
Sementara Sheila tak berucap apapun karena pelupuk matanya sudah penuh dengan air mata, entah kenapa rasanya begitu sesak seperti ada kerinduan yang begitu membuncah namun seperti tertahan. Jadi pria didepannya ini adalah cinta pertamanya, sungguh ia tak bisa mempercayai itu. Setelah bertahun-tahun ia berusaha untuk melupakannya kini pria itu berada didepannya dan sebentar lagi mereka akan melaksanakan pertunangan.
Apa ia siap?
Satu air mata menetes begitu saja melihat wajah pria yang kini sudah tumbuh dewasa itu. Kenapa ia tak menyadarinya dari awal. Sheilapun menyentuh rahang Rio yang begitu tegas itu. Hidungnya yang runcing serta tatapan matanya yang kini ia sadar ia begitu mengenalinya.
"Aku mencintaimu" ucap pria itu sambil mendekatkan wajahnya kewajah Sheila.
Namun saat hanya berjarak beberapa senti gadis itu berpaling. Membuat Rio membuka matanya melihat respon gadis itu.
Apa ia akan ditolak sekarang ?
"Aku belum siap." kata gadis itu tanpa menatap mata Rio.
"Aku bisa mengerti, aku tahu mungkin kau masih syok dengan ini semua." kata Rio setelah menjauhkan dirinya.
"Bisa kita pulang sekarang, aku ingin istirahat" kata Sheila.
Riopun tersenyum dan mengangguk, "Baiklah kita pulang." lalu menarik lembut gadis itu.
Ia harus bersabar sepertinya.
...****************...
Di dalam perjalanan pulang tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Sheila lebih memilih menjatuhkan atensinya pada jalanan malam dari balik jendela mobil Rio, sementara Rio hanya fokus mengemudikan mobilnya. Entah kenapa suasana jadi begitu canggung hanya untuk sekedar memulai pembicaraan. Sampai tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di depan mansion mewah milih Billionaire terkenal sekaligus Daddy Sheila Davin Regardi.
"Sheil..."
"Aku turun, berhati-hatilah." potong gadis itu lalu keluar begitu saja dari mobil Rio. membuat pria itu menahan ucapannya.
Rio berfikir sejenak lalu menghembuskan nafas kasar, kemudian kembali menjalankan mobilnya. Bahkan gadis itu langsung masuk ke rumah tanpa menoleh sedikitpun padanya.
Jujur ia benci situasi seperti ini, bukan seperti ini yang ia mau.
...****************...
Sementara disisi yang lain.
Malam ini di salah satu hotel berbintang di kota Bali tengah diadakan pertemuan dua keluarga serta beberapa kerabat dekat. Di meja paling ujung ayah dari sang pria yang akan menjadi aktor hari ini. Ya, kenapa ia disebut aktor karena malam ini ia akan menjalani perannya untuk menjalani pertunangan yang tak diinginkannya dengan putri rekan sang ayah lebih tepatnya pertunangan yang direncanakan. Bukan karena mereka saling mencintai tapi karena pengaruh keuntungan yang dijalankan oleh kedua perusahaan jika pertunangan ini terjadi. Saham Delta Corps maupun HansGroup Ent. bisa saja naik mencapai angka 98,5% setelah pertunangan dua anak pemilik perusahaan besar itu.
Delta Corps dan HansGroup Entertainment dua perusahaan besar yang memiliki banyak cabang dan relasi yang banyak di Indonesia meski masih di bawah RDGroups yang saat ini masih menjadi perusahaan nomor satu di Indonesia. Delta Corps perusahaan milik ayah Alexander Redovan sang aktor hari ini.
"Jaga sikapmu, jangan membuatku mencoretmu dari daftar ahli waris." Bisik Edward sang ayah.
Sementara Alex hanya diam tidak menanggapi ucapan sang ayah, ia terlalu malas. Setelah beberapa saat acara dimulai saat gadis cantik turun bersama seorang wanita paruh baya. Gadis itu tersenyum kepadanya dan Edward yang memang berada diujung ruangan itu.
"Lihatlah bukankah cantik sekali calon yang ayah pilihkan untukmu?" Bisik Edward lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis cantik yang sebentar lagi akan menjadi tunangan putra keduanya itu.
Alex hanya mendengus mendengar ucapan sang ayah. Ia sudah begitu jengah dengan suasana seperti ini.
Memuakkan sekali.
Vanessa Olivia aktris cantik yang sukses dengan karirnya di dunia Entertainmen menjadi artis nomor satu dengan bayaran fantastis untuk sekali penampilannya. Di bawah agensi milik sang ayah dia dinobatkan sebagai artis termahal. Selain sebagai aktris dia juga menjadi brand ambassador dari berbagai macam merk fashion maupun kosmetik terkenal.
Gadis itu terlihat tersenyum saat berhadapan dengan Alex, meski hanya wajah datar saja yang di tampilkan pria itu. Memang sudah lama gadis itu memiliki perasaan dengan Alex sampai terjadilah pertunangan ini semakin membuatnya bahagia. Ia tahu Alex memang tak mencintainya tapi ia berjanji akan selalu mengusahakannya sampai pria itu menjadi miliknya.
