
Wajah Rendra semakin memucat saat mendengar bisikan itu, masih bisa dikatakan beruntung karena Yuni dan keluarganya tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Marlin.
"Menarik, sepertinya ada makanan baru," batin Samuel sambil tersenyum licik ke arah Rendra.
"Rendra, apa yang ia bisikkan padamu tadi?" tanya Bu Rosi penasaran.
"Ah, b-bukan apa-apa, Tante. Dia perempuan aneh menurutku, jangan pedulikan dia, ayo kita masuk," jawab Rendra gelagapan sambil memaksakan diri untuk tersenyum, sementara Yuni mulai curiga dengan sikap kekasihnya itu.
Terdapat berbagai macam koleksi tas wanita yang tersusun rapi di setiap rak yang berbeda, semakin tinggi jangkauan tas tersebut, semakin mahal pula harganya.
"Yuni dan Tante mau yang mana? Silahkan cari yang sesuai, malam ini saya yang traktir, ambil dua juga tidak apa-apa." Hanya bisa seperti itu, Rendra ingin mengalihkan pikiran mereka tentang kejadian barusan dengan menggunakan cara seperti itu, hanya dengan begitu ia bebas dari kecurigaan.
"Kamu serius kami boleh ambil lebih dari satu? Ini semua barang branded lho, Rendra?" tanya Yuni merasa terharu.
"Iya, tak apa-apa, pilihlah." Rendra mengelus kepala Yuni lembut, seakan dia adalah pria paling sempurna di dunia ini.
"Yuna, mungkin salah satu tas yang ada di sini ada yang kamu suka, aku akan belikan untukmu," sahut Samuel tiba-tiba.
Yuna tersenyum lucu menatap Samuel. "Kamu sedang bercanda? Semua barang yang ada di sini tidak dibandrol ratusan ribu, Sam, tapi puluhan juta bahkan ratusan, jangan bercanda deh, aku saja tak mampu untuk membeli barang di toko ini."
Samuel memasang wajah datar. "Kamu sedang meremehkan aku, Yuna?"
"Ah, Sam, maafkan aku, aku sungguh tidak bermaksud begitu, aku hanya ingin mengatakan bahwa barang di sini tidak bisa dibeli sama orang miskin seperti kita, aku benar-benar tidak berniat begitu, maaf jika kamu tersinggung." Yuna memasang wajah memelas memohon belas kasihan, membuat Samuel sendiri tak tega dan tersenyum kecil.
"Sudahlah, hal seperti itu tidak pernah membuatku marah." Samuel merangkul tubuh Yuna dengan lembut.
"Yuna, kamu tidak ingin pilih-pilih? aku bisa traktir kamu juga," sahut Rendra sambil melihat ke arah Samuel.
"Tidak usah, dia tak butuh traktiran dari kamu," jawab Samuel lantang.
"Kamu itu jangan egois, Samuel. Jangan karena kamu tidak mampu membelikan Yuna barang mewah, lantas kamu juga melarang Yuna untuk menerima niat baik orang, cukup kamu saja yang menderita jangan bawa-bawa anakku," timpal Bu Rosi.
"Tidak begitu, Ma. aku sendiri yang katakan pada Samuel bahwa aku tidak butuh barang-barang ini, di rumah masih ada yang bisa dipake." Yuna akhirnya angkat bicara.
"Sudahlah, Ma. Kalau dia tak mau tidak usah dipaksa, Kak Yuna tak terbiasa memakai barang-barang mewah seperti ini, dia hanya ingin memakai barang duplikat alias palsu, benar begitu, Kak Yuna?" tukas Yuni dengan nada meledek.
"Terserah kau saja, Yuni. Aku tidak peduli apa yang ingin kau katakan." Yuna memalingkan wajah tak menghiraukan.
Tak jauh dari mereka berdiri, terdapat satu tiang kristal yang di atasnya terdapat sebuah tas mungil yang ditutupi dengan kaca bening, mereka sedikit mendongak menatapnya, wajah Yuni dan Bu Rosi berseri-seri saat menemukan tas itu.
"Wah, kurasa ini adalah barang yang paling menarik di antara yang lainnya, benar begitu, Sayang?" ujar Yuni merasa takjub.
"Iya, kenapa? Kamu mau yang ini?" tanya Rendra lagi.
"Memangnya boleh?" Seketika Yuni tersenyum gembira.
"Kita tanya harga dulu ya."
"Katanya orang kaya dan punya segalanya, mau beli barang ngapain nanya harga dulu? Kalau mau beli ya tinggal beli saja. Yang namanya orang kaya, tidak ingin merepotkan diri sendiri meski hanya dengan hal kecil sekali pun," sahut Samuel sambil tersenyum meledek.
