THE LAST

THE LAST
Meet !



Resha menghentikan langkahnya. Bagaspun menoleh melihat perubahan dari raut wajah Resha iapun melihat kearah pandangan gadis itu.


"Ngapain dia kemari?" Lirih Bagas


Terlihat wanita itu berjalan ke arah mereka tanpa melepas kaca mata hitamnya.


"Hallo Resha, apa kabar?"sapa gadis itu


Resha masih belum menjawab, sementara Bagas terlihat meneliti penampilan gadis yang mengenakan mantel merah dengan rok sebatas dengkul serta kacamata hitam yang belum ia lepas. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai membuatnya terkesan berkharisma.


Terlihat gadis itu melepas kacamata hitamnya, "Kau pasti sudah tau aku, dan aku tak ingin berbasa-basi sekarang aku ingin berbicara secara pribadi denganmu"


"Tentang?"tanya Resha to the point


"Kamu dan Reno"


Terlihat Resha menghembuskan nafas "Aku sudah menebak, kenapa lagi?"


"Aku akan mengatakannya tapi tidak di sini"


"Baiklah, kita ke ruanganku"


Gadis itupun mengangguk, sementara Resha beralih ke Bagas "Gue mau selesaiin urusan sama dia dulu, loe bisa kan handle dulu yang di sini"


Terlihat Bagas membisikkan sesuatu ke Resha dan Reshapun mengangguk. Bagaspun pergi setelah sebelumnya melirik kearah wanita itu.


...♡♡♡...


@Ruangan Resha


Resha memasuki ruang kerjanya diikuti oleh Reyna gadis yang tadi.


"Kau bisa duduk dimanapun kau mau" kata Resha sambil mengambil dua kaleng minuman dari kulkas.


Gadis bernama Reyna itupun duduk di sofa yang ada diruangan itu.


Resha memberikan salah satu minuman itu ke Reyna dan memberikan isyarat untuk meminumnya. Sementara satunya ia minum sendiri.


"Gue gak pernah mau berurusan sampai disini kalau ini gak menyangkut tentang gue" katanya setelah meminum minumannya


Resha tak berucap ia hanya ingin mendengarkan gadis itu Reyna, Areyna Meraldy siapa lagi kalau bukan adik kandung mantan kekasihnya Reno Meraldy.


"Udah seminggu lebih Reno gak masuk kerja setelah kejadian waktu itu sama Davin"


"Aku rasa waktu itu dia gak cedera sama sekali malah Davin yang cedera di pelipisnya"


Reyna mengangguk, "Aku tau ia memang tak cedera fisik tapi..."


Resha menunggu kelanjutan ucapan Reyna,


"Kamu perlu selesaiin masalah kalian gue yakin Reno butuh loe banget sekarang"


"Kita udah berakhir, dan gue pun udah berulang kali kasih penjelasan ke Reno kalau kita udah gak bisa kayak dulu"


"Gue tau, minggu depan loe udah mau tunangan sama Davin dan gue juga tau kalau loe sama Reno mungkin gak akan bisa kembali kayak dulu tapi, kali ini aja gue mohon temui dia untuk yang terakhir kali kalau itu emang mau loe seenggaknya kasih dia semangat buat lanjutin kehidupannya"


Resha terdiam, tak biasanya adik Reno itu berbicara banyak kepadanya.


Kenapa Reno sebenarnya?


"Ada beribu orang bergantung pada Emerald Corps setidaknya loe harus pikirin masa depan Emerald Corps nanti kalau Reno terus seperti ini. Dan loe harus tau gimana marahnya papa kalau tau Reno gak becus jalanin perusahaannya..." Reyna menghentikan ucapannya.


Resha masih belum bergeming.


"Dan asal loe tau, gue gak pernah lihat Reno sebegitu hancurnya saat dia tau Konferensi pers Davin tadi"


Resha menatap Reyna tak percaya.


"Seharian ini dia gak keluar dari kamarnya"


"Itu takkan berlangsung lama aku yakin Reno tak akan berlarut seperti itu ia hanya perlu waktu istirahat setelah itu pasti ia akan masuk kerja kembali " kata Resha sambil berdiri dan membelakangi Reyna.