Terkadang mungkin segala macam cara akan digunakan untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Acara pertunanganpun selesai setelah acara tukar cincin terlaksana, beberapa tamu kerabat yang diundangpun sudah keluar dari ballroom hotel mewah itu tinggal kedua orang tua pasangan yang masih berbincang.
"Aku senang akhirnya kita bisa menjadi besan." Ucap Edward kepada ayah Vanessa.
Pria paruh baya itu mengangguk menanggapinya, "Lebih senang melihat anak-anak kita bahagia." Balasnya sambil melirik Alex dan Vanessa yang kini gadis itu sudah bergelanyut manja di lengan Alex.
Edwardpun mengangguk, "Kalau begitu sebaiknya kita istirahat mungkin besok kita bisa jalan-jalan dulu sebelum kembali ke Jakarta."
Hanspun mengangguk menyetujui dan berbalik menghadap Alex dan Vanessa, "Kalian bisa melakukan apapun asal tak melebihi batas kalian masih belum sah, mengerti."
"Papa pikir kami melakukan apa jangan memikirkan hal yang tidak-tidak." Elak gadis itu.
"Okay Pa." Seru Vanessa sementara Alex hanya tersenyum samar.
Setelah kedua orang tua mereka berlalu Alex mencoba melepaskan tangan gadis itu dari lengannya membuat Vanessa menatapnya, namun Alex lebih memilih berlalu menuju kamarnya.
Saat pria itu hendak membuka pintu kamarnya gadis itu menahannya membuat Alex menatapnya heran.
"Kita perlu bicara." Ucapnya lalu mendorong pintu kamar Alex dan mendahuluinya masuk.
Sementara Alex hanya mendengus dan ikut memasuki kamar itu, sepertinya ia juga perlu bicara dengan gadis itu.
"Kau tak setuju dengan pertunangan ini?" Tanya Vanessa yang kini membelakangi Alex.
"Kau sudah tahu jawabannya." Jawab Alex tanpa basa-basi.
Vanessa menarik sudut bibirnya sekilas, "Kau memiliki kekasih?"
Alex terdiam.
Apa ia masih bisa menyebut Sheila sebagai kekasih, tapi bukannya gadis itu sudah memutuskannya dan...
"Aku tanya sekali lagi, apa kau sudah memiliki kekasih, Alexander?" Tanya gadis itu lagi kali ini ia sudah berbalik menghadap Alex sempurna.
"Em, aku sudah memiliki kekasih." Jawab Alex.
Kembali Vanessa tersenyum, "Lalu kenapa kau menyetujui pertunangan ini?"
Kali ini Alex menatap mata Vanessa tajam, "Kau tahu apa yang dilakukan keluargamu?"
"Tentu saja." Jawab gadis itu ringan membuat Alex seperti tebakar amarah
"Kau sama piciknya dengan mereka." Desisnya.
"Bukannya dulu kau mencintaiku Alex?"
Ya, mereka memang sempat menjalin hubungan saat di bangku SMA meski tak berlangsung lama karena Vanessa yang memilih untuk kuliah di luar negeri dan meninggalkan Alex.
"Em dan aku menyesalinya sekarang."
"Ahh, kau yakin? Setelah ayahku mengambil kontrak kerja sama dengan perusahaan ayahmu yang sahamnya turun hampir 50% itu, kau baru bilang kau menyesalinya sekarang?"
Alex hanya menghembuskan nafas jengah dan berpaling dari wajah gadis itu.
Ia benar-benar muak.
Sampai dirasakannya jari-jari lentik itu menyentuh rahangnya, "Beruntung karena aku masih mencintaimu jadi ayahmu tak perlu repot-repot mencari investor untuk perusahaannya untuk menaikkan sahamnya."
"Kau pikir hanya kare..." ucapan Alex tertahan saat jari Vanessa berada di depan bibirnya.
"Tak bisakah kita memulai lagi dari awal?" Pandangan gadis itu menyendu ia tak bisa melihat Alex yang bersikap dingin seperti itu padanya.
Sedetik kemudian ia memeluk tubuh atletis itu tanpa persetujuan si empunya tak merespon bahkan tak membalas pelukannya ia tak peduli sekarang ia benar-benar merindukan prianya itu. Ya Alex nya dan selamanya akan menjadi miliknya.
"Aku merindukanmu."bisiknya di dada bidang itu.
"Omong kosong macam apa ini." Alex berbicara tanpa menatap Vanessa yang kini mengurai pelukannya saat mendengar ucapan pria itu.
"Aku tak pernah mengatakan omong kosong tentang perasaanku padamu, apa kau tau tujuh tahun ini aku tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun, dan itu karenamu."
Alex mendengus, "Bukannya kau memang tak ingin pacaran karena kau lebih mementingkan karirmu yang bisa jatuh begitu saja jika kau memiliki kekasih. Cihh, kau pikir aku akan mempercayai ucapanmu begitu saja."
Vanessa terlihat terdiam seolah memang benar apa yang dikatakan pria dihadapannya itu.
"Keluarlah Vanessa, aku benar-benar muak dengan semua ini !" Perintah Alex lalu berpaling.
"Kau berubah Alex." Lirih gadis itu sebelum ia keluar dari kamar Alex.