Rendra memutar bola matanya menatap Samuek kesal. "Apa kau bilang tadi? Coba katakan sekali lagi."
"Aku malas mengulanginya, intinya langsung saja beli, tak usah tanya harga," jawab Samuel santai.
"Sam, Sudahlah. Jangan menantangnya." Yuna mencoba untuk membujuk.
"Tidak apa-apa, itu hanya sebuah pelajaran kecil-kecilan untuk pria sombong sepertinya." Samuel tersenyum hangat pada Yuna.
"Mbak, tolong bungkus tas ini, pacar saya menginginkannya, langsung saja berikan saya total tagihan, akan saya bayar cash," ujar Rendra lantang, sengaja ingin memamerkan kekuasaannya terhadap Samuel. Sementara Samuel, ia tersenyum puas karena berhasil memancing pria menyebalkan dalam hidupnya.
Bu Rosi kini juga sudah memegang dua kantong berisi tas di dalamnya, Sementara Yuni mendapat tiga kantong tas termasuk tas paling mewah yang mereka lihat barusan.
"Tuan, ini total belanjaan Anda." Pegawai kasir memberikan nota yang tertera sebuah harga yang fantastis.
"Satu Milliar? Ini tidak salah, Mbak?" tanya Rendra sekali lagi, tak percaya ia harus keluarkan uang sebesar itu hanya untuk membeli tas.
"Benar, Tuan. Tas yang Anda pilih barusan adalah brand terbaru yang baru saja diluncurkan oleh perusahaan Sindia, totalnya hanya ada tiga buah yang di impor ke tiga negara termasuk negara kita, jadi harganya lumayan mahal," jawab pegawai tersebut, menjelaskan dengan sopan.
Rendra seketika menggaruk kepalanya frustasi, bagaimana ia harus membayarnya, itu sama saja membuatnya bangkrut dalam sekejap.
Rendra berbalik badan menatap Yuni yang duduk di kursi tunggu, lalu memanggilnya dengan nada lemah.
"Sayang, bisa ke sini sebentar?"
Yuni menatap ibunya sebentar lalu memandang Rendra bingung. "Ada apa?" Sambil menghampiri Rendra yang bersikap tak karuan.
"Benar-benar harus dikembalikan, ya?" Yuni pun merasa tak rela karena tas tersebut ingin sekali ia miliki, terutama untuk pamer di hadapan teman-temannya.
"Maafkan aku, ya. Aku janji akan membelikanmu yang lebih bagus lagi jika aku mendapatkan uang dari ayah, tapi sekarang aku benar-benar memohon padamu, kali ini saja turuti aku, ya." Rendra menggenggam tangan Yuni sedikit panik, takut Yuni tidak ingin mengembalikannya dan membuat ia malu di depan banyak orang.
"Baiklah." Yuni berbalik badan dengan langkah yang lunglai, meraih tas tersebut sembari mengitari pandangannya terhadap Bu Rosi, Yuna, beserta Samuel.
"Ada apa, Yuni?" tanya Yuna.
Yuni mengangkat bahu dengan malas lalu kembali menghampiri Rendra dan memberikan tas tersebut.
"Terimakasih, Sayang." Ia pun tersenyum lega.
"Mbak, ini saya kembalikan dulu tasnya, jika nanti saya ada uang, saya akan kembali dan membelinya lagi," ujar Rendra sembari menyerahkan tas itu yang sudah dibungkus rapi.
"Tapi kami tidak menjamin tas ini bisa bertahan lama di sini, jika ada orang lain yang menginginkannya, maka kami tidak akan menunggu Anda datang, Tuan. Kami akan menjualnya ke orang lain," jawab pegawai itu dan menerima tas kembalian dari Rendra.
"Tidak apa-apa, kalian juallah saja pada orang lain jika ada yang mau beli, saya tidak keberatan," kata Rendra antusias, ia malah semakin senang jika tas itu telah laku dijual, setidaknya ia tak perlu harus repot-repot keluarkan uang yang banyak.
"Jadi berapa yang harus saya bayar untuk keempat tas yang mereka ambil itu?" tanya Rendra lagi.
"Ini, Tuan. Totalnya 200 Juta."
Rendra langsung membayarnya tanpa ragu, untuk harga segitu ia masih bisa bertoleransi, lagian ia sendiri yang ingin mencari muka demi meledek Samuel, mau tak mau ia harus bertanggung jawab pula di hadapan mereka semua.
"Yuni, maafkan aku tidak bisa mengantarmu pulang, aku masih ada pekerjaan yang belum selesai, kalian pulang sendiri bisa, kan? Lagian ada Samuel yang bisa membawa kalian pulang." Rendra tersenyum ramah pada mereka, dalam hati sebenarnya begitu panas karena uang 200 Jutanya lenyap dalam satu malam.
