
..."Let the cherry blossoms fall, you are too precious to just fall to the ground." ...
...🌸🌸🌸...
Sheila terus melangkahkan kakinya menjauh dari area butik. Kenapa lagi-lagi dari sekian banyak butik di kota besar untuk kesekian kalinya dia dipertemukan dengan laki-laki yang begitu dihindarinya akhir-akhir ini. Siapa lagi kalau bukan Alexander, meski hatinya tak bisa dibohongi kalau ia merindukan sosok pria itu. Bahkan ia juga tak bisa munafik untuk tak patah hati saat melihat cincin yang melingkar di jari manis pria itu.
Saat menemukan sebuah halte bus yang hanya terdapat beberapa orang disana iapun memilih duduk disana sambil menenangkan dirinya sendiri. Sampai ponselnya bergetar di dalam tasnya mengalihkan perhatiannya "Mario" tampak dilayak ponselnya.
"Hallo."
"..."
"Aku tak jadi ke butik hari ini, lain kali saja."
"..."
"Aku akan pulang naik taksi, kau tak perlu menjemputku."
"..."
"Sudahlah, percuma saja kau menjemputku aku sudah naik taksi sekarang." Dustanya ia memang sedang ingin sendiri sekarang.
"..."
"Emm." Sheila memutus panggilannya dan memasukkan benda mungil itu kedalam tasnya lagi.
Ia menahan sesak didadanya, kenapa ia masih begitu sakit bertemu dengan pria itu. Bukannya ini yang dia inginkan.
"Nasheila Regardi." Panggil seseorang mengalihkan atensinya.
Wanita dengan kaca mata hitam masih bertengger. Sheila sedikit memicingkan matanya mencoba mengenalinya. Sampai wanita itu membuka kaca matanya membuat Sheila sedikit berjengit saat tahu siapa wanita itu.
"Bisakah kita bicara?" tanyanya.
Sheila hanya mengangguk.
"Aku yakin kau pasti sudah tahu siapa aku." Kata gadis itu setelah mereka duduk disalah satu bangku taman.
"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Sheila.
"Aku masih penasaran bagaimana hubunganmu dengan tunanganku__, Alexander." Kata wanita itu yang tak lain adalah Vanessa Olivia.
"Kau tak perlu khawatir aku dan Alex, kami sudah berakhir."
Vanessa terlihat tersenyum samar, "Tapi aku masih meragukannya."
Sheila melirik Vanessa yang duduk disamping kirinya.
Vanessapun beralih menghadap Sheila sempurna.
"Kau masih mencintainya?" Selidiknya.
"Jangan membuat asumsi." Jawab Sheila lalu berpaling menatap ke depan.
Vanessa kembali tersenyum, "Tapi itu kenyataannya, Alex masih memikirkanmu."
"Itu tak akan lama."
Gadis itu mengangguk menanggapi jawaban Sheila, "Tak akan lama ? Tapi aku tak yakin jika kau masih selalu berada di dekatnya."
Vanessa terlihat berdiri membuat Sheila sedikit mendongak melihat gadis itu yang terlihat memberikan isyarat kepada seseorang di belakangnya.
Sheila hendak berbalik namun sebuah saputangan sudah menutup hidung dan mulutnya. Membuat pening dikepalanya tangannya mencari-cari tombol kecil yang ada di arlojinya sebelum semuanya
Gelappp....
...***...
Alex masih terdiam dikursinya setelah kepergian Sheila, relung hatinya begitu kosong melihat gadis itu memintanya menjauh. Setelah beberapa saat ponselnya bergetar mengalihkan atensinya, iapun beranjak keluar sempat berpapasan dengan Vanessa yang baru datang namun ia mengabaikan gadis itu dan langsung melajukan mobilnya kembali ke kantor. Mengesampingkan tujuannya sebenarnya kenapa ia ke butik itu.
Sudah pasti ada hubungannya dengan tunangannya itu.
Persetan dengan semuanya.
Alex merasakan ponselnya bergetar ada nama "Sheila" di layar ponselnya. Keningnya bertaut kenapa tiba-tiba gadis itu menghubunginya setelah tadi siang ia berusaha menghindarinya dan pergi begitu saja. Ia pun memilih untuk menerima panggilan itu. Bagaimana ia bisa menolak panggilan penting itu.
"Hallo."
"..."
Alex menegakkan tubuhnya saat ternyata suara Sheila yang seperti terbata-bata diseberang sana.
"Sheila, apa yang terjadi?"
"..."
"SIAPA INI?" Suaranya meninggi saat suara laki-laki yang kini mengambil alih panggilan itu.
