THE LAST

THE LAST
Place of Reno Meraldy



Alvin Bagas dan Raya berjalan tergesa menuju koridor rumah sakit. Langkah mereka terhenti melihat seorang lelaki yang tengah berjongkok disamping pintu ruang rawat dengan kepala tertumpu pada kaki.


Pemandangan yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.


Raya memberanikan mendekatinya diikuti Bagas dan Alvin.


"Davin, apa yang terjadi ?" Tanya Raya sambil berjongkok disamping pria itu.


Davin sedikit mengangkat kepalanya menyadari kedatangan Raya dan yang lain.


"Resha..." Davin mengalihkan pandangannya sambil mengusap wajahnya kasar tak bisa ia melanjutkan ucapannya hatinya begitu sakit mengingat kejadian itu.


Raya, Bagas dan Alvin hanya berpandangan mereka cukup mengerti perasaan Davin.


Flashback On


"Dave, bawa Resha ke rumah sakit sekarang, kita yang akan urus sisanya" kata Edgard yang melihat Davin kesusahan melawan para penculik itu


Davin dan Edgard sedikit berpandangan lalu Davinpun mengangguk dan berlari meraih Resha yang tergeletak. Ia langsung membopong Resha menuruni gedung itu diikuti Aldo dan dua orang yang mengawal mereka.


Sampai di depan sudah ada ambulans yng menunggu mereka mungkin ambulans itu sudah disiapkan Edgard dan anak buahnya atau mungkin orang lain, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti ini.


Sebelum menutup pintu belakang ambulans Davin sempat melihat seorang wanita di dalam mobil yang berlalu kearah lain. Ia tak asing dengan wanita itu.


Apa dia..?


"Dave cepet tutup pintunya"tegur Aldo


Davinpun segera menutup pintunya dan beralih ke gadisnya yang kini menutup matanya. Hatinya benar-benar hancur melihat suster memasang alat bantu pernafasan pada Resha. Ia mengenggam kuat tangan mungil itu mencoba menyalurkan kekuatan. Wajahnya mungkin terlihat tenang, tapi tidak senada dengan hati dan otaknya. Davin tak mengatakan apapun, tapi semua pasti tahu apa yang ingin ia katakan pada Resha.


Bertahanlah.


Flashback off


"Gue gak bisa jaga dia" lirihnya berkali-kalii mengembuskan nafas kesal.


Alvin berjongkok disamping Davin yang lain ia mengusap punggung pria itu mencoba memberi kekuatan.


"Jangan salahin diri sendiri, gue tahu loe gak selemah ini" katanya membuat Davin menatapnya lalu kemudian mengangguk.


Sebelumnya mereka memang belum pernah ketemu tapi Resha pernah menceritakan tentang Alvin padanya bahkan memperlihatkan foto mereka berempat. Jadi ia tahu pasti jika pria itu adalah Alvin salah satu dari "Empat sekawan".


Tak berapa lama dokter keluar dari ruangan Resha keempatnya langsung menghampirinya.


"Keluarga nona Resha Adriana?" Tanya Dokter


"Saya calon suaminya" kata Davin


Alvin meliriknya sekilas. Dan Raya balik melirik Alvin sementara Bagas memperhatikan Raya dan Alvin lalu beralih ke dokter.


"Pendarahan diperutnya sudah berhenti untung saja pasien segera dibawa kemari, dan untungnya lagi tusukan itu tidak mengenai organ dalamnya sehingga tidak berakibat fatal" terang dokter itu.


"Jadi sekarang dia baik-baik aja kan dok?" Tanya Raya


Dokter itu mengangguk, "Pasien memang belum siuman tapi tak ada luka yang serius kita doakan saja semoga lekas siuman"


"Apa sudah boleh dikunjungi?" Tanya Davin


"Silahkan asal tidak mengganggu pasien, kalau begitu saya pamit"


"Terimakasih dok" ucap Bagas setelah itu dokterpun berlalu dan Davin segera masuk keruangan Resha.


Davin menghampiri ranjang Resha, gadis itu masih menutup matanya. Ia membungkuk menatap wajah gadis yang begitu dirindukannya beberapa hari ini. Davin mengelus puncak kepala Resha.


