
Aku bisa gila! Ini sudah jam 10 dan aku baru saja bangun dari tidurku yang hanya 2 jam.
Aku terus kepikiran dengan kejadian semalam, mengapa dia harus repot-repot datang ke tokoku hanya untuk membeli sebatang Daffodil? Yang ku tahu, dia tinggal di London dan harus pergi ke Oxford hanya untuk membeli bunga di tokoku yang bahkan sudah tutup.
Apa tidak ada lagi toko bunga di daerahnya tinggal? Apa semua toko bunga tutup di jam 8? Apa sebenarnya yang ada dipikirannya itu? Semua pertanyaan itu terus berputar di kepalaku sampai\-sampai aku harus merelakan jariku yang tergores gunting saat ingin memotong batangnya, dan yang lebih luar biasanya lagi aku tidak bisa tertidur sampai jam 8 pagi.
Aku tidak tahu, hal ini bisa ku anggap kesialan atau keberuntungan. Aku terlambat untuk berbelanja, sudah dipastikan toko itu ramai. Aku segera mandi, memakai pakaian, mengambil tas dan dompet lalu turun ke bawah untuk mengambil sepedaku.
Hari ini hari Minggu, tidak hanya ramai tapi jalanan pasti padat akan orang\-orang dan butuh waktu 30 menit untuk sampai ke toko langgananku jika memakai sepeda, jika menaiki taksi dan bus akan lebih lama lagi, jangan tanya mengapa. Orang\-orang di hari minggu lebih memilih untuk naik kendaraan umum daripada kendarannya sendiri, terbayangkan bagaimana padatnya kendaraan umum dan taksi?
Aku mengayuhkan sepedaku dengan sedikit cepat, aku takut jika toko itu kehabisan bibit bunga. 30 menit ku tempuh dan akhirnya aku sampai di toko ini, Seed Store. Ku parkirkan sepedaku di tempat yang sudah disediakan dan apa yang ku lihat ini? Barisan orang\-orang yang mengantri untuk masuk ke dalam toko. Bisa dibilang kalau toko ini memang pusat dari tanaman dan bunga\-bunga kota ini.
Aku mulai berjalan ke arah belakang, mencari ujung dari barisan ini. Untung saja tidak terlalu jauh, hanya 6 orang di depanku. Semoga apa yang ku butuhkan bisa ku beli semuanya. Hampir 20 menit aku mengantri, dan akhirnya aku bisa masuk ke toko.
“Selamat datang di Seed Store, Ms. Park. Sepertinya kamu kesiangan ya Miss?” Dia Anna, anak dari pemilik toko ini. Anna juga berkuliah di Oxford , jurusan yang sama denganku tetapi dia anak baru masih Semester 1.
“Yah.. begitulah, Anna. Aku bahkan baru tidur selama 2 jam saja” Anna tertawa kecil mendengar keluhanku.
“Apa yang membuatmu hanya tidur 2 jam saja, Daisy?”
“Emm.. itu, aku mengerjakan tugasku sampai lupa waktu” tidak mungkin kan mengatakan yang sebenarnya, bisa\-bisa aku terus diejek olehnya.
“Hahahha.. jangan terlalu memaksakan diri. Kamu juga butuh istirahat. Jadi apa saja yang ingin kamu beli, Daisy?” Aku memberinya catatan pembelianku kepadanya, dan ia mulai mengambil keranjang dan menaruh barang\-barnag yang ada di cacatan itu.
Aku pergi melihat\-lihat bunga\-bunga dan tanaman yang ada di toko ini, benar\-benar sangat terawat, tanaman dan bunga\-bunga ini tumbuh dengan sangat cantik. Ku lihat bunga Daisy yang berada di tengah\-tengah tanaman bambu, sangat cantik.
“Daisy, ini semua keperluanmu. Aku akan meletakkannya di kasir ya”
“Baiklah” Aku langsung berjalan menuju kasir, disana terdapat Nyonya Beatrize—pemilik toko ini. “Selamat pagi, Ms. Beatrize. Bagaimana kabarmu?”
