THE LAST

THE LAST
Perjodohan



Setelah bertemu dengan Alex di depan cafe Sheila memilih untuk menelepon Rio.


".."


"Hallo"


"..."


"Aku tak bisa menemanimu di dalam, aku akan pulang naik taksi kau tak perlu mengantarku"


"..."


"Aku tak apa"


"..."


Sheila menghembuskan nafasnya setelah tahu panggilannya diputus sepihak. Tak berapa lama Rio datang bersama Reza.


"Apa yang terjadi kenapa tiba-riba ingin pulang ? "tanya Reza khawatir.


Sheila dapat melihat sekarang sahabat kecilnya tengah khawatir sekarang.


Sheila menggeleng, "Maaf Za, tapi aku tak bisa ikut ke dalam aku sedang tak mood sekarang untuk party."


"Apa yang dia lakukan padamu ? apa dia menyakitimu?" Reza menatapnya khawatir, selama ini pria itu memang tahu betul seperti apa hubungan Sheila dan Alex karena memang dialah satu-satunya sahabat yang paling dekat dengan Sheila.


Sheila hanya menggeleng, "Lanjutkan saja acaramu kasihan Raisa dan teman-teman yang lain aku akan pulang saja biar Rio yang mengantarku" ucao Sheila sambil menatap Rio dan diangguki oleh Rio.


Rezapun mengangguk lalu mengacak rambutnya pelan, "Jangan sedih berlarut-larut, dan jangan lupa makan aku akan kerumah nanti"


"Jangan bawel kau pikir aku anak kecil" protes Sheila.


Reza dan Rio terkekeh, "Kau lebih mirip seperti bucin yang sedang putus cinta, honey" Reza merangkul pundak Sheila dan langsung dihempaskan oleh gadis itu.


"Rio, anterin dia hati-hati dia sedang dalam mode galak" seru Reza yang mendapat pukulan dari Sheila yang kemudian berlalu begitu saja.


"Jangan terlalu dekat dengannya, apa kau tidak memikirkan aku?" Sindir Rio sambil melirik Reza sekilas.


"Kau akan lebih cemburu jika melihat bagaimana orang tuanya memperlakukanku di rumahnya" seru Reza lalu ngacir ke dalam karena mendapat tatapan tajam dari Rio.


Sepertinya rencananya berhasil.


Riopun berjalan menyusul Sheila yang sudah lebih dulu. Ia melirik gadis itu yang hanya menatap ke luar jendela mobil.


"Dia menyakitimu?" tanyanya sambil fokus mengemudi.


Sheila hanya menggeleng tanpa berucap.


"Aku baru sadar posisinya cukup sulit untuk kugeser." ucap Rio yang membuat Sheila menatapnya.


"Rio, aku hanya perlu waktu, maaf" ucap gadis itu lalu kembali menatap jalanan dari balik jendela.


Ada perasaan bersalah di sudut hatinya.


"Aku mau kita tunangan" kata Rio yang membuat gadis itu menatapnya kaget.


"Kau gila ?"


"Aku tak bisa memintamu menjadi kekasihku, tapi aku ingin kamu tahu kalau aku serius dengan perasaanku."


Sheila menatap pria itu tak percaya semudah itu ia memintamya jadi tunangannya.


"Mario, jangan membuat hal gila kau tahu pertunangan itu hal yang serius..."


"Dan aku serius" potong Rio yang sudah menepikan mobilnya dan kini menatap Sheila dalam.


"Tapi aku belum pernah berfikir sejauh itu."


"Papaku sudah menemui Daddymu dan dia menyetujuinya"


"Maksudmu?"


"Setahun ini aku memang sudah tahu tentang perjodohan yang direncanakan ini, maaf karena tak memberitahumu sebelumny.a"


Sheila menggeleng tak percaya dengan yang di dengarnya.


Jadi dari awal ia memang dijodohkan dengan Mario.


Kenyataan macam apa ini?


"Bukankah tadi kau bilang kau hanya perlu waktu ? Jadi aku akan memberimu waktu dengan bertunangan denganku" lanjut Rio dan kembali menjalankan mobilnya.


Suasana hening tak ada yang memulai pembicaraan sampai mobil Rio memasuki areal mansion mewah keluarga Billionaire itu.


Sheila melepaskan sabuk pengamannya sebelum ia turun. Kali ini Rio juga ikut turun bagaimanapun Sheila sudah tahu dan dipastikan ia akan tetap melanjutkan rencananya. Gadis itu tak berucap apapun selain saat Resha Adriana menyambutnya di ruang tamu.


"Sheila mau mandi dulu Mom" pamitnya lalu pergi begitu saja setelah diangguki Resha.


Terlihat ia berpapasan dengan Daddynya namun tak menatapnya sedikitpun dan terus naik ke lantai atas menuju kamarnya.


"Rio, lama tidak bertemu" kata Davin lalu bersalaman denga Rio.


"Om makin awet muda aja" seru Rio membuat Davin dan Resha tertawa renyah.


"Kau juga makin tampan, seseorang tak akan menyangka kalau kamu anaknya Daniel Arganta dan pemilik EmeR Corps." timpal Davin.


"Om bisa aja."


"Oh iya tentang itu... Semua acara sudah disiapkan minggu depan apa kau sudah berbicara dengan Sheila ?"


"Saya sudah mengatakannya hari ini, tapi mungkin Sheila masih belum bisa menerima karena memang ini begitu mendadak."


"Saya serahin sama kamu, saya percaya kamu bisa membuatnya mencintaimu"


Riopun mengangguk, "Saya minta doanya om"