THE LAST

THE LAST
HARU



"Sheila are you okay, masih ada yang sakit?" Tanya Raisa yang baru saja memasuki ruang rawat Sheila dibelakangnya ada Reza yang pelipisnya terlihat lebam.


Sheila tersenyum melihat Raisa yang terlihat begitu khawatir, "Aku sudah baik hanya sedikit nyeri di bahu."


Raisa bernafas lega, "Syukurlah, aku benar-benar tak tenang memikirkannya."


"Hon?" Panggil Reza mengalihkan atensi Sheila.


"Sebenarnya siapa orang-orang sialan itu ?" Tanyanya kesal.


Sheila sedikit menerawang, "Aku tak yakin tapi mereka membawaku setelah aku bertemu seseorang dan Alex..." Sheila menjeda kalimatnya dan menatap Reza.


"Bagaimana keadaan Alex, apa dia baik-baik saja?"


"Dia tak kenapa-kenapa, saat aku ke dalam dia dan rekannya sudah berhasil melumpuhkan para penjahat itu."


Sheila terlihat menghembuskan nafas lega.


Sementara Raisa mengelus lengan Sheila menguatkannya.


Sampai pintu ruangan itu dibuka secara tiba-tiba dan menyembullah seseorang yang baru saja mereka bicarakan.


Ketiganya mematung saat melihat Alex yang masih mengenakan baju seperti kemarin dengan wajah yang begitu panik serta luka-luka yang dibiarkan mengering di beberapa sudut wajahnya. Pria itu berjalan tergesa kearah Sheila dan langsung memeluk gadis itu. Reza hendak maju untuk menarik Alex namun Raisa menahannya dan mengajaknya untuk keluar.


"Maaf." Lirihnya dalam pelukan itu.


Sheila yang masih kaget dengan perlakuan yang tiba-tiba itu hanya diam tak menjawab.


Sampai Alex mengurai pelukannya dan menatap kedua netranya.


"Apa masih sakit?" Tanyanya yang hanya mendapat gelengan dari Sheila.


Gadis itu terlihat menunduk kenapa ia jadi bingung harus bersikap seperti apa pada pria itu. Sampai Alex meraih dagunya agar ia menatap mata elangnya itu.


"Kau marah?" Tanya pria itu.


Sheila menggeleng dan kembali berpaling kenapa begitu canggung untuk sekedar menatap pria itu.


Sampai Alex menggenggam kedua tangannya.


"Aku berjanji aku akan memberinya pelajaran, jika perlu aku yang akan menjebloskannya ke penjara."


Kali ini Sheila memberanikan diri untuk menatap pria itu. Ini sebuah kesalahan mereka tak seharusnya seperti ini.


"Jangan... Aku mohon."


"Why? Dia sudah mencelakaimu..."


"Tapi dia tunanganmu." Potong Sheila satu airmatanya sudah menetes begitu saja.


Ada kekosongan yang begitu terasa disudut hatinya saat mengatakan itu.


Pada kenyataannya ini tetaplah kesalahan dan itu takkan pernah bisa berubah.


"Dan dia lebih berhak untuk mendapat semua perhatianmu, sebaiknya kau belajar untuk mencintainya dan lupakan aku." Lanjut gadis itu.


Hati Alex hancur saat mendengar gadis itu memintanya untuk melupakannya. Melihat gadis itu terluka karenanya, dan lagi-lagi gadis itu menangis juga karenanya.


Tapi untuk melupakan gadis itu, hah. Rasanya itu tak akan pernah mudah untuknya.


"Sheila." Lirihnya pilu.


"Pergilah__, Jangan menggangguku lagi !"


Dan seperti petir yang menyambar ucapan itu begitu menyayat hatinya. Sebuah kalimat usiran yang diucapkan langsung oleh orang yang dicintainya.


Coba kalian bayangkan seperti apa rasanya. Bagai diksi yang tak pernah ia harapkan keluar dari mulut manis pemilik seluruh hati dan fikirannya.


