THE LAST

THE LAST
Feelings Left Behind



Sheila menatap layar televisi yang menampilkan berita tentang pertunangan antara artis cantik Vanessa Olivia dengan putra kedua pemilik perusahaan property Delta Corps.


Pertunangan yang digelar private di pulau Bali dan hanya dihadiri keluarga besar kedua keluarga. Sejenak matanya memanas dan memilih mematikan televisinya.


Sampai pintu kamarnya terbuka terlihat Resha datang dan menatapnya khawatir. Wanita paruh baya itupun menghampirinya.


"Sayang, are you Okay?" tanyanya sambil menangkup wajah putri semata wayangnya itu.


Sementar Sheila hanya tersenyum samar, "I' m Okay mom, why?"


"Kamu melihat beritanya?"


Sheila tak mampu menjawab rasanya sesuatu ingin segera meluncur dari kelopak matanya.


Ayolah, bukankah kau sudah memutuskan semuanya?


Tanpa aba-aba Resha segera merengkuh tubuh Sheila ia mengerti perasaan putrinya itu.


"It's okay, i am understand." Ia mengelus punggung putrinya itu sayang, bagaimanapun Sheila pasti belum sepenuhnya melupakan Alex.


...***...


"Jaga sikapmu, kalau kau tak mau nama baikmu hancur." bisik Vanessa pada Alex yang kini berdiri disampingnya pria itu hanya mendengus mendengar bisikan itu.


Saat ini mereka tengah berada disalah satu obyek wisata di pantai Bali untuk liburan selain itu ada beberapa rekan wartawan yang ikut meliput kegiatan Vanessa dan Alex.


Seperti biasa kehidupan pribadi artis memang selalu menjadi pusat berita media.


Vanessa langsung menggamit lengan Alex dan mengajaknya berjalan menuju pinggir pantai menikmati sunset petang itu.


Ahh, untuk semua orang yang melihat mereka pasti akan iri betapa serasinya pasangan itu. Meski kenyataannya pertunangan itu hanyalah rekayasa dan hanya untuk kepentingan bisnis semata.


Alex menatap sunset diufuk barat yang begitu indah beberapa ingatan kembali singgah di kepalanya.


(Flashback on)


Sore itu Sheila sedang liburan bersama teman-teman kuliahnya termasuk Via, Reza, Raisa, serta beberapa teman yang lain di ancol.


"Sheila ayo ke villa, kamu mau bareng atau masih mau disini?" tanya Reza.


"Duluan aja ntar aku nyusul." balas Sheila


"Jangan malam-malam udara malam untuk kesehatan." nasehat Reza lalu beranjak diikuti Raisa.


"Em."


"Kita duluan Sheil." pamit Raisa yang diangguki Sheila.


Setelah Reza dan Raisa pergi Sheila memandang kearah sang surya yang mulai menghilang. Ia memeluk lututnya merasakan hawa dingin mulai menyentuh kulit putihnya namun ia masih belum mau beranjak suasana seperti ini adalah favoritnya sunset, pantai dan angin yang menemaninya. Tiba-tiba saja ia teringat Alex.


Ahh mengingat pria sibuk itu pasti ia sedang berkutat dengan kertas-kertas laporan diatas mejanya, sedetik kemudian tersenyum mengingat itu. Jujur saja ia merindukannya tapi seperti itulah resiko memiliki kekasih seorang Alexander. Lagipula ia tak ingin merengek pada pria itu hanya untuk sekedar mengajaknya agar ikut acara liburan bersamanya.


Bukan sifatnya sekali.


Sheila berdiri lalu mengambil batu pantai berukuran kecil tak jauh dari tempatnya lalu melemparnya sekuat tenaga kearah laut. Kenapa ia jadi seperti jomblo sekarang sendirian di pantai itu, Reza dan Raisa sudah kembali ke Villa sementara Via sudah pasti gadis itu sedang mojok bersama gebetan barunya. Sementara teman-teman yang lain entah dimana.


Aishh, kenapa ia jadi kesal.


Kembali ia mengambil batu dan melemparnya lagi, ia benci situasi seperti ini. Kenapa ia harus merindukan Alex saat pria itu tak ada disini. Ia mengambil ponsel dari saku sweaternya.


Tak ada satupun pesan dari pria itu.


Apa dia masih sibuk?


Gadis itu hanya mendengus dan mengantongi benda mungil itu lagi. Angin pantai semakin menembus sweater yang dipakainya namun ia masih belum mau beranjak dan hanya kembali duduk lalu memeluk kedua lututnya.


Apa angin pantai harus sedingin ini?


Sampai sesuatu tersampir dipundaknya, sebuah jas berwarna hitam yang ia begitu familiar dengan bau maskulin itu. Sheila pun menoleh mendapati seseorang yang sedari tadi memenuhi pikirannya tengah tersenyum hangat.


"Kamu,?"


"Miss me?" tanya pria itu yang kini hanya memakai kemeja berwarna putih yang sangat pas di tubuh atletisnya.


"Alex bukannya kamu..."


"Aku mengambil cuti dan langsung menyusulmu." Alex pria itu memotong ucapan gadis itu.


