THE LAST

THE LAST
Rewind



Davin keluar dari ruang acara ia melihat sekeliling dan di dapatinya seorang gadis yang tengah menatapnya sayu, lalu berlari kearahnya dan memeluknya. Ia kaget dengan pelukan yang tiba-tiba itu. Ia mencoba melepaskannya tapi gadis itu malah semakin erat memeluknya.


"Maaf" lirih gadis itu yang masih bisa di dengar Davin


Davin melepas pelukan gadis itu.


Gadis itu adalah Aryani mantan kekasih Davin yang terakhir. Terakhir kali kabar gadis itu sudah di nikahi seorang pengusaha. Dan sudah lebih dari 2 tahun yang lalu tak terdengar kabarnya, hingga hari ini tiba-tiba gadis itu berada di hadapannya.


"Aku kangen sama kamu Vin" kata gadis itu


"Ini akan jadi salah faham kalau ada yang melihat ini, ada urusan apa kamu kesini"


"Aku ganggu kamu?"


"Kamu lihat 'kan kantor aku lagi ada acara"


"I know, kalau gitu aku minta ketemu besok di cafe kita"


"Aku gak bisa"


"Why? Ada banyak hal yang perlu aku bicarain sama kamu "


"Gak ada yang perlu kita bicarakan dan aku yakin suami kamu bakal salah faham kalau dia tau kamu minta aku nemuin kamu"


"Itu yang mau aku bicarain"


Davin menghembuskan nafas, "Aku rasa aku gak ada urusan lagi soal itu, aku masih ada urusan di dalam, aku pergi" pria itupun berlalu memasuki ruangan.


Terlihat gadis itu mengejarnya namun di tahan oleh penjaga. Davin meliriknya sebentar lalu menghembuskan nafas dan melanjutkan perjalanannya.


Kenapa dia muncul lagi?


Sampai di dalam dilihatnya Arsen yang duduk di tempatnya di samping Resha. Kedua orang tuanya dan Dania sudah tak ada di sana. Bagas dan Rayapun juga tak ada.


Kemana yang lain?


Ia langsung berjalan cepat menghampiri Resha, di lihatnya Arsen terus berucap pada Resha dan gadis itu terlihat juga memperhatikannya.


"Ada yang ngizinin loe duduk di situ?" tegurnya begitu ia berdiri diantara keduanya.


Resha dan Arsenpun kompak mendongak menatap Davin.


Arsen tersenyum miring, "Gue kira kursi ini gak tertulis nama loe, tapi sorry kalau gue udah lancang duduk di sini"


Davin tak menjawab menunggu pria itu berdiri.


Arsenpun berdiri, sebelum pergi ia berbisik pada Resha lalu menatap Davin.


Dapat dilihat raut wajah Davin yang begitu dingin. Ia menatap Arsen tajam sampai pria itu menghilang dari penglihatannya.


Sampai dirasakannya seseorang menarik tangan kanannya. Resha orang itu mendongak menatap Davin.


"Kemana yang lain?" tanya Davin setelah ia duduk kembali di tempatnya.


"Orang tua kamu pamit pulang ada urusan katanya Dania juga, kalau Bagas sama Raya. Tuh" tunjuk Resha dengan dagunya.


Davin melihat kearah yang ditunjuk Resha. Terlihat Bagas dan Raya sedang asyik menikmati makanan.


Davin hanya tersenyum melihat dua anak itu "Kamu gak ikut kesana?" tanyanya sambil beralih menatap Resha


"Udah tadi, terus balik kesini lagi takutnya kamu nyariin kalau aku tinggal"


Pria itu kembali tersenyum, seperti inilah yang ia inginkan ketika ia pergi dan ada seseorang yang selalu menunggunya dan orang itu Resha. Ia meraih tangan kiri Resha menggenggamnya "Makasih ya"


"Buat?"


"Udah nungguin aku di sini "


"Apaan sih Dave" jawab gadis itu tersipu, mukanya pasti sudah merah sekarang.


Sementara Davin hanya tersenyum melihat gadis itu. Dia berjanji dalam hatinya akan selalu membuatnya bahagia.


