The Greatest Mafia Lord

The Greatest Mafia Lord
Pertarungan Dimulai



"Maju jika berani! Dasar pecundang!" terdengar sorakan penonton yang terdengar begitu geram, tak sabar ingin menonton pertandingan mereka.


"Interupsi!" Seketika Pak Fandi berdiri mengangkat tangan, suasana kembali hening.


Pak Fandi diberikan kesempatan untuk mengucapkan apa yang dia inginkan, seseorang memberikan pengeras suara untuknya.


"Tuan Daniel yang terhormat, saya tidak tahu ternyata Anda sepengecut ini!" seru Pak Fandi yang mencoba menahan amarahnya.


Tuan Daniel semakin melebarkan senyum sinisnya dan mengatakan, "Kau tidak memiliki porsi untuk bersuara di acaraku, cukup diam dan duduk manis di tempatmu, paham?"


Pak Fandi mengepalkan tangan semakin menggeram kesal. "Jika kau berani hadapi aku, satu lawan satu, jangan libatkan Samuel dan orang luar, dasar brengsek!"


"Berani sekali tua bangka itu menantang Tuan Daniel, apa dia tidak takut tulangnya yang renta itu akan keropos?" Para penonton kembali meledek Pak Fandi.


"Datanglah ke hadapanku jika memang ingin berduel, kau akan kuanggap menang jika berhasil menyentuh kulitku." Tuan Daniel menjawab dengan santai.


"Baiklah, kau pikir aku takut, hng." Pak Fandi meletakkan pengeras suara dan berniat untuk menghampiri Tuan Daniel sendirian, tapi seketika Samuel berdiri dan menghalangi jalan Pak Fandi.


"Sudah cukup kalian bermain-main denganku, aku punya satu permintaan padamu Tuan Daniel. Jika aku berhasil menang di pertandingan ini, aku ingin kau dan seluruh keluargamu meninggalkan negara ini tanpa sepeser harta pun, sementara apa yang kau miliki di negara ini, aku ingin kau membaginya rata pada penonton malam ini. Dan lalu umumkanlah kebangkrutanmu dalam tiga kali dua puluh empat jam, lebih dari itu jika aku masih melihatmu berkeliaran di negara ini, kau tidak akan dapat membayangkan akibat yang akan kau dan keluargamu terima." Tanpa sedikitpun kegetiran pada nada bicaranya, membuat semua orang terheran dan ragu akan penilaian mereka terhadap Samuel, tapi Tuan Daniel yang pada dasarnya begitu angkuh dan sombong, malah menertawai ucapan Samuel yang dianggapnya begitu lucu.


"Belum memasuki area pertarungan saja kau sudah berani mengancamku. Hei, anak muda, apa kau pikir lawanmu kali ini adalah bocah ingusan? Dia Zodi Tamoro, hei lihatlah, kau tidak mengenalinya? Kau sungguh berharap mampu merebut kemenangan ini darinya, hah?!" Tuan Daniel kembali tertawa terbahak-bahak tanpa memikirkan imagenya di hadapan banyak orang.


"Anak muda, menyerahlah saja, apa yang dikatakan Tuan Daniel itu benar, mungkin kau menguasai beberapa jurus silat dan sejenisnya, tapi apa kau benar-benar berpikir Tuan Zodi Tamoro bisa kau kalahkan dengan mudah? Itu sesulit memutar dunia ini, Nak. Aku tahu anak muda sepertimu memang memiliki ambisi yang tangguh, tapi keputusanmu untuk melawannya adalah hal yang salah, minta maaflah pada Tuan Daniel dan terima hukumanmu, maka kau tidak perlu kehilangan masa depanmu dengan cepat." Seorang kakek yang duduk di belakang Samuel tampak khawatir dan mencoba menasehati. Samuel menoleh dan membungkukkan badan di hadapan kakek tersebut.


"Terimakasih atas kepedulian Anda terhadap saya, tapi maaf saya mungkin tidak bisa menuruti Anda kali ini, saya berharap ada lain kali kita bisa bertemu kembali dan saya akan mengajak Anda makan makanan yang enak." Samuel tersenyum sopan lalu kembali berbalik badan menatap Tuan Daniel.


"Hais ... anak muda yang keras kepala." Kakek tersebut hanya bisa menghela napas pasrah dan diam kembali.


"Kenapa? Apa Kau merasa terancam akan syaratku? Kau keberatan? Ck, yang benar saja, aku tak tahu kau sepenakut itu, melihat keangkuhanmu membuat acara ini dan sampai mengundang seorang master bela diri, ternyata dibalik itu kau hanya seorang lelaki yang tak punya nyali," cibir Samuel berbalik mengejek Tuan Daniel.


