The Greatest Mafia Lord

The Greatest Mafia Lord
Tamat



"Berani main keroyokan, lepaskan aku, hadapi langsung, dasar pengecut!" geram Samuel dengan rahang yang semakin mengeras.


"Ck, menghadapimu memang butuh kelicikan, jika tidak bagaimana mungkin bisa membuatmu terperangkap seperti ini." Lelaki bertubuh besar dan dipenuhi oleh tato di tubuhnya, tertawa sinis pada Samuel.


"Hei kalian, bawa wanita itu ke sini," titahnya pada salah satu bawahannya.


Tak lama kemudian, dua orang pria menyeret Yuna yang tak sadarkan diri untuk diperlihatkan pada Samuel.


"Bedebah, beraninya kau menyentuh orangku. Sini kau, keparat!" Samuel semakin berteriak marah, urat lehernya ikut timbul menahan rasa geram melihat mereka yang membuat Yuna tak sadarkan diri.


Perlahan Yuna membuka mata, merasakan kepalanya sedikit pusing.


Seketika ia panik mendapati tangannya yang terikat, matanya tertuju pada Samuel dan berteriak seketika. "Sam!"


"Bagus-bagus, teruslah berteriak, semakin kamu berteriak, maka suamimu juga semakin berusaha untuk melapaskan diri, sangat menyenangkan." Ia kembali tertawa.


Samuel mengepalkan tangannya semakin kuat saat pria itu mendekati Yuna. "Kulihat wanitamu ini sangat cantik." Ia membelai rambut Yuna yang tergerai.


"Jangan sentuh dia." Samuel memperingati.


"Memangnya kenapa jika aku ingin menyentuhnya? Sayang sekali jika wanita secantik ini hanya dinikmati olehmu seorang, kenapa tidak berbagi denganku?" Tangannya bergerak membelai wajah Yuna, membuat wanita itu menangis tak bersuara karena ketakutan.


"Kukatakan jangan sentuh dia, keparat!" Samuel akhirnya sampai pada puncak kemarahannya, ia mengamuk dan membuat beberapa orang yang memeganginya terpental secara bersamaan.


"Jangan bilang aku tidak memperingatimu." Samuel melangkah maju dengan wajah sangar yang mengerikan.


"Kalian semua lihat apa? Serang dia." Pria itu memerintahkan pada semua bawahannya yang membawa senjata di tangan mereka.


Samuel juga mengeluarkan senjata apinya dan menembakkan ke arah mereka semua, Yuna terus menangis menutup matanya, tak berani menyaksikan pemandangan yang mengerikan di depan mata. Rumah yang tadinya bersih, kini menjadi lautan darah.


"Kalian semua, cukup!" Suara teriakan itu, seakan membuat tanah bergetar dan mereka terdiam melihat ke arah sumber suara.


"Siapa dia? Auranya bahkan sampai membuatku tak berani untuk bergerak," batin si pria bertato tadi.


"Masih berani menyerang?" Tuan Jovi melangkah mendekati pria itu dengan tatapan sangarnya.


"A-Anda siapa?" Pria itu nampak ketakutan.


"Apa yang kau lakukan di rumah anakku?" Kedatangan Tuan Jovi benar-benar mampu mengintimidasi semua orang yang ada di sana.


"Kalian semua, jangan dengarkan dia dan jangan takut, teruslah lakukan tugas kalian." Meski terintimidasi, ia masih merasa bahwa tugasnya harus tuntas malam itu juga, sulit mendapatkan kesempatan seperti ini, sudah membuat Samuel lengah dan sedikit kehabisan tenaga, ia rasa akan semakin mudah untuk mengalahkannya.


Baru saja usai memerintahkan, setelah menoleh ternyata Tuan Jovi sudah menodongkan pistol ke arah kepalanya. "Teruslah menyerang jika kau ingin mati." Tuan Jovi sama sekali tak terlihat panik meski jumlah mereka begitu banyak, bukan tak mungkin ia mampu mengalahkan semuanya.


