bahagia tanpa harus selalu bersama, tak perlu disesali, tak usah ditangisi.


Kuyakin ini jalan terbaik, walau kita tak lagi berdua tak perlu disesali, tak usah ditangisi."