
Flashback on
Sepagi ini Davin sudah berada di kantornya di ruangannya sudah ada Edgard, Aldo, Arsen dan Reno juga di ruangan itu. Tentu saja untuk menyelidiki siapa dalang penculikan Resha.
Reno.
Ya Reno memang diundang Davin untuk datang karena ia memerlukan informasi dari teknologi telekomunikasi dari perusahaan Reno yang pasti itu sangat membantu untuk melacaknya.
Arsen.
Karena pria itu memiliki banyak kenalan dan anak buah preman dari yang berharga milyaran sampai preman jalanan dan Davin memerlukan kedatangannya untuk mengetahui boss preman yang menusuk Resha yang mungkin pria itu tahu asal usul dari preman itu.
Edgard dan Aldo.
Sudah dipastikan keduanya adalah orang kepercayaan Davin terutama Aldo yang saat itu berada di tempat kejadian bersama Resha.
"Kebetulan loe udah nyampe. Gue dapat informasi baru" kata Aldo sambil menyerahkan lembaran kertas pada Davin.
Davin membaca lembaran itu.
"Orang yang nusuk Resha salah satu dari kelompok napi yang keluar setahun yang lalu yang dipenjara akibat kasus kekerasan, salah satu orang gue ada yang ngenalin dia dan dia juga termasuk preman bayaran untuk sekali misi dia dibayar tak kurang bahkan lebih dari 100 juta" Terang Arsen
Fantastis sekali.
"Dan angka ini semakin menguatkan kalau orang dari Nellon company yang ada dibalik penculikan Resha" tambah Edgard
"Dari cctv yang gue ambil alih dari seluruh sudut di lokasi kejadian, ada dua mobil yang memasuki kawasan itu dengan hak milik keduanya juga atas nama Nellon Company dan salah satunya ditumpangi Aryani farani hermawan direktur Nellon company" kali ini Reno yang berucap.
Davin mengepalkan tangannya ternyata memang benar seperti dugaannya.
Aryani dibalik semua ini.
Sekarang tinggal menanyakan kesaksian Resha.
"Apa yang harus kita lakuin? " tanya Aldo
"Edgard dan Aldo kalian urus laporan itu ke kantor polisi, aku akan menyelesaikan urusan ke Nellon Company" kata Davin lalu beralih ke arah Arsen dan Reno.
"Terimakasih untuk bantuan kalian" tambahnya sambil mengulurkan tangan pada Arsen lalu Reno.
Reno tersenyum masam, "Sepertinya gue akan tenang sekarang, seenggaknya gue bisa percayain Resha sama loe"
"Kau bisa mempercayaiku"
Reno hanya tersenyum menanggapinya.
Apa pria itu sudah merelakan Resha untuknya.?
Flashback off
...♡♡♡...
Resha duduk disalah satu kursi taman rumah sakit yang begitu lengang sore itu ia memang sudah diperbolehkan untuk keluar mencari udara segar oleh dokter. Di temani Maya yang mengambil cuti untuk merawat putrisemata wayangnya itu.
"Sha,?" Panggil Maya
"Ya ma?" Sahut Resha
"Kemarin Reno kesini" ucap Maya yang membuat Resha menatap ibunya.
"Tapi dia gak mau masuk" lanjut Maya
Resha agak terdiam "Ahh, kenapa dia gak masuk?" Tanyanya kemudian
"Gak enak sama Davin katanya, dia cuma pesen kamu harus jaga diri baik-baik "
Resha menunduk tak tahu harus berucap apa perihal itu.
"Sayang, mama ingin kalian tetap berhubungan baik, sekalipun kalian gak di takdirkan buat bersama"
Resha hanya mengangguk.
Jujur, ia memang tak tahu jika kemarin Reno datang karena waktu itu ia belum sadar. Ia juga tak menyangka pria itu juga bertemu dengan kedua orang tuanya.
Sampai datang seorang pemuda kearah mereka.
"Dave, bagaimana?" tanya Maya
"Davin udah dapetin dalangnya, tinggal kumpulin bukti lain dan kesaksian Resha" jawab Davin sambil menatap Resha yang membuat gadis itu bingung.
Terlihat Maya mengangguk, " Terimakasih, kamu udah kerja keras"
Davin tersenyum, "Bukan hanya Davin tante ada orang yang turut membantu juga, termasuk Reno"
Resha semakin tak mengerti kenapa Davin menyebutkan nama mantan kekasihnya yang dulu sempat bersitegang dengannya itu. Bahkan saat Davin mendengar nama itu sepertinya aura negatif yang ia perlihatkan.