Dan hari ini sebuah kosa kata yang begitu menyakitkan keluar dari dia yang selalu memiliki tempat spesial di hatinya.


"Sheila kita..."


"Lupakan tentang kita, lupakan kalau kita pernah saling mencintai karena pada akhirnya tak ada pilihan lain untuk kita selain melepaskan, aku mohon lupakan aku." Gadis itu kembali meyakinkan.


Alex menghembuskan nafas seolah tak percaya dengan kenyataan ini.


Baru beberapa saat lalu ia bisa memeluk gadis itu dan second kemudian...


Arhhh, ada apa dengan kenyataan ini?


Sampai pintu kembali dibuka secara tiba-tiba terlihat Davin dan Resha datang, istri Billionaire satu itu yang langsung menghampiri putrinya.


"Alexander, kau masih disini?" Tanya Davin yang masih berdiri di pintu ruang rawat Sheila.


Alexpun berbalik menghadap Davin yang masih berdiri dengan kedua tangannya berada didalam saku celana, "Om, ijinkan saya..."


Davin sedikit menarik sudut bibirnya, "Kau masih mencintai putriku?"


Alex menghembuskan nafas lalu menunduk, "Maafkan saya om."


"Sayangnya aku menginginkan orang yang mencintai putriku itu yang tidak meminta maaf karena dia mencintainya, kau pasti mengerti maksudku."


"Daddy." seru Sheila gadis itu sudah mengucurkan airmata dari matanya mendengar ucapan Davin yang begitu tegas itu.


Alex terdiam bagaimana bisa ia berdebat dengan pria itu yang sudah pasti ia akan kalah.


"Pulanglah, Sheila akan dirawat Mommynya."


Alex menahan lengan Davin memelas, "Om__,"


"Alexander__, jangan membuat Sheila seolah menjadi penggoda tunangan orang, saya masih menghargai kamu karena kamu mencintai anak saya tapi tolong jagalah pandangan orang terhadapnya. Sekarang pulanglah !" Davin melepaskan tangan Alex yang menahan lengannya.


Dan beberapa bodyguard yang sedari tadi di belakang Davinpun sudah bersiap membawa Alex pergi secara paksa.


"DENGARKAN PENJELASAN SAYA OM." Seru Alex saat dua bodyguard sudah berusaha menahannya dan membawanya ke luar ruangan.


"LEPASKAN.!!!" Pria itu berusaha melepaskan cekalan para bodyguard.


"INI TAK SEPERTI YANG OM PIKIRKAN,"


"SAYA TAK PERNAH MEMBUAT SHEILA MENJADI PENGGODA SAYA, SAYA MENCINTAINYA..."


"OM SAYA MOHON."


"OM DAVIN..."


Dan suara itupun kini sudah semakin menjauh. Resha sudah menenangkan Sheila yang masih menangis. Tak ada yang bisa dilakukan gadis itu sekarang melihat bagaimana Alex dengan sekuat tenaganya ingin mempertahannya meski semua itu hanyalah sia-sia.


Tak ada yang lebih kuat selain kekuatan takdir.


"Daddy akan segera urus para keparat itu." Tegas Davin.


"Tidak perlu." Sheila berucap membuat Davin dan Resha menatapnya heran.


"Sheila akan menuruti semua kemauan Daddy, tapi anda tak perlu melaporkan tunangan Alex dan tolong tutup kasus ini." Terang gadis itu tanpa menatap kedua orang tuanya.


Davin menghela nafas ia sadar sekarang putrinya itu masih begitu mencintai mantan kekasihnya itu.


Resha semakin mengeratkan pelukannya pada putri kesayangannya itu secara tak langsung putrinya itu menginginkan untuk menutup kasus penyekapannya yang bisa saja mungkin Alex akan terbawa dalam kasus ini jika sampai ke ranah hukum.


...***...