"Arsen ngomong apa sama kamu tadi?" Tanyanya kemudian


Resha terlihat menerawang, "Bukan apa-apa" jawabnya setelah beberapa saat.


"Itu bukan jawaban sha"


Resha menatap Davin, "Kamu tadi kemana?"


"Jawab aku dulu"


Resha menghembuskan nafas, "Arsen cuma cerita soal kalian waktu SMA katanya dulu kamu pernah dikalahin sama dia waktu kejuaraan basket, dia rival sejati kamu kan?"


Davin tersenyum tipis,


Brengsek itu ternyata menceritakan masa lalu.


"Sekarang kamu jawab aku" pinta Resha


"Apa?"


Resha berdecak, "Tadi kamu kemana?"


Davin sedikit terdiam, "Ada klien nyari aku di luar, kebetulan ada urusan bentar dia disini."


Resha menatap Davin sekilas lalu mengangguk dan beralih menatap panggung tanpa Resha sadari Davin menghembuskan nafas.


"Terus Arsen ngomong apalagi ?" Tanya Davin lagi


"Kamu bawel ya" jawab Resha sambil tersenyum.


"Hishh, malah ngatain" sungut Davin sambil bersandar di kursinya lalu melipat kedua tangannya di dada.


"Kamu pikir dia ngomong apa lagi?"


"Emm, jeleknya aku mungkin"


"Mungkin" jawab Resha yang membuat Davin menegakkan tubuhnya.


"Ngomong apa dia? Harusnya tadi gak usah gue undang brengsek itu" umpat Davin sambil berkacak pinggang


Resha terkekeh, "katanya kamu playboy, pacarnya banyak, suka tebar pesona gitu..."


"Itu bohong" potong Davin cepat


Kening Resha bertaut "Katanya kamu juga punya banyak musuh waktu SMA gara-gara banyak cewek yang kamu php in"


"Itu bohong Sha, kamu gak akan percaya gitu aja sama omongan pembual itu kan?"


Gadis itu mengangkat telunjuknya didagu seolah sedang berfikir "Emm, gimana ya"


"Kamu tau 'kan Arsen itu rival aku, dia pasti ngomong yang gak-gak soal aku"


Resha hanya menggedikkan bahunya lalu beranjak meninggalkan meja itu.


Gadis itu berjalan menuju Bagas dan Raya yang masih asyik dengan makanan mereka.


Davinpun menghembuskan nafas.


Arsen Brengsek!


Umpat Davin dalam hati. Iapun berdiri hendak menyusul Resha namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar namanya dipanggil. Iapun berbalik dilihatnya beberapa klien yang berjalan ke arahnya iapun tersenyum ke mereka setelah sebelumnya ia menoleh ke arah Resha yang sudah bersama Bagas dan Raya. Iapun menyalami para kliennya itu serta membahas hal-hal formal seperti biasa.


...♡♡♡...


Resha merasakan ponselnya bergetar. Iapun melihat benda mungil itu dan ternyata benar


1 pesan masuk


From : Davin


" Aku tunggu di Light Seven. Sekarang "


Kening Resha berkerut, setelah membaca pesan dari Davin itu, ia melirik ke tempat duduk mereka tadi dan benar pria itu tak ada di sana.


Ada apa sekarang?


"Sha?" panggil Bagas setelah melihat perubahan dari Resha.


"Resha adriana Mahardhika" panggil Bagas lagi karena gadis itu tak mendengarkannya.


Yang dipanggilpun menoleh,


"Kenapa?"


Bagas mendengus sebal, "loe yang kenapa?"


"Gue keluar bentar ya" pamit Resha lalu berlalu dari Bagas dan Raya.


"Loe gak lagi cemburu kan?" celetuk Raya yang melihat Bagas menatap kepergian gadis itu sampai ia tak terlihat dari pandangannya.