“Oh.. selamat pagi, Daisy. Baik seperti biasanya. Aku mengira bahwa kamu tidak datang hari ini. Kesiangan?”
“Begitulah. Jadi berapa totalnya?”
“Semuanya $150” Aku mengeluarkan dompet dan memberinya uang $200
“Kembalian $50, terima kasih sudah berbelanja disini, Daisy”
“Iya, Ms. Beatrize. Terima kasih kembali. Tolong antarkan ke toko ya, Anna” Anna menganggukkan kepalanya , “Bye, aku tunggu”
Aku pun keluar, sepertinya cuaca sudah mulai dingin. Yah, ini memang sedang musim gugur, aku lupa memakai mantel ku tadi. Aku tidak terlalu tahan dengan cuaca dingin, tetapi aku suka musim dingin. Aku suka dengan salju\-salju yang menumpuk di atap dan di jalanan, aku selalu membuat boneka salju di saat musim dingin.
Ku lihat beberapa pohon Maple mulai berguguran terhembus angin. Disini tidak banyak pohon Maple, sangat jarang orang yang ingin menanam pohon Maple. Aku suka pohon Maple, aku sempat ingin berkuliah di Universitas Kanada, karena disana banyak sekali pohon\-pohon Maple, bahkan daunnya menjadi simbol negara itu.
Tidak terasa aku telah sampai di depan toko ku, aku turun dan membuka pintu. “Selamat pagi tanaman\-tanamanku” aku menuju ruang kaca, kembali menyapa tanaman\-tanaman itu. Aku keluar , mengambil air di dapur untuk menyiram tanaman\-tanaman ini.
“Hai, Daffodil, kamu pasti kesepian. Tunggulah beberapa saat lagi ya, teman\-teman akan datang” Aku menyemprotkan air ke kelopaknya dan begitu juga dengan semua bunga disini. Setelah itu aku keluar, memasang selang air untuk menyiram tanaman di luar.
“Maaf ya, aku terlambat bangun. Seharusnya aku sudah memandikan kalian sedari tadi. Kalian pasti sudah sangat butuh air ya? Nih, aku akan memberikan air kepada kalian” Aku bersenandung kecil, hah.. walaupun cuaca hari ini sedikit dingin tetapi matahari masih memunculkan dirinya, beberapa hari lagi tanaman ini akan ku pindahkan ke ruang kaca.
Sfx: pip pip
Ah.. ternyata sudah sampai. “Hai Daisy” Dia Daniel, pengantar bunga. Dia juga berkuliah di Oxford, Semester 5 jurusan Sastra.
“Hai, Daniel. Bisa kan membantuku mengangkatnya masuk?”
“Tentu saja bisa, itu memang pekerjaanku” Daniel mulai mengangkat masuk, aku pun ikut membantu, membawa bunga\-bunga yang telah ku pesan menaruh di atas meja.
“Sudah semua, kan?” Aku menganggukkan kepalaku, “ Baiklah, silahkan tanda tangan ini” Aku mengambil pulpen dan menandatanganinya, Daniel mengoyak kertas itu dan memberinya kepadaku.
“Terima kasih sudah berbelanja di Seed Store” Aku tertawa mendengarnya
“Hei.. seperti pelanggan baru saja, kamu ingin the, Daniel? Ku lihat kamu tidak ada antaran lagi”
“Jika itu tidak merepotkanmu, ya begitulah. Tadi memang aku di suruh untuk mengantar pesananmu saja” Aku menganggukkan kepalaku, aku sudah sangat paham dengan Ms.Beatrize yang menjodoh\-jodohkanku dengan Daniel. Padahal aku masih berusaha mengejar orang itu. Aku pergi ke dapur, membuatkan the untukku dan Daniel juga beberapa kue kering .