Rio menghentikan langkahnya saat mendengar ribut-ribut dari ruang rawat Sheila beberapa saat kemudian dia melihat Alex yang dikeluarkan secara paksa oleh dua bodyguard RD Group. Sementara di depan pintu Reza dan Raisa juga tengah menatap sumber keributan itu. Beberapa second Reza yang menyadari keberadaannya dan berbalik mendekatinya.


"Darimana saja?" Tanyanya langsung to the point.


"Bagaimana keadaan Sheila?" Tanya Rio yang malah balik menanyakan hal lain.


Reza mendengus, "Lihat saja sendiri ! Kau tahu kau baru saja membiarkan Alex menemui Sheila."


Rio tak menjawab dan berpaling menatap Raisa yang berada di belakang Reza, "Raisa."


"Sheila sudah sadar dia bilang hanya sedikit nyeri dibahunya." Jelas Raisa yang paham dengan panggilan Rio.


Namun seseorang tiba-tiba menarik kerah kemejanya lalu menyudutkannya ke tembok.


"JANGAN JADI PENGECUT MARIO, MASUK DAN TEMUI DIA !" Reza berucap penuh penekanan tanpa melepaskan cengkeramannya.


Sedangkan Rio hanya menatapnya datar, "Singkirkan tanganmu !" Ucapnya tanpa ekpresi berarti.


"MARIO APA KAU BODOH !" Reza semakin menyudutkan Rio membuat Raisa menahan kekasihnya itu.


"REZA CUKUP !" Bentak Raisa yang melihat Reza begitu emosi.


"TAPI BRENGSEK INI..."


"INI RUMAH SAKIT." Potong Raisa yang beberapa detik kemudian berhasil membuat Reza melepaskan cengkeramannya.


"Lihatlah brengsek sialan itu !" Umpat Reza yang melihat Rio dengan santainya hanya merapikan bajunya dan berlalu meninggalkan mereka berjalan kearah koridor yang lain tanpa berniat memasuki ruang rawat Sheila.


"Rio pasti punya urusan lain." Raisa mengajak kekasihnya itu untuk duduk kembali.


"Kau selalu membelanya." Reza melipat kedua tangannya di dada.


"Tak bisakah kau mengontrol emosimu?"


"Sayang__, brengsek itu yang bodoh, kau tahu bagaimana aku berusaha membuatnya dekat lagi dengan Sheila tapi sekarang apa yang dia lakukan bahkan dia sama sekali tak menyentuh pintu ruang rawat Sheila, dia tak menengok kondisinya sedikitpun apa aku salah jika aku ingin menghajarnya?"


Raisa menghembuskan nafas, melihat pria itu yang sedang emosi akan lebih sulit memberikannya pengertian apalagi jika sudah menyangkut Sheila sahabatnya.


Mau tak mau ia hanya harus berusaha untuk menenangkannya agar tak mengamuk dan membuat heboh seluruh penghuni rumah sakit.


Apa-apaan dia ini ?


Sampai pintu ruang rawat Sheila terbuka dan keluarlah Davin Regardi dengan wajah datarnya.


"Dimana Rio?" Tanyanya saat Reza dan Raisa menatapnya.


"Bre..."


"Rio sedang ada urusan om, dia baru saja pergi beberapa saat yang lalu." Potong Raisa saat Reza ingin menjawab Davin.


Gadis itu menajamkan matanya pada Reza yang hanya memutar bola matanya jengah.


"Sheila meminta untuk menutup kasus ini."


Reza dan Raisa kompak mengerutkan keningnya mendengar ucapan pria paruh baya itu.


"Aku masih tak terima dengan yang terjadi pada anakku tapi, aku tak mau menolak permintaannya apalagi aku menyadari beberapa kenyataan hari ini."


"Kenyataan apa yang Om maksud?" Tanya Reza ingin tahu.


"Dia masih mencintai Alex__," pria itu menundukkan kepalanya lalu menghembuskan nafas.


"Mereka masih saling mencintai." Lanjutnya.