Bagaspun mendelik tajam, "Gue?" Tanyanya


"Resha tau apa yang harus dia lakuin, loe gak perlu khawatir lagian ada Davin kan, bukannya loe percaya kalau Davin bisa jagain Resha"


Bagas meletakkan gelasnya di meja dan berbalik sambil bersandar dimeja.


"Gue dulu juga percaya sama Reno, tapi akhirnya brengsek itu nyakitin Resha juga 'kan?"


"Gue yakin Davin gak akan kayak Reno, gue bisa liat kalau dia sayang banget sama Resha"


"Dulu loe juga bilang gitu"


Raya menghembuskan nafas lalu melipat tangannya di dada,


"Itu beda, sekarang gue punya alasan"


"Apa?"


"Gue percaya sama Reno karna waktu itu gue baru 17 tahun dan itu cuma kata-kata seorang anak labil yang bisa berubah kapanpun"


"Terus?"


"Sekarang gue udah kepala dua you know that, kita udah tau kalau tujuan sebuah hubungan yang Real itu apa? Dan pemikiran itu udah gak sama waktu kita masih umur 17 tahun. Jadi, gue yakin Davin gak akan sia-siain waktunya cuma buat hubungan yang gak serius, kita tahu kita udah cukup dewasa gas, kita juga udah waktunya mikir masa depan" terang Raya


Kali ini Bagas terdiam mencoba mencerna kalimat Raya yang panjang lebar itu.


"Gue orang pertama yang akan bunuh dia kalau sampai dia nyakitin Resha" gumam Bagas yang melihat Resha baru saja keluar dari ruang pesta.


Raya hanya tersenyum miring melihat Bagas.


"Kok loe kayaknya jealous gitu?"tanyanya yang membuat Bagas mendelik kearahnya.


"Maksud?" Tanya Bagas balik.


"Gue gak mau persahabatan kita hancur lagi kayak waktu itu cuma gara-gara perasaan yang gak seharusnya ya"


"Loe pikir gue Alvin" desis Bagas sambil berlalu dari Raya.


Rayapun mengikutinya "Ngomong-ngomong dia apa kabar ya?"


Bagas menggedikkan bahunya


"Siapa yang peduli?"


"Gue tau loe peduli" celetuk Raya sambil mengambil minum dan mendahului Bagas yang menghentikan langkahnya.


(Flashback on)


"Gas cepetan ambil fotonya" suruh Resha.


"Yahh baterai lemah nih, Al punya loe gih keluarin" suruh Bagas pada pria yang berdiri di samping Resha .


Hari ini hari kedua kelulusan sekolah menengah atas dan keempat sahabat tengah berlibur ke pantai.


Resha, Bagas, Raya, dan Alvin, mereka sudah bersahabat sejak masuk SMA. Banyak yang bilang mereka seperti empat serangkai dan saudara kembar bukan karna mirip tapi karna mereka selalu bersama dimanapun jika salah satu mereka ada pasti yang lainpun juga. Mereka dekat melebihi sahabat, bukan kekasih, tapi melebihi saudara kandung. Sampai sesuatu terjadi.


...♡♡♡...


Sore hari,


Empat sekawan kembali kevilla tempat mereka menginap. Itu adalah villa milik keluarga Alvin yang kebetulan tak jauh dari pantai. Rencananya malam ini mereka akan mengadakan barbeque untuk merayakan kelulusan bersama beberapa teman sekelas mereka yang villanya tak jauh dari tempat mereka.


Pukul 19:00


Beberapa orang sudah berkumpul menyiapkan untuk acaran malam ini begitu juga 4 sekawan itu. Bagas dan beberapa orang tengah menyiapkan panggangan. Raya dan Resha sedang menyiapkan tempat-tempat makanan yang diperlukan sementara Alvin dan salah seorang lagi sedang menyiapkan minuman.


"Sha, Reno gak kesini?" Tanya Raya sambil mengelap piring.


Resha hanya menggedikkan bahu dan sibuk dengan pekerjaannya.


"Kalian gak lagi marahan 'kan?" Tanya Raya


"Dia ada urusan di kantornya, mungkin dia gak kesini"


"Ini tuh long weekend Sha,"


"Gue tau"


Resha mengernyitkan kening, mendengar celetukan Raya


"Kenapa?"


