
Edgard dan Resha berjalan memasuki lift sebelumnya Edgard menekan tombol 7.
Resha sempat meliriknya sebentar lalu menatap ke depan.
TINGGG...
Tanda lift terbuka keduanyapun langsung keluar dari lift. Sampai disana Resha tercengang melihat koridor ruang itu kanan kirinya terlihat seperti layar lcd yang seluruh sudutnya merekam semua orang yang baru saja masuk. Jadi seolah mereka melihat diri mereka sendiri didinding itu
"Masih tercengang?" Tegur Edgard yang melihat Resha belum beranjak
"Sebenarnya ini ruangan apa?" Tanya Resha balik
"Ini otak perusahaan kita, tempat dimana semua informasi tentang RDGroups ada disini, hanya beberapa orang yang bisa masuk kesini dan gue rasa loe termasuk orang itu, ayo Davin pasti sudah lama menunggu"
"Tunggu?" Tahan Resha membuat Edgard berbalik lagi
"Kalau ini otak perusahaan kenapa ia menyuruhku kemari?"
"Davin pasti punya alasan, kamu akan menemukan jawabannya setelah kau menemuinya"
Resha terlihat menatap Edgard masih bingung kenapa ia berada di tempat yang katanya otak perusahaan itu.
"Kalian masih belum mau masuk" suara yang berasal dari speaker ruangan mengagetkan mereka.
"Ed, gue bakal marah sama loe kalau loe gak segera nyuruh nona itu kemari"
Terlihat Edgard mengangguk sambil menyatukan kedua tangannya menandakan permintaan maaf.
"Dia melihat kita?" tanya Resha
Edgard mengangguk, "Hemm, jangan bikin gue kena marah karna kelamaan disini" jawab Edgard sambil berjalan mendahului Resha
Reshapun berjalan mengikuti Edgard.
Tak berapa lama mereka sampai di depan sebuah ruangan. Edgard berhenti sejenak dan berbalik menghadap Resha yang menatapnya heran.
"Masuklah ! Davin ada di dalam"
"Kau tak masuk?"
"Kau mau gue jadi baygon di dalam"
Resha hanya mendesis lalu masuk ke dalam setelah sebelumnya Edgard menyuruh Resha mengakses fitur pengenalan wajah agar pintu terbuka.
Resha masih takjub dengan ruangan itu iapun segera menyusuri koridor ruangan itu. Ia berbalik sebentar melihat Edgard yang sudah memasuki lift.
"Dave?" Ia memanggil Davin namun hening hanya terdengar langkah kaki dari sepatu yang ia kenakan.
"Davin kamu dimana?" Tanyanya namun masih belum ada jawaban sedikit merinding juga ia sekarang karna lampu yang berada diujung lorong itu sedikit lebih redup dari sebelumnya. Ia berbelok ke kiri koridor itu makin gelap.
"Kamu ada disini 'kan Dave?" Lagi-lagi tak ada jawaban. Ia mulai ragu sekarang apa ia akan meneruskan sampai ujung lorong itu atau kembali. Jujur saja ia benci kegelapan seperti ini.
Resha menghela nafas lalu menghembuskannya. Ia berjalan berbalik arah ia tak suka dipermainkan seperti ini.
Namun baru dua langkah ia berbalik seketika ruangan menjadi terang. Sedikit demi sedikit tembok yang berada disamping kanan dan kiri Resha bergerak mundur. Resha masih terheran melihat itu.
Sebenarnya tempat macam apa ini?
Belum selesai kebingungannya ia melihat ke sisi kirinya memperlihatkan seseorang yang begitu di kenalnya siapa lagi kalau bukan Davin.
"Hallo Resha, maaf membuatmu takut sebentar aku hanya ingin membuat kejutan kecil untukmu"
Terlihat Davin menjeda kalimatnya. Resha masih menunggu kelanjutannya.
"Aku tak pernah membiarkan siapapun masuk ke dalam ruangan kaca ini termasuk Edgard dan Aldo, karna aku mau suatu saat nanti ada orang spesial yang bisa ada disini. Dan itu Kamu! Karna di tempat ini di lantai Light Seven ini aku... "
Rekaman itu terhenti, Resha makin penasaran dengan itu tapi jujur jantungnya kini berdegup.
Apa sebenarnya yang ingin Davin katakan.?
"Resha Adriana" panggil seseorang yang tak lain adalah Davin
Yang dipanggilpun berbalik, terlihat Davin tersenyum kearahnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya.
Sebuah kotak cincin berwarna bening.
