
(Resha side)
Otakku seolah belum kembali ke alam sadar. Rasanya aku masih bermimpi dengan semua kenyataan yang ada saat ini.
Apa ini hikmah dari semua yang sudah terjadi akhir-akhir ini. Memanglah Tuhan selalu punya cara dan ya, aku benar-benar bersyukur dengan yang telah diberikanNYA.
Tuhan terimakasih.
(Flashback on)
Davin menatapku begitu aku keluar dari ruang ganti tante Intan yang tadi mendandaniku senyumnya mengembang membuatku pipiku memanas hanya dengan tatapan itu.
...Sementara Davin juga telah mengenakan tuxedo berwarna hitam dengan kemeja dan dasi yang senada sepertinya ia juga berganti pakaian karena tadi saat menjemputku ia hanya mengenakan jaket....
...Ah, kenapa ia selalu keren....
"Udah siap?" Tanyanya begitu aku berada dihadapannya.
Aku mengangguk.
"Bagaimana, apa sekarang kau tengah terpesona dengan bidadari?" Tanya tante Intan yang berdiri diantara kami.
Aku hanya tersipu, dia ini selalu berlebihan tiap memujiku.
Dasar.
"Bidadari saja lewat" celetuk Davin tanpa beralih dariku.
Tante Intanpun terkekeh, " Kalian langsung berangkat?" Tanyanya
Terlihat Davin mengangguk, "Makasih tan, kerjaan kamu sempurna, aku akan segera transfer sisanya"
Terlihat tante Intan mengangguk dan tersenyum lebar, "Untukmu aku pasti memberikan yang terbaik"
Davinpun tersenyum lalu kamipun bersalaman dan pamit pergi.
"Dave" panggilku ketika kami diperjalanan.
"Hem?" sahutnya dengan sekilas menatapku lalu fokus kembali kejalanan.
"Kita mau pulang?" Tanyaku agak ragu karena jalan yang dilalui adalah jalan menuju rumahku.
Kulihat ia tersenyum, tanpa menatapku "Memangnya tadi aku berkata kalau aku akan mengajakmu berkencan ya?"
Aku hanya mendengus mendengar jawabannya yang tak jelas itu.
Menyebalkan.
Tak berapa lama mobil Davin sudah berada di halaman rumahku.
Ia membukakan pintu untukku, lalu menggandeng tanganku. Namun aku belum beranjak.
"Kalau kamu ingin tahu jawaban dari pertanyaan kamu tadi, jawabannya ada didalam " katanya yang semakin membuatku penasaran akupun hanya menurutinya berjalan menuju pintu utama rumahku.
"Bukalah.!" Suruhnya.
Aku semakin heran dengan sikapnya kali ini, jarang sekali ia menyuruhku melakukan hal kecil seperti membuka pintu.
"Kau tak bisa membukanya?"tanyaku agak kesal karena nada bicaranya yang seperti diktator itu.
"Kamu tahu kan kedua tanganku ada disaku celana" jawabnya yang kurasa tak masuk akal itu.
Aku hanya memutar bola mataku dan mendorong pintu itu.
Dan...
(Flashback off)
Aku hanya tersipu mengingat itu. Benar-benar aku tak bisa menebak apa yang di dalam otaknya itu.
...♡♡♡...
(Flashback on)
(Davin side)
"Bukalah.!" Suruhku pada Resha.
Aku sengaja menyuruhnya karena aku ingin ia kesal denganku. Biarlah sekali ini saja aku mengerjainnya.
"Kau tak bisa membukanya?"tanyanya dengan ekspresi agak kesal dapat kulihat dari nadanya yang menggunakan kata "Kau"
Dia hanya memutar bola matanya, lalu mendorong pintu utama rumahnya.
Kulihat ekspresinya yang tak bisa kugambarkan, sepertinya ia tak menyangka dengan rencanaku kali ini.
Tangannya menutup mulutnya sementara orang-orang yang ada di dalam sudah menatap kami. Kuyakin ia tak akan menyangka dengan rencanaku kali ini.
Ada kedua orang tuaku dan orang tua Resha, Dania, Aldo, Raya, Bagas, Alvin, dan beberapa kerabat dekat berada disana.
Aku pun menggandeng tangannya dan berjalan ke dalam lalu berdiri di tengah-tengah mereka.
Mami menghampiriku lalu memeluk Resha sekilas dan tersenyum padanya yang sepertinya masih bingung dengan ini semua.