"Yaa loe gak diajak pacaran mulu yang ada gue dikacangin"


"Ehh kapan sih gue ngacangin loe?"


Raya nampak menerawang,


"Sha bawa sini dagingnya" belum sempat Raya menjawab Resha sudah berlalu pergi karna panggilan Bagas tadi.


"Tuhh kannn gue dikacanginnnn" teriak Raya yang ditinggal Resha begitu saja


Resha dan Bagas hanya tertawa melihat Raya yang kesal.


...♡♡♡...


Acara makan-makan selesai beberapa anak memilih kegiatannya sendiri ada yang bernyanyi sambil main gitar ada yang sibuk nonton film di ruang tengah ada yang ke pantai dan ada pula yang tidur. Bagas tengah mengeluarkan bakat bermain gitarnya ada Resha, Raya, Alvin dan beberapa teman yang ikut bernyanyi entah lagu apa. Yang jelas kebersamaan itu mungkin akan jarang sekali untuk kedepannya.


"Vin gantian loe dong yang gitar garing nih si Bagas lagunya gak ada yang mellow"seru Raya


"Lagu gue ceria keles" elak Bagas yang tidak terima.


"Apaan orang dari tadi ngebeat muluk gak ada sellow mellownya gak nyambung sama suasananya yang tenang gini"


"Iya tau dah gue elu kan anak galau melau" ledek Bagas yang langsung membuat Raya meninju lengannya.


Yang lain hanya tertawa melihat adu mulut dua anak itu.


"Gantian Alvin aja yang pegang gitarnya" rebut Raya sambil mengambil gitar dari tangan Bagas.


"Oke vin tunjukkan bakat loe" kata Bagas dengan gaya bicara bak mc kondang di tv


"Mending loe aja napa yang gitar Ray" suruh Alvin balik.


Raya hanya melolot melihat Alvin karna kemauannya tak dipenuhi.


"Okeoke lagu ini spesial buat Raya" kata Alvin sambil meraih gitarnya.


"Cieeeee" seru yang lain.


Alvin hanya tersenyum mendengar godaan teman-temannya.


Jrenggg jrengg.🎶🎶


"Mungkinkah kau tau rasa cinta yang kini membara yang masih tersimpan dalam lubuk jiwa"


Senandung Alvin.


"Ingin ku nyatakan lewat kata yang mesra untukmu namun kutak kuasa untuk melakukannya"


Lanjut yang lain.


"Mungkin hanya lewat lagu ini akan kunyatakan rasa cintaku padamu rinduku padamu tak bertepi..."


Jrengg jrenggg....


"Mungkin hanya sebuah lagu ini yang s'lalu akan kunyanyikan sebagai tanda betapa aku inginkan kamu...🎵🎶


Semuanya terhanyut dalam lagu itu tanpa mereka sadari sepasang mata yang sering menatap senyum dan tawa salah satu orang di sana.


Maaf.


...♡♡♡...


Resha mengeliat merasakan sinar matahari yang memasuki kamar dari celah jendela. Ia mendudukkan dirinya mencoba mengumpulkan nyawa. Beberapa saat ia melirik ranjang sampingnya yang semalam dipakai Raya. Tapi ranjang itu sudah kosong entah kemana yang punya. Ia menapakkan kakinya di lantai lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan wajahnya.


Setelah merapikan dirinya Resha keluar dari villa mencari keberadaan teman-temannya.


"Ray,"panggilnya ketika melihat Raya yang baru datang.


"Udah bangun?"


"Loe pergi kemana sih gue cari juga"


"Gue gak enak bangunin loe, kayaknya loe capek gitu lagian gue cuma dari tempat acara ntar kok"


Resha mengerutkan keningnya heran "Acara?"


"Acaranya Alvin kan dia hari ini mau ajakin kita ke pulau, kan besok dia mau ke Aussie loe lupa?"