Ia menyesali pertemuannya dengan Reno beberapa saat yang lalu jika ia sekarang harus melihat gadis itu terbaring disini.


Harusnya aku langsung nemuin kamu. Harusnya aku gak buang-buang waktu ke kantor Reno.


Resha, maafkan aku.


Nafasnya tercekat menahan liquid bening yang akan menetes dari matanya. Rasanya begitu sakit, ia menangis dalam diam. Sampai terdengar pintu ruangan Resha terbuka.


Davin merasakan usapan dipunggungnya iapun berbalik dilihatnya ibu kandungnya


Dan ayahnya datang.


Menguatkan.


Davin tak bisa lagi menahan air matanya begitu melihat ibunya.


Ia menunduk, "Maaf" hanya kata itu yang terucap dari mulutnya.


Ibunyapun langsung memeluk putra kesayangannya itu. Ini pertama kalinya ia melihat Davin putranya itu menangis untuk seorang wanita. Dan wanita itu adalah Resha, ia yakin sekarang jika putranya itu benar-benar mencintai gadis itu.


"Resha pasti baik-baik saja"ucap ibunya


"Maafin Davin mam," kata Davin lirih


Mami Davin mengendurkan pelukannya dan meraih wajah putranya itu.


"Ini bukan salah kamu, Mami yakin kamu udah lakuin yang terbaik" katanya lalu mengusap rambut Davin. Rasanya baru kemarin ia mengajari anaknya itu membaca dan sekarang ia telah menjadi pria dewasa.


Davin kembali menunduk lalu menghela nafas dan membuangnya.


"Om Adrian sama tante Maya belum dateng Mam?"


"Lagi diperjalanan, kena macet katanya tahu kan mereka baru dari Bandung langsung kesini "


Davin hanya mengangguk dan beralih duduk disofa ia membuka ponselnya. Sementara maminya terlihat menggenggam tangan gadis itu. Ada raut kekhawatiran juga disana. Bagaimana tidak melihat calon menantu sekaligus wanita yang begitu dicintai putranya itu terbaring dibangsal rumah sakit dengan infus ditangannya.


Ia mengelus rambut Resha sayang, semenjak Davin membawa gadis itu kepadanya ia memang sudah menyukai gadis itu. Selain karena ia gadis yang sopan dan juga gadis itu tidak terlalu banyak bicara seperti kebanyakan gadis sekarang yang kecentilan, namun sekali berbicara obrolannyapun terkesan lugas dan membuat lawan bicaranya nyaman berbicara dengannya.


Benar-benar menantu idaman.


Sementara Davin sedang duduk disofa dengan Papinya. Ia sedang menceritakan kenapa mereka bisa mengalami kejadian itu.


"Aku udah nyuruh Edgard dan anak buahku buat ambil alih seluruh kontrol cctv jalan menuju akses ke gedung tua itu, tapi masih butuh beberapa waktu untuk mencari siapa dalangnya"


Irsyad terlihat mengangguk, "Papi percaya sama kamu" katanya lalu menepuk pelan punggung Davin


Putranya itu sudah benar-benar dewasa sekarang dilihat dari teori yang digunakannya meski dalam keadaan panik tapi ia masih bisa memikirkan cara untuk mencari tahu siapa dalang dibalik penculikan Resha.


"Pap, mungkin ini bukan waktu yang tepat tapi Davin gak mau menunda ini lagi, Davin ingin segera menikahi Resha, Davin gak bisa kalau cuma sekedar bertunangan dulu, Davin gak mau kejadian ini terulang lagi. Setidaknya, dengan Davin tinggal bersama Resha, Resha bisa aman."


Irsyad terlihat mengangguk sepertinya ia sudah tahu jika putranya akan meminta hal itu.


"Kalau kamu memang sudah yakin, nanti papi coba bicara dengan om Adrian soal rencana kamu, dengan catatan Resha sudah sembuh dan om Adrian menyetujuinya" Jawab Irsyad yang mendapat anggukan dari Davin.


Beberapa saat kemudian Davin keluar dari ruangan Resha diikuti Papinya mengingat Raya dkk yang tadi menunggu gantian untuk menjenguk Resha.


"Dave, gimana Resha?"tanya Bagas begitu ia menyembul dari balik pintu ruang rawat Resha.


