THE LAST

THE LAST
PART IV : Denny?!



*Hai... Terima kasih buat kalian yang sudah mau baca The Last. Jangan bosen ya hehhe..


Silahkan comment dan jangan lupa buat vote ya..


S i n t a*.


----------------------------------


“Daisy, kamu sudah siap tugas hari ini?”


“Sudah, kamu sudah siap?” Tumben sekali Cillia datang lebih cepat dariku, pasti dia belum siap tugas Bu Penny.



“Hehehe.. belum, boleh lihat gak?” Sudah ku duga, “Yakin kamu mau lihat punya ku? Kamu tahu kan Bu Penny itu kalau meriksa detail banget” Dosen yang satu ini, memang tidak se\-killer dosen lainnya, tetapi dia sangat teliti jika mengenai tugas apalagi jawaban soal ujian.



“Duhh.. gimana dong?” Aku juga tidak tahu harus bagaimana, kali ini tugasnya bukan hitungan tapi merangkum dan memberi pendapat sendiri, kalau aku membantunya sudah pasti jawaban kami akan sama.



“Maaf banget Cill, aku gak bisa bantuin kamu kali ini” Cillia menghela nafasnya dan berjalan dengan amat pelan menuju tempat duduknya yang berada di belakangku. Aku memutar badanku menghadapnya, “Coba kamu kerjain dulu sendiri, rangkum sesuai apa yang mau kamu rangkum. Pelan\-pelan aja, masih ada waktu 30 menit lagi” Cillia hanya menganggukkan kepalanya, mengeluarkan buku tugasnya dan mulai menulis.



Aku mendengus geli dengan sikapnya itu, sudah pasti dia akan terus lesu sampai Mata Kuliah ini berakhir. Bu Sherine masuk ke kelas kami, dia Dosen Wali kami, biasanya jika dia masuk ada pengumuman atau mahasiswa/mahasiswi baru.



“Selamat pagi semuanya, mohon perhatiannya semua karena hari ini Bu Penny tidak dapat masuk kelas, saya akan memperkenalkan Mahasiswa baru dia pindahan dari Universitas Harvard. Silahkan masuk, nak”



Aku terdiam melihat Mahasiswa baru itu masuk, tapi tidak dengan Cillia, dia langsung berteriak memanggil nama Mahasiswa itu.



“Denny?!” Teriak Cillia, Mahasiswa itu hanya tersenyum seadanya ke arah Cillia, dan dia melihatku dengan tatapan itu—tatapan yang dulunya bisa membuatku nyaman, aman dan jatuh cinta kepadanya berkali\-kali.



“Hi, I’m Denny, Denny William Kim” Nama itu, nama yang sudah ku kubur sedalam mungkin di dasar hatiku, dan rasa sakit itu kembali.



“Baiklah Denny, kamu boleh duduk di samping Cillia or Daisy” Dia mulai berjalan dan duduk di samping Cillia, syukurlah dia tidak duduk di sampingku.



“Maaf, Bu Sherine, kursi ini sepertinya rusak” What?? Rusak darimana? Setahuku kursi itu memang tidak ada yang duduk jadi tidak mungkin rusak.



“Benarkah? Kalau begitu kamu bisa pindah duduk di samping Daisy” Shit! Apa dia sengaja? Ohh.. please Daisy calm down, untuk apa dia sengaja dia hanyalah mantan, mantan yang tidak perlu kamu ingat lagi.



“Baiklah, hari ini saya akan mengumumkan beberapa peraturan baru disini, jadi saya harapkan kalian semua mendengarnya dengan baik karena jika kalian melanggar maka nilai kalian akan dikurang”



“Baik bu..”



Sedari tadi aku mencoba fokus dengan apa yang diberitahu oleh Bu Sherine, tapi aku tidak bisa, aku terganggu dengan dia yang terus melihat ke arahku. Risih rasanya.


Kenapa dia harus duduk di sampingku, kenapa dia harus kembali, kenapa dia harus berada di dekatku, kenapa harus dia pindah ke sini? semua pertanyaan itu terus berputar yang membuat kepalaku menjadi pusing. Sepertinya aku sudah tidak tahan, lebih baik aku ke Klinik kampus saja.