Seketika pria itu mengangkat kedua tangannya dan mengatakan, "Saya menyerah. Dan kalian semua, letakkan senjata." Para bawahannya pun menurut dan perlahan meletakkan senjata di lantai, ikut berjongkok mengangkat kedua tangan tanda menyerah.


"Ayahnya Samuel apakah semengerikan ini jika beliau marah? Bahkan lelaki berbadan besar saja takut padanya." Yuna membatin, cukup berdebar melihat raut wajah Tuan Jovi yang begitu beringas melebihi suaminya.


Samuel melangkah menghampiri Yuna, melepaskan ikatan di tangan istrinya. "Apa kau baik-baik saja?" Tatapan matanya masih selembut itu, membuat Yuna menghambur memeluk Samuel.


"Jangan takut, aku sudah di sini, tidak ada yang akan melukaimu." Samuel berusaha menenangkan.


"Ayo, aku bawa kau pergi dari sini, rumah ini sudah tidak layak ditempati." Sebelum Samuel keluar membawa Yuna, ia menyempatkan menusukkan jarum peraknya ke tubuh pria itu agar tak mampu kabur ke manapun, lalu memerintahkan Roy membawa pergi pria itu untuk diberi pelajaran sebab berani menyentuh Yuna.


"Pi, semuanya sudah beres, kita sudah bisa kembali ke kediaman Adiguna," ujar Samuel setelah keluar dari rumahnya.


Tuan Jovi mengangguk pelan. "Aku akan menjemput ibumu dan juga Kakek Ghani terlebih dahulu, kau bisa pergi lebih dulu dan bawa istrimu."


"Baik, Pi. Kami menunggu kalian di sana." Samuel pun membawa Yuna pergi ke kediaman Adiguna, dan kelak mereka akan tinggal di sana.


"Lalu rumah kita bagaimana, Sam? Bagaimana jika berikan ke Mama dan Papa saja?" Yuna mengusulkan.


"Jangan." Samuel menolak.


"Rumah itu sudah dipenuhi darah kotor mereka, meski sudah dibersihkan, tetap tidak layak ditempati oleh orang tuamu. Nanti akan kubelikan mereka rumah baru," lanjutnya.


"Kau tidak seharusnya menghamburkan uangmu, Sam."


"Aku melakukannya bukan untuk sesuatu yang tidak berguna, itu untuk menyenangkan orang tua, tidak ada salahnya, kan?"


"Terimakasih, Sam. Dan maaf kemarin aku berkata kasar dan tidak mempercayaimu."


"Tidak apa."




Keesokan harinya, Media sosial dan televisi meliput berita kembalinya Tuan Jovi sebagai kepala keluarga Adiguna sekaligus memimpin kembali ADN GROUP, Samuel juga disahkan sebagai pewaris tunggal beserta kabar kebahagiaan atas menikahnya Samuel. dan keluarga Adiguna telah mendapatkan seorang menantu, juga tidak lama lagi akan hadir Adiguna Junior, yaitu anak Samuel yang tengah dikandung oleh Yuna.



"Pa, lihat anak kita masuk tv, sudah sah jadi menantu Adiguna dan jadi anggota keluarga bangsawan, aku benar-benar bangga dan tak menyangka hari seperti ini akan tiba. Belum lagi Samuel juga membelikan kita sebuah rumah mewah, aku sangat beruntung Samuel jadi menantuku, ada berapa banyak teman-temanku yang mengatakan iri melihat kebahagiaanku saat ini." Bu Rosi terus tersenyum lebar tak henti-hentinya.



Akhirnya setelah bertahun-tahun mengalami penderitaan dan berjuang sendiri di dunia luar, sekarang Samuel benar-benar berhasil menyatukan keluarganya, mendapatkan wanita yang tulus padanya, juga calon anak yang tak lama lagi akan menjadi penerusnya, hari seperti ini telah lama ia nantikan, benar-benar berhasil menyingkirkan semua musuh yang mencari masalah dan sukses menyusun rencana yang matang.



**Tamat**.



Akhirnya setelah sekian lama Author juga berhasil namatin ceritanya dan gak digantung-gantung lagi, terimakasih sama kalian yang sudah setia membersamai cerita Samuel dan terus mendukung. Salam damai dan semoga sehat selalu.