"Menurutmu seperti itu?"tanya Reyna yang sudah berdiri menghadap Resha yang membelakanginya


"Sepertinya loe belum kenal dia, udah berapa lama kalian pacaran heh? Gue rasa gak sehari dua hari"


"Menurut loe? Kapan gue bisa mengenalnya? Kapan gue bisa ngertiin dia? Gue rasa loe gak cukup paham dengan hubungan gue sama dia"


"Gue tau, hampir 80% ini kesalahan Reno, tapi loe juga harus inget masih ada 20% dan itu termasuk juga salah loe"


Resha menatap Reyna tajam begitupun sebaliknya.


"Hem, sebagian emang salah gue, lantas apa yang loe mau sekarang?"


"Gue gak mau berbasa basi sekarang, karna gue gak suka kalau gue yang harus handle perusahaan, loe tau profesi gue model dan gue gak ada waktu buat bagi waktu gue buat ini itu. Gue mau loe suruh Reno kembali ke perusahaan handle semua urusan di kantor, setelah itu terserah loe mau lakuin apa" tegas Reyna


Resha tampak berfikir,


Bagaimana mungkin ia harus menemui Reno lagi?


Terakhir kali mereka bertemu saja mereka harus berdebat panjang lebar, harus bagaimana ia meyakinkannya untuk kembali ke perusahaan ?


Bisa berakhir 7 hari 7 malam.


"Gue denger besok Davin juga keluar kota mungkin loe bisa manfaatin waktu itu" tambah Reyna.


"Bagaimana kau tau ?"


"Itu tidak penting" jawab Reyna lalu duduk kembali ke sofa


Resha menghembuskan nafas, "Baiklah aku akan menemuinya, dengan syarat ini yang pertama dan terakhir aku nemuin dia"


Reynapun mengangguk, "Akupun takkan pernah mau berurusan dengan hubungan kalian jika itu tak menyangkut dengan kehidupanku"


"Satu hal lagi, gue mau loe jangan bilang sama Reno"


Reynapun mengangguk setuju.


Setidaknya mungkin itu akan berhasil.


"Kapan loe bisa?"


"Besok siang mungkin, pagi gue harus ke bandara"


"Oke, gue jemput loe besok"


Resha hanya mengangguk menanggapinya.


Resha berjalan kearah jendela ruang kerjanya pandangannya tertuju keluar ruangan, pikirannya terasa begitu penuh. Setelah beberapa saat Reyna keluar dari ruangannya.


Penuh.


...♡♡♡...


Keesokan harinya,


Pagi-pagi Davin sudah tiba di bandara hari ini ia memang ada kerjaan di Bali selama 2 sampai 3 hari ke depan. Ia harus merampungkan beberapa pekerjaannya sebelum acara pertunangannya. Bukan apa-apa ia hanya tak ingin terlalu banyak bergantung pada Aldo dan staffnya seperti yang Resha nasehatkan waktu itu padanya.


Ia celingukan kesana kemari mencari keberadaan gadisnya itu kenapa ia belum datang juga.


Tak berapa lama dari arah sisi kirinya terlihat seseorang yang ia tunggu. Gadis itu berjalan kearahnya setelah sebelumnya melihat ponselnya.


"Udah check in?" Tanya Resha begitu berada di depan Davin


Davin hanya mengangguk tanpa melepas senyumannya.


"Udah makan?"


Pria itu kembali mengangguk,


"Kamu sama siapa? Aldo aja?"


"Ada Stella manager pemasaran, kayaknya mereka belum dateng,"


Resha hanya membulatkan mulutnya.


Keduanyapun duduk di kursi tunggu.


"Kamu gak kerepotan kan ngurusin acara pertunangan kita kalau aku tinggal ?"


"Kamu tenang aja,"


"Maaf ya?"


Kening Resha bertaut menatap Davin.


"Buat apa?"