“Silahkan di minum, Tuan Daniel. Ini menu spesialnya, kue kering buatanku sendiri”
“Terimakasih, Nona Park” Aku tertawa, Daniel itu seseorang yang easy\-going bisa dekat dengan siapapun, ramah kepada siapapun, mungkin karena itu kami bisa menjadi teman seperti ini. Saat di kampus pun, jika sedang beristirahat dia selalu menggangguku. Selera humornya sama denganku, aku merasa seperti memiliki seorang Kakak laki\-laki. Dia juga menjagaku dan melindungiku saat ada beberapa gadis centil atau laki\-laki hidung belang mengangguku. Ngomog\-ngomong dia British. Jangan tanya padaku seberapa seksinya dia, kalian pasti tidak akan bisa tahan.
“Hei.. Aku ingin mengajakmu menonton malam ini. Kamu tidak ada kegiatan apapun kan?”
“Ingin menonton apa?” Ahh.. aku baru saja teringat ajakan Cillia untuk menonton, “Cillia mengajakku pergi menonton juga malam ini, tapi aku masih belum mengatakan kalau aku ikut atau tidak”
“Ohh.. begitukah? Bagaimana kalau kita bertiga pergi bersama? Menonton Frankenweenie tentu saja” Tugasku masih belum ku kerjakan, padahal semalam aku ingin mengerjakannya, tapi kejadian itu membuatku jadi tidak bisa berbuat apapun.
“Andai saja aku bisa, kamu tahu Daniel, tugas\-tugasku sudah sangat menumpuk dan aku harus menyelesaikannya malam ini. Jadi aku tidak bisa ikut dengan mu dan Cillia”
“Tidak apa\-apa, kapan\-kapan juga bisa. Kerjakanlah tugasmu dahulu. Sebaiknya aku kembali, kamu tahukan Ms.Beatrize bagaimana, dia pasti sudah berpikiran yang aneh\-aneh tentang kita” Aku tertawa, itu sudah pasti terjadi, Ms.Beatrize akan terus mengganggu kami berdua sampai kapanpun.
“Hahaha.. aku sangat paham” Daniel tersenyum dengan manis, andai saja aku bisa jatuh cinta dengannya, sudah pasti aku akan bahagia terus. Tapi, aku malah jatuh cinta dengan manusia sedingin Es Kutub Utara, tak tersentuh dan yang lebih parahnya lagi dia tidak tahu bahwa aku mencintainya. Menyedihkan sekali.
Kami berjalan keluar, Daniel masuk ke dalam mobil trucknya sebelum benar\-benar pergi, dia melambaikan tangan padaku, aku juga membalas lambaian itu sambil tersenyum. Siapapun wanita yang menjadi Istrinya kelak , dia pasti akan menjadi Istri paling beruntung di dunia.
Aku kembali masuk ke dalam, mengankat cangkir dan piring bekas ke dapur, mencucinya dan mengeringkannya. Aku harus segera pulang, tugasku tidak akan siap jika aku menundanya terus. Aku menutup semua jendela, dan mengunci pintu. Sudah jam 1 siang ternyata, aku ingin membeli roti, aku sampai melewatkan sarapanku dan sekarang sudah waktunya makan siang.
Ku kayuh sepedaku menuju toko roti langgananku. Aku kenal dengan semua pedagang disini, hampir. Karena memang mereka dekat dengan kampus dan apartement ku, aku tidak terlalu mahir untuk urusan masak\-memasak, jadi aku akan selalu membeli roti atau makan di resto\-resto/toko\-toko terdekat dan jajanan yang ada yang ada di pinggiran jalan. Jika uangku sudah mulai menipis aku akan berbelanja sayuran dan memasaknya di apartementku hahaha..
Sfx: Bruukkk..
“Hei.. Adik kecil, kamu tidak apa-apa?” Ku lihat lututnya sudah berdarah, aku langsung merobek kemeja ku untuk menutup lukanya.
