
Sheila POV
Aku tak mengerti kenapa tiba-tiba ada acara perjodohan ini. Kenapa aku adalah orang yang terakhir tahu disini ?
Dan kenapa Daddy yang sebelumnya tak pernah mencampuri urusan asmaraku jadi membuat perjodohan ini dia pikir ini jaman Siti Nurbaya yang harus dijodoh-jodohkan.
Ini benar-benar hal konyol.
Aku masih tak habis pikir dengan itu, tiba-tiba pintu kamarku di ketuk dan kudengar Mommy yang memanggilku akupun menyuruhnya masuk. Kulihat ia membawa paper bag berwarna pink lalu tersenyum dan kemudian menghampiriku.
"Kamu belum mandi sayang, katanya mau mandi ?" tanyanya saat duduk disampingku.
"Mom Rio udah pulang?" Aku balik tanya.
Kulihat Mommy hanya tersenyum lalu mengangguk dan memberikan paper bag itu padaku.
"Apa ini ?" akupun melirik isi didalam paper bag itu kulihat seperti baju baru.
"Pakailah malam ini kita makan malam di luar" ucap Mommy.
"Ada acara apa tumben sekali ?" tanyaku sambil mengambil isi paperbag itu yang ternyata sebuah dress selutut dengan warna putih dan aksen hitam.
Cantik sekali.
Mommy emang punya selera yang bagus.
"Mom, tak ingin menjawab pertanyaanku?" sindirku pada Mommy yang hanya tersenyum menatapku yang sedang terpesona dengan dress itu.
"Kita mau ketemu keluarganya Rio" jawabnya yang membuatku kaget jadi mereka benar-benar akan menjodohkanku dengan Rio.
"Mom, are you seriuos?"
Mommy hanya tersenyum dan mengangguk.
"Kalian benar-benar ingin menjadikanku seperti Siti Nurbaya, ayolah Mom, c'mon ini udah jaman modern" protesku.
Mommy membelai rambutku lembut.q
Bahkan dia masih memperlakukanku seperti anak kecil kenapa sudah main menjodoh-jodohkan segala sih.
"Bukannya kalian udah dekat ya?"
"Tapi kita belum pacaran Mom, dan aku pun belum punya perasaan apapun sama Rio" aku mengalihkan pandanganku darinya.
"Belum berarti akan dong"
"Mom c'mon, Sheila bisa..."
"Ini kemauan Daddymu sayang, ikuti saja dulu ya kami juga gak menuntut kalian segera menikah kok. Kami hanya ingin kalian saling mengenal syukur bisa sampai ke jenjang yang lebih serius" potong Mommy.
"Tapi..."
"Udah ya, satu jam lagi kamu udah harus cantik Mommy tunggu di bawah" kembali Mommy memotong ucapanku sebelum ia berlalu meninggalkanku.
Aku melempar paperbag itu asal kalau Daddy yang minta mana aku bisa nolak. Kenapa mendadak Daddy jadi orang yang begitu menyebalkan.
...****************...
"Dave. kamu yakin ingin mereka bertunangan minggu depan, sepertinya Sheila masih belum bisa menerima ini" tanya Resha pada suaminya yang kini sudah mengenakan jas formalnya.
"Sheila akan terbiasa lagian selama satu bulan ini aku lihat mereka juga semakin dekat dan... bukannya cinta datang karena terbiasa" kali ini Davin menatap Resha.
"Aku hanya tak ingin dia tertekan, gimanapun kebahagiaan Sheila segalanya buat aku" terlihat Resha mendengus sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kita lihat dulu setahun ke depan kalau memang Rio dan Sheila tidak saling cocok aku menyerahkan semua keputusan pada Sheila"
Resha hanya menhembuskan nafasnya dan berpaling ke arah lain. Terkadang suaminya itu memang sulit untuk dibantah. Sampai dirasakannya Davin menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku gak bisa lihat Sheila begitu terluka karena hubungannya dengan Alex dan aku gak bisa biarin dia lebih terluka lagi jika tahu Alex juga dijodohkan" terang Davin.
"Maksud kamu? Darimana kamu tahu?" Resha ingin tahu.
"Edward Redovan pemilik saham terbesar Delta Corps telah menjodohkan putra pertamanya dengan putri pemilik perusahaan HansGroup beberapa bulan yang lalu, rumor itu sudah tersebar dan itu saat Sheila masih bersama Alex sementara kamu harus tahu Alex itu putra pertama Edward Redovan yang dimaksud itu" terang Davin membuat Resha membuka mulutnya tak percaya.
"Dave, itu gak mungkin yang aku lihat Alex sangat mencintai Sheila aku bisa merasakannya dia begitu perhatian dan manamungkin..."