"Dia belum sadar, kalian masuklah ! aku harus mengurus beberapa hal sebentar. Kabari aku jika Resha sudah sadar" kata Davin lalu berlalu namun lengannya ditahan oleh Alvin. Sebelumnya ia mengisyaratkan kedua temannya untuk masuk lebih dulu.


"Apa kau tahu siapa orang dibalik ini?" Tanya Alvin.


Davin melihat tangan Alvin yang masih menahannya sontak pria itu melepaskannya begitu Davin menatap itu.


Alvinpun mengangguk, "Kabari aku jika kau butuh bantuan"


"Pasti" jawab Davin lalu berlalu dari Alvin.


Alvinpun segera masuk keruang rawat Resha begitu Davin pergi.


Mami Davin juga pamit keluar sebentar dan menyisakan Raya, Bagas dan dirinya. Iapun berjalan menghampiri ranjang Resha yang masih menutup matanya. Disampingnya ada Raya duduk sambil menggenggam tangannya dan Bagas berdiri disampingnya. Ia menatap wajah damai gadis itu, tanpa terasa satu air matanya menetes dan buru-buru ia menegakkan wajahnya lalu berjalan kearah sofa.


"Gue bakal bunuh orang itu kalau gue tau siapa yang bikin Resha kayak gini" kesal Bagas lalu duduk disamping Alvin.


Alvin sempat meliriknya, "Kau masih sama masih menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah" katanya yang membuat Bagas menatapnya.


"Aku tak akan memakai kekerasan kalau dia tak memulainya" seloroh Bagas.


Alvin hanya memutar bola matanya dan memainkan ponselnya. Ia sedang malas berdebat.


...♡♡♡...


Davin menuju kantornya disana Edgard dan Aldo sudah menunggu diruang kendali RDGroups.


"Gimana hasilnya?" tanya Davin tanpa basa basi.


"Gue nemuin ada yang ganjal sebelum pria itu menarik Resha, waktu itu Resha sempat melihat ke bawah gue yakin Resha tau siapa orang yang datang itu" terang Aldo.


"Gue sempat ingin ikut menengok tapi Resha terlanjur ditarik sama anak buah brengsek itu"


Davin nampak berfikir, lalu mengeluarkan ponselnya.


"Periksa dimana nomor itu diaktifkan !" Perintahnya sambil menunjukkan nomor yang kemarin mengirimkan foto Resha dan Reno.


Edgard mengangguk dan emncoba melacak dimana nomor ponsel itu diaktifkan.


"Kawasan kantor Nelon Company, sama seperti dugaan gue" kata Edgard.


Rahang Davin mengeras, "Kumpulkan semua bukti gue akan buat perhitungan dengannya"


"Ponsel yang dipake, sudah tak bisa dilacak posisi terakhirnya di Jalan Kenanga" Edgard menatap Davin


"Lacak cctv terdekat dengan posisi ponsel itu"suruh Davin ia ikut menatap layar Lcd itu.


"Tunggu, ! Zoom mobil itu !"


Edgardpun mengZoom gambar mobil yang berhenti di depan sebuah cafe. Davin menatap plat mobil itu.


"Gue tau pemilik mobil itu" kata Aldo


"Itu milik salah satu staff Nelon Company, gue pernah ketemu waktu itu sama orangnya, dan data kepemilikan mobil itu juga di bawah nama perusahaan Nelon Company " lanjut Edgard.


Davin menatap Aldo dan Edgard bergantian.


"Apa pikiran kalian sama dengan pikiran gue?" tanya Davin.


"Aryani dibalik semua ini ?" Tanya Aldo.


"Gue gak yakin, tapi dari bukti-bukti yang kita dapat wanita itu sepertinya menginginkan pertunangan loe batal, dengan mengirim foto-foto itu ia meyakini kalau Resha main belakang sama pemilik Emerald Corps." terang Edgard.


Davin nampak berfikir,


Kenapa dia melakukannya ?


Apa untungnya?


"Kumpulkan semua bukti buat brengsek itu buka mulut, aku tak akan segan menjebloskannya kepenjara kalau benar dia orang dibalik semua ini "perintah Davin lalu berlalu keluar untuk menuju Rumah sakit kembali.


