The Greatest Mafia Lord

The Greatest Mafia Lord
Tamu Tak Diundang



"Ehem." Pak Fandi tampak berdehem salah tingkah, ingin mendekati Zodi, tapi juga sedikit ragu.


"Tanyakanlah apa yang ingin Anda tanyakan," sahut Zodi yang mengerti dengan tingkah laku Pak Fandi.


Pak Fandi tersenyum malu dan sedikit sungkan bertanya. "Sebenarnya Anda dan menantu saya ada hubungan apa? Samuel tak pernah menceritakan tentang Anda pada kami."


Zodi Tamoro menatap Pak Fandi dan Bu Rosi bergantian, lalu tersenyum agar suasana tidak menjadi canggung. "Apa Anda tahu mengenai keluarga Adiguna?" Zodi balik bertanya.


Pak Fandi dan istrinya seketika duduk tegap dengan menarik napas panjang, lalu mereka saling bertatap dengan mata yang melotot.


"Melihat ekspresi kalian, sepertinya saya bisa menebak bahwa kalian pun tahu mengenai keluarga Adiguna, benar juga, siapa yang tidak tahu mengenai keluarga besar itu, kurasa hampir semua orang di negara ini mengenali marga tersebut."


"Em, a-apakah Anda salah satu anggota keluarga Adiguna?" Pak Fandi pun semakin gugup.


Zodi melebarkan senyumnya. "Anda tidak perlu begitu gugup, saya hanya seorang pekerja di sana, dan itu pun sudah lewat beberapa tahun yang lalu, saya tidak lagi bekerja di sana."


"Lantas hubungannya dengan Samuel apa?" Bu Rosi langsung memotong pembicaraan.


"Sama seperti saya, kami mendapat pekerjaan di bagian yang sama, kami sudah berteman sejak saat itu dan sering berlatih bersama saat senggang," jawabnya berbohong.


Zodi berpikir bahwa itu bukanlah haknya untuk memberitahu pada mereka yang sebenarnya, jika Samuel menyembunyikan identitasnya sebagai Tuan muda keluarga Adiguna, itu berarti memang harus ditutupi, ia sama sekali tak memiliki wewenang untuk membukanya tanpa izin.


"Hah? Ada hal seperti ini bahkan Samuel tak pernah mau menceritakannya pada kita, apa dia tidak pernah menganggap kita keluarga?" celetuk Bu Rosi.


"Apa? Memangnya kau pernah memperlakukannya seperti keluarga di rumah ini? Kau selalu menindasnya setiap hari," balas Pak Fandi yang memandang sinis pada istrinya.


"Kalian sedang membicarakan apa?" Samuel tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.


"Ah, tidak ada, kau duduklah dan temani Tuan Zodi," ujar Pak Fandi.


"Samuel, kau pernah bekerja di keluarga Adiguna kenapa tak pernah ingin cerita pada kami?" Tanpa basa basi Bu Rosi langsung saja melontarkan pertanyaannya.


Samuel mengangkat alisnya tak mengerti, lalu setelah melihat Zodi, ia baru mengerti maksudnya. "Kurasa ini tidak terlalu penting untuk diceritakan ke siapa pun, lagian keluarga Adiguna memiliki privasi yang ketat, sebelum keluar dari sana, kami telah dihimbau dan diminta untuk bersumpah agar tidak menceritakan apa pun mengenai informasi mengenai apa yang kami lihat dan dengar selama di keluarga Adiguna."


"Apa yang kumaksud bukan mengenai informasinya, tapi selama kau bekerja di sana, upah yang kau dapatkan tentunya tidak sedikit kan? Tak mungkin setelah lama bekerja di keluarga besar itu kau sama sekali tidak menyisakannya sedikit pun, kau pasti menyimpannya sampai sekarang dan sengaja membuat Yuna bekerja keras selama ini, kan? Agar kau dapat bersenang-senang sendiri tanpa ingin berbagi pada keluargamu, ngaku saja." Nada Bu Rosi terdengar begitu sinis.


"Jaga ucapanmu, di sini masih ada Tuan Zodi," bisik Pak Fandi yang terlihat geram pada mulut istrinya yang tak pernah kenal sopan santun terhadap orang luar. Bu Rosi tampak semakin kesal oleh teguran suaminya.


Samuel menghela napas panjang dan menatap Zodi, tampak Zodi pun merasa bersalah karena berani mengarang cerita, membuat kondisi Samuel semakin dipersulit oleh ibu mertuanya.


"Soal uang itu, aku menggunakannya untuk pembangunan sebuah rumah, sebentar lagi kami akan pindah ke sana, awalnya ingin memberi kejutan pada Yuna dengan tidak menceritakannya ke siapa pun, kupikir baiknya kami hidup mandiri dengan memiliki rumah sendiri, tapi tentunya Mama dan Papa bisa sering berkunjung, kalian juga boleh mengundang beberapa kerabat pada acara pindah rumah nanti." Padahal rumah belum disiapkan, dan lagi-lagi Samuel harus berbohong.


"Memangnya sebesar apa rumah yang kau bangun sampai mau mengundang beberapa kerabat? Aku malah takutnya rumah itu tidak cukup untuk menampung lima orang saja," cibir Bu Rosi dengan mencebikkan bibirnya sinis. Samuel tidak lagi menjawabnya, akan percuma menjelaskan jika sudah terlanjur buruk di mata mertuanya.


Keesokan pagi, kembali tamu tak di undang mengetuk pintu dengan keras.


"Biar aku yang buka." Mendengar kerasnya suara ketukan, tentu saja Samuel yang harus bangun dan membuka pintu, sudah jelas yang datang adalah orang yang ingin mencari masalah dengannya.


Saat pintu terbuka, dua orang lelaki berbadan kekar sudah di depan pintu beserta Kakek Santoso dan juga Marlin yang berdiri di belakang.


"Tidak perlu harus memakai kekerasan kan?" tatap Samuel yang tak suka dengan cara mereka bertamu.


Kedua pria kekar itu memberi jalan pada Kakek Santoso dan juga Marlin untuk masuk ke rumah, bahkan tanpa izin dari pemilik rumah sekalipun, mereka tetap berjalan masuk dengan angkuh dan sombongnