THE LAST

THE LAST
PART V : Buka Hati?



Hari ini,aku sedikit semangat. Perasaanku sudah lebih baik setelah menceritakannya kepada Zee dan Zoe. Karena mereka juga, pikiranku terbuka. Yah .. Denny hanya ingin mengejar mimpinya untuk bisa kuliah di Oxford, dan karena alasan itu juga aku berusaha mendapatkan beasiswa di Oxford.



Jujur, ternyata perasaan itu tidaklah hilang. Dia hanya bersembunyi untuk sementara waktu, memulihkan perasaan yang telah tersakiti. Aku sudah bilang kan , kalau aku tidak mudah menyerah dengan perasaanku dengan mudah, apalagi dia adalah cinta pertamanku.



Aku memarkirkan sepedaku di tempat yang sudah tersedia. Aku berjalan masuk menuju fakultas ku. Hari ini cuaca mulai dingin, aku memakai mantel hangat ku agar tidak kedinginan, jangan lupakan fakta bahwa aku tidak tahan dengan rasa dingin walau aku menyukai musim dingin.



Daun\-daun mulai berguguran, sepeti menghias jalanan ini. Aku mengambil Handphone ku yang berada di saku mantel, emmbuka aplikasi foto, mulai membidik jalanan yang indah menurutku. Hasilnya sangat bagus!



“Daisy!!” Itu teriakan Cillia, aku berbalik ke arah belakang . aku melihat Cillia menggandeng tangan Denny. Apa secepat itu Cillia dekat dengan laki\-laki? Kenapa harus Denny?



“Cill, entar aku laporin lho kamu ke pacar kamu, main gandeng anak baru aja” ku lihat Denny yang terus menatapku dengan tatapan tenang namun mampu menenggelamkanmu ke dalamnya, berbeda dengan tatapan mata James yang dingin namun aku merasakan kehangatan di dalamnya.



“Ohh.. iya , aku belum pernah kenalin ke kamu ya. Ini Denny, pacarku” WHAT?!


“Emm.. ini pacar kamu selama ini?” Cillia mengangukkan kepalanya semangat, tapi tidak dengan diriku yang sudah melemas.



“O\-oh.. hahaha.. eemm.. kenalin aku Daisy Daffodil Park, panggil aja Daisy” Ku ulurkan tanganku dengan gemetar. Aku sekarang tahu rasanya berpura\-pura baik\-baik saja padahal hati terluka.



Dia membalas uluran tanganku dan tubuhku rasanya menegang. Sudah lama rasanya, tangan ini masih saja sehangat dulu, tapi sekarang tangan ini milik orang lain yang membuatku semakin miris adalah pemiliknya merupakan sahabatku sendiri. Lelucon yang sangat bagus.



“Namaku Denny William Kim, panggil saja Denny” Aku sudah tidak kuat, aku harus segera melepaskan genggaman ini, ku coba tarik namun dia menahannya. Aku tidak ingin mereka melihatku menangis, apalagi Cillia. Aku tidak ingin dia tahu bahwa pacarnya adalah Mantan yang ingin ku lupakan namun aku masih mencintainya.



“Tolong lepas genggaman tanganmu itu” Aku mendongak, melihat James memegang lengan Denny. “Ahh.. tolong lepaskan, aku terburu\-buru” aku menghempaskan genggamannya dengan kuat, setelah terlepas aku langsung lari.



Aku tidak ingin mereka melihatku yang seperti ini, tanpa sengaja aku menabrak tubuh seseorang dengan cukup kuat, “Maafkan aku.. hiks.. maafkan aku, aku tidak hiks melihatmu” aku melihat siapa yang ku tabrak dan Zoe melihatku dengan tatapan tanya juga bingung dan tangisan ku sudah tidak dapat ku bendung lagi. Aku memeluk Zoe, menyembunyikan wajahku di dadanya.



“Hiks.. Zoe.. hiks.. Zoe”



“Hei.. Daisy ada apa denganmu? Mengapa kamu sampai seperti ini?”



“Denny, Zoe hikss.. sepertinya aku salah sudah membuka hati hikss.. Zoe .. hiks .. aku ingin bolos, aku tidak ingin masuk hari ini. Aku tidak ingin berada disini hiks hiks..”



“Baiklah\- baiklah tapi janji untuk menceritakannya?” Aku menganggukkan kepalaku yang masih berada di dekapan Zoe.


“Aku akan memberitahu Zee untuk membuat mu Izin, okay?” Aku kembali mengangguk, kaki ku terasa lemas, “Zoe.. hiks..”


“Ada apa, Daisy?”