"Will you marry me?" Katanya serentak dengan kotak cincin yang terbuka terlihat sebuah cincin berwarna emas yang begitu indah.
Resha tak bisa mengucapkan kata-kata setelah semua kejadian yang akhir-akhir ini mereka lalui dan hari ini seorang Davin Regardi memintanya menikah dengannya.
Apa harus secepat ini?
Ia tersenyum menatap pria itu. Pria yang selalu membuatnya merasa spesial melebihi apapun, pria yang selalu membuatnya begitu diinginkan.
Dan pria yang selalu tau apa yang ia inginkan. Ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaan itu sekarang. Seorang Davin Regardi pewaris utama RDGroups serta Billionaire muda itu melamarnya.
Resha berjalan kearah pria yang masih tersenyum kearahnya rasanya ia tak pernah ingin jauh pria itu sekarang.
Sampai ia di depannya. Keduanya cekikikan karna saling menatap sedekat itu. " Kamu melamar aku?" Tanya Resha sambil sedikit mendongak karna Davin lebih tinggi darinya
"Hem, tapi aku cuma kasih kamu dua pilihan"
Davin menggeleng, membuat Resha mengerutkan keningnya.
"Terus?"
"Aku cuma mau jawaban Mau atau bersedia"
Resha mendesis pelan, " Apa itu berbeda?"
Davin menggeleng,
Resha terkekeh, "kalau aku kasih jawaban lain"
Davin menggeleng, "Aku gak nerima jawaban lain"
"Kok gitu?"
"Terserah, kalau kamu kasih jawaban lain, jangan berharap bisa keluar dari Light seven"
"Kamu ngancam aku?"
Davin bertingkah seolah berfikir, "Emang kamu mau jawab tidak?" Tanyanya terlihat sekali harap-harap cemas dari raut wajahnya.
Resha menatap kelopak mata Davin ini pertama kalinya mereka saling menatap sedekat itu.
"I will" bisik Resha lalu menunduk.
Malu rasanya.
Davin tersenyum lebar, apa kini ia sedang di alam mimpi.
Rasanya ia tak ingin bangun sekarang, karna ia benar-benar bahagia.
Ia mengambil cincin itu lalu meraih tangan Resha dan memakaikan di jari manisnya.
Resha menatap cincin yang begitu pas di jari manisnya.
Seketika lampu ruangan itu meredup seolah di luar angkasa memancarkan cahaya seperti bintang-bintang bertaburan. Resha mengedarkan pandangan ke sekitar takjub dengan teknologi di ruangan itu. Sampai Davin menangkup wajahnya dengan tangan kanannya. Ia menatap ke dalam mata itu. Selalu seperti itu ia selalu jatuh cinta dengan bola mata coklat itu.
"Terima kasih" ucap pria itu.
Resha hanya tersenyum menanggapinya. Entah kenapa akhir-akhir ini ia juga begitu menyukai pria itu.
Semuanya.
"Aku ingin minggu depan kita tunangan" kata Davin
"Secepat itu?"
"Hm, kamu tau kan kalau aku gak mau tunda ini lagi"
"Kamu minta izin sama orang tua kamu..."
"Mereka udah tau" potong Davin membuat Resha mengerutkan keningnya.
"Sebelum aku mengadakan acara perusahaan ini aku udah ngomong sama Papi dan mami kalau aku pengen lamar kamu hari ini" lanjut Davin
Lagi-lagi pria itu membuat Resha tak habis pikir sejak kapan sebenarnya ia merencanakan ini.
Ahh Daveee.. kamu selalu membuat kejutan.
"Udah berapa lama ?"tanya Resha
"Lama apanya?"
"Kamu ngerencanain ini?"
"Emm, sejak pertama kita ketemu"
"Aishh serius Davee??"
Davin terkekeh melihat gadisnya itu merengek seperti itu.
Ah menggemaskan sekali.
...♡♡♡...
Davin dan Resha keluar dari gedung utama RDGroups terlihat mereka mengobrol dan sesekali tertawa membuat beberapa karyawan wanita yang ada di sana menatap mereka iri pada Resha karna bisa sedekat itu dengan Davin bos besar mereka. Tapi apa peduli Davin pada mereka toh tak ada yang spesial dari mereka itu jika Resha ada disisinya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap kebersamaan mereka tak suka.
Jadi dia.
...♡♡♡...
Siapa sebenarnya sepasang mata itu?
Kenapa ia menatap Resha dan tak suka dengan kebersamaan mereka, apa mungkin Reno? Atau ada orang lain?
Dan sejak kapan sebenarnya Davin merencanakan itu?