"Mungkin kamu masih bingung kenapa aku mengumpulkan semuanya disini, dan mungkin kamu orang yang terakhir tau tentang ini..." aku sedikit menahan ucapanku.
Aku menghela nafas dan menatap ke dalam mata itu "Resha adriana, hari ini di depan keluarga kamu dan keluarga aku maukah kamu menerima lamaranku untuk menjadi istriku orang yang selalu bersamaku dalam suka dan dukaku?" Lanjutku lalu membuka kotak cincin yang diberikan mami.
Terlihat ia menatap kearah papa Adrian dan mama Maya dapat aku lihat sepertinya ia meminta pendapat dari orang tuanya dengan tatapan itu. Terlihat Mama dan papa mengangguk dan tersenyum pada putri semata wayangnya itu.
Setelah mendapat anggukan itu ia bergantian menatapku. Dan ini salah satu yang kusuka darinya menatap bola mata coklatnya itu aku dapat melihat bayanganku di bola mata itu menandakan akulah satu-satunya objek yang ditatapnya.
Tuhan, semoga ia menerimanya.
Kulihat ia tersenyum lalu mengangguk mengiyakan. Langsung saja riuh tepuk tangan dan cuitan dari seisi penghuni ruangan itu memenuhi setiap sudut ruangan yang seolah menggambarkan betapa bahagianya aku sekarang.
Yeahh, one step closer.
Wait for me Resha Adriana.
(Flashback off)
...♡♡♡...
"Kamu jangan bodoh, apa kau ingin menggali lubang kematianmu sendiri !" Hardik seorang pria yang kini tengah berbincang dengan seorang wanita.
Sementara wanita itu hanya tersenyum santai mendengar hardikan pria.
"Aryani, kau dengar aku ! Kau hanya akan menghancurkan karir dan nama baikmu jika kau melakukan itu." Kata Virgo pria itu sambil mengguncang bahu Aryani wanita itu yang masih duduk santai di sofa di ruang kerjanya.
"Kalau Davin bilang itu sepadan, maka akan aku lakukan" katanya tanpa menatap Virgo.
"Gak ! Kau tak boleh melakukan apapun, sekarang pergilah ke luar negeri aku yang akan mengurus semuanya disini"
Kali ini Aryani menatap Virgo yang terlihay begitu gusar itu.
"Virgo, tak bisakah kau membiarkannya?" Tanyanya tanpa beralih dari pria itu.
Pria itu hanya mengalihkan pandangannya tak sanggup jika harus bertatapan sedekat itu dengan mantan istrinya itu.
"Aku mohon kali ini saja dengarkan aku !" Pinta Virgo sambil menangkup wajah gadis itu.
"Apa kau juga akan menggantikanku jika aku dipenjara?" Tanya Aryani yang membuat pria itu menjauhkan dirinya.
"Hemm, tapi menyingkirlah sebentar dari negara ini setidaknya sampai semua perhatian teralihkan dari semua ini" katanya sambil berdiri membelakangi Aryani.
"Virgo... kenapa kau menjadi sebodoh itu, kau masih sangat mencintaiku ya?" Tanya Aryani tiba-tiba.
Virgo tak menjawab karena itu pertanyaan yang sudah jelas sekali jawabannya.
Ya.
Melihat tak ada jawaban dari pria itu. Entah kenapa ada perasaan bersalah melihat Virgo kali ini.
Maafkan aku.
"Aku akan menyerahkan diri hari ini, aku rasa aku tak perlu menghindari apapun jika Davin ingin aku mendapat ganjaran, maka akan aku lakukan" Kata Aryani yang membuat Virgo menatapnya heran.
"Kenapa harus seperti ini, kenapa kamu harus menuruti omongan pria itu, bahkan dia sudah tak memikirkanmu sama sekali kau lihat?" Virgo menunjuk kearah TV yang menayangkan pers Davin Regardi tentang pertunangannya dengan Resha Adriana.
Aryani menatap ke arah yang ditunjuk Virgo nanar. Entahlah hatinya masih begitu sakit melihatnya. Melihat pria yang dulu begitu memujanya kini telah menatap wanita lain yang telah sah menjadi tunangannya dengan tatapan yang penuh cinta.
Apa ini karma?
...♡♡♡...
...Apa yang akan terjadi setelah ini?...
...Apa Aryani benar-benar akan menyerahkan diri? Atau menuruti ucapan Virgo?...
...Dan apakah kali ini Resha dan Davin akan bersatu?...