"Gak bisa nemenin kamu"


Resha terkekeh, "Ini baru acara pertunangan Dave, kamu sopan banget sih lagian gak banyak persiapan juga gak kayak pernikahan paling nanti aku cuma ngurusin beberapa aja ada mama juga yang bantuin"


Davin mendekat menatap Resha, "Makasih udah ngertiin aku,"


Resha tersenyum,


"Papi tadinya minta aku buat break beberapa hari dulu dari kerjaan dan konsentrasi sama acara kita. Tapi,... aku ingin ambil break yang lebih lama nanti pas pernikahan kita"


"Iya, aku ngerti acara ini penting tapi aku juga tahu kerjaan kamu juga penting aku pasti dukung apapun itu asal itu positif Dave"


Davin tersenyum ia tahu gadis itu takkan terlalu banyak menuntutnya.


Terimakasih Tuhan.


Tak berapa lama Aldo dan Stella datang. Resha pun dikenalkan dengan Stella karna mereka belum pernah bertemu sebelumnya.


Beberapa saat terdengar pemberitahuan untuk penumpang pesawat tujuan Bali bahwa pesawat akan segera berangkat.


Aldo dan Stella masuk duluan.


"Safe flight ya, cepet pulang"


Davin tersenyum dan menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya.


"Jangan nakal, dan jangan sampai ketemu sama orang-orang jahat termasuk Reno"


"Deg"


Jantung Resha mencelos, kenapa Davin malah membahas Reno.


"Kok bengong sih?".


"Iya, kamu juga jangan nakal jangan liatin bule-bule di sana" sahut Resha mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ngelirik boleh?"


Resha manyun, membuat Davin gemas dan mencubit pipinya lembut.


"Bercanda ih, jangan manyun2 gitu"


"Masuk gih"


"Jangan lupa kangen" kata Davin sambil mengenakan kacamatanya.


"Sayangnya aku lupa,"


Davinpun menoleh ke gadisnya itu "Kok lupa?"


"Lupa gimana rasanya jauh dari kamu"


"Kamu yang ngajarin"


Davin berdesis, "Aku berangkat"


Resha mengangguk, entah kenapa akhir-akhir ini ia begitu berat berpisah dengan pria itu begitu juga dengan Davin rasanya ia bisa melupakan semuanya jika ia sedang bersama gadis itu. Ia seperti memiliki daya tarik tersendiri.


Davin sadar! Bisa bangkrut perusahaan kalau otak macam begini.


"Jaga diri baik-baik" pesan Davin sebelum ia benar-benar pergi.


"Kau ingin berlama-lama disana?" tegur seseorang pada Resha


Yang ditegurpun menoleh, di dapatinya Reyna duduk tak jauh darinya. Ia mengenakan kaca mata hitam seperti biasanya.


Resha menghembuskan nafas kenapa wanita itu seolah jadi penguntitnya sekarang. "Sejak kapan kau disana?"


"Ini bukan hal penting, aku hanya memastikan kau tidak mengingkari janjimu"


"Sudah kubilang aku akan menemuinya, kau tak perlu mencariku sampai disini"


"Kau akan terkejut keluar dari sini ada ratusan paparazzi yang berkeliaran disini mencarimu, aku rasa Davin melupakan soal itu?"


Resha mengerutkan keningnya,


Reyna menyodorkan paperbag berukuran sedang ke arah Resha "Pakai itu"


"Apa ini?"


"Pakai saja, aku tak punya waktu untuk menjelaskannya disini"


Resha memutar bola matanya kesal. Sombong sekali wanita itu. Ia pun meraih paperbag itu kasar dilihatnya sekilas lalu berlalu kearah toilet.


Resha keluar dari toilet ia menatap dirinya dicermin. Penampilannya kali ini mengingatkan dirinya waktu SMA ia rasa Reyna sengaja memberikan pakaian dan rambut palsu panjang dengan poni di depan.


Sebenarnya apa maksud wanita itu?


"Loe cukup pantas dengan penampilan seperti itu"


Resha melirik sisi kanannya dan Reyna sudah berdiri disana dengan melipat tangannya.


"Aku sudah mengikuti maumu, sekarang mari kita pergi"


"Ahh masih satu lagi, Dea come here!"


Resha kaget dengan kedatangan Dea.


