
Sheila melepaskan genggaman Rio begitu mereka sampai dibasemant.
"Katakan apa yang perlu kita bicarakan !" kata Sheila.
"Hem. tapi enggak disini" kata Rio lalu menarik Sheila memasuki mobilnya.
Sheila menatap Rio yang baru saja menutup pintu mobilnya.
"Minggu depan kita akan tunangan" kata pria itu yang membuat Sheila mendelik menatapnya tak terima.
"Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak" sergah gadis itu.
"Sudah kukatakan kan dari awal kalau kita akan tunangan, lagian Daddy Davin udah ngasih restu."
Sheila menatap Rio tak mengerti bisa-bisanya pria itu.
"Aku tak mengatakam kalau aku menyetujuinya."
"Dan kau juga tak mengatakan kalau kau menolaknya."
Gadis itu ingin kembali berucap namun tertahan, seperti kehabisan kata-kata.
"Sudah kukatakan kan aku akan memberimu waktu, dan aku akan memberikan waktu itu dengan bertunangan denganku."
"Mario, apa memang seperti ini sifatmu yang sebenarnya?" tanya gadis itu membuat Rio mengerutkan kening.
"Kau ini pemaksa sekali." lanjut gadis itu yang mengerti jika pria itu tengah heran dengan ucapannya tadi.
Rio tersenyum, "Jadi kau menolaknya?"
"Aku kan bilang aku aku perlu waktu..."
"Kalau begitu secara tak langsung kau sudah menerimanya" potong Rio yang membuat Sheila memutar bola matanya kesal.
"Rio kau tahu kan kita masih kuliah?"
Pria itu mengangguk menanggapi pertanyaan Sheila, "Tapi besok aku sudah lulus."
"Jangan membual, bahkan kau itu satu angkatan dengan Reza." protes gadis itu yang ia tahu pria satu tingkat dengan Reza dan masih di semester tiga manamungkin ia akan lulus lebih dulu
"Kalau saat SMA ada program akselerasi, kuliahpun aku rasa ada, buktinya aku sudah mendapat undangan wisuda" ucap pria itu bangga.
Sheila menatapnya tak percaya.
"Percaya saja, gini-gini otakku cukup pintar, jangan kaget kalau nanti aku yang akan menyaingi gelarnya daddy Davin" kata Rio percaya diri.
"Berhentilah mengatakan omong kosong !"
"Terserah kalau tak percaya, kau lihat saja besok."
Sheila meneliti penampilan Rio,
Bagaimanamungkin bahkan ia jarang melihatnya belajar pikirnya.
"Sheila" panggil Rio membuat gadis itu menatapnya.
"Kau tak akan menolakku kan?" tanyanya tiba-tiba.
Melihat ekspresi pria itu benar-benar ingin membuat Sheila tertawa setelah tadi dengan percaya dirinya pria itu mengatakan kalau ia tak mungkin menolaknya tapi kenapa sekarang jadi kehilangan kepercayaan diri seperti ini hanya dalam waktu beberapa menit. Tanpa sadar sudut bibir gadis itu terangkat.
"Good ! Aku sudah tau jawabannya" ucap Rio tiba-tiba lalu berpaling kembali dan mengangguk-angguk seolah yakin dengan apa yang ia tahu.
"Kau ini apa-apaan?" protes Sheila.
Pria itu menoleh ke arah gadis itu, "Kau baru saja tersenyum dan aku menganggap itu sebuah jawaban"
"Berhentilah mengatakan hal yang tidak masuk akal Mario "
Sheila hanya mendengus dan menatap keluar jendela mobil Rio, manabisa ia menolak jika pria itu yang berkata.
Hanya buang-buang tenaga.
Tak butuh waktu lama mobil Rio sudah berada di areal parkir vip kantor utama EmeR Corps yang tak lain adalah kantor Rio. Sementara Sheila kini bertanya-tanya kenapa pria ajaib itu mengajaknya ke kantornya malam-malam begini. Apa dia ada pekerjaan tapi kenapa harus mengajaknya.
Dasar.
Rio membukakan pintu untuk Sheila yang kini masih diam, "Aku tak bilang aku mau diajak pergi denganmu lagian yang benar saja kau malam-malam begini mau kerja" protes gadis sambil melipat kedua tangannya.
Sementara Rio hanya tersenyum lalu menunduk agar bisa menatap wajah Sheila lalu membuka seatbeltnya membuat jarak mereka hanya tinggal beberapa senti dan hal itu sukses membuat Sheila kaget karena posisinya sedekat itu.
Setelah berhasil melepas seatbeltnya pria itu malah menatapnya beberapa saat.
Sial kenapa malah seperti ini, apa pria itu tak tahu jika gadis itu kini tengah gugup sekarang.
"Turunlah tuan putri, kau tenang saja aku tak akan bekerja sekarang" kata Rio lalu menegakkan tubuhnya.
Sheila hanya tersipu lalu keluar dari mobil itu tak bisa menatap Rio sekarang karena pasti wajahnya sudah memerah.
Apa pria itu seorang playboy?
Rio kembali tersenyum melihat gadis itu yang kini salah tingkah. Lalu menggenggam tangan Sheila dan menariknya lembut menuju ke dalam kantor.
Beberapa staff karyawan menatap mereka kaget ada yang sinis melihat Sheila dan ada yang berbisik-bisik.
Siapa dia, apa dia pacar boss ?
Kenapa boss sampai menggandengnya seperti itu.
Aku tak menyukainya. Boss terlalu tampan untuknya.
Dan masih banyak lagi semua itu berhasil membuat kuping Sheila panas namun hanya bisa menghembuskan nafas. Sementara Rio menahan langkah mereka dan berbalik membuat beberapa karyawan itu seolah sibuk dengan pekerjaannya.
"Apa aku membayar kalian semua untuk bergosip disini? Kerja ! Atau kalian mau uang pesangon lebih cepat?" Seru Rio sambil menampilkan wajah dinginnya.
Sontak semua yang berada disana terdiam dan berpura-pura menyibukkan diri. Sheila merasa menang karena Rio membelanya dan kenapa aura pria itu jadi berubah sedrastis itu saat di depan karyawannya.
Setelah semua terdiam, Riopun kembali melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya ia kembali menarik Sheila agar kembali meneruskan jalannya.
"Rio kau tak perlu marah-marah seperti itu" seru gadis itu saat mereka mulai memasuki lift.
"Mereka terlalu menyebalkan" kata pria itu tanpa menatap Sheila.
"Kau terlihat menyeramkan jika seperti itu" gerutu gadis itu.
Kini Rio menatapnya, "Apa aku menakutimu?" tanyanya.
"Aku tak pernah takut denganmu, lagian kenapa aku harus takut denganmu ?"
Rio hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum miring.
Tak berapa lama pintu lift terbuka dan mereka sampai di rooftop kantor itu. Rio masih setia menarik tangan gadis itu.
Kenapa ia mengajaknya ke rooftop?
Dia tak berniat bunuh diri kan?
"Kau tak berniat bunuh diri kan?" tanya Sheila sambil menahan langkah Rio.
Sementara pria itu tertawa mendengar pertanyaan Sheila yang sekonyol itu.
"Kau tak menjawabku?" sindir Sheila lagi
Pria itupun berbalik menghadap gadis itu sempurna, "Sebenarnya..."