"Baik, aku setuju, aku akan menuruti syaratmu, itupun jika kau mampu, tapi dalam pertandingan ini, hanya kematian yang bisa menyelesaikan pertandingan, apa kau berani?" tantangnya penuh keyakinan.


Samuel tidak lagi mengatakan apa pun dan maju mendekati Zodi Tamoro.


"Sam!" teriak Yuna khawatir. Samuel menoleh dan tanpa berekspresi apa pun, ia tetap melanjutkan langkahnya hingga ia tiba di hadapan lawan.


"Majulah," ucap Samuel dengan tenang.


"Pukulan yang kuat dan dalam, tangan dan kakinya bahkan tidak goyah sama sekali, bidikan yang tepat pada sasaran. Dinilai dari gestur tubuh dan ketahanannya, ia hampir tak memiliki kelemahan." Samuel memegang dadanya dan terus menatap Zodi Tamoro memperhatikan.


"Lumayan juga, kau bisa menahan pukulanku dan masih bisa berdiri, sepertinya kau berolahraga dengan baik." Zodi tersenyum sembari memutar-mutar lengannya bersiap untuk menyerang lagi.


Bragh!


Pukulannya ditahan oleh Samuel, kini tangan mereka saling beradu.


"Lebih baik menggunakan cara ini biar ia tak terluka," batin Samuel dan lalu ia menarik tangan Zodi hingga melewatinya, sementara dengan cepat tangan yang satunya mengunci titik meridian Zodi di bagian tengkuk dan berputar hingga ke tenggorokan, hal itu membuat Zodi terdiam membeku tanpa bergerak dan juga bersuara.


"Ini ... mengapa aku merasa tidak asing? Ia mengunci meridian membuatku kehilangan energi, mengingatkanku pada seseorang." Zodi sejenak berpikir dan terus menatap Samuel yang berjalan mengelilinginya.


"Ada apa? Apa yang terjadi padanya? Kenapa hanya diam saja? Apa dia kehilangan ingatan? Apa dia bodoh?" Semuanya dibuat heran oleh tingkah Zodi yang mendadak diam tak bergerak, ini adalah penampakan yang tak pernah terlihat selama dalam pertandingan Zodi, tentu saja semuanya bertanya-tanya.


Samuel menendang sebelah kaki Zodi dari belakang hingga lelaki itu bersimpuh di lantai, Samuel ikut berjongkok di hadapan lawan.


"Maafkan aku yang bersikap lancang, tapi aku kecewa karena Anda melupakanku," ujar Samuel sambil tersenyum ke arah Zodi.


"Dia sedikit mirip dengan ... tidak, tidak hanya mirip, itu benar-benar dia." Zodi akhirnya berhasil mengenali Samuel, semakin tak sabar ingin mengucapkan sesuatu sampai pada akhirnya Samuel pun membebaskannya dan ia terkulai lemas tanpa daya.


"Tuan muda, ini benar-benar dirimu?" Suara Zodi bergetar menahan sesak di dadanya.


Samuel tersenyum tipis dan mengatakan, "Kupikir benar-benar melupakanku."


"B-bagaimana mungkin, Anda ke mana saja, saya mencari selama bertahun-tahun, tak disangka saya malah bertemu di sini dan mempermalukan diri pada Anda." Zodi tersenyum getir mengingat betapa naifnya ia yang sudah berani sombong di hadapan majikannya sendiri.


Ya, Zodi adalah pengasuh Samuel saat kecil dan terus mengikuti Samuel selama di keluarga Adiguna, sampai pada akhirnya ia pun mengundurkan diri saat tahu Samuel dan kedua orang tuanya diusir dari keluarga besar, sejak saat itu ia tak pernah lagi bertemu hingga detik ini dipertemukan dalam pertarungan.


Zodi Tamoro mengangkat tangannya setinggi mungkin dan berseru, "Aku kalah!" Ia tahu, mau melawan dengan cara apa pun, ia juga tetap tidak akan mampu mengalahkan Samuel, anak muda yang selalu bersamanya dulu, cukup pintar untuk bermain trik sekalipun dirinya mengasah diri hingga sekuat apa pun, karena sejak dulu ototnya tak pernah bisa mengalahkan otak Samuel yang begitu cermat nan cerdik.


"Kalah begitu saja?" Semua penoton dibuat bingung akan pertarungan mereka, entah mengapa selesai dengan begitu cepat dan mudah, mengingat bahwa Zodi bukanlah petarung sederhana yang bisa mengaku kalah begitu saja.


Wajah Tuan Daniel seketika berubah menjadi pucat pasi mendengar pengakuan Zodi yang menurutnya tak masuk akal.


Perhatian : Adegan pertarungan mereka di atas tidak untuk ditiru ya Guys 😁