
Rio dan Sheila berjalan beriringan memasuki cafe itu namun langkah Sheila terhenti saat hendak menginjakkan kaki di pintu masuk. Hal itu membuat Rio menoleh kearahnya heran.
"Kenapa berhenti?" tanya lelaki itu lalu melihat ke arah pandang gadis itu yang membuatnya seolah ikut membeku.
Dari sekian banyak tempat di kota besar ini kenapa mereka harus bertemu kembali disini.
"Tak menyangka akan bertemu disini, apa kabar pak Alex?" Rio mencoba mencairkan suasana yang begitu canggung itu ia juga memanggil Alex dengan aksen "Pak" untuk menghormatinya sebagai senior.
Alex tersenyum samar, "Panggilan itu terdengar menggelikan untukku"
"Tak pantas jika aku memanggil hanya namamu, senior" timpal Rio.
"Aishh, berhentilah berkata konyol" Alex menimpali juga keduanya seolah berusaha menghilangkan kecanggungan itu.
"Kalian mau makan?" Tanya Alex setelah menatap Sheila sekilas.
"Kebetulan kita ada kumpul sama temen-temen disini" terang Rio.
Alex hanya manggut-manggut menanggapinya, "Ah Rio, boleh aku meminjam Sheila sebentar " kata Alex yang membuat Sheila menatapnya heran.
Ada apa lagi ?
Rio terlihat menatap Sheila yang kini menatapnya juga, "Tentu saja, kalau begitu aku akan duluan masuk Sheil kau bisa menyusul kan ?"
Sheila hanya mengangguk setelah itupun Rio berlalu dari mereka setelah mendapat anggukan dari keduanya.
"Ini sebuah kejutan, gak nyangka bakal ketemu disini padahal ada ratusan cafe di kota ini" Alex mencoba membuka perbincangan saat ini keduanya sudah duduk di taman tak jauh dari cafe.
"Ini hanya kebetulan Pak Alex" kata Sheila yang menggunakan aksen "Pak".
"Aku benci panggilan itu terucap darimu" pria itu berucap tanpa menatap Sheila.
"Maaf saya hanya mencoba menghormati anda."
Alex menatap Sheil nanar, "Haruskah seperti ini? Apa kita sama sekali tak bisa... arhh Sheila kau tahu ini membuatku gila" Pria itu terlihat mengerang frustasi.
Sementara Sheila menatap ke arah lain mencoba untuk tak menjatuhkan air matanya.
"Bagaimana kabarmu? Apa kau makan dengan baik?" Tanya Alex.
Suasana hening kembali.
"Aku merindukanmu." lirih pria itu namun masih terdengar di telinga Sheila.
"Jangan seperti ini Al." gadis itu menatap Alex yang menunduk airmata sudah lolos begitu saja dari kelopak matanya.
Alex menggenggam tangan Sheila "Mari kita melanjutkannya."
Sementara Sheila menarik tangannya dan menggeleng, "Aku mohon berhentilah ! Kita tidak mungkin..."
"Aku yang akan mengikutimu jika itu yang bisa membuat Daddymu merestui kita"
Sekali lagi Sheila menggeleng, "Aku tahu ini menyakitkan, tapi aku mohon jangan berfikir seperti itu. Jangan biarkan aku seolah merebutmu dari Tuhanmu, karena aku tak akan pernah menjadi seperti itu."
Alex memejamkan matanya kuat-kuat.
Kenapa harus seperti itu nasib cintanya?
Kenapa harus ada yang dipertaruhkan?
"Pulanglah kau harus melanjutkan pekerjaanmu, dan aku juga harus menyusul teman-temanku mereka sudah menunggu"
Gadis itupun beranjak namun tangannya ditahan oleh Alex.
"Apa kau masih mencintaiku?" Tanya Alex.
Sejenak Sheila terdiam lalu mengangkat wajahnya.
"Hem, dan karena itu aku tak ingin merebutmu dari apa yang kau percayai, Maafkan aku maaf karena berusaha membenarkan apa yang seharusnya tak aku benarkan. Sungguh aku tak bermaksud." Sheilapun berlalu setelah mengucapkan itu.
Terlalu berat untuknya berlama-lama dengan lelaki itu semakin kuat ia mencoba bertahan semakin kuat juga pasti ia akan jatuh kembali.
Bolehkah ia marah sekarang?
Tapi kepada siapa ?
Kenapa garis ini terkadang terasa begitu menyesakkan?