“Gendong.. hikss..” Tanpa menunggu lama, Zoe langsung menggendongku. “Ayo, Tuan Putri aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang menyenangkan” Aku mengangguk



Zoe menurunkanku, mendudukkan ku di sebuah bangku panjang. Ahh.. ternyata kami ada di taman Botani. Aku mendengus geli, apa ini tempat yang menyenangkan menurut Zoe? Sebuah taman yang penuh dengan tanaman sawi organik.



“Zoe, ini tempat yang amat menyenangkan” Ku lihat Zoe hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu. Aku tertawa



“Terima kasih sudah membuatku tertawa, Zoe”



“Bukan masalah, jadi ada apa sebenarnya?” Aku mulai menceritakan semuanya, Zoe mendengarkanku dengan serius tanpa menyela sedikitpun, bukan Zoe sekali. Ternyata Zoe bisa serius juga ya.



“Dan James datang, menahan lengannya berusaha membantuku. Aku sangat kaget dan aku langsung lari dari sana”



“Lalu kamu menabrakku?” Aku menganggukkan kepalaku. Terdengar helaan nafas Zoe



“Daisy, jadi kamu benar\-benar masih memiliki perasaan terhadap mantanmu itu?” Aku menganggukkan kepalaku ragu. Aku tidak tahu apakah aku masih menyukainya? Kalau tidak, mengapa aku sakit ketika aku mengetahui bahwa dia dan Cillia berpacaran?



“Aku tidak tahu, Zoe. Kalau aku mengatakan tidak, mengapa aku sakit dengan pernyataan Cillia bahwa mereka berpacaran?”



“Dunia ini tidak seluas yang kamu kira,Daisy. Kamu bisa menggapai dunia ini dalam genggamanmu. Begitu juga Orang lain, mereka bertemu satu sama lain, dan merasakan namanya jatuh cinta, terlepas dia itu mantanmu atau bukan. Semua sudah di atur dan manusia\-lah yang menentukan” Aku menundukkan kepalaku, merenungkan setiap kata\-kata yang di ucapkan Zoe.



“Daisy, tanya pada hatimu yang paling dalam. Apakah kamu benar\-benar ingin terus mempertahankan perasaanmu terhadap mantanmu itu?”



“Tapi, Zee mengatakan bahwa aku harus mempertahankan perasaanku itu”



“Bukan perasaan dengan mantan mu itu, tapi seseorang yang sekarang kamu suka” Aku terdiam, menatap Zoe. Yang aku suka ? apa mereka mengetahuinnya?



“Itu hanya perasaan kagum saja, Zoe. Dia juga tidak mengetahuinya, aku juga tak berniat memberitahukannya. Dia seseorang yang sangat jauh untuk ku gapai” Bodoh sebenarnya aku mengtakan hal seperti itu, bahkan aku tidak mencoba berusaha. Hanya mengirimkan beberapa surat dengan setangkai bunga Daisy di dalamnya. Wasting time.




“Iya, aku tahu , aku memang bodoh. Malah mengharapkan mantan yang sekarang sudah memiliki kekasih yang sialnya kekasihnya itu sahabatku sendiri” Zoe memandangku kecewa, Ia pergi meninggalkanku. Selama ini, aku masih mengharapkan Denny untuk kembali, memulai kisah yang lama tertunda. Janji yang kami buat untuk terus bersama, tersimpan di dalam hatiku dan dengan janji itulah aku terus menunggunya, menunggu untuk ditepati.



Tetapi, kenyataan menamparku. Dia sudah berpaling dengan begitu mudah, bukan salahnya memang. Seharusnya aku juga menyerah dengan perasaan ini, tapi apakah aku bisa?



“Jangan menangis” Aku tersentak dan menegakkan kepalaku, ku lihat James dengan tatapan datarnya menyodorkan sapu tangannya kepadaku. Aku menerima sapu tangan itu dan menghapus air mataku yang mengalir.



“Terima kasih dan maaf tadi aku langsung meninggalkanmu”



“Hhm” Hanya itu jawabannya? Seharusnya aku tidak kaget, dia memang sedingin kutub utara dan irit ekspresi.



“Kalau begitu, aku pergi” aku beranjak dari tempatku duduk, dengan tiba\-tiba dia menahan lenganku. Aku menghadap ke arahnya, menanyakan apa maksudnya dengan tatapan bingungku. Jantung ku sudah berdebar tak karuan, ayolah Jantung kamu berdetak di waktu yang salah.