Aku melihat ke arah belakang dimana si penabrak itu hanya berdiri, wajahnya tidak begitu jelas dan aku sudah tidak peduli , anak ini harus segera ku bawa ke Rumah sakit terdekat.
“Sudah menabrak malah diam saja, dasar manusia zaman sekarang tidak ada rasa bersalahnya” Ku angkat anak itu dan berlari menghampiri taksi yang baru saja menurunkan penumpangnya.
“Excuse me, Sir. Can you drive me to Hospital?”
“Ohh.. Yes, Miss” Aku langsung naik dan duduk, “Rumah sakit yang dekat dari sini saja, Sir” Si Supir menganggukkan kepalanya, anak ini masih meringis menahan sakit. Aku salut dengan anak ini yang tidak menangis dan malah menahannya.
“Sebentar lagi kita sampai ke Rumah Sakit, peluk saja aku jika kamu mau” Anak itu langsung memelukku, aku mengeratkan pelukanku.
“Kita sampai, Nona”
“Baiklah, ini bayarannya, kembaliannya ambil saja ya, Pak” Aku langsung turun dan berlari menemui suster, “Suster, Anak ini terluka”
“Ayo, saya antarkan dimana ruangannya”
“Silahkan masuk , dan baringkan Anak itu di tempat tidur ya” Aku membaringkan Anak itu di sini dan Suster langsung membuka kemeja yang ku ikat di lutut Anak itu. Ia mengambil kotak P3K, mengeluarkan alkohol dan kapas.
“Tahan sedikit ya, ini hanya sakit sebentar setelahnya sudah tidak lagi” Aku mendekat ke arah Anak itu, aku tahu dia ketakutan .
“Pegang tangan ku jika kamu merasakan perih” Dia memegang tanganku dengan erat, Suster mulai membersihkannya dengan alkohol. Ku lihat ekspresi anak itu yang meringis menahan perih, pengangan tangannya berubah menjadi mencekram tangan ku. Aku sangat maklum dengan rasa perihnya.
“Nah, sudah selesai. Sudah tidak perih, kan?” Anak itu menganggukkan kepalanya pelan.
“Apa ada obat untuk lukanya, Sus?”
“Lukanya tidak terlalu parah, hanya harus di beri alkohol dan mengganti perbannya saja. Nona, Ibunya atau Kakaknya?”
“Ahh.. Bukan keduanya, aku hanya menolongnya, dia tertabrak oleh pengendara sepeda di dekat taman dan saya langsung membawanya kesini”
“Ohh.. begitu. Ini Alkohol dan Perbannya, nanti informasikan saja kepada Orang Tua Anak ini untuk setiap hari mengganti perban dan beri lukanya alkohol”
“Baiklah, Suster. Terima kasih”
“Sama\-sama” Aku menggendong kembali Anak itu keluar , mendudukkannya di sebuah taman kecil di samping Rumah Sakit ini.
“Bolehkah aku tahu siapa namamu Adik Kecil?”
“Namaku Derren Calviro Lee”
“Wah.. nama yang bagus. Kamu ingat dimana Rumahmu?” Dia menganggukkan kepalanya, sungguh menggemaskan.
“Baiklah, aku akan mengantarmu kesana” Aku memanggil taksi dan masuk ke dalam. Aku memberitahukan Alamat yang diberikan olehnya, ternyata Orang Tua sudah mengantisipasinya dengan menaruh sebuah kertas berisi alamatnya di saku celananya, yang tidak ku sangka kami memasuki perumahan Elit London, Aku tidak begitu tahu jalan disini, pantas saja lama sekali sampainya. Kenapa pula, anak ini bermain di Oxford?
Kami sampai di depan rumahnya, ya.. alamat yang di tulis begitu lengkap sampai nomor rummahnya juga diberitahu. Aku kembali menggendong anak itu, dan menekan bel yang berada di samping pagar.