Tapi ada apa dengan hari ini?
"Iya, kalau gitu Mama tinggal ya ada urusan bentar nanti mama kesini lagi"
Resha dan Davin mengangguk.
"Tante istirahat aja dulu di rumah dari kemarin lusa kan tante belum sempat pulang biar gantian Davin yang jagain Resha"
"Iya ma, mama pulang aja besok baru balik kesini, lagian Resha juga udah baikan kok" Sambung Resha.
Mayapun mengangguk " Yaudah kalau gitu mama pulang. Dave titip Resha ya"
"Mama bisa andelin Davin kok" jawab Davin yang menggunakan panggilan mama juga pada Maya membuat Resha menatapnya.
"Mama?" Tanya Resha begitu Maya berlalu dari mereka.
"Kenapa? Ada yang salah, aku 'kan calon menantunya?" Tanya Davin tanpa rasa berdosa.
"Lupakan, sekarang jelasin sama aku ! Apa maksud kamu soal kesaksian aku, dan bantuan Reno?" Tanya Resha.
Davin mengajak Resha duduk lalu menghadapnya sempurna.
"Aku tahu kamu dan Aldo sempat melihat siapa dalang semua ini. Dan Reno juga bantu aku buat kumpulin bukti untuk melaporkannya ke polisi" Kata Davin yang membuat Resha beralih menatap lurus.
"Aku mau kamu bersaksi sama polisi tentang dia !" Kata Davin yang membuat Resha menolehnya.
"Dave..."
"Aku mau kamu membuka siapa dalang semua ini" potong Davin.
"Mana mungkin Dave, gimanapun dia pernah..."
"Pernah jadi pacar aku" potong Davin lagi.
Resha menelan ludah sukar, dan menatap kearah lain.
"Kamu tahu kalau keselamatan kamu segalanya buat aku, dan aku gak mau Aryani atau siapapun itu nyakitin kamu"
"Gak semudah itu Dave..."
"Why? Kamu masih segan dengannya karena dia bagian dari masalalu aku? Lupakan soal itu dan... aku mau dia mendapat ganjaran dari perbuatannya"
Resha berdiri membelakangi Davin. Jujur ia benar-benar bingung sekarang.
"Dia masih mencintai kamu Dave, dan dulu kamu juga sangat mencintainya" lirihnya sambil melipat tangannya didada.
"Lantas ? Kamu ingin aku juga mencintainya lagi?"
Bagaimana mungkin ?
"Bagaimana aku bisa menyakitinya, dia juga wanita Dave. Dia wanita yang juga mencintai kamu, bahkan ia mau melakukan apapun buat kamu" tandas Resha rasanya ia sedang tak percaya diri sekarang.
Davin tak menjawab ia ingin mendengarkan apa yang ingin gadis itu katakan.
"Bukannya kamu bilang, kamu ingin berhubungan baik dengannya meskipun kalian udah putus ?"
"Seperti itu?" tanya Davin yang sudah berdiri dibelakang Resha yang kini sudah berbalik menatapnya.
"Kalau dia ngelakuin hal buruk sama kamu, apa aku juga masih harus bersikap baik padanya?"
Mulut Resha terbuka namun tak mampu berucap karena Davin sudah menguncinya dengan tatapan yang selalu menyejukkan untuknya.
"Apa aku juga masih harus bersikap baik, jika ada yang ingin merusak kebahagiaan aku. Apa aku juga masih harus bersikap baik padanya jika dia ingin menyakiti calon istriku?" Tegasnya.
"Dave bukan..."
"Aku mau kamu beri kesaksian kamu, dan jangan ada penolakan !" Potong Davin tegas.
Resha kembali melihat arah lain, masih ada sedikit keraguan di sudut hatinya. Sampai dirasakan kedua tangan menangkup wajahnya.
"Kamu masih ragu?" Tanya Davin saat mata mereka bertemu.
"Aku cuma gak mau dia semakin membenciku dan melakukan hal-hal buruk ke kamu juga" jawab Resha sambil menyentuh sudut bibir Davin yang sedikit memar karena terkena pukulan anak buah preman yang menusuk Resha tempo hari.
Davin menggenggam tangan Resha lalu mengecupnya singkat.
"Percaya sama aku, heh?"
Resha menghela nafas.
Entahlah.
...♤♤♤...
Beberapa hari kemudian.
