
7 tahun kemudian...
"Sayang jangan lari-lari nanti jatuh loh" teriak seorang wanita yang mengejar anaknya yang berlarian di taman bermain.
"Mommy tella au itchu tepetannn mom" teriak sang anak perempuan dengan rambut dikuncir kuda dua itu sambil menunjuk penjual es krim keliling dengan sesekali menoleh ke arah mommynya.
"Iya tapi jangan lari-lari dong sayang"
Baru saja ibunya berucap anak itu terjatuh ketika ia menabrak seorang wanita yang berjalan dari sisi kirinya.
"Astaga Sheila" pekik mommynya yang melihat anaknya terduduk di tanah.
"Kamu gakpapa sayang ?" Tanya ibunya saat ia berada didepan anak bernama Sheilla itu.
"Kaki cella takit ma" keluhnya dengan muka sedih.
"Maaf mbak saya gak tahu kalau ada anak mbak tiba-tiba lari kearah saya" kata wanita yang di tabrak.
"Tidak apa-apa anak saya juga yang tidak hati- hati." Wanita itu mendongak untuk menatap wanita yang ditabrak.
"Aryani" Lirihnya saat mata mereka bertemu.
"Resha"
Keduanya sama-sama tak menyangka akan bertemu saat itu.
"Mommy, tante ini ciapa?" Tanya Sheila yang bingung dengan yang ia lihat.
Resha berpaling menatap putrinya lalu tersenyum.
"Ini temennya Mommy sayang"
Aryani berjongkok dan tersenyum pada Sheila yang masih menatapnya bingung.
"Hallo cantik nama kamu siapa?" Tanyanya.
"Nacela Regaldi tante, nama tante ciapa?"
Jadi ini putrimu Davin.
"Nama tante Aryani sayang, kamu cantik sekali seperti mommymu"
"Kamu bisa aja, ngomong- ngomong gak nyangka kita bakal ketemu disini" cecar Resha sambil menggendong si kecil Sheila.
Aryani mengangguk, " Hemm, aku baru bebas sekitar setahun yang lalu"
Resha mengangguk ada sedikit rasa tidak enak jika harus membahas itu meski bukan ia yang bersalah tetap saja perasaannya seperti itu.
"Oh iya kau akan kemana ?"
"Aku ada janji dengan temanku kebetulan ia mengajakku bertemu ditaman ini, kau sendiri tidak bersama Davin?" Tanya Aryani ketika mereka duduk di kursi taman yang tak jauh dari tempat mereka.
Resha menggeleng, "Dia masih ada kerjaan di kantor, kita baru mau kekantornya tapi Sheila minta dibelikan es krim dulu"
"Oh, gak nyangka anakmu sangat mirip dengan Davin" kata Aryani sambil mengelus puncak kepala Sheila yang asik memainkan tas mommynya.
"Mirip bandelnya" gurau Resha.
"Cella kan gak bandel mom" protes Sheila.
"Beneran gak bandel?" Tanya Aryani.
"Benelan tante cella tan tantiknya tayak mommy, pintelnya tayak Daddy ya tan mom?"
Aryani dan Resha hanya terkekeh mendengar penuturan anak berusia 5 tahun itu.
Satu lagi sifat yang diturunkan Davin narsisnya itu loh.
Benar-benar.
...****************...
Sepasang kekasih telah selesai mengucapkan janji sehidup semati. Sang wanita menatap sang pria sebaliknya sang pria menatapnya dengan penuh cinta. Sebuah kebahagiaan yang diinginkan oleh semua orang.
Pernikahan.
Meski ini adalah pernikahan kedua untuk keduanya dengan orang yang sama.
Ya, selama lebih dari sepuluh tahun akhirnya Aryani dan Virgo kembali rujuk dalam ikatan pernikahan. Setelah 10 tahun ini pria itu selalu menjadi tempat keluh kesahnya selama dalam tahanan. Dan dengan setia Virgolah yang selalu mendampinginya menjadi penyemangat utamanya. Yang membuat wanita itu sadar jika pria itulah yang benar-benar mencintainya.
Bohong jika ia berkata sudah melupakan Davin karena pada kenyataannya Davin masih menjadi bagian kecil di sudut hatinya meski sekarang dengan sepenuh hatinya ia telah berusaha untuk mengiklaskannya dengan wanita yang sekarang begitu dicintainya. Resha.
Sudah waktunya ia belajar mencintai Virgo, pria yang selalu berada disisinya selama masa-masa sulitnya.
...****************...
Seorang lelaki tengah disibukkan dengan ponselnya langkahnya cepat menyusuri setiap koridor Hotel yang baru ia tempati setahun ini.
Dan hari ini ia akan mendatangi pesta pernikahan salah satu sahabatnya
" Iya sekarang gue kesana,"
"..." terlihat ia memutar bola matanya jengah.
"Loe tinggal siapin aja apa yang gue butuhin"
"..."
Ia melirik arloji merk Dior ditangannya "Satu jam lagi gue sampai"
"..."
"Kapan gue jalannya kalau loe ngomong terus?"
"..."
Sampai terlihat seorang anak kecil yang membawa bunga datang menghampirinya.
"Om Leno" pria itupun tersenyum dan mendekati anak itu lalu berjongkok.
"Heyy si cantik sudah siap ternyata"
"Iya dong kan mau liat onty Dea"
Reno pria itupun menggendong anak kecil itu.