"..."
Nafas Alex naik turun perasaannya tak enak sekarang.
"Dimana Sheila?"
"..."
"BRENGSEKKK." Umpat Alex saat panggilan diputus sepihak.
Alex beralih menelpon Diego orang kepercayaannya untuk membantu mencari Sheila yang ternyata disandera oleh pemanggil sialan itu. Sampai pintu ruangannya terbuka dan masuklah Vanessa membuat ia beralih pada gadis itu.
"Kau terlihat panik sekali, apa terjadi sesuatu?" Tanya gadis itu santai.
Alex tak menjawab dan beralih mengambil jas dan kunci mobilnya hendak berlalu namun ditahan oleh Vanessa.
"Kau tahu siapa orang yang kau abaikan, tuan Alexander?" Tanya gadis itu.
"Vanessa aku tak punya waktu untuk berucap hal omong kosong denganmu." Putus Alex mencoba melepaskan tangan gadis itu yang kemudian ditahan lagi.
"Kau ingin gadis itu selamat?" Tanyanya yang membuat Alex tertahan saat akan membuka pintu.
"Apa maksudmu?" Pria itu bertanya setelah beberapa saat lalu sudah membalikkan tubuhnya.
Vanessa tersenyum miring, "Aku akui seleramu cukup bagus dan aku baru tahu akhir-akhir ini, kalau dia anak billionaire satu Indonesia, Davin Regardi."
Alex mencengkeram kerah baju Vanessa membuat gadis itu tertarik kearahnya.
"Katakan apa kau orang dibalik semua ini?" Pria itu bertanya penuh penekanan.
Vanessa kembali tersenyum melihat reaksi Alex yang berkilat marah, "Kau yang membuatnya, Alexander."
"Katakan apa maumu?"
"Aku sudah sering mengatakannya, tapi kau selalu mengabaikanku dan kau tahu tak ada yang boleh mengabaikanku."
"KATAKAN DIMANA DIA !" Bentak Alex yang mulai kehabisan kesabaran ia semakin menarik kerah baju Vanessa, namun gadis itu masih terlihat santai.
"Kau tahu kalau tindakanmu ini menyakitiku?"
Alex tak menjawab dan tetap menatap tajam Vanessa yang kini mengusap rahang Alex dengan tangannya. Jika ia tak ingat jika orang dihadapannya itu adalah seorang wanita pasti sudah lebih dulu ia menghajarnya.
"Kau terlihat sangat manly__," Ia masih menelusuri wajah tampan Alex yang masih menegang.
Alex menepis kasar tangan Vanessa, "Aku benar-benar akan membunuhmu jika sesuatu terjadi padanya."
Pria itu segera berlari tanpa menghiraukan beberapa karyawannya yang menatapnya bingung saat ini pikirannya hanya "Sheila" gadis itu benar-benar dalam bahaya sekarang. Ia mencoba melacak Gps dari ponsel gadis itu untuk melacak keberadaannya.
Setelah mengetahui koordinatnya masih aktif ia segera melajukan mobil dan langsung membelah jalanan ibukota. Berkali-kali ia mengumpat karena terjebak macet sialan.
"Diego." Panggil Alex saat ia keluar dari mobilnya dan mendapati Diego dan beberapa anak buahnya sudah menunggunya di ujung gank sempit dan kumuh itu.
"Dia masih sekitar 2000 m dari sini tapi jalanannya cukup sulit dilalui mobil kau bisa membawa ini untuk melacak keakuratan gpsnya."
Kata Diego sambil memasangkan benda kecil itu ditangan kiri Alex seperti jam tangan namun berfungsi untuk melihat keakuratan posisi gps.
"Aku akan berlari."
Diego mengangguk, " Sebagian yang lain akan segera menyusulmu dari rute yang lain, semoga beruntung."
Alex mengangguk dan segera berlari mengikuti arah yang ditujukan oleh benda tang diberikan Diego.
Semoga masih sempat.
Jalanan yang dilaluinya cukup sulit karena ganknya yang kecil melalui pematang sawah yang cukup luas. Dapat dikatakan jika rute ini memang tercepat tapi hanya bisa dilalui dengan kedua kaki seperti yang dikatakan Diego. Tak ada pilihan selain berlari sekuat tenaga untuk segera sampai.
Sampai akhirnya ia menemukan diujung jalan setapak itu ada sebuah gudang tua Alex melirik sekilas gpsnya memastikan bahwa benar tempat itu tujuannya.