"Tapi..."


Pria itu memilih duduk disamping Sheila yang masih tak percaya sepertinya dengan kehadirannya, "Aku tak bisa membiarkan seseorang merindukanku terlalu lama."


Sheila hendak berucap namun tertahan karena lagi-lagi pria itu selalu membuatnya menjadi hal yang selalu diprioritaskan. Sheila tahu Alex sedang sibuk dengan proyek terbarunya di kantor ia bahkan mengatakan tak bisa ikut liburan bersamanya karena ia masih banyak deadline yang harus selesai akhir minggu ini. Tapi kenyataannya sekarang pria itu malah sudah berada dihadapannya meski ia yakin pasti pria itu baru saja pulang dari kantor dilihat dari pakaian formal yang masih dipakainya serta wajah lelahnya.


"Kau bilang kau masih banyak deadline di kantor kenapa bisa ada disini?" Sheila banyak bertanya.


Alex tersenyum, "Apa pertanyaan itu patut ditanyakan istri saat suami baru pulang kerja?"


Sheila tersipu mendengar ucapan Alex, bagaimana mungkin dia mengatakan hal yang seperti itu, suami istri yang benar saja.


Sampai dirasakannya pria itu merangkulnya dari samping sambil menatap kearah laut, "Aku merindukanmu." bisik Alex.


(Flashback off)


Mata Alex memanas mengingat kenangan itu, kenapa harus seperti itu jalan cintanya. Asal kalian tahu saja ia tak pernah main-main dengan kata suami istri yang diucapkannya pada Sheila saat itu ia memang benar-benar ingin gadis itu yang menjadi satu-satunya dan terakhir dihidupnya tapi kenyataannya.


Ah sudahlah...


...***...


Tak ada yang tahu setelah hari itu, beberapa orang akan paham tak ada yang bisa dipaksakan lagi dari sebuah cinta beda keyakinan.


"Kau bisa ke butik sendiri kan aku harus ke kantor sebentar ada yang harus aku cek disana." Ucap Rio yang baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran salah satu butik ternama di Jakarta.


Sheila mengangguk, lalu turun dari mobil Rio.


"Satu jam lagi aku kesini."


"Rio__," gadis itu sedikit menahan ucapannya.


"Kau tak perlu terburu-buru kemari, selesaikan saja urusanmu di kantor." Lanjut gadis itu.


Pria itu tersenyum lalu mengangguk, "Aku pergi." Ucapnya lalu segera melajukan mobilnya setelah mendapat anggukan dari gadis itu.


Belum sempat sampai ke pintu masuk kembali langkahnya tertahan.


Tubuhnya membeku melihat seseorang yang begitu dihindarinya kini duduk di depannya. Setelah beberapa waktu yang lalu ia menutup semua akses komunikasi dengannya tapi hari ini di butik ini keduanya bertemu dari sekian banyak butik yang ada sepertinya takdir memang mengharuskan mereka untuk bertemu disini.


Sheila memang datang ke butik itu karena permintaan Rio dan mommynya untuk pembuatan gaun yang akan digunakannya untuk acara pertunangan. Namun belum sempat memasuki butik itu ia malah bertemu Alex yang baru saja turun dari mobilnya.


Dan disinilah keduanya sekarang duduk di sebuah cafe yang ada disamping butik itu.


Sheila menatap pria yang baru saja mendudukkan dirinya di hadapannya.


"Kau menghindariku?" tanya Alex sang pria.


"Untuk apa?" Sheila tersenyum hambar.


"Jangan membohongiku !"


Sheila tak menjawab dan menatap tangan Alex yang berada diatas meja. Hatinya mencelos melihat benda kecil melingkar di jari manis pria itu. Kembali ia tersenyum hambar dan menyentuh cincin yang melingkar di jari manis pria itu.


"Selamat."


Sedetik kemudian ia menarik tangannya, "Aku harus pergi Alex."


Namun Alex menarik tangannya menahan agar tak pergi dulu, Sheilapun menatap pria itu yang kini tengah menunduk.


"Maafkan aku, kau harus tahu aku tak pernah menginginkan pertunangan ini."


"Jangan berkata seperti itu, dia bisa marah jika mendengar itu."


Pria itu menatap Sheila, "Kamu masih mengira aku menginginkan semua ini?"


"Pada kenyataannya kita memang harus menjalankan kehidupan kita masing-masing."


"Pertunangan ini akan selesai dalam satu tahun, dan__,"


"Al." potong Sheila yang membuat Alex menatapnya nanar.


"Kau harus tetap melanjutkannya, kau harus tahu apa yang diinginkan orang tuamu adalah yang terbaik dan__, aku mohon jangan menghampiriku lagi."


"Sheila__,"


"Aku pamit." gadis itu menarik tangannya dan berlalu meninggalkan Alex yang masih mematung satu air mata menetes dari matanya.


Bisa-bisanya gadis itu memintanya untuk tak menghampirinya lagi.


Kenapa harus sesakit ini mendengarnya?


Sementara disudut yang lain seseorang tengah mengamati keduanya, lalu pergi dengan seringaian kecil dibibirnya.


...***...