"Uhh gemesss" Reno mencubit pipi Sheila yang gembul itu.
"Sheila dateng-dateng minta digendong aja sih" seru seorang wanita yang tak lain adalah Resha.
Reno yang melihat Reshapun tersenyum ada Davin juga disebelahnya. Kebetulan hotel yang ditempati Reno memang sama dengan ditempati Resha dan keluarganya jadi mereka sengaja berangkat bersama.
Reno memang beberapa tahun ini tak tinggal di Indonesia karena ia memilih mengurus perusahaannya di Singapura. Lebih tepatnya ia pergi setelah Resha dan Davin menikah. Sampai setahun terakhir ini ia kembali ke Indonesia dan sudah berhubungan baik kembali dengan Resha dan keluarganya. Ia juga sudah sering bertemu Sheila karena memang Sheila dan ayah ibunya lebih sering tinggal dihotel yang Reno tempati karena Davin sedang mengurus pembangunan resort yang ada tak jauh dari hotel.
"Sumpah anak kalian pengen gue culik" sarkas Reno masih menggendong Sheila.
"Loe mau berurusan sama gue lagi kalau berurusan sama gadis kecil gue" sergah Davin.
Resha dan Reno hanya terkekeh mendengar sergahan Davin itu.
"Kalau Sheila mau sama gue rela nungguin dia" ceplos Reno yang melirik Sheila sekilas.
"Jangan membuatku ingin memukulmu tuan Meraldy"
"Udah-udah kita langsung berangkat aja bisa telat kalau kalian malah debat di sini" putus Resha menengahi perdebatan suami dan mantan kekasihnya itu.
Davin hanya mendengus dan meraih Sheila agar anak itu mau digendongnya lalu berjalan mendahului Reno dan Resha.
"Kayaknya suami kamu masih nganggep aku saingannya" bisik Reno pada Resha.
"Jangan membuat moodnya berantakan kalau kamu gak mau kena kata-kata pedasnya"
"Aku hanya senang melihatnya se posesif itu dengan kalian"
"Kau ingin berlama-lama dengannya istriku?" tegur Davin yang berhenti dan berbalik menatap Reno dan Resha yang berjalan dibelakangnya.
"Davee, jangan kayak anak kecil deh" bisik Resha sambil mendorongnya pelan agar segera berjalan.
Sementara Reno hanya menggeleng melihat sisi cemburuan suami mantan kekasihnya itu. Tanpa sadar senyum terukir diwajahnya.
Ternyata pilihanmu memang tepat.
...****************...
"Dengan ini telah sah menjadi suami istri saudara Raynald Febrian dengan saudari Dea Arinda"
Semua tamu undanganpun bertepuk tangan atas pernikahan Dea dan Ray siapa yang menyangka jika keduanya akan menikah karena yang kita tahu Dea yang sudah begitu lama menyimpan perasaannya untuk Reno sampai akhirnya waktulah yang menjawabnya. Ia sadar dan seseorang membuatnya mengerti jika cinta tak bisa begitu saja tumbuh meski selalu bersama.
Dan akhirnya Raylah pria yang berhasil mengalihkan perhatiannya dari sosok yang selalu menjadi fokus utamanya dan dengan sah hari ini mereka menyandang status suami istri.
"Ounty telamat ya" kata Sheila yang berjalan sambil memberikan bunga untuk Dea.
Deapun berjongkok agar bisa menyamai tinggi "Terimakasih cantik"Kata Dea sambik mencubit gemas pipi gembul Sheila.
"Dea" panggil Resha yang membuat Dea berdiri kembali dan berpelukan sekilas dengan Resha.
"Selamat atas pernikahan kamu, semoga kalian selalu berbahagia"
"Terimakasih Resha, aku berharap pernikahanku akan sama bahagianya dengan keluarga kecilmu" sahut Dea tanpa menghilangkan senyuman diwajahnya.
"Aku kira Reno yang akan bersanding denganmu" kata Resha sambil berbisik saat mengucapkan kalimat kedua.
"Sayangnya menurut dia aku bukan level yang bisa setara untuk menggantikanmu" Jawab Dea dambil melirik Reno yang sedang berbincang dengan Ray.
"Jangan mengatakan omong kosong ini di hari pernikahanmu hem?"
Dea hanya terkekeh, "Terimakasih Resha"
Reshapun tersenyum mengangguk.
Dan aku harap Reno juga bisa segera menemukan kebahagiannya sendiri dengan orang tepat.
Selamanya.
...----------------...
...Seseorang bisa memilih dengan siapa ia akan hidup, tapi seseorang tidak akan bisa memilih dengan siapa ia akan jatuh cinta....
...Ini bukan tentang takdir, tapi tentang realita....
...Kamu bisa mencintai seseorang...
...Tapi, kamu tak bisa memaksa orang itu agar memiliki perasaan yang sama denganmu....
...Sekuat apapun...
...Sekeras apapun itu....
...Bukan tentang yang pertama hadir, tapi tentang siapa yang bisa bertahan....
...Bukan tentang siapa yang menang, tapi tentang siapa yang mau mengalah....
...Satu hal yang nyata....
...Tak ada yang mampu melihat apa yang ada di masa depan....
...Tapi kamu mampu membuat masa depan yang baik dengan Doa dan usaha....