
Dea menghentikan mobilnya diareal apartemen yang dimaksud Resha.
Resha sudah melepas rambut palsu yang sedari tadi di pakainya.
"De, thanks ya" katanya ke Dea.
Dea hanya mengangkat jempolnya dan tersenyum.
"Jujur aku lebih suka penampilan kamu yang tadi" kata Reno
Resha hanya tersenyum miring lalu menghadap Reno "Janji kalau kamu gak akan ngulangi ini lagi"
Reno mengangguk "Aku usahain"
Reshapun mengangguk "Oke kalau gitu aku turun, hati-hati kalian" pesannya sebelum ia benar-benar keluar dari mobil itu.
"Loe gak mau gantian nyetir" tegur Dea karena Reno tak beralih menatap kepergian gadis itu.
Yang ditegurpun mendengus dan keluar dari mobil lalu mengambil alih kemudi.
"Udah deh, mau bagaimanapun dia tuh jodoh orang bukan jodoh loe"
"Tak bisakah kau tak membicarakan tentang jodoh"
Dea hanya menyeringai jahil mendengar sahabatnya yang terlihat kesal itu.
Reno mengenakan kaca mata hitamnya dan mulai menjalankan mobilnya keluar dari areal apartemen Resha.
Tak bisa seperti ini terus. Mungkin sudah saatnya ia benar-benar harus menjauh dari gadis itu dan membiarkan dia bahagia.
...♡♡♡...
Resha membuka pintu apartemennya lalu menutupnya pelan. Kembali ingatannya berputar ketika pertama kali ia bertemu dengan Reno.
Flashback on
"Ke kantin yok, laper nih gue" ajak Bagas yang baru datang dan langsung duduk diantara Raya dan Resha
" Perut mulu di gedein" sindir Alvin sambil mendrible bola basketnya
Yang disindir hanya mendengus sebal.
"Gue juga laper nih, udah di bolehin istirahat juga 'kan?" kata Raya sambil memegang perutnya
Bagas mengangguk mengiyakan.
"Kalian duluan aja ntar gue nyusul, mau ke loker bentar" ujar Resha
Keduanyapun mengangguk, dan berlalu dari Resha.
"Vin yakin gak ikut?" Tanya Raya sedikit berteriak.
Alvin melambaikan tangan kanannya menyatakan tidak tanpa berbalik lalu melempar bola basketnya ke ring.
Dan...
Tring... bolanya masuk dengan sempurna.
"Al, istirahat noh sama yang lain kompetisi kan masih 2 minggu jangan terlalu maksain" kata Resha yang sudah berdiri dipinggir lapangan.
Ia tahu betul kalau Alvin berlatih begitu keras untuk kompetisi basket antar SMA secara dialah kaptennya.
"Setengah jam lagi gue selasai kamu duluan aja" pintanya masih mendrible bola kesana kemari
"Gue gak mau tau, loe harus ada di kantin sebelum gue sampai"
Alvin menghentikan aktifitasnya sejenak lalu membentuk "O" dengan hari tangannya. Lalu melanjutkan aktifitasnya kembali.
Reshapun berlalu, menuju loker untuk mengambil ponsel pribadinya. Dari kejauhan terlihat seorang laki-laki berdiri di dekat loker miliknya. Ia adalah teman sekelasnya.
Reno?
Apa pria itu tengah menunggunya?
Ahh manamungkin.
Resha sadar ! Untuk apa juga dia menunggumu.
Ia menghembuskan nafas dan berjalan kearahnya.
Terlihat pria itu menatapnya begitu ia sampai di depannya.
"Bisakah kau bergeser aku harus mengambil sesuatu dari lokerku" tegurnya
Reno hanya tersenyum, tanpa mengalihkan pandangannya. Iapun sedikit bergeser dan tetap menghadap Resha yang kini mulai membuka lokernya. Salah tingkah juga ia diperhatikan begitu intens seperti itu.
"Apa kau sibuk sore ini?" Tanya Reno yang membuat Resha menatapnya balik
"Tidak, kenapa?"
"Kalau kau mau aku ingin mengajaknya pergi"
"Pergi?"
Reno mengangguk, "Aku punya tempat dengan view bagus buat nyunset dan aku ingin mengajakmu kesana"
Resha sedikit berfikir, belum sempat Reaha menjawab ponselnya sudab berdering.
-ALVIN-
Tampak dilayar ponsel Resha, Reno juga sempat membacanya.
