THE LAST

THE LAST
Teka-Teki



"Davin melamar loe?" Tanya Bagas yang baru saja masuk keruang kerja Resha.


Yang ditanyapun kaget dengan Bagas yang tiba-tiba memasuki ruangannya tanpa mengetuknya.


"Kebiasaan gak ketuk pintu dulu" kesal Resha yang masih duduk didepan laptopnya.


Bagas menghembuskan nafas lalu mengetuk pintu tanpa beralih menatap Resha, kemudian berjalan ke meja sahabatnya itu.


"Loe belum jawab pertanyaan gue?" Tanya Bagas setelah ia mendudukkan diri di depan meja Resha.


"Tau darimana?"tanya Resha balik


"Semua orang udah tau, hari ini dia ngadain konferensi pers"


Resha menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Kapan?"


"Maksud?"


Bagas mendengus sebal "Perlu gue tanyain lagi?"


Resha hanya tersipu, " Malem waktu acara perusahaan Davin kemarin, dia nyuruh aku ke Light seven"


"Light Seven?"Bagas menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.


"Katanya tempat paling rahasia di perusahaan itu, loe gak akan ngerti"


"Jadi gini sekarang?"


Resha menatap Bagas tak mengerti,


"Why?"


"Gue jadi orang terakhir yang tau kalau minggu depan sahabat gue ini mau tunangan, dan parahnya bukan dia sendiri yang ngasih tau" sungut Bagas sambil melipat tangannya di dada.


"Mian"


(*Dalam pengucapan korea yang berarti sama dengan maaf)


"Sahabat macam apa ini?" Sungut Bagas lalu berdiri membelakangi Resha.


"Ini juga tiba-tiba Gas, gue juga belum ada rencana sebelumnya"


"Terserah"


Resha tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang kadang kekanakan itu.


Ia mendekati Bagas yang berdiri  menatap jendela.


"Mian, tapi sebagai sahabat gue yang paling ngerti baik buruknya gue, loe restuin gue sama Davin 'kan?" Kata Resha sambil mendongak menatap Bagas


Bagas berbalik menghadap Resha, "Kalaupun gue gak setuju kalian juga tetep akan tunangan 'kan?" Tanya Bagas balik.


Resha tersenyum miring lalu melipat tangannya di dada, " Jadi loe gak setuju nih"


"Gue bakal jadi orang yang paling patah hati sekarang" kata Bagas sambil memasang muka miris.


"Hentikan omong kosong ini, " cibir Resha


"Loe gak bakal ngerti gimana hancurnya gue sekarang"


Resha terkekeh ia tahu sahabatnya itu tengah menggodanya, "Perlu gue cariin jodoh buat loe?"


"Terserah gue gak mau tau" rajuk Bagas sambil membuang muka yang sukses mendapat cubitan dipinggangnya.


"Bagas Narendra hentikan omong kosong ini" tekan Resha karena gemas melihat tingkah Bagas.


Bagaspun meringis sakit sambil tertawa terpingkal-pingkal ia mencoba menyingkirkan tangan Resha.


"Hentikan, hentikan, hentikan"


"Kau akan mencampakkanku?"tanya Bagas.


Resha semakin keras mencubitnya,


"Aarrhhh, oke oke oke gue diem gue diem" Bagas menyerah sambil menyatukan kedua tangannya memohon ampun.


Resha melepaskan cengkeramannya, "Gas"


"Hem?"


"Gue rasa udah saatnya juga loe buka hati lagi buat wanita, loe jangan terlalu lama mikirin dia"


"Siapa? Loe 'kan udah mau jadi milik orang?"


"Gas gue serius sekarang"


Bagas terkekeh"Iya iya"


"Jadi?" Tanya Resha


"Apa?" Tanya Bagas balik


"Tauk ah, capek gue" putus Resha sebal


Bagas tersenyum melihat sahabatnya itu kesal ia rasa sudah lama ia tak bercanda santai seperti itu dengan Resha. Jujur saja ia pasti akan merindukan saat-saat seperti ini nanti apalagi sebentar lagi ia akan segera bertunangan dengan Davin.


