
Sebuah Lamborgini merah memasuki areal kantor megah bertuliskan Nelon Company. Dan menyembullah seorang pria berbadan tegap dengan kacamata hitam bertengger di telinganya. Beberapa pasang mata wanita menatapnya terpesona dengannya namun ekpresinya hanya datar dan dingin.
Ia berjalan menuju resepsionis.
"Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya sang resepsionis.
"Aku ingin bertemu dengan boss mu" katanya datar.
"Apa sudah membuat janji sebelumnya?"
Davin menghela nafas lalu melepas kacamatanya.
"Katakan padanya Davin Regardi ingin menemuinya sekarang juga !" Tegas Davin.
"Baik pak, saya akan mencoba menghubungi beliau" kata Resepsionis itu lalu beralih pada telepon kantor untuk menghubungi bossnya yang takĀ lain adalah Aryani.
"Mari pak saya antar" kata resepsionis itu lalu berjalan menuju ruang Aryani.
Tak berapa lama mereka sampai didepan sebuah ruangan. Setelah mengetuk pintuk dan ada perintah masuk keduanyapun memasuki ruangan itu.
Terlihat seorang wanita dengan senyum lebarnya menyambut kedatangan Davin dari balik meja kerjanya.
Setelah resepsionis pergi Aryani wanita itu berdiri mendekati Davin.
"Aku gak nyangka kamu bakal dateng" katanya sambil berniat untuk memeluk pria itu namun Davin berpaling darinya membuat wanita itu berhenti.
"Soal dulu..."
"Bukan itu yang ingin aku bicarakan !" Potong Davin tegas kali ini ia menatap wanita didepannya itu.
"Maksud kamu ?"
Davin menatap wanita itu lalu merogoh sesuatu dari saku jasnya.
Pria itu menunjukkan dua buah foto pada wanita itu.
"Kau kenal dia? " tanyanya kemudian.
Aryani menatap foto yang ditunjukkan Davin "Tidak? Siapa dia?"
"Kau yakin?"
"Davin apa maksud kamu? Siapa pria itu ? aku sama sekali tidak mengenalnya "
"Aku hanya ingin tahu, aku kira dia salah satu karyawanmu karena dia memiliki mobil dinas atas nama Nelon Company "
Aryani sedikit terdiam, "Kau bercanda" lirihnya.
Suasana hening.
"Kenapa kau melakukannya?" Tanya Davin setelah beberapa saat.
Aryani mendongak menatap pria itu.
Pria yang dirindukannya.
Pria yang begitu diidamkannya akhir-akhir ini.
Pria yang begitu spesial dalam hidupnya hingga saat ini.
"Kenapa kau melakukannya Aryani ?" tanya Davin lagi kali ini pria itu juga menatapnya.
Jujur saja Aryani selalu menyukai saat Davin menatapnya dulu selalu penuh cinta. Tapi kenapa tatapannya sekarang jauh berbeda dari sebelumnya.
Tatapan kecewa.
"Aku tanya. KENAPA KAU MELAKUKANNYA ? KENAPA KAU MENCULIK RESHA ARYANI?" Bentak laki-laki itu yang sukses membuat Aryani menelan ludahnya sukar.
"Aku..."
"Apa gak cukup kamu nyakitin aku dulu,?"
Aryani menggeleng, "Vin aku..."
"Gak cukup kamu hancurin harapan aku dulu, dan sekarang kamu juga mau ambil kebahagiaan aku ?"
"Aku gak..."
"Cukup. Udah cukup kamu rusak semuanya, karena kali ini aku gak akan diam saja jika itu soal keselamatan Resha." potong Davin
"Davin dengerin aku.! itu..."
"Kenapa kau melakukan ini semua?"
Gadis itu menghela nafas percuma ia beralibi sepertinya pria itu sudah mengetahui semuanya.
"Karena aku ingin kita"
"Itu sebuah ketidakmungkinan jadi jangan berharap apapun tentang kita lagi"
"Vin, kau yakin kau benar-benar mencintainya?"
"Hm, dan aku tak akan membiarkan siapapun berusaha menyakitinya, termasuk kamu"
Gadis itu menunduk begitu menyakitkan ketika mendengar pernyataa pria itu yang begitu menyayangi wanita lain.
"Menyerahlah sebelum semua semakin berat" kata Davin.
Aryani mendongak menatap wajah pria didepannya yang kini menatapnya datar.
"Apa ini akan setimpal ?" tanya gadis itu.
"Hm"
"Baiklah, kalau menurutmu seperti itu"
"Dulu aku tak ingin memusuhimu karena perpisahan kita sebab aku tahu sebelumnya aku memang tak ingin kita berkesan buruk tapi kali ini kau membuatku muak"
Aryani terdiam.
"Aku harap kau datang dan mengakui semuanya" kata Davin sebelum berlalu begitu saja meninggalkan Aryani ynv masih mematung.
Ia tak menyangka jika Pria itu telah mengetahui kejahatannya. Airmatanya menetes mendengar apa yang diucapkan pria itu. Mendengar kenyataannya bahwa sekarang keselamatan wanita lain yang begitu diutamakan oleh lelaki yang dulu begitu mencintainya.
Kenapa harus sesakit ini saat kita kembali bertemu?