Resha hanya menggedikkan bahu, "kok Gue gak dikasih tau"


"Alvin gak cerita? Bukannya semalem kalian ngobrol sampai malem, tuh anak kan kemana-mana maunya sama loe masak loe gak di kasih tau"


Resha mencoba mengingat tapi nihil, Alvin sama sekali tak membicarakan soal kepergiannya ke Aussie.


"Dimana dia?"


"Di pantai noh"


Ia menghembuskan nafas lalu pergi begitu saja tanpa memperdulikan Raya yang memanggilnya.


Sepanjang jalan ia mengumpat bisa-bisanya sahabatnya itu tak mengucapkan apapun tentang rencana kepergiannya ke luar negeri . Ia mengetikkan sesuatu di ponselnya.


^^^To : Alvin^^^


^^^"Dimana?"^^^


From : Alvin


"Di pantai, udah bangun? Maaf ya kita tinggal"


^^^To : Alvin^^^


^^^"Gue kesana"^^^


From : Alvin


"Oke"


Tak butuh waktu lama Resha sudah sampai di pantai ia melihat ke arah bibir pantai dapat ia lihat Alvin yang tengah mengobrol dengan Bagas. Ada beberapa teman-teman juga disana.


Ia tak berniat memanggil pria itu. Rasanya ia benar-benar kesal sekarang. Sampai pria itu yang tak sengaja menoleh ke arahnya.


Resha melipat tangannya di dada menatap Alvin yang berjalan kearahnya. Ekspresinya datar.


"Kamu baru bangun ya?" Tanya pria itu ketika ia sampai di depan gadis itu


"Hn"


"Pantesan ilernya masih ada" gurau Alvin setelah sebelumnya ia mensejajarkan wajahnya dengan Resha.


Gadis itu hanya diam, tak menjawab.


"Aku pengen ajak kamu sama yang lain naik kapal ke pulau gak jauh kok dari sini taunya kamunya masih ileran" terang Alvin


"Aku lagi gak pengen bercanda Al"


"Aku kan gak bercanda"


"Ak..."


"Reshaaa Alvinnn cepetan naik" panggil salah seorang teman yang udah ada di atas kapal .


Tanpa aba-aba Alvin menarik Resha agar segera berlari ke arah kapal.


Setelah berada di atas kapal itu Resha melepaskan tangan Alvin kasar lalu berjalan ke arah teman-temannya yang lain. Rasa kesalnya tak bisa hilang begitu bisa-bisanya ia jadi orang terakhir yang tahu kepergian Alvin.


Alvin melihat teman-temannya sudah asyik mengobrol. Ia melihat Resha mengalihkan pandangannya ketika Alvin menatapnya. Ia tahu ini akan terjadi gadis itu pasti kesal sekarang.


Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di tujuan anak-anak langsung turun mereka bersenang-senang disana menikmati kebersamaan mereka. Tanpa mereka sadari ada dua orang yang tak bisa saling menatap saat itu.


...♡♡♡...


Sore hari.


Sepulang dari pulau anak-anak kembali ke villa masing-masing untuk persiapan acara nanti malam rencananya mereka akan mengadakan perpisahan kecil-kecilan yang memang acara ini khusus dibuat oleh Alvin.


Resha memutar bola mata kesal ketika ia sampai di acara. Ia terduduk disudut cafe Raya sedang berjoget bersama teman-teman yang lain. Sementar Bagas dan Alvin mengobrol bersama Dj yang mengisi acara itu. Jujur saja ia ingin pulang saja sekarang. Ia turun dari kursi hendak pergi namun tiba-tiba tangan ditahan seseorang.


Reflek ia menoleh di dapatinya Alvin yang menatapnya sayu. Ia begitu tampan dengan kemeja putih dengan gaya rambut yang diangkat ke atas menambah kesan cool pada dirinya. Entahlah Resha masih kesal dengan pria itu.


Gadis itu mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Alvin namun gagal pria itu lebih kuat darinya.


"Kamu gak boleh pergi!" suruh Alvin


"Kenapa? Aku rasa aku gak perlu izin sama kamu kapan aku harus pergi"


"Soal aku ke Aussie, aku bener-bener minta maaf"


"Aku rasa aku gak butuh permintaan maaf sekarang, tapi penjelasan, penjelasan kenapa aku orang yang terakhir tahu soal kepergian kamu"


Alvin menunduk, ia memang bersalah.