“Permisi, Bu Sherine. Saya izin untuk pergi ke Klinik, saya kurang enak badan, Bu”



“Ya silahkan, kamu memang tampak pucat. Zee tolong antarkan Daisy ke Klinik”



“Yes, Miss” Zee memegang tanganku, “Kamu masih sanggup untuk berjalan? Kalau tidak aku akan panggil Zoe untuk menggendongmu”



“It’s okay, Zee. Aku masih bisa berjalan”



“Baiklah, pegang saja tanganku” Aku mengangukkan kepalaku pelan. Kami berjalan pelan menuju Klinik, “Helena, kamu bertugas hari ini?”



“Tidak, ada Jacquen di sana. Daisy kamu sakit?”



“Hmm.. begitulah yanf terlihat” aku tersenyum kecil.



“Senyumanmu itu sangat menyeramkan. Cepat baringkan dia” Zee langsung berjalan masuk ke dalam klinik, membawaku ke tempat tidur. Aku membaringkan badanku, rasanya lemas sekali.



“Ada keluhan apa, Daisy?” Jacquen datang lengkap dengan jas putih dan stetoskopnya.



“Kepalaku sangat pusing, Jac” Jacquen mulai memasang stetoskopnya dan memeriksaku, “Apakah kamu mual\-mual?”



“Tidak terlalu”



“Jangan memaksakan dirimu, jika lelah istirahatlah. Kamu hanya kecapekan dan sepertinya kamu tidak makan ya?”



“Tadi pagi aku makan roti dan susu, hanya saja semalam aku telat makan, aku melewatkan makan pagi dan siangku”



“Kamu tahukan kalau kamu punya Maagh? Jangan anggap remeh itu, asam lambungmu naik , jangan terlalu stress. Stress salah satu faktor memicu asam lambungmu naik. Jangan lewatkan makan mu lagi”


Aku hanya mengangguk, “Ini obatnya, aku sudah tulis takarannya”


“Baiklah, terima kasih Jacquen. Terima kasih juga Zee”



“Itu memang tugasku sebagai dokter”



“Itu juga tugasku sebagai teman, Daisy. Sebaiknya kamu beristirahat saja disini , jika sudah benar\-benar baik kamu bisa kembali ke kelas atau hubungi saja aku, aku akan datang menjemputmu kembali”



“Aku sudah sangat merepotkanmu, nanti aku akan masuk jika sudah lumayan membaik” Jacquen hanya mengangguk dan pergi dari klinik.



“Jika kamu butuh aku, panggil saja, aku ada di meja depan” Ucap Jacquen, “Oke”



Aku beruntung bisa berteman dengan mereka semua, mereka menerimaku apa adanya. Huh.. kenapa aku harus sampai masuk ke klinik hanya karena dia, padahal aku sudah lama melupakannya, atau memang belum. Entahlah apa bisa melupakan cinta pertama mu dengan mudah ?



Bagiku itu sangatlah sulit, karena dia orang pertama yang mengenalkanku apa itu cinta, dia yang pertama yang bisa meluluhkan hatiku dengan mudah, perhatiannya itu, rasa sayang yang Ia beri dulu, pelukkannya yang menenangkan ku, humornya yang selalu membuatku tertawa, aku bahagia karenanya. Tapi, itu semuanya hanyalah sementara. Semuanya berakhir ketika aku melihatnya mencium seorang gadis, sayangnya aku tidak bisa melihat siapa gadis itu. Dan sejak saat itu, akumenganggap bahwa cinta itu hanyalah omong kosong belaka.



James? Entahlah, dia berbeda. Aku tidak tahu mengapa, tetapi pertama kali melihat James, aku seperti menemukan sebagian jiwaku yang hilang. Terdengar berlebihan memang, tapi memang itu yang aku rasakan, kami seperti sudah kenal satu sama lainnya.