Hal ini membuatnya berfikir mungkin sudah saatnya ia juga membuka hati lagi untuk wanita dan berfikir untuk masa depannya. Meski ia tahu ia takkan pernah bisa melupakan dia, seseorang di masa lalunya yang entah sekarang ada dibagian bumi mana.


"Ayo kita makan siang kau mau menghabiskan waktu istirahat ini cuma buat bengong disana?" Tanya Resha tanpa menatapnya lalu berlalu keluar dari ruangan.


Bagas kembali tersenyum dan pergi mengikuti Resha yang sudah lebih dulu pergi.


...♡♡♡...


Seorang wanita dengan kemeja putih dengan belahan dada rendah serta rok hitam selutut memberika kesan seksi pada penampilannya terlihat memasuki Cafe diseberang kantor utama RDGroups. Ia memilih tempat yang menghadap kearah kantor megah yang kini dikerumuni banyak wartawan di depan pintu masuk halaman kantor tersebut. Tak berapa lama sebuah mobil lamborgini merah terlihat memasuki areal kantor.


Ia menyesap coklat hangat yang datang beberapa saat lalu, tanpa mengalihkan pandangan dari mobil yang baru saja datang. Terlihat seorang pria dengan setelan jas keluar dari pintu kemudi setelah itu mobil diambil alih oleh seseorang yang sudah siap disana. Pria itu berbincang sejenak dengan orang yang sudah berdiri di sana. Setelah beberapa saat ia berjalan dan dua orang tadi mengikuti dibelakangnya menemui wartawan yang sudah dapat diketahui menunggu Boss besar RDGroups siapa lagi jika bukan Davin Regardi.


Davin melepas kaca mata hitam yang sedari tadi dipakainya. Terlihat ia tersenyum pada wartawan.


Menawan.


Wanita itu tersenyum tipis melihat pria itu berucap dengan wartawan.


"I' m here Davin" lirihnya dan kembali menyesap minumannya.


...♡♡♡...


 "Jadwal loe hari ini tuh udah padet banget Dave, masih mau konferensi pers juga sama wartawan mau selasai jam berapa coba ?" seloroh Aldo sambil berjalan beriringan dengan Davin


"Masih ada beberapa event yang bisa mundur jadwalnya loe bisa atur 'kan"


Bossnya itu memang suka seenaknya membuat acara. Seperti hari ini ia mengajukan konferensi pers dengan wartawan alasannya karna kasihan jika mereka menunggu lama dan tak mendapat hasil apa-apa.


"Gue pastiin gak nyampe satu jam"


"Halah bullshit" umpat Aldo sambil berjalan mendahului Davin yang terkekeh melihat Aldo yang bawel itu.


"Loe akan atur itu 'kan Al ?" katanya sedikit berteriak.


"Jangan bermimpi" sahut Aldo tanpa menoleh ke Davin.


Davin sudah hafal sifat lelaki itu pasti akan menuruti kemauannya meski harus ada acara bersungut-sungut seperti itu.


"Gue tahu loe bakal atur itu" sindir Davin lalu mengikuti Aldo.


@Konferensi pers


Seluruh wartawan sudah bersiap lengkap dengan peralatannya siang ini sang Billionaire akan mengadakan konferensi pers mengenai berita perusahaannya dan dinobatkannya ia sebagai Billionaire muda termasuk kedekatannya dengan Resha.


Sebegitu besarnya pengaruh Billionaire itu di media?


Ya, dikarenakan selain status Billionaire dan karena ia juga menjadi salah satu model produk fashion pria terbarunya. Bukan karna apa-apa ia menjadi salah satu model untuk produknya tapi karena profesionalismenya dalam melakukan pekerjaan. Ia sendiri yang ingin terjun langsung menjadi salah satu model untuk fashion terbarunya.


