
"Gue duluan ya Vi" seru Sheila sambil mengambil tasnya, sementara Via sahabat Sheila hanya tersenyum dan mengangkat dua jempolnya.
Sheilapun berjalan keluar kelas hari ini ia sudah tak ada mata kuliah dan memutuskan untuk langsung pulang saja biasanya jika ia pulang lebih awal seperti ini Alex yang selalu menjemputnya. Tapi sekarang...
Ah sudahlah.
Ia menghela nafas lalu menghembuskannya kasar.
Baru saja sampai di ujung koridor tiba-tiba tangannya dicekal seseorang dari belakang membuatnya menghentikan plangkahnya dan berbalik. Didapatinya seorang pemuda berdiri dan tersenyum padanya. Sementara Sheila hanya menampilkan wajah datarnya ia sudah kenal dia siapa.
Mario Arganta atau sering dipanggil Rio.
Mahasiswa satu angkatan dengan Sheila tapi beda kelas sekaligus sahabat dekat Reza teman kecilnya, entah kenapa akhir-akhir ini ia begitu sering bertemu dengan cowok yang menurut Sheila...
Menyebalkan itu, bukan apa-apa tapi di mata Sheila pria yang populer di kampus itu terlihat sok cool. Ya, dan Rio termasuk mahasiswa yang cukup populer terlebih lagi dia juga sudah menjadi CEO di perusahaan yang ia dirikan bersama Reza dan teman-temannya mereka sering di sebut Prince kampus. Tidak ada yang bisa berkata kalau dia tidak tampan dan sepertinya anggota genknyapun tidak ada yang kentang. Bahkan mereka memiliki fansclub sendiri di kampus itu.
Kembali ke siang itu Sheila meneliti penampilan Rio dari atas sampai bawah seolah mencari tahu kenapa pria itu bisa ada disana sementara kampusnya ada didepan gedung kampus Sheila.
"Kenapa kau ada disini, bukankah kampusmu di gedung satu?" tanyanya kemudian.
Rio tersenyum, "Kau sudah tak ada mata kuliah kan?"
"Apa sekarang pertanyaan jawabannya juga pertanyaan?"
Rio menggaruk tengkuknya yang tak gatal mendengar ucapan Sheila yang terkesan datar itu.
"Sebenarnya aku sengaja mencarimu" jawab Rio membuat Sheila mengerutkan keningnya tak biasanya pria itu mencarinya mereka memang saling mengenal tapi tak begitu dekat itupun karena Reza berteman dengannya.
"Reza tak bisa mengantarmu pulang dia harus menjemput Raisa jadi dia yang menyuruhku mengantarmu" terangnya lagi.
Terlihat Sheila mengambil ponselnya sebelumnya ia mengirimkan pesan pada Reza untuk menunggunya saat jam pulang tapi belum dapat balasan.
From : Reza
Maaf Sheila cantik, aku tak bisa menunggumu aku harus menjemput Raisa, pulanglah bersama Rio dia akan mengantarmu pulang.
Sheila mendengus, tiba-tiba ponselnya berdering tampak nama "Reza " di layar ponselnya.
"Hem?"
"..."
"Kau tak harus merepotkan orang lain jika kau tak bisa"
"..."
Terlihat Sheila memghembuskan nafas sambil mendengarkan.
"Kau ini..." sambungan panggilan terpurus
"Aishh"
"Ayo kita pulang, aku sudah capek-capek mencarimu kemari dan aku tak ingin ada penolakan" kata Rio setelah Sheila memasukkan ponselnya kedalam tas.
"Kata-katamu sudah seperti diktator saja" kesal Sheila yang kini mulai berjalan beriringan dengan Rio yang kini sudut bibirnya sedang terangkat.
"Secara tak langsung aku memang takut jalan denganmu" kata Sheila yang sukses membuat Rio menolehnya.
"Fans-fansmu itu, mereka seolah ingin menyantapku hidup-hidup" lanjut Sheila yang membuat Rio terkekeh apalagi melihat ekspresi gadis itu yang menurutnya begitu lucu.
"Aku lebih takut sama Alex jika ia tahu aku mengantarmu" kata Rio kini mereka sudah berada di dalam mobil Mercedez benz AMG G65 milik Rio itu.
Sheila menatap Rio, "Kau kenal Alex?"
Rio hanya tersenyum dan mulai menjalankan mobilnya keluar dari areal kampus.
"Kau tak berniat menjawab pertanyaanku?" tanya Sheila yang sedari tadi tak mendapat jawaban Rio soal pertanyaannya.
"Siapa yang tidak tahu CEO Delta Corps, penyumbang terbesar di kampus sekaligus MANTAN kekasih putri tunggal Billionaire Indonesia Nasheila Regardi" kata Rio sambil menekankan kata mantan.
Sheila kembali mendengus, dan menatap keluar jalanan entah kenapa ia menjadi kehilangan moodnya setelah membahas Alex.
"Tak ada yang salah dengan jatuh cinta, dan kalian juga tak salah karena saling mencintai meski ada perbedaan yang tak bisa disatukan" Rio berargumen sambil sesekali melirik Sheila yang masih menatap jalan yang kini mulai hujan.
Selalu saja hujan tak pernah kenal waktu. Dan sepertinya sekarang hujan tengah menertawakannya kenapa kisahnya bisa sedramatis itu. Memilukan.
"Sheila" panggil Rio tapi Sheila masih dengan posisinya meski ia mendengar panggilan itu.
Sampai Rio berhenti di depan rumah Sheila.
"Aku tahu ini sulit mungkin... Tapi bukankah kita akan hidup untuk masa depan..." katanya tertahan membuat Sheila menatapnya menunggu kelanjutan dari ucapan pria disampingnya itu.
"Aku tak ingin memintamu menjadi kekasihku karena aku tahu mungkin untukmu ini hal konyol dan terlalu cepat karena kita belum terlalu mengenal tapi... Bolehkah aku membantu menyembuhkan lukamu?"
Sheila terdiam mendengar ucapan Rio tak menyangka jika teman sahabat kecilnya ini memiliki perasaan dengannya.
"Mungkin ini aneh tapi aku mohon jangan block aku untuk tak menyukaimu"
Sheila menggelengkan kepalanya mencoba menyadarkan dirinya sendiri "Mario kau.. kau serius?"
"Aku tak ingin membebanimu karena perasaanku, aku hanya ingin kita bisa berteman setidaknya aku ingin menjadi seperti Reza menjadi sahabatmu, mendengar cerita-ceritamu, bahkan aku ingin kau tak segan jika saat kau butuh bantuan akulah orang yang pertama kau hubungi." Rio meraih tangan gadis disampingnya itu menggenggamnya membuat Sheila menatapnya kembali.
"Jangan selalu menampilkan wajah datarmu itu saat bertemu denganku, kau mengerti?"
Sheila menarik tangannya kasar dan berpaling "Memang wajahku seperti ini, apa yang harus aku ubah?"
Mario kembali tersenyum melihat gadis itu yang sepertinya salah tingkah.
"Aku turun, berhati-hatilah" kata Sheila lalu membuka pintu mobil Rio.
Rio membuka kaca mobilnya kembali, "Makanlah yang banyak jangan menunjukkan kalau kau baru saja putus cinta"
"Aishh siapa yang kau maksud ?" Sheila protes.
Rio hanya menampilkan smirknya dan menutup kaca mobilnya kembali lalu melambaikan sebelah tangannya. Sementara gadis itu menatapnya heran. Mobil Riopun menjauh dari depan rumah Sheila.
Dasar pria aneh