"Berikan pakaianmu ke Dea dan kunci mobil sekalian dia yang akan mengelabui orang-orang Davin agar mereka tak mengikuti kita"


Resha menghembuskan nafasnya, lalu memberikan kunci mobil dan paperbag berisi pakaian yang tadi dipakainya.


"Maaf Resha,"kata Dea


"Kau tak perlu minta maaf" jawab Resha tanpa menatapnya.


Deapun mengangguk dan masuk ke toilet.


"Bagus sudah selesai kau hanya perlu memakai ini" kata Reyna sambil memberikan masker hitam pada Resha


Setelah Resha memakainya tak lama Dea keluar lengkap dengan pakaian Resha.


"Perfect, kamu bisa keluar lebih dulu" suruh Reyna setelah ia memberikan masker putih pada Dea.


Deapun berlalu dari mereka.


Setelah beberapa saat Resha dan Reynapun juga keluar dari toilet dan menuju apartemen Reno.


...♡♡♡...


@APARTEMEN RENO


"Masuk aja Reno ada dikamar, sejam lagi gue balik kesini." Suruh Reyna begitu mereka sampai di ruang tengah apartmen Reno.


"Kau mau kemana?" tanya Resha sambil mengamati apartemen yang sangat luas dan mewah itu


"Ada urusan sebentar di luar sebentar lagi Dea juga pasti kesini kok seminggu ini dia yang selalu ngurusin Reno" terang Reyna lalu berlalu.


Resha hanya mengangguk.


"Oh iya " Reyna berbalik Reshapun menatapnya.


"Ada makanan di meja dapur loe bisa kasih itu ke Reno 'kan dari tadi pagi dia gak keluar dari kamarnya?"


Resha kembali mengangguk diikuti Reyna yang berlalu dari apartemen itu.


Setelah Reyna pergi Reshapun mengambil nampan makanan yang dimaksud Reyna lalu membawanya.


Ia menghela nafas begitu mereka sampai di depan pintu kamar Reno. Ia mengetuknya dua kali.


Tak ada jawaban.


Ia mengetuknya kembali dan masih belum ada jawaban.


Tak sabar iapun mendorong pintu itu kamar itu begitu gelap.


Sekejap saja rasanya dadanya begitu sesak melihat pemandangan di depannya itu. Ia meletakkan nampan itu di samping ranjang yang di tempati lelaki yang dulu begitu dicintainya itu. Ia membuka gorden di ruangan itu agar cahaya bisa masuk ke ruangan itu.


Matanya memanas ada kesedihan begitu besar di hatinya sekarang melihat lelaki itu tidur telungkup tanpa terganggu dengan suara yang gorden yang tadi dibukanya.


Resha mendekati ranjang Reno dan duduk di tepi ranjang itu.


"Ren bangun" lirihnya.


Reno sedikit mengeliat, "Aku tau itu kamu De, tapi kenapa suara kamu sama kayak suaranya Resha" katanya tanpa merubah posisinya.


Mendengar itu satu air mata Resha jatuh namun cepat-cepat ia menghapusnya.


"Jadi Dea yang selama ini ngurus kamu?"tanyanya.


Reno yang mendengar itu sontak membuka selimutnya dan bangun dari tidurnya. Ia menatap Resha tak percaya.


"Kamu...kamu..."


"Ini aku Ren.." sahut Resha yang terpotong karna Reno langsung memeluknya. Ia terdiam tak tahu harus berbuat apa. Ia tak membalas pelukan itu tapi juga tak melepaskannya ia hanya takut Reno tersinggung yang pasti malah akan menyulitkannya.


"Kamu makan dulu gih aku bawain makanan buat kamu" ujar Resha setelah beberapa saat


Renopun mengurai pelukannya namun masih menatap Resha.


"Sebenarnya...?"


"Makan?" Potong Resha sambil mengambil nampan yang sedari tadi ia diamkan.


"Sha.?"


"Aku suapin." putusnya.


Akhirnya Reno mengalah, iapun makan makanan yang diberikan Resha. Ini pertama kalinya gadis itu menyuapinya bahkan dulu saat mereka berpacaran gadis itu tak pernah mau menyuapinya.