"Aku rasa kita sahabat Al, tapi nyatanya untuk hal penting seperti ini aku bahkan gak tau"


"Maaf"


Resha menghembuskan nafas,


"Dari kita berempat Bagas, Raya, kamu, aku... aku pikir kita akan saling terbuka setidaknya meskipun aku bukan orang yang pertama tahu, kamu gak jadiin aku orang yang terakhir dari sekian banyak teman-teman yang tahu soal kepergian kamu"


"Maaf, aku cuma gak tau gimana caranya ngmongin ini"


"Gak tau,? Kamu bilang kamu gak tau caranya ngmongin itu? Udah berapa tahun kita temenan, sehari? Dua hari? sama Bagas Raya aja kamu bisa kenapa sama aku enggak, sebenarnya kamu anggep aku sahabat apa bukan.." Kali ini nada suara Resha mulai meninggi.


"Karna aku gak bisa ngucapin perpisahan sama kamu" potong Alvin


"Maksud..?"


"Kamu fikir ini mudah,? Saat kamu harus ngucapin perpisahan sama orang yang kamu sayang, saat kamu mencoba buat mengumpulkan semua nyali kamu hanya untuk bilang kalau aku sayang sama kamu melebihi sahabat"


Resha menggeleng tak percaya dengan ucapan sahabatnya itu.


"Kamu..."


"Aku yang salah, aku udah melanggar komitmen kita berempat gak seharusnya aku punya perasaan kayak gini sama kamu, aku tahu kamu udah punya Reno. Tapi, aku gak mau menyesal karna gak sempat ngomong ini sebelum aku pergi"


Bagas dan Raya yang baru datangpun kaget mendengar pengakuan Alvin itu.


Resha menunduk ia benar-benar tak bisa mempercayai ini. Alvin sahabat sekaligus orang yang selalu ia percaya disamping Bagas dan Raya.


Bagaimana mungkin ?


"Resha... maaf" lirih Alvin.


Ia melepaskan genggaman Alvin, dan pergi begitu saja. Matanya memanas ada cairan bening yang susah sekali untuk ditahanya.


"Resha" "Sha" panggil Bagas dan Raya.


"Jadi ini rencana loe,"bisik Bagas tajam sambil menarik kerah baju Alvin namun ditahan oleh Raya.


"Bagas, jangan bikin keributan" Raya menahan tangan kanan Bagas.


"Loe udah hancurin persahabatan kita cuma gara-gara perasaan busuk loe itu. Brengsek!" umpat Bagas sambil menghempaskan cengkeramannya.


"Bagasss" Raya mencoba menjauhkan Bagas dari Alvin.


"Kalian berhak marah gue akan terima resikonya, sekalipun mungkin nanti gue gak bisa lagi jadi bagian dari kalian. Gue terima "


"BRENGSEKKK" Bagas mencoba meraih Alvin.


"Bagas udahhh... kejar Resha biar dia gue yang urus " bisik Raya agar tak mengundang perhatian yang lain secepatnya ia harus memisahkan dua anak ini.


Bagas nampak terdiam, lalu pergi begitu saja.


Flashback off


Resha keluar dari ruang pesta ia berjalan menuju meja receptionis yang berada tak jauh dari ruang pesta belum sempat ia sampai di meja resepsionis ponselnya kembali berbunyi


1 pesan masuk


From : Davin


Edgard akan anterin kamu tunggu saja di situ


Resha menatap kearah berlawanan dan datanglah Edgard seperti yang dikatakan Davin.


"Mana Davin? Dan Light Seven itu apa?"


"Nanti loe bakal tau, ayo" ajak Edgard lalu berbalik dan berjalan mendahului Resha.


Gadis itu mengerutkan keningnya dan berjalan mengikuti Edgard.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan percakapan mereka lalu pergi begitu saja setelah keduanya memasuki lift.