Resha meminta ijin untuk mengangkatnya dan Renopun mempersilahkan.
"Hallo"
"..."
"Iya ini gue jalan"
"..."
"Bentar lagi gue sampai"
"..."
"Ntar gue pesen sendiri aja"
"..."
"Iya udah gue jalan dulu"
Kata Resha lalu menutup telfonnya
"Jadi, kau mau?" tanya Reno.
Resha mengangguk "Aku akan menemuimu nanti, sekarang aku harus pergi teman-temanku udah nungguin di kantin"
"Oke sampai jumpa nanti"
Resha hanya tersenyum, ada yang bergetar di hatinya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka sedari tadi.
Flashback off
Resha menghembuskan nafasnya, ia harus menyudahi semua kenangan ini. Untuk beberapa hal ia tahu semua kenangan dengan Reno masih tersimpan rapi di satu tempat di sudut hatinya. Meski ia tahu nalurinya takkan pernah ingin untuk kembali kesana
Ponselnya berdering membuyarkan lamunannya.
Bagas memanggil terlihat di layar ponselnya.
"Hallo"
"..."
"Di apartemen, kayaknya gue gak bisa balik ke kantor hari ini"
"..."
"Gapapa, ada hal penting tadi. Besok aja gue ceritain"
"..."
"Ok bye" putusnya lalu meletakkan ponselnya di nakas dan berlalu ke kamar mandi.
Satu jam Resha baru keluar dari kamar mandi itu memang jadi kebiasaannya jika ia punya banyak fikiran ia akan menyegarkan tubuhnya lebih lama di kamar mandi.
Setelah mengeringkan rambutnya, ia membuat coklat hangat masih dengan balutan kimononya.
Ia menyesapnya sebentar sampai terdengar bel apartmennya. Keningnya bertaut, siapa jam-jam segini bertamu. Ia seera beranjak melihat kearah kamera di samping pintu untuk melihat siapa yang datang.
Terlihat Raya dan di layar lcd kecil itu, iapun segera membukakan pintu itu. Dan masuklah Raya diikuti Bagas.
"Reshaaa lama banget sihhh" gerutunya.
"Mana gue tahu kalau kalian yang dateng" jawab Resha enteng lalu berjalan mendahului keduanya.
Raya dan Bagas berpandangan sekilas lalu mengikuti Resha yang berjalan ke arah dapur. Sementara Bagas langsung duduk di sofa ruang tengah Raya mengekor di belakang Resha
Resha tengah membuat dua gelas Coklat hangat yang sama seperti yang di buatnya tadi dan Raya masih berdiri di sampingnya tanpa berucap.
"Kalau mau ngomong, ngomong aja" ucap Resha tanpa menatap sahabatnya itu.
Ia sudah hafal betul sifat Raya yang selalu hati-hati jika ingin mengatakan sesuatu berbeda dengan Bagas yang langsung to the point jika ada yang mengganjal hatinya.
"Gue cuma pengen tahu, loe beneran abis ketemu sama Reno" tanya Raya
Resha menghentikan aktifitasnya ia sudah menebak jika Raya pasti akan menanyakan itu karna ia hanya memberi tahu Bagas soal pertemuannya dengan Reno.
"Hem, abis dari Bandara"
"Oh my God Resha loe kan udah mau tunangan, kenapa loe masih nemuin Reno bukannya loe yang bilang kalau kalian udah berakhir"
Resha berbalik bersandar di kitchen set ia menghela nafas,
"Kita emang udah berakhir Ray, dan gue juga gak pernah berniat buat balik lagi sama dia, loe juga tau kan kalau gue juga udah mau tunangan, tapi gimanapun gue gak pengen ninggalin kesan buruk buat Reno dan keluarganya, gimanapun gue masih ingin kita tetap menjalani kehidupan kita masing-masing dengan baik tanpa salah satu ada yang terpuruk, gue masih ingin Reno menjalani hidupnya seperti biasanya."
"Davin tau?"
Resha menggeleng,
"Itu yang akan jadi masalah kalau sampai dia tau dari orang lain bukan dari loe sendiri"
"Loe yakin orang-orang Davin gak ada yang ngikutin loe sampai apartemen Reno?"
"Sejauh gue sampai sini kayaknya enggak. Ada asisten Reno yang nyamar jadi gue waktu di bandara dan gue rasa dia bisa mengalihkan mereka."
Raya terlihat mangut-mangut, lalu mengambil dua gelas coklat hangat yang dibuatkan Resha tadi.
