THE LAST

THE LAST
PART VII: Tidak Sangka.



Hai.. Saya update lagi. Silahkan vote, like, favorite The Last ya. Terima kasih yang sudah mau baca The Last. 💜


------------------------


Oh.. tidak tidak. Aku harap mereka belum menutup gerbangnya. Aku berlari sekencang mungkin menuju gerbang Fakultasku, jangan tanya lagi aku telat karena apa dan aku tidak menyesalinya. Aku sudah menduganya semalam hehe..



Untung saja, gerbangnya belum tertutup. Lagipula cuaca hari ini juga sangat mendukung mahasiswa\-mahasiswi lainnya untuk telat ke kampus. Sebenarnya aku sudah tidak ingin datang, tapi aku teringat dengan tugas—yang untungnya bisa ku selesaikan semalam harus dikumpul hari ini. Aku duduk di bangku ku, aku terengah, keringat juga mengalir di dahiku.



“Tumben sekali kamu telat?” Zee menyodorkan sebuah botol minuman kepadaku, aku mengambilnya dan langsung meneguknya.



“Hei.. pelan\-pelan saja. nanti kamu tersedak” Tak ku hiraukan ucapan Zee, aku hanya ingin melegakan tenggorokkan ku kembali.



“Ahh.. ini benar\-benar melegakan. Terima kasih, Zee” Aku tersenyum manis kepadanya, dia balas tersenyum. “Dimana Zoe?” sedari tadi aku tidak melihatnya.



“Dia terkena flu, tidak terlalu parah. Kamu tahu kan kalau dia tidak kuat dengan cuaca yang dingin seperti ini” Aku menganggukkan kepalaku, Zoe memang sangat sensitif dengan cuaca dingin.



“Sepulang kuliah, aku akan menjenguknya”



“Baiklah”



“Tapi, mampir dulu ke apartemen ku ya. Aku ingin membuatkannya teh bunga” Zee hanya mengangguk sambil tersenyum, dia duduk di bangkunya yang memang bersebelahan denganku. Sudah jam 9, tapi Miss Rasta belum datang. Apa Miss Rasta datang terlambat?



“Zee, apa Miss Rasta tidak menghubungimu?”



“Tidak, sedari tadi aku meng\-scroll pesan ku tetapi tidak ada apapun. Hanya ada pesan operator yang menawarkan paket data murah” Aku tertawa dengan candaannya, bisa\-bisanya anak ini bercanda disaat serius seperti ini.



“Hei!! Simpan barang\-barang pribadi kalian, akan ada razia!!” Aku langsung menghentikan tawaku, dan semua langsung riuh, mengeluarkan barang\-barang yang dilarang di bawa ke kampus.


Ada yang membawa Make Up, ada yang membawa alat pengeriting rambut, ada yang membawa parfum, ada juga yang membawa 5 handphonenya. Ada-ada saja pikirku, padahal sudah ada peraturannya, bahkan di pasang di setiap pintu kelas tapi tetap saja ada saja yang melanggarnya dan sekarang mereka mulai mencari tempat persembunyian yang benar-benar aman agar tidak ketahuan. Biasanya sih selamat, karena yang meng-razia itu Sir Patrick—gampang dibodohi soalnya.


Zee dan aku yang paling santai disini, karena kami memang tidak membawa barang-barang yang di larang. Terkhusus bagi Komisaris Kelas seperti Zee di perbolehkan membawa Handphone, namun hanya boleh untuk berkomunikasi dengan Dosen dan perihal hal yang menyangkut Perkuliahan saja.


Pintu kelas kami dibuka oleh seseorang, aku mengernyitkan dahiku biasanya jika Sir Patrick yang masuk maka dari kejauhan sudah terdengar teriakannya yang membahana. Tapi aku tidak mendengar teriakan itu sedari tadi, dan sekarang ada yang membuka pintu kelas kami dengan tiba\-tiba. Mereka semua langsung kembali ke tempat duduknya masing\-masing.



“Selamat pagi, saya James yang hari ini bertugas untuk memeriksa Kelas ini” Astaga, James? Aku tidak menyangka kalau dia yang akan meng\-razia kelas kami. Tamat sudah riwayat mereka. Ku lihat ke arah belakang, eh.. Cillia hari ini tidak datang ya? Aku baru sadar, untung saja dia tidak datang. Dan ku lihat ke arah kananku ternyata Denny sudah datang yang telah menempati tempatnya, aku tak peduli.