‘Siapa dan ada keperluan apa?’ Wahh.. Bell\-nya mengeluarkan suara, “Em.. Saya ingin mengantarkan Derren” dan seketika pagar itu terbuka, menampilkan jalanan yang di kanan\-kirinya berjejer pohon Cemara dan rumahnya ada di depan sana. Sialan , aku mengumpat dalam hati, memang sih Anak ini tidak berat, bukannya sangat memakan waktu jika aku harus berjalan ke sana. Aku berjalan masuk, menikmaati jalanan dengan melihat pohon\-pohon cemara dan beberapa pohon hijau lainnya, mungkin mereka senang dengan suasana yang sejuk dan adem .
Ku lihat di depan sana, ada seseorang yang berlari ke arahku. Akhirnya ada juga yang menjemput anak ini. Semakin lama, Orang itu semakin mendekat dan aku terpaku.
“Viro, kamu tidak kenapa\-kenapa,kan?” Suara beratnya, ini benar\-benar dia.
“Aku tidak apa\-apa, Paman” Aku melebarkan kedua mataku, What the? James Pamannya? Pantas saja anak ini begitu tampan dan kalem. Paman dan keponakan sama saja ternyata. James mengangkat Derren dari gendonganku.
“Kenapa dia bisa ada di kamu?”
“Hah? Aku?”
“Lalu, siapa lagi?” Ingin sekali ku tonjok wajah tampannya itu, apa dia harus ketus begitu dengan orang yang sudah menyelamatkan Keponakannya yang tampan itu?
“Emm.. Derren tertabrak saat ingin menyeberang dan aku langsung membawanya ke rumah sakit terdekat, lukanya tidak begitu parah hanya saja harus mengganti perban dan memberi lukanya alkohol setiap hari dan kalau bisa jangan terkena air dulu dan ini perban juga alkoholnya”
“Oke” Dia berbalik dan berjalan menjauhiku. Sialan, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Speechless dengan dia yang hanya mengucapkan 1 kata saja, tanpa adanya terima kasih atau apapun, kenapa aku harus suka dengan orang yang seperti dia?
Aku juga berbalik, lebih baik aku segera pergi saja dari sini. Sial sekali rasanya, aku harus mengeluarkan ongkos lagi untuk kembali, jangan mengira kalau ongkosnya murah. Bayangkan saja aku seperti sudah ke luar kota kalau begini. Aku melihat jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 3 sore dan aku belum makan sama sekali dari pagi. Kenapa aku begitu sial sih?
Aku kaget karena ada yang menarik rok panjangku, aku berbalik dan kulihat Derren sedang menatapku dengan imutnya. Ingin sekali ku bawa pulang. Aku berjongkok , menyejajarkan tubuhku dengan Derren .
“Ada apa, Derren?” Aku melihat James memandang kami berdua, aku tidak bisa berlama\-lama memandang wajahnya.
“Thank you, Auntie. Sudah menyelamatkan ku, membawaku ke rumah sakit, dan mengantarkanku pulang” Derren memegang kedua pipiku lalu dia mencium bibirku. Em.. okay ini tidak bisa dibilang ciuman pertama bukan? Dia hanyalah anak kecil namun tampan juga imut. Tidak apalah ya, tidak dapat Pamannya, keponakannya juga tak masalah.
“Sama\-sama, Derren. Sana masuklah, Auntie harus pulang. Lain kali hati\-hati jika bermain di taman ya” Aku mengusap rambutnya dan dia menganggukkan kepalanya dengan kuat. Aku berdiri dan memandang James disana, aku tersenyum padanya tanda pamit.
Sial atau beruntung hari ini, aku nikmati saja. Dengan kesialan ini aku bisa bertemu dengan pujaan hatiku dan aku bisa menyelamatkan keponakannya. Banyak hal baik yang ku dapatkan dari kesialan ini dan semoga aku bisa mengerjakan tugas dan makan nanti.
TBC.
*Jangan lupa buat vote ya, temen-temen sekalian...
Semoga kalian suka 💜
S i n t a*.