"Asal jangan sampai loe tergoda lagi aja sama dia" pesan Raya lalu berlalu kearah Bagas yang sedang menonton tv di sofa ruang tengah.
Bagas melirik Raya yang baru datang, lalu beralih kearah Resha yang berjalan menuju kamarnya lalu menatap Raya lagi.
"Dia beneran nemuin Reno?" Tanyanya.
Raya hanya mengangguk.
Terlihat Bagas menghembuskan nafas.
Suasana hening sesaat sampai Resha datang dengan baju santainya.
"Kalian gak perlu khawatir soal gue nemuin Reno," cetus Resha sambil menyesap coklat hangatnya
"Gimana kita gak khawatir kalau terakhir kali loe jatuh juga kepelukan brengsek itu" sindir Bagas yang membuat Resha menatapnya sebal.
"Semua orang berhak punya kesalahan kan?"
"Kesalahan yang berulang?"
"Daripada terus menerus meratapi kesalahan"
"Gue enggak"
"Gue gak bilang kalau itu loe"
"Ta..."
"Stop! Stop! Kalian itu bikin pusing aja sih bisa gak diem sebentar" putus Raya yang mulai kesal mendengar perdebatan dua orang itu.
"Dia yang mulai" seloroh Resha sambil melipat tangannya di dada.
Bagas hanya meliriknya sekilas dan beralih menatap tv.
"Oh iya, kemarin Alvin balik ke Indonesia" kata Raya yang membuat Resha dan Bagas kompak menatapnya.
"Loe masih berhubungan sama dia?" tanya Bagas to the point.
"Apa salahnya, ? bagaimanapun Alvin tetap bagian dari kita"
"Kita? Loe bilang kita? Bukannya dia sendiri yang bilang sendiri kalau dia bukan lagi bagian dari kita"
"Gas gak seharusnya loe ngehakimin dia kayak gini, gue yakin dia udah menyadari kesalahannya"
Bagas hanya mendengus mendengar ucapan Raya.
"Sha, loe akan maafin dia kan?" Tanyanya ke Resha.a
"Gak ada yang bisa dimaafkan dari pengecut yang udah ngehancurin persahabatan kita" ceplos Bagas.
"Gue gak tanya sama loe ya"
"Lagian buat apa juga dia balik lagi gak ada yang butuhin kehadiran dia disini,"
"Gas cukup!" seru Resha yang sedari tadi diam membuat Bagas beralih menatapnya heran.
"Dia ada disini pengen ketemu sama kalian kalau loe izinin gue akan suruh dia kemari sekarang" ujar Raya pada Resha.
Resha nampak berfikir.
"Gak. Gak ada yang boleh datang ke sini terutama orang itu" Jawab Bagas cepat lalu beranjak ke balkon meninggalkan dua sahabatnya itu.
Raya menanti jawaban Resha, "Suruh dia kesini" kata gadis itu kemudian yang langsung mendapat anggukan dan senyuman lebar dari Raya yang segera berlalu.
Resha menatap Bagas yang menyesap vapenya iapun beranjak menghampirinya.
"Loe ngerokok?" Tanyanya sambil bersandar pada pagar balkon.
"Loe yakin mau ketemu sama dia?" Tanya Bagas tanpa menatapnya.
"Hem"
"Gue gak ngerti sama jalan pikiran loe, bukannya terakhir kali loe yang pengen buat gak ketemu lagi sama Alvin"
"Gak ada salahnya kita buat paham beberapa hal, gue tahu Alvin gak mungkin berniat buat menghancurkan persahabatan kita, dan gue juga mau loe mengerti posisi Alvin dan gimana jadi dia"
Bagas hanya diam tak menjawab. Jujur di jauh lubuk hatinya ia memang merasa persahabatan mereka memang tak pernah lengkap tanpa kehadiran seseorang. Meski ia begitu marah dengannya tapi ia tak bisa membohongi dirinya sendiri jika ia juga merindukan kehadiran sahabatnya itu.
"Gas, bersikap baiklah dengannya mari kita melupakan masa lalu, gue yakin kita masih tetap sahabat" tegur Resha yang sedikit menoleh kearahnya.
Bagas masih tak menjawab, ia hanya menatap pemandangan di luar.
Suasana hening sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Menjemukan.
Tak berapa lama terdengar ketukan langkah kaki. Raya yang datang bersama dengan seorang laki-laki berbadan tegap tinggi dengan kulit bersih dengan gaya rambut dinaikkan keatas membuat kesan cool padanya. Ia yang tak lain adalah Alviano Derrion.