“Agar Razia ini berjalan dengan singkat. Lebih baik kalian keluarkan semua barang\-barang kalian dan taruh di dalam kotak ini” James langsung meletakkan kotak besar di atas meja. Hari ini dia begitu tampan—sama seperti sebelum\-sebelumnya tapi aku teringat kata\-katanya semalam membuatku pipiku merasakan panas, astaga ini bukan saatnya untuk merona.



Aku menundukkan kepalaku, menghindari tatapannya. “Apa lantai itu lebih menarik daripada diriku, hm?” Reflek aku mengangkat kepalaku, dan wajah James tepat di depan wajahku. Aku tercekat, jantung.. ku mohon jangan lari dari tempatmu.



“Kamu sakit?” tanyanya lagi, aku menggelengkan kepalaku pelan. Aku tidak sanggup untuk mengeluarkan suaraku. Aku hanya takut kalau mulutku bau, kan sangat tidak lucu jika James mengatakan, ‘Kamu tidak berkumur tadi pagi ya?’ Oh.. astaga bisa mati di tempat aku.



James tersenyum, kembali menegakkan badannya dan mulai berjalan ke arah belakang. Astaga, astaga, astaga, dia tersenyum padaku. Senyumannya itu benar\-benar mematikan, apa karena itu makanya dia jarang tersenyum. Bahkan di saat dia jarang tersenyum aja, aku sudah jatuh hati dan tadi dia tersenyum, hanya untuk diriku? Aku butuh oksigen!



“Hei, ayo ke Klinik, disana tersedia tabung oksigen yang besar untukmu” Zee meledekku, dan wajahku sudah semerah cabai di pasar. Zee hanya menahan tawanya, aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku malu!


-The Last-


“Jadi, menjenguk Zoe?” Aku mengangguk, “Tentu saja jadi. Mampir dulu ke apartemenku ya” Zee hanya mengangguk. Ternyata Miss Rasta tidak hadir hari ini, sedikit kesal sih karena aku berlari tunggang \- langgang seperti dikejar setan tapi ternyata Dosennya tidak datang.



“Aku tunggu di parkiran ya”



“Oke, nanti aku kesana” Zee pun keluar, hanya tinggal aku disini aku masih mencatat beberapa peraturan baru yang tadi di beritahukan oleh James, janga tanya kenapa aku masih mencatatnya, aku tidak bisa fokus menulis dari tadi, jadinya aku meminjam catatan Zee untuk ku catat ulang. Setelah selesai, aku memasukkan barang\-barang ku ke dalam tas, aku beranjak dari tempat dudukku, menyusul Zee di parkiran, dia pasti sudah menunggu lama.



“Wah! Astaga!” Bagaimana tidak kaget kalau secara tiba\-tiba ada yang memegang tanganku.



“Maaf membuatmu kaget”




“Maaf” Kata itu terucap, tapi sepertinya sudah terlambat. Jika saja dia belum mempunyai hubungan apapun dengan wanita lain—sahabatku lebih tepatnya.



“Tidak perlu, karena sedari awal ini bukanlah salahmu. Ini salahku yang tidak bisa membuatmu bertahan dalam hubungan yang telah lalu itu” Aku berjalan pergi, aku hanya tidak ingin hati ini kembali luluh dengannya. Aku sudah memantapkan hatiku untuk James.



“Bukan keinginanku, ini idenya agar aku bisa kembali bersamamu” Aku menghentikan langkahku. Apa maksudnya ?



“Kami hanya berpura\-pura, agar kamu merasa cemburu” Hah.. lelucon apa ini?



“Lelucon kalian tidaklah lucu” aku kembali berjalan keluar, aku tidak ingin ia meneruskan penjelasannya itu, yang akan membuatku ragu denagn perasaan ini. Kenapa harus seperti itu? Untuk apa? Dan satu hal yang tidak ku sangka adalah Cillia—sahabatku yang membuat lelucon yang tidak lucu ini.


-The Last-


“Maaf, sudah membuatmu menunggu lama, Zee” Mood ku hancur seketika, mendengar pernyataan dari Denny tadi. Aku tidak tahu itu benar atau tidak, apa aku harus menanyakannya langsung dengan Cillia? Apa aku harus ke rumahnya?



“Hei, Daisy. Ada apa denganmu? Ada masalah?” Apa aku harus menceritakannya pada Zee? Tapi aku belum tahu kebenarannya.