"Tidak apa-apa, kamu pulang hati-hati, ya. Bye." Usai memberikan cium pipi, Rendra pun pergi dengan mobilnya.
"Emm ... kalian pulang bertiga saja dulu, aku masih ada urusan mendadak yang harus dilakukan, nanti akan pulang dengan kendaraan umum," kata Samuel.
"Sudahlah, lagian kami tak butuh kamu untuk mengantar pulang," jawab Yuni kesal lalu masuk ke mobil.
"Aku pulang dulu ya, Sam. Kamu hati-hati di jalan," ujar Yuna.
"Iya, kamu juga."
Setelah kepergian mereka, Samuel langsung menghubungi Roy. "Bagaimana? Kau sudah mengikutinya?"
"Sudah, Bos. Masih dalam perjalanan, tidak tahu dia mau ke mana," jawab Roy dari seberang telepon.
"Ikuti terus sampai dia berhenti, share lokasi tempat ia berhenti, jika ada yang mencurigakan, beritahu aku segera mungkin."
Saat di dalam toko tadi, Samuel langsung meminta Roy untuk standby di tempat agar jika nanti Rendra pergi, ia bisa langsung meminta Roy untuk mengikutinya, ia tahu ada yang tidak beres dengan pria itu.
"Mbak, tas yang tadi pria itu kembalikan, saya ingin membelinya." Samuel kembali masuk ke toko tersebut dan berniat untuk membeli tas itu.
"Anda sanggup membelinya? Orang itu saja tidak sanggup, apalagi Anda, saya perhatikan tadi, pasangan Anda tidak membeli apa pun, itu karena Anda tidak mampu untuk membelikannya, kan?" cetus pegawai tersebut tak percaya.
"Berapa harganya? Satu Milliar, kan?" Samuel membuka dompetnya dan mengeluarkan black card.
"Coba saja, saya tidak main-main."
Pegawai itu sedikit ragu, tapi melihat kartu yang dikeluarkan Samuel sebuah black card, ia sedikit memiliki keberanian untuk memeriksa, ternyata saldo di dalam kartu tersebut di luar dari dugaannya sendiri, ia baru melihat ada orang yang memiliki saldo sebesar itu dalam kartunya, segera ia meminta Samuel untuk mengetikkan pinnya untuk menyelesaikan transaksi pembayaran.
"Terimakasih telah berkunjung di toko kami, Tuan. Bisa tinggalkan nomor ponsel Anda? Jika ada keluaran terbaru, kami bisa menghubungi Anda." Sikap pegawai itu seketika berubah 99 derajat, begitu baik dan ramah, senyumnya pun melebar tiada henti.
"Tidak perlu, aku butuh satu tas lagi, ada yang lebih bagus dari tas ini?" tanya Samuel.
"Oh, kebetulan sekali, Tuan. Anda tunggu di sini, saya akan keluarkan barangnya." Wanita itu berlari dengan cepat lalu kembali dalam beberapa menit.
"Ini, Tuan. Namanya tas berliontin, ini dikenal sebagai tas paling mahal di negara kita, memang ini buatan dalam negeri dan tidak diimpor, tapi kualitasnya yang terbagus dari yang bagus, harganya juga cukup bombastis, Tuan. Masih belum ada yang memilikinya karena terlalu mahal."
"Baiklah, bungkus saja sekarang, saya buru-buru," jawab Samuel tak mau tahu dari mana tas itu berasal.
"Terimasih sudah berkunjung, Tuan. Datanglah lain waktu, kami menunggu kedatangan Anda." Wanita itu terus melambai setelah Samuel berhasil melakukan transaksi dan pergi dari sana.
"Tak menyangka ada orang kaya yang mau berpenampilan sederhana seperti itu, sangat langka di negara ini, coba saja aku berhasil mendapatkan nomornya, pasti aku merasa sangat bangga," gumam si penjaga kasir.
"Bos, dia memarkir mobil di depan hotel, lalu di pintu utama ada wanita yang tersenyum padanya." Terdengar suara Roy dari seberang telepon.
"Share lokasinya sekarang, aku akan ke sana, ikuti terus ke mana dia pergi, jika dia memboking sebuah kamar, usahakan untuk masuk terlebih dahulu tanpa ketahuan olehnya, pasang kamera di sana agar bisa tahu apa yang terjadi. Tugasmu selesai setelah kau berhasil memasang kameranya, kau bisa kembali ke markas setelah itu, sisanya serahkan saja padaku." Samuel buru-buru naik ojek menuju ke hotel di mana Rendra berada.