Ia mengambil tongkat besi untuk melepaskan rantai yang digunakan menutup akses ke gudang itu.
Sementara didalam ruangan itu Sheila masih terduduk di kursi reyot dengan ikatan ditangan dan kakinya mulutnya juga dibungkam dengan lakban setidaknya dia masih bisa berteriak dibalik penutup mulutnya itu saat Alex memanggilnya dari luar tadi.
"ALEX." Teriaknya sekuat tenaga dari balik penutup mulutnya inilah satu-satunya harapan agar ia bisa keluar dari tempat ini.
Sampai pintu itupun berhasil di dobrak namun sebuah pukulan menikam punggung Alex. Sheila melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana bertubi-tubi pria itu mendapat pukulan dari para keparat itu. Airmatanya luruh bersama dengan teriakan histerisnya. Sungguh ia tak bisa melihat semua ini terlalu menyakitkan bahkan untuk sekedar berdiripun pria itu tak bisa karena banyaknya preman yang menghajarnya.
"HENTIKAN.!!!" teriak seseorang yang baru saja datang dan dia Diego yang sudah bersama anak buahnya siap untuk baku hantam dengan para keparat sialan itu.
Tak ada yang lebih mencekam selain malam itu dimana ia melihat darah di beberapa sudut wajah pria yang dicintainya serta pukulan yang bersahutan seolah menjadi backsound memilukan bagaimana menyedihkannya kisah cintanya dengan seorang Alexander. Airmatanya sudah mengering karena lebih dari satu jam ia menangis tanpa henti bahkan untuk berteriak saja rasanya ia begitu lemah.
Ya, Sheila kau lemah.
...***...
Anak buah Alex sudah melepaskan ikatan Sheila setelah melihat beberapa preman itu sudah dilumpuhkan oleh Alex dan anak buahnya.
Gadis berhambur kearah Alex yang baru saja membogem mentah preman terakhir.
Alex membalikkan tubuhnya saat melihat gadis itu berlari kearahnya iapun langsung memeluknya.
Dapat dirasakannya nafas gadis itu yang terengah-engah karena berlari dan ketakutan. Alex semakin mengeratkan pelukannya berharap bisa meredakan ketakutan gadis itu. Semua perasaan takut, cemas, khawatir, rindu dan lega kini seolah bercampur menjadi satu. Ia bahkan tak merasakan kesakitan dari luka-luka pukulan disekujur tubuhnya beberapa saat yang lalu. Rasanya melihat gadis itu dalam pelukannya sudah menjadi obat sendiri untuknya.
"Aku menemukanmu." Lirih pria itu tanpa melepaskan pelukannya air matanya sudah jatuh begitu saja dari pelupuk matanya.
Beberapa saat mereka berpelukan Alex sedikit menjauhkan tubuhnya mencoba menatap wajah gadis yang begitu dirindukannya itu ada beberapa lebam tercetak jelas di wajah cantik itu seketika hatinya kembali teriris saat melihatnya secara tak langsung dialah yang menjadi kesakitan terbesar gadis itu. Ia meraih tengkuk gadis itu dan mencium dalam bibir gadis pujaannya. Ia tahu ini salah tapi bolehkah ia sedikit egois sebentar saja. Bolehkah ia sedikit melanggar garis pembatas diantara mereka sekali ini saja.
God, I really love her.
Di malam yang mencekam dan berdarah-darah melihat orang-orang sialan itu menyakiti gadisnya. Ia bersumpah akan menghabisi mereka dengan kedua tangannya sendiri.
Alex semakin memperdalam ciumannya tak memberi jarak sama sekali. Biar ini menjadi yang pertama dan terakhir jika memang tak ada kesempatan untuk mereka bersama. Ia sadar tembok itu terlalu sulit untuknya.
Kisah mereka memang terlalu rumit bahkan tak ada yang akan mampu memecahkannya sesimple seperti saat mengerjakan teori phytagoras sampai aritmatika maupun interval, seperti saat sulitnya mencari peluang dari semua ketidakmungkinan yang hanya menghasilkan hasil nol.
Tak akan pernah ada pembenaran dari semua kesalahan yang dilakukan.
Saat sudah mulai kehabisan nafas ia menjauhkan dirinya. Alex menatap wanita dihadapannya itu. Perasaan masih sama seperti saat awal mereka bertatapan sampai ia sadar ia benar-benar jatuh pada pesona seorang putri Billionaire satu Indonesia Nasheila Regardi.
"Maafkan aku." Bisik Alex ia ikut menunduk tak bisa melihat gadisnya itu ia ingat satu hal kisah mereka terlalu menyakitkan.