Lebih baik aku tidur saja, daripada harus mengingat luka lama, aku hanya tidak ingin jatuh terpuruk ke keadaan yang sama. Aku sudah lebih baik sekarang, aku yakin itu. Baru saja aku ingin memejamkan mataku, aku mendengar suara James di luar. Aku tidak tahu pasti sedang apa, tapi dia seperti menanyakan keadaanku kepada Jacquen, apa semua ini hanya halusinasiku? Lagipula untuk apa James mengkhawatirkanku?


-The Last-


“Daisy?” Aku membuka kedua mataku, astaga sudah jam berapa sekarang. Aku tidur begitu pulas.



“Ini sudah jam berapa Zee?”




“Terima kasih, Zee”



“Bukan apa\-apa, ayo kita pulang. Masih pusing?”



“Sudah tidak terlalu, hanya sedikit lemas karena aku tertidur lama disini”



“Aku akan menggendongmu, Daisy” Itu Zoe, kembaran Zee. “Ahh.. tidak perlu Zoe, badanku berat”



“Berat? Badanmu yang kurus kering begini, kamu bilang berat? Jangan menolak, aku tidak mau kamu pingsan atau kenapa\-napa, karena aku akan babak belur jika kamu lecet sedikit”



“Hahaha.. bercanda mu itu jelek, Zoe” Aku tahu dia itu bercanda. Zoe dan Zee memiliki selera humor yang sangat berbeda. Zee itu lebih serius, dan Zoe itu slewengan. Zee lebih dominan menggunakan logika dibandingkan dengan Zoe yang selalu berbuat sesuka hatinya. Tetapi mereka sama\-sama baik.



“Aku tidak bercanda tahu. Kamu beneran mau lihat wajahku yang rupawan itu membiru?”



“Biarkan Zoe menggendongmu Daisy. Aku juga tidak mau melihatmu kenapa\-napa”



“Oke\-oke, aku akan naik ke punggungnya. Tahan aku ya Zoe”



“Siap, Tuan puteri” Dengan perlahan aku mulai naik ke punggungnya dan tanpa peringatan apapun Zoe langsung berdiri sambil menahan kaki ku agar aku tidak jatuh dari gendongannya.



“Hei.. kamu ini, aku kaget tahu” Mereka berdua hanya tertawa, dan kami pun berjalan dengan santi menuju parkiran mobil. Parkiran yang hanya dikhususkan untuk anak\-anak elit seperti mereka, termasuk James dan Cillia tentunya.



Zee membuka pintu mobil belakang, membiarkan Zoe dan aku masuk terlebih dahulu dan Zee yang menyetir.



“Jadi dimana alamat apartement mu, Nona Park?”



“Jalan Boulevard”



“Tidak jauh ternyata dan itu bagus” Ucap Zoe, memang bagus, aku terlalu malas untuk tinggal jauh dari kampus, rasanya akan sangat tidak efektif.



“Jadi, kamu menyewanya atau membelinya?” Tanya Zee yang masih fokus menyetir sambil sesekali melihat kami dari kaca.



“Aku membelinya, usaha tidak akan mengkhianati hasil bukan? Aku tidak ingin merepotkan kedua orang tua ku lagi. Mereka sudah sangat menderita dulu” Zoe mengacungkan jempolnya ke arahku, aku hanya tersenyum membalasnya.



“Kamu memang Istri idaman, kalau saja sepupuku tidak mencintaimu sudah pasti aku akan menjadikanmu kekasihku” Canda Zoe , aku tertawa mendengarnya. Zee pun hanya mendengus geli mendengar ucapan Zoe.



“Tapi siapa sepupu kalian itu?”



“Eh? Hhmm.. itu rahasia” Ohh.. aku benci dengan kata ‘rahasia’



“Yang benar saja, kenapa harus dirahasiakan?”



“Belum saatnya kamu tahu, sepupu kami hanya ingin memastikan satu hal lagi. Jika dia sudah memastikannya, dia akan hadir tepat di hadapanmu. Aku hanya berpesan untuk tidak menyerah dengan perasaanmu itu, musim dingin akan berakhir dan musim semi akan muncul” Zee hanya tersenyum lembut kepadaku yang msih bingung dengan maksud kata\-katamya tentang untuk tidak menyerah. Apa mereka tahu dengan aku yang diam\-diam menyukai James?