Brengsek yang dimaksud Davin adalah orang yang hampir saja membunuh Resha. Pria itu memang sempat ditembak oleh Davin namun meleset karena pistolnya ditendang Edgard.


Bukan apa-apa tapi jika pria itu mati mereka pasti akan kena masalah dan sudah pasti tak ada yang bisa mengatakan siapa dalang dibalik semua ini. Davin memang tak berfikir kesana karena pikirannya saat itu sedang kalut dan panik melihat Resha yang tergeletak tak berdaya dengan darah segar mengalir dari perutnya.


Siapapun itu pasti juga akan melakukan hal seperti yang Davin lakukan.


...♡♡♡...


@RegardHospital


Mobil Ferrari berwarna silver itu memasuki areal parkir rumah sakit RegardHospital tempat Resha dirawat sang pemilikpun keluar dari mobilnya tanpa melepas kaca mata hitamnya. Beberapa orang sempat terpana melihatnya namun ia sama sekali tak memperdulikannya ia berjalan tergesa menuju ruangan yang diberi tahu Davin sebelum ia pergi ke rumah sakit itu.


Reno, ya pria itu kini tengah berdiri di lift bersama beberapa orang yang ada didalamnya. Nafasnya sedikit terengah karena berlari terburu-buru, namun wajahnya masih terlihat tenang. Meski jauh berbeda dengan otaknya yang memikirkan seorang wanita yang kini tertidur di bangsal rumah sakit.


Tingg..


Pintu lift terbuka dan ia langsung keluar dan berlari menuju ruang rawat Resha. Sampai di ujung koridor ia melihat Bagas, dan Alvin, ia menghentikan larinya dan berjalan kearah mereka.


Bagas terlihat menatapnya dingin begitu pula Alvin. Hubungan mereka memang tak pernah baik sejak ia pergi meninggalkan Resha ke luar negeri dulu terutama Bagas. Sepertinya pria itu tak pernah menyukai hubungannya dengan Resha dari dulu.


..."Bagaimana keadaan Resha?" Tanyanya begitu sampai dihadapan keduanya....


"Resha belum sadar, lukanya memang tak mengenai organ dalamnya, tapi dia kehilangan cukup banyak darah dan harus menunggu pemulihan" Jawab Alvin.


"Kenapa kau bisa ada disini ?" Tanya Bagas dingin


"Davin memberi tahuku... " Belum sempat Reno melanjutkan omongannya karena pintu ruang rawat Resha terbuka keluarlah kedua orang tua Resha.


Reno agak terkejut ini pertama kalinya mereka bertemu setelah dulu ia pergi keluar negeri. Ada sedikit rasa bersalah di sudut hatinya.


Orang tua Resha juga terlihat kaget melihat Reno.


Kapan mantan kekasih putrinya itu kembali ?


"Om, tante apa kabar?" Sapa Reno.


Papa dan Mama Resha tersenyum.


"Kami baik, kamu sendiri ?" tanya papa Resha.


"Saya baik om" jawab Reno lali beralih menatap mama Resha.


"lama tidak bertemu... Reno" kata Maya lalu memeluk sekilas pria itu.


Reno meneteskan air mata ketika mama Resha memeluknya. Jujur ia sudah menganggap Maya seperti mama kandungnya sendiri, meski pada akhirnya hubungannya dengan Resha tak berakhir bersama.


Terlihat wanita itu mengusap pundaknya, sambil menahan air matanya.


"Kita berdoa yang terbaik untuk Resha, dia pasti bisa bertahan" kata Maya akhirnya.


Reno menggangguk.


"Maafin Reno tante "lirih Reno disela pelukan itu.


Yang ada disanapun melihat ibu dan mantan kekasih putrinya itu ikut terharu. Tak dapat dipungkiri Reno seperti punya tempat didalam keluarga itu meski akhirnya bukan dia yang bersama Resha.


Disisi lain Davin yang melihat dari kejauhan terlihat tersenyum masam. Inilah kenapa dulu Resha begitu susah untuk memulai hubungan baru dengannya. Reno sudah begitu dekat dengan keluarganya terutama mamanya. Meski akhirnya ia menerima Davin tapi ia yakin posisi Reno tetap akan memiliki tempat sendiri meski bukan di masa depannya.


Aku berjanji akan membuatmu hanya melihatku.