Hari ini Resha sudah diperbolehkan untuk pulang kata dokter bekas lukanya hanya tinggal tunggu mengering saja dan hanya perlu melakukan beberapa kali check up saja.
Ia sedang menunggu orang tuanya yang sedang mengurus administrasi sambil berkemas.
"Cklekk..." terdengar pintu ruang rawat dibuka Reshapun menoleh dan terlihat Davin datang dengan senyumnya.
Resha ikut tersenyum, "Dave udah dateng? " tanyanya
Davin mengangguk, "Kamu udah siap?"
Resha mengangguk.
"Mama sama papa udah aku suruh duluan aku mau ajak kamu jalan bentar, maukan?"
Resha mengerutkan kening, "Kemana?"
"Jalan-jalan dong." Jawab Davin lalu membawa tas pakaian Resha.
"Yukk" ajaknya.
Keduanyapun keluar dari ruang perawatan.
"Dave? Kita mau kemana?" Tanya Resha begitu Davin memasuki mobil.
"Emm, Q time dong kan kamu lama banget sakitnya, tapi aku pengen ke salon dulu dandanin kamu"
"Emang aku udah gak cantik ya?" Manyun Resha yang mengenakan kacamata oval berframe bening membuatnya terlihat imut.
...Davin terkekeh lalu mengacak-acak rambut Resha gemas, "You' re always beautiful honey" katanya....
Resha mendengus.
Dasar.
...●●●...
Lamborgini merah itu memasuki areal parkir salon kecantikan dan designer fashion. Sang pengemudipun keluar dari mobil dan berlari kecil kesisi yang lain.
"Silahkan tuan putri" ucap Davin yang membuat Resha terkikik.
Keduanya memasuki salon itu.
"Akhirnya kalian datang juga" seru seorang wanita cantik yang menyambut kedua, meski usianya sudah tidak bisa dikatakan muda tapi kecantikan diwajahnya seolah tidak menggambarkan usianya.
"Kau sudah menunggu lama sepertinya?" Tanya Davin sambil berpelukan sebentar dengan orang itu lalu diikuti Resha.
"Hem, spesial untuk kalian aku menolak janji dengan klienku hari ini" jawab wanita itu sambil tertawa.
"Memang harus seperti itu" Davin menimpali.
Wanita mengangguk lalu beralih menatap Resha, "Jadi ini orangnya, tidak salah kau memilihnya so classy and very very very beautiful" pujinya pada Resha
"Terimakasih" sahut Resha.
"Perkenalkan aku Intan temennya mami Davin, tapi sepertinya aku lebih cocok menjadi kakaknya Davin" guraunya sambil menyalami Resha
Resha menyambut tangan Intan " Saya Resha"
"Calon istrinya Davin" celetuk Davin yang membuat kedua wanita itu menatapnya.
"Kan belum" sahut Resha.
"Akan honey" Davin kembali menimpali sambil mendekatkan wajahnya kearah Resha membuat gadis itu tersipu.
"Hello, haruskah aku pergi" sindir Intan yang mulai jengah dengan dua anak manusia yang sedang dimabuk cinta itu.
Davin tersenyum diikuti Resha lalu beralih ke arah Intan.
"Kau sudah siapkan apa yang aku mau?" Tanyanya.
"Hem, dan aku sudah menyiapkankannya sejak satu jam yang lalu" jawab Intan
Davin mengangguk, "Baiklah kuserahkan dia jangan sampai lecet, jangan sampai kurang sedikitpun, aku mau semua perfect, understand?"
Intan memutar bola matanya sepanjang ia mengenal Davin baru kali ini ia melihatnya begitu bawel.
"Apa kau sedang menampakkan dirimu yang lain, bawel sekali" sergahnya sambil melipat tangannya di dada.
Davin hanya tersenyum menanggapinya lalu beralih kembali ke Resha, "Aku tinggal sebentar satu jam lagi aku kesini, setelah kamu siap kita langsung berangkat"
"Kau tak ingin memberi tahuku kita akan kemana?"tanya Resha
Davin hanya kembali tersenyum lalu membelai pipi gadis itu, "Aku pergi" katanya lalu berlalu dari mereka.
"Hati-hati Mr.Billionaire" seru Intan sedikit berteriak.
"Aku akan membuat dia semakin jatuh cinta padamu" bisiknya sambil menggandeng Resha kedalam ruangan.
Reshapun hanya menurutinya meski pikirannya dipenuhi oleh banyak pertanyaan.
Menyebalkan sekali