"Tapi om, kita tak bisa membiarkan tunangan Alex itu bebas berkeliaran begitu saja sementara dialah dalang penyekapan Sheila." Reza mulai kesal.


Davin mengangguk pelan namun tak berucap apapun untuk menjawab argumen Reza. Ia memilih berlalu begitu saja setelah beberapa saat lalu menepuk bahu sahabat anaknya itu.


Sepertinya ia punya rencana sendiri untuk masalah ini tapi apa?


Hanya seorang Davin Regardi yang tahu.


...***...


(Mario POV)


Tak ada yang lebih menyakitkan saat kau mengkhawatirkan orang yang kau cintai tetapi orang tersebut malah mengkhawatirkan orang lain. Saat kau sudah mengusahakan semuanya dari waktu hingga perasaanmu sendiri semua akan kalah pada rasa yang sudah ditanamkan sejak awal.


Pada kenyataan ini mencintai seseorang memang harus ada yang dikorbankan termasuk kecewa.


"Mario terimakasih"


"Jangan memikirkan banyak hal."


Gadis itu tersenyum dipangkuanku aku yakin sekarang ia sedang menahan kesakitannya tapi kenapa ia masih bisa tersenyum hanya karena keputusanku menyuruh seluruh anak buahku untuk menyelamatkan Alexander.


Apa sebegitu pentingnya pria itu?


Aku membelai rambutnya, "Apa sangat sakit?" Tanyaku padanya.


"Sedikit."


Sudah jelas sakit Mario kenapa masih menanyakannya.


Manusia sehebat apapun pasti akan merasakan sakit jika bahunya dihujam tongkat kayu sebesar itu.


Tak butuh waktu lama Helikopter sampai di rooftop rumah sakit sementara staff rumah sakit sudah bersiap untuk penurunan darurat.


Aku menggenggam tangannya berusaha memberinya kekuatan saat berulangkali aku melihatnya terpejam.


Kalian tak akan bisa membayangkan bagaimana paniknya seorang Mario saat itu. Bahkan aku membuang seluruh title cool dan tenang yang selama ini selalu kugunakan di kantor dan kampus.


Yang kufikirkan saat ini hanyalah segera sampai ke IGD agar Sheila bisa segera ditangani.


"Maaf pak, sebaiknya ditunggu saja di luar agar dokter bisa segera menangani pasien." Seru seorang suster yang berhasil membuatku menghentikan langkah dan membiarkan mereka membawa gadisku.


Ini menyebalkan sekali hampir dua jam tak ada yang keluar dari pintu IGD. Sebenarnya apa yang dilakukan mereka sampai selama ini.


Sampai tepat sekitar dua setengah jam seorang suster keluar dari pintu itu aku segera menghampirinya.


"Bagaimana kondisi tunanganku?" Tanyaku padanya.


Biarkan saja aku mengklaimnya sebagai tunangan bukannya besok kita juga akan segera bertunangan.


"Kondisinya sudah membaik, tapi pasien masih belum siuman karena efek obat bius, untuk selanjutnya pasien akan dibawa ke ruang perawatan, berdoalah agar pasien bisa segera siuman." Jawabnya.


Aku mengangguk sedikit lega dengan kabar yang dibawa suster itu setidaknya kondisi gadisku sudah membaik.


Aku meminta anak buahku untuk mengurus reservasi ruang rawat Sheila sementara aku memilih keluar dari rumah sakit setelah Sheila dipindahkan ke ruang perawatan. Sebelum pergi aku sudah meminta seluruh pihak rumah sakit untuk mengcover keamanan untuk gadisku aku juga menyuruh seluruh anak buahku untuk berjaga di setiap sudut rumah sakit.


Bagaimanapun aku tak ingin dia dalam bahaya lagi selama aku meninggalkannya sebentar.


Setelah semua terkoordinasi aku memasuki mobilku meninggalkan rumah sakit benar-benar aku harus menemuinya sekarang juga.