“Apa jika perasaan itu mulai menyiksa diriku, aku harus bertahan?” Aku tidak mudah untuk menyerah akan suatu perasaan, tidak semudah itu. Perasaan suka ku dengan James, jika aku terus memperjuangkannya tanpa adanya balasan darinya, untuk apa? Lagipula itu hanya sebatas rasa kagum, ku rasa.



“Bagaimana jika kamu perjuangkan dulu perasaan itu agar kamu tidak menyesal nantinya”



“Hei.. kenapa malah membahas perasaan sih? Kalian ingin mendekati seseorang ya?”



“Tidak!” Jawab mereka kompak, “Emm.. okee..” Lebih baik aku diam saja.



“Kenapa kamu bisa tiba\-tiba sakit tadi? Padahal ku lihat kamu masih baik\-baik saja?” Apa aku harus menceritakan tentang Mahasiswa baru itu? Mereka berdua tempat curhat yang sangat aman, jangan harapkan Cillia bisa menyimpan rahasiaku dengan baik. Rahasia itu tidak akan bertahan lebih dari 3 hari, dan menyebar ke seluruh penjuru Oxford. Bayangkan saja, aku benar\-benar tidak mau lagi untuk membagikan rahasiaku padanya.



“hufft.. sepertinya aku harus jujur dengan kalian. Bagaimana untuk mampir sebentar di Apartement ku? Aku akan menyeduhkan teh bunga untuk kalian”



“Yey.. Teh bunga buatan Daisy” Aku tertawa melihat betapa antusiasnya Zoe hanya karena Teh bunga. Terima kasih Tuhanm setidaknya bersama mereka berdua, aku bisa melupakan rasa sakit ku.



Kami sampai di depan Apartementku, Aku keluar dari mobil disusul oleh Zoe dan Zee, “Silahkan masuk, duduklah di sofa ya. Jika kalian bosan, kalian bisa menonton televisi” Mereka mengangguk, dengan segera aku memanaskan air untuk menyeduh bunga Cristanum yang sudah ku keringkan.



“Apa kalian menunggu lama?”



“Tidak juga” Jawab Zee, ahh.. Zee itu anak yang paling jujur yang pernah ku temui, ngomong\-ngomong.



“Silahkan di nikmati” Aku memberikan mereka masing\-msing satu cangkir, aku menghirup aroma yang terkuar dari teh ini lalu meminumnya, rasanya akan jauh lebih nikmat.



“Ini akan menjadi minuman favorit ku mulai saat ini. Aku akan sering\-sering mengantarmu pulang hehehe” Ucap Zoe,



“Ada\-ada saja. aku akan membawakan kalian teh ini seminggu sekali”



“Astaga, kamu baik sekali Daisy. Hatiku tersentuh, jadilah pacarku” Aku tertawa cukup keras, Zee mulai memukul kepala Zoe.



“Terima kasih, Daisy. Tapi kamu tidak perlu melakukannya” Ucap Zee



“Tidak masalah bagiku, aku senang jika kalian menyukai teh ku ini. Ini spesial untuk kalian” Zee hanya tersenyum dan kembali meminum teh nya.



“Jadi, kalian tahu kan kalau tadi ada mahasiswa baru yang masuk ke kelas kita” ku lihat mereka sudah meletakkan cangkir mereka dan mulai mendengarkanku dengan serius.



“Faktanya adalah Mahasiswa itu Cinta Pertamaku , kalian tahu kan? Aku sudah sering juga menceritakannya kepada kalian. Dia kembali” Aku menundukkan kepalaku, melihat cangkir teh ku yang masih mengeluarkan uap.


“Dia, Denny William Kim”


TBC.


Kira-kira ada yang penasaran gak dengan tokoh-tokoh di The Last ini?


Jika kalian penasaran, silahlan comment ya.