“Aku tahu itu kamu. Jangan menyerah, dan aku akan berdiri tepat di hadapanmu nanti” Aku mematung, melihatnya pergi. Dia tahu? Dia tahu bahwa aku yang selama ini mengirimkan surat kepadanya? Dan.. dan.. tadi dia berkata aku tidak boleh menyerah. Kenapa kalimat terkahir sama seperti yang di ucapkan oleh Zee semalam? apa maksud merek dengan sepupu mereka yang menyukai diriku itu adalah James? ASTAGA, Aku baru menyadarinya! Marga mereka sama.



Aku harus mencari Zee dan Zoe, aku ingin penjelasan dari mereka berdua. Mereka sudah membodohiku selama ini, sialan! Aku juga ingin meminta maaf juga dengan mereka.


-The Last-


“Jadi, mengapa kamu memanggil dan menyuruh kami untuk datang ke sini?” Kami sedang berada di taman belakang fakultas Pertanian, tempat teraman dan ternyaman bagiku karena tidak akan ada orang yang berani datang ke taman yang mereka anggap ada penghuninya ini. Aku menatap mereka yang masih berdiri di dekat pohon besar.



“Duduk lah” aku mempersilahkan mereka berdua duduk di depanku, memang sudah ada bangku yang disediakan disini, “Aku ingin kalian jujur” Ku tatap mereka dengan serius.



“Apa yang ingin kamu tanyakan?” Ucap Zee, sedari tadi Zoe hanya diam namun mendengarkan.



“Sebelum aku bertanya, aku ingin meminta maaf kepada kalian berdua, terutama kepada Zoe, Aku memang bodoh. Dan kebodohan selanjutnya adalah aku tidak tahu bahwa James adalah sepupu kalian” ku lihat mereka memandang satu sama lain dengan panik.



“Kamu tahu, Daisy?!” Tanya Zoe dengan hebohnya, Aku menganggukkan kepalaku



“Kamu benar\-benar mengetahuinya?!” Kali ini Zee yang bertanya, aku masih menganggukkan kepalaku lagi. Ku lihat wajah mereka kian memucat.



“Ada apa dengan wajah pucat kalian?” tanyaku, mata mereka bergerak liar dan gelisah sedaritadi.



“Em.. sejak kapan kamu mengetahuinya?”


“Entahlah , aku baru menyadarinya semalam, marga kalian sama”



“Marga , sialan. Tamat lah kita” Ucap Zoe semakin membuatku bingung, “Memangnya kenapa jika aku mengetahuinya?”



“Daisy, kami sudah berjanji kepada James bahwa kami tidak boleh memberitahukan hal ini kepadamu, jika kami mengikarinya maka kami akan di gantung hidup\-hidup olehnya” Terang Zee, apa James bisa melakukan hal itu? Tentu saja bisa, tinggi badan James dan tegap itu pasti akan sangat mudah menghempas duo kurcaci di depanku ini.



“Tapi, aku tidak yakin kalau kamu tahu hanya dengan marga kami sama. Kamu tahu dari siapa?” Aku tertawa kecil, melihat wajah mereka yang masih pucat namun juga penasaran. Ini pertama kalinya aku melihat mereka seperti ini, apalagi Zee yang selalu tampak cool itu sekarang berbeda 360 derajat, sangat tidak keren. Aku jadi ingin menjahili mereka berdua.



“Ada seseorang yang membuatku menyadarinya”



“Siapa orang itu?! Darimana dia tahu, my God’” Aku menahan diriku untuk tidak tertawa dengan kencang saat ini. Wajah ketakutan mereka sangatlah kucu.



“Seseorang yang bertubuh besar, rambut hitam legam, tampan dan dia berkuliah disini yang pasti” Ku lihat Zee yang mencatat apa yang ku katakan tentang ciri\-ciri orang itu, astaga hahaha..



“Kamu mengenal orangnya, Daisy?” Tanya Zee



“Ku rasa aku mengenalnya, ah tidak hanya diriku, bahkan satu Oxford tahu dia” Raut bingung terpancar dari wajah mereka berdua, mungkin sambil berpikir siapa orang yang mirip dengan ciri\-ciri yang ku sebutkan tadi.



“Siapa namanya?” Tanya Zoe tidak sabar, aku kembali menahan tawa ku.



“Orang itu..” Kulihat mereka semakin mendekat ke arahku, aku sengaja memelankan suaraku, “Namanya adalah.. James Spearmint Lee” Ucapku dengan cepat dan aku langsung tertawa terbahak\-bahak dengan muka melongo mereka berdua yang tidak bisa dikatakan santai itu.



“WHAT THE?!” kompak mereka, anak kembar memang selalu seperti itu ya, sehati dan sepemikiran.


TBC.


*Silahkan di comment juga vote ya..


Terima kasih sudah membaca cerita saya, semoga kalian tetap suka ya..


S i n t a💜*