Reno terus menatap Resha tapi gadis itu mencoba biasa ia tak ingin Reno salah paham dengan kedatangannya hari ini.


"Kamu gak kerja hari ini?" Tanya Resha begitu Reno datang setelah sebelumnya ia menyuruhnya mandi.


Mereka tengah berbincang di ruang tengah sekarang.


"Aku ambil cuti"


"Berapa hari?"


"Baru sehari"


"Kamu bohong?"


"Enggak Sha"


"Kemarin?"


Kali ini Reno tak menjawab, ia tak tahu harus menjawab apa sepertinya gadis itu juga sudah tahu.


Reno menangkup wajah Resha dengan dua tangannya. Lelaki itu masih sama rahangnya yang begitu tegas serta matanya yang begitu tajam.


"Kamu masih sama Sha masih begitu cantik" lirih Reno tanpa beralih menatap gadis itu.


Resha membelai rahang Reno "kamu juga masih sama Ren. Kamu masih tampan"


Reno tersenyum diikuti Resha. Ia mendekati wajah Resha. Namun gadis itu berpaling "Kamu jangan macam-macam sama aku ya." katanya sambil melirik Reno.


Reno menghembuskan nafas kesal dan berbalik menatap layar televisi.


Resha tersenyum, "Ren, aku boleh minta sesuatu sama kamu?"


Reno melirik Resha lalu menghadap gadis itu sempurna "Apa?"


"Aku ingin kamu lanjutin kehidupan kamu, aku ingin kamu ke kantor lagi kamu meeting, ngurusin bisnis kamu, kamu ketemu temen-temen kamu, kamu ngelakuin hal-hal yang kamu sukai dan..." Resha sedikit menahan kalimatnya


"Aku ingin kamu jatuh cinta lagi"


Reno masih tak bergeming. Ia masih menatap gadis itu.


Mungkin saat-saat inilah yang akan ia rindukan menatap gadis itu dan menghabiskan waktu untuk bersamanya.


Ia tau ini pasti Reyna yang menyuruh Resha ke apartemen. Ia sudah hafal sifat adiknya itu yang tak mau mengurus urusan perusahaan. Tapi tak apalah setidaknya ia bisa bersama Resha meski hanya sesaat.


"Kamu bisa minta aku apa aja tapi untuk yang terakhir aku belum yakin aku bisa mengabulkannya" ucap Reno lalu berdiri menatap keramaian kota dari jendela apartemen itu.


"Ren, kamu pengen liat aku bahagia?" Tanya Resha lalu mengikuti Reno berdiri.


"Hm"


"Ada banyak wanita diluar sana yang begitu memuja kamu, memuja seorang Reno Meraldy dan aku yakin kamu akan nemuin orang yang tulus mencintai kamu"


Reno berbalik, "Jangan paksa aku buat segera move on Sha, kamu tau kalau aku gak pernah sebegitu cinta dengan wanita seperti aku sayang sama kamu"


"Aku gak minta kamu cepat-cepat move on Ren, tapi aku minta kamu gak nutup hati kamu buat wanita lain"


"Jadi sekarang aku harus benar-benar relain kamu sama Davin?"


"Maaf Ren, tapi dia pria yang aku pilih sekarang".


Mata Reno berkabut begitu juga Resha ia harus segera mengakhiri ini setidaknya ini sebagai penjelasan untuk hubungan mereka yang selama ini tak pernah ada kata putus.


"Baiklah, aku akan ikuti kemauan kamu tapi..." Reno menahan ucapannya


"Tapi apa?"


"Biarin aku peluk kamu sebentar aja, setelah ini aku akan berusaha menjauh dari kehidupan kamu?"


Resha terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa.


Karna Resha tak menjawab Renopun langsung memeluknya erat seolah tak ingin melepaskannya meski pada kenyataannya sekarang akan ada orang yang marah jika melihat ini.


"Tak bisa kah kita berteman?" tanya Resha di dalam pelukan Reno.


Reno menggeleng, bagaimana ia bisa berteman dengan orang yang begitu dicintainya dan sebentar lagi akan menjadi milik orang lain. Ia takkan pernah sanggup.


Tanpa ia sadari air mata menetes dari pelupuk matanya.