"Selamat siang semua" sapanya begitu ia duduk di meja menghadap para wartawan ia didampingi Aldo dan seorang staff pribadinya.


"Siang" sahut para wartawan kompak


"Sebelumnya terimakasih karna kalian sudah menyempatkan waktu untuk berkumpul di tempat ini, ya mungkin bukan berkumpul tapi kita mengobrol santai saja disini, setuju?"


"Setuju.." sahut beberapa orang disana


"Sangat setuju" sahut yang lain


Davin tersenyum tipis,


"Dikarenakan bapak Davin Regardi hari ini memiliki Agenda meeting yang cukup padat kami hanya memberikan 10 pertanyaan untuk kesempatan kali ini" sambung Aldo yang diikuti oleh anggukan dari Davin.


Para wartawan terlihat berdiskusi dengan timnya ada sekitar 20an lebih wartawan dari stasiun televisi maupun majalah mingguan dan surat kabar.


Sungguh besar pengaruh Billionaire muda ini dikalangan media.


...♡♡♡...


Sementara itu di cafetaria Resha dan Bagas sedang makan siang.


"Tunggu dulu, loe belum jawab pertanyaan gue tadi ?" Tanya Resha begitu ia dan Bagas duduk disalah satu meja cafetaria.


"Apa ?" Tanya Bagas balik sambil melihat menu.


"Loe tau dari mana soal Davin ngelamar gue"


Bagas sedikit melihat Resha lalu memanggil pelayan.


"Aku pesen sirloin steak satu sama jus jeruk mbak, kamu mau apa?" Tanya Bagas.


"Tenderloin steak satu sama blueberry fest"


"Itu saja" tanya pelayan memastikan.


"Iya"jawab Resha.


"Baik, mohon ditunggu"kata pelayan lalu berlalu.


"Udah gue jawab 'kan, dia ngadain konferensi pers hari ini"


"Hari ini?"


"Hem"


Resha menatapnya sekilas, kemudian refleks melihat ke arah televisi yang ada di cafetaria itu.


"Udah tadi keles, dia gak ngomong emang sama loe?"


Resha menggeleng tanpa menjawab karena pesanan mereka sudah sampai.


"Sha" panggil Bagas sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Hm?" kali ini Resha yang memasukkn makanan ke mulutnya.


"Sebenarnya dia dimana?"


Resha menghentikan aktifitasnya dan menatap Bagas.


"Aliya?"


Bagas tak menjawab, tapi Resha sudah mengerti jika jawabannya adalah "iya".


Resha menghembuskan nafasnya, "Jadi loe belum bisa lupain dia?"


"Gue cuma ingin tau aja"


"Loe sendiri yang kemarin bilang kalau gue harus lupain Reno, tapi sekarang?"


"Gue cuma pengen tau aja gak lebih"


"Iya itu artinya loe masih peduli 'kan?"


"Lupain aja" putus Bagas dan kembali memakan makanannya.


Resha tersenyum lalu melanjutkan makannya. Tak ada pembicaraan keduanya sibuk dengan makanannya.


...♡♡♡...


Resha dan Bagas berjalan memasuki kantor sampai tiba di dekat meja Resepsionis ia melihat seorang wanita yang membuat Resha menghentikan langkahnya. Bagaspun menoleh melihat perubahan dari raut wajah Resha iapun melihat kearah pandangan gadis itu.


"Ngapain dia kemari?" Lirih Bagas.


Terlihat wanita itu berjalan ke arah mereka tanpa melepas kaca mata hitamnya.


"Hallo Resha, apa kabar?" sapa gadis itu.


...♡♡♡...


Siapa sebenarnya gadis yang datang ke kantor Resha?  Serta apa hubungan keduanya?


Apakah gadis itu orang yang sama dengan gadis yang mengamati Davin dari kafe?


Ataukah orang lain?


Sebenarnya ada masalah apalagi dengan Resha dan Davin?