"ALEX ARAH JAM 3." Teriak salah satu anak buahnya membuatnya mengangkat wajahnya.
Namun terlambat.
Gadis itu sudah ditarik paksa seseorang membuatnya yang tak siap tak bisa menahan gadis itu. Semua sudah siap menyerang sampai brengsek itu mengarahkan pistol ke kepala Sheila.
"LEPASKAN DIA." Teriak Alex marah.
...
...
...***...
Sementara di luar Mario bersama Reza dan anak buahnya sudah berpencar memasuki areal gudang. Siapapun itu ia akan membunuhnya langsung jika sampai Sheila terluka. Setelah beberapa saat lalu ia pergi ke butik dan nihil ia tak menemukan Sheila, bahkan ponsel gadis itu tak mengangkat panggilannya. Ia mendapat sinyal SOS dari peringatan yang pernah ia pasang di arloji Sheila.
Beberapa hari setelah makan malam itu ia memang meminta gadis itu agar tak melepas arloji darinya karena ia sudah memasang sinyal SOS yang langsung terhubung ke ponsel pribadi Rio jika gadis itu sedang dalam bahaya.
Sepertinya ia sudah memiliki firasat untuk ini.
Dan benar, firasatnya tak meleset karena kini posisi Sheila sedang dalam bahaya.
"Rio" Teriak Sheila yang berusaha melepaskan diri dari cekalan preman yang kini menyeretnya paksa.
Riopun mencari sumber suara yang berada di pertengahan tangga dan ya ia melihat Sheila yang tak berdaya sedang ditarik paksa oleh preman-preman bertubuh besar itu. Salah satu preman itu mengarahkan pistol ke kepala Sheila. Mata Rio berkilat marah melihatnya.
"MARIO__," teriak gadis itu lagi, iapun langsung berlari kearahnya.
"BRUKKK." Satu pukulan mendarat dibahu preman yang mencekal Sheila preman itupun terjungkal.
Namun didetik berikutnya sebuah pukulan tongkat kayu mengenai bahu Sheila.
Rio yang melihat itu langsung membabi buta memukuli preman yang memukul calon tunangannya itu.
"BRENGSEKKK, AKU BENAR-BENAR AKAN MEBUNUHMU SIALAN." Umpat Rio sambil menghajar sang pemukul tanpa ampun dan sudah dapat dipastikan seseorang yang terkena pukulan seorang Mario Arganta tak akan bisa bertahan lama.
"PANGGIL HELIKOPTER SEKARANG JUGA." Pekik Rio saat melihat Sheila yang terjatuh ia segera menahan tubuh gadis itu sementara Reza dan anak buahnya mengurus preman-preman itu dan salah seorang memanggil helikopter karena hanya itu kendaraan yang bisa cepat sampai kedaerah terkutuk ini
"Sheila, are you okay?" Tanya Rio panik, ia berusaha menahan tubuh Sheila yang mulai melemah.
"Alex masih di dalam." Lirih Sheila dalam pelukan Rio.
Pria itu tak percaya mendengar ucapan calon tunangannya itu. Bisa-bisanya ia memikirkan orang lain saat dia sendiri sedang terluka, jujur saja hatinya cemburu. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk itu taruhannya adalah Sheila.
Sampai sebuah tarikan pelan di bajunya membuatnya beralih.
"Aku tahu kau tak menyukainya, tapi aku mohon selamatkan dia." Ucap Sheila kembali sambil menahan sakit dibahunya yang kini semakin terasa.
Rio terdiam sesaat bagaimana mungkin dia menyelamatkan rival sekaligus orang yang bisa saja mengambil miliknya, ia bingung sekarang harus berbuat apa. Sampai tarikan Sheila kembali mengalihkan perhatiannya.
"Aku mohon." Lirih gadis itu lagi semakin membuat Rio dilema.
"Rio." Panggil Sheila lagi.
Pria itu menatap Sheila sekilas lalu, "Selamatkan Alexander, bagaimanapun caranya.!" Ucapnya pada anak buahnya melalui transifer yang sedari tadi berada di telinganya.
Tanpa pikir panjang ia langsung membopong tubuh Sheila yang sudah semakin melemah menuju ke atap gedung itu bertepatan dengan helikopter yang baru datang dan langsung membawanya.
"Mario__." Ucap Sheila saat mereka sudah berada dalam helikopter itu.
Rio tak menjawab dan hanya terus menggenggam tangan Sheila. Dunianya benar-benar runtuh melihat beberapa luka diwajah gadis itu.
...***...