“Daisy, jangan pernah menutup\-nutupi masalahmu padaku. Tanpa kamu beri tahu, aku akan mengetahuinya dan jika masalah itu membuatmu dalam bahaya, maka aku tidak akan tinggal diam” Zee memang begitu, jika aku tidak menceritakan masalahku padanya, maka dia akan langsung membereskan masalah itu tanpa jejak.


Seperti kejadian tahun lalu, aku di bully oleh kakak kelas dari jurusan Agribisnis yang membuatku harus berjalan pincang. Aku berbohong pada Zee, mengakui bahwa aku tertabrak mobil saat pulang. Tapi, keesokkan harinya, ku lihat Kakak kelas yang membullyku itu berjalan dengan bantuan tongkat, dan kepalanya di perban. Aku pikir mungkin dia sudah terkena karmanya, ya itu memang karmanya hanya saja yang mewujudkan karma itu adalah Zee. Awalnya aku tidak tahu, namun setiap kali Kakak kelas itu menatap ke arah Zee, maka dia akan menghindari Zee sebisa mungkin, seperti ketakutan. Karena aku penasaran, aku bertanya pada Zoe apa yang sebenarnya terjadi dan Zoe menceritakan semuanya sedetail mungkin.


“*Jika saja kamu mau mengatakannya dengan jujur, mungkin wanita sial itu tidak akan seperti itu. Bukan berarti pula ini gara\-gara dirimu, tapi memang Zee ‘sedikit’ kejam dengan orang\-orang yang membuatmu berada dalam masalah, apalagi sampai membuat kaki mu pincang seperti ini. Ingin ku cabik\-cabik mukanya itu, tapi Zee masih memiliki belas kasihan, dia masih membiarkan wanita sial itu bernafas, jika saja aku yang terlebih dahulu mengetahuinya maka wanita itu hanya tinggal nama saja*”



Setiap aku mengingatnya aku akan merinding seketika, sejak saat itu aku selalu jujur dengan mereka apapun itu, aku hanya takut mereka berdua masuk ke penjara hanya karena ingin membela ku. Mereka berdua memang lumayan protektif terhadap orang\-orang yang dekat dengan mereka. Semua itu karena masa lalu mereka yang tidak mengenakkan.



“Aku akan menceritakannya di dalam mobil saja” Aku masuk ke dalam, mendudukkan diriku dengan nyaman. Memang sebaiknya aku mengatakannya. Zee juga ikut masuk dan menyalakan mobilnya.



“Jadi?” Aura dinginnya menguar, aku sangat paham dengan ini. Ketenangan Zee terusik.



“Jangan marah, jangan melakukan apapun untuk mencelakai orang itu jika aku menceritakannya. Janji?”



“Ya” Aku menarik nafas dan membuangnya sedikit kasar, “Denny mengatakan sesuatu padaku”



“Apa itu?” Kata\-katanya memang terdengar santai, namun raut wajahnya sangat tidak sesantai ucapannya. Dahinya mengernyit, dan tatapannya berubah tajam menatap jalanan di depan.



“Kamu sudah berjanji, Zee” Ku lihat dia berusaha 'sedikit' merilekskan kernyitannya juga tatapan tajam itu.



“Aku tidak tahu apa yang dia katakan itu benar atau tidak. Dia mengatakan bahwa dia hanya berpura\-pura pacaran dengan Cillia hanya untuk membuat ku cemburu dan kembali padanya. Dia juga mengatakan kalau Cillia\-lah yang merencanakan itu dan sekarang aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat, aku merasa seperti di permainkan—jika itu benar, jika tidak maka.. entahlah aku tidak tahu” Ini sangat membingungkan ku. Ketika aku sudah berniat ingin melupakan Denny, dia dengan tiba\-tiba memberitahuku pernyataan yang membingungkan.



“Aku akan membantumu mencari tahu kebenarannya”



“Tanpa kekerasan?” Zee mengangguk,


“Tanpa ada luka sedikitpun ?” Ia mengangguk kembali,


“Tanpa memutar balikkan fakta?”


“Iya, Daisy. Kali ini aku tidak bermain dengan kotor. Jadi biarkan aku yang mencari tahu\-nya, dan tetap jauhi Denny, jangan berencana untuk kembali padanya atau dia akan berhadapan dengan Zoe” Zoe adalah pilihan yang amat buruk.



“Aku akan menjauhinya”



“Bagus, ini baru Aisy\-ku” Aku tertawa pelan, aku tidak ingin tepuruk kembali pada perasaan yang sama dengan orang yang sama.


TBC.


Syalalala~~


Denny boong gak ya?


Hehe 😁