Davin berbalik, "Aku menyuruh anak buah Edgard untuk memantau kegiatan Sheila dan mencari tahu asal usul Alex. Dan itu kenyataannya mungkin Alex memang tak menginginkan perjodohan itu tapi orang tuanya? perusahaannya? bahkan mereka sudah membuat rencana masa depan perusahaan mereka setelah kabar itu"
Resha mengatur nafasnya masih tak percaya dengan perkataan suaminya itu, Bagaimana nanti perasaan Sheila jika mengetahui berita itu ia memijat kepalanya tak bisa membayangkan itu.
"Sudahlah kita tak perlu membahas ini" Davin mendekati istrinya itu dan menariknya kedalam pelukannya.
Resha mendongak menatap sang suami, "Gimana perasaan Sheila jika ia tahu semua ini, Dave Sheila pasti akan terpukul"
Davin menunduk menatap istrinya yang terlihat begitu khawatir sekarang, "Maka dari itu aku merencanakan ini setidaknya mungkin Rio akan membantu gadis kita menyembuhkan lukanya, aku bisa lihat sepertinya Rio sudah menyayangi gadis kita"
Resha tak berucap pikirannya hanya memikirkan perasaan Sheila putri mereka.
"Sudahlah, kita berangkat Daniel pasti sudah menunggu" kata Davin sambil mengurai pelukannya setelah mendapat anggukan dari Resha.
...****************...
"Davin apa kabar sudah lama sekali kita tak bertemu" sapa seorang pria saat Davin dan keluarganya datang keduanya segeranya berpelukan hangat.
"Baik, kau sendiri ? Aku baru bertemu putramu tadi ternyata beda sekali denganmu" gurau Davin.
" Aku juga baik, bagaimana? apa kau akan mengatakan dia lebih tampan dariku?" tanya Daniel sambil tertawa renyah.
Davin menunjuk dengan telunjuk tangannya membenarkan, "Tapi dia pantas jika menjadi putranya Alya."
"Tentu saja fisiknya kan turunan dariku, ehh ngomong-ngomong ini Sheila putri kalian cantik sekali bagaimana Rio bisa menolak kalau bidadarinya secantik ini" Wanita bernama Alya itu kini tersenyum dengan Sheila.
"Kamu bisa aja Al, apa dia mirip denganku?" Kali ini Resha gantian yang bertanya.
Alya terlihat mengangguk, "Tentu saja dari mata sampai hidung dan bibirnya semua mirip denganmu"
"Maksudmu dia juga tak mirip denganku" sindir Davin.
Sementara Sheila hanya tersenyum canggung mendengar pujian itu.
"Tentu juga mirip tapi hanya sekitar 30% sisanya itu milik Resha" jawab Alya yang langsung mengundang gelak tawa.
Kedua keluarga itu memang sudah berteman sejak lama namun lama tak bertemu karena Daniel dan keluarganya tinggal di Singapura, sementara Rio setelah lulus SMA memilih kuliah dan membuat perusahaannya di Indonesia bersama Reza dan teman-temannya.
"Ngomong-ngomong dimana Rio, dia belum datang?" tanya Davin setelah mereka duduk kembali.
"Dia masih ada urusan di kantornya maklum saja masih sambil kuliah jadinya kerjaan sering keteter, tapi dia udah jalan kesini kok" jawab Daniel.
"Pa, Ma, semuanya maaf saya telat" seru seorang pria yang baru saja datang terlihat ia juga menggunakan tuxedo formal dengan dasi lengkap khas orang kantoran semua wanita pasti menatapnya karena penampilan Rio yang seperti ini membuatnya berkali-kali lebih tampan dari biasanya.
"Kebetulan kami juga baru sampai Rio." seru Davin.
Riopun tersenyum dan ikut duduk disamping orang tuanya lebih tepatnya di depan Sheila gadis itu hanya menunduk sedari tadi. Sebenarnya Rio sudah datang dari tadi hanya saja ia berhenti untuk melihat ekspresi Sheila yang menurutnya jadi lebih pendiam.
Apa dia benar-benar tak menginginkan perjodohan ini.
Semua yang disana sibuk dengan percakapan masing-masing dan dua orang itu hanya berulang kali tersenyum saat ada yang menyinggung mereka.
Kenapa ini begitu canggung.
"Om tante boleh saya pinjam dulu Sheilanya sepertinya kita perlu bicara berdua." ijin Rio yang membuat Sheila menatapnya heran.
Davin tersenyum menanggapinya, "Bawa saja"
Riopun mengangguk dan mengulurkan tangannya pada Sheila, karena semua yang disana menatap mereka gadis itupun memilih untuk menerima uluran tangan Rio dan pamit pergi.
Bisa-bisanya Daddynya itu menyerahkan ia begitu saja pada Rio.
Dan sebenarnya apa yang akan dibicarakan pria itu, bahkan siang tadi meraka juga sudah pulang bareng kenapa tak dibicarakan tadi siang saja.