Resha terlihat tersenyum padanya, sementara Bagas masih belum berbalik.
"Kau tak mau lihat sahabat kita udah makin keren aja?" Bisik Resha pada Bagas untuk mencairkan suasana yang canggung itu. Namun Bagas masih tetap di posisinya.
Sementara Alvin hanya tersenyum mendengar ucapan Resha.
"Kalau dia sekeren ini dulu mungkin udah gue gebet" sambung Raya sambil menatap Alvin kagum.
"Selamat datang kembali Mr. Alviano" kata Resha tanpa membuyarkan senyumannya.
Ia masih sama masih menjadi Resha yang mengagumkan untuknya.
"Gue gak punya kata-kata lain. Gue kangen banget sama kalian" kata Alvin lalu merentangkan tangan dan disambut Raya dan Resha.
"Maaf soal waktu itu, gue udah buat kesalahan besar buat persahabatan kita"
Resha mengendurkan pelukan mereka, "Sekarang loe gak berniat buat jatuh cinta lagi 'kan sama gue?"
Tanyanya dengan nada serius.
Alvin terkekeh, "Mana berani kalau ada Bagas di belakang loe bisa- bisa gue yang habis"
Resha dan Raya pun ikut tertawa.
Ini adalah Alvin mereka.
Ya ini dia.!
Resha menunjuk kearah Bagas dengan dagunya ke Alvin. Sepertinya mereka harus menyelesaikan masalah ini berdua.
"Kita delivery makanan yuk, mumpung ada pak produser, kali aja traktir-traktir" kata Raya yang bermaksud menyindir Alvin yang sekarang memang menjadi produser utama salah satu label musik di Aussie.
"Pesen-pesen noh sepuas kalian"
"Bener nih?"
Alvin mengangguk Raya dan Reshapun langsung masuk ke dalam menyisakan Bagas dan Alvin.
Bagas masih berdiri membelakangi Alvin dengan sesekali menyesap rokoknya.
"Gue tau loe masih marah gue bisa ngerti itu" Alvin memulai pembicaraan.
Bagas terdiam sejenak, lalu berbalik menghadap Alvin.
"Ngapain loe balik ke Indonesia?" Tanya Bagas dingin.
"Dulu gue emang sempet mutusin buat gak balik lagi kesini, tapi gue rasa hidup gue gak pernah bisa tenang, bukan hanya karna Resha tapi jauh di sudut hati gue, gue gak mau persahabatan kita berakhir kayak gitu"
"Sure?"
"Hem,"
"Loe masih nyimpen perasaan loe itu?"
Alvin terdiam sejenak, "Perihal perasaan, sorry Gas, gue tau kesalahan gue dulu emang susah maafin. Tapi, gue janji itu tidak akan terulang lagi."
Bagas menghembuskan nafas dan kembali menyesap rokoknya.
Bisa-bisanya brengsek ini.
"Loe tau Resha udah mau tunangan?" Tanya Bagas yang sebelumnya melirik ke dalam apartemen memastikan orang yang mereka bicarakan tak mendengarnya.
"Hemm, gue tau dan gue juga tau Davin Regardi"
"Dia yang terbaik yang bisa kita andelin buat jaga Resha"
"Loe gak perlu khawatir gue balik kesini. Gue juga gak berniat buat merebut Resha atau apa. Tapi gue tulus ingin memperbaiki semua kesalahan gue waktu itu"
Bagas menghadap Alvin kembali.
Kali ini ia sedikit tersenyum.
"Ok, gue pegang omongan loe. Mari lupakan semua, kita pesta malam ini" katanya kemudian.
Alvin yang mendengar itu seakan tak percaya.
Apa Bagas sudah memaafkannya.
"Loe maafin gue?" Tanyanya memastikan.
"Tidak, gue gak akan pernah bisa maafin loe. Tapi gue pengen lihat seberapa jauh usaha loe buat perbaiki kesalahan loe waktu itu" jawab Bagas lalu masuk ke dalam menyusul Resha dan Raya.
Meski ucapan Bagas yang terakhir membuatnya sedikit gentar tapi setidaknya sahabatnya itu sudah agak mencair.
Tidak semudah itu.
...♡♡♡...
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Apa Alvin datang tulus untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu? Atau ia berniat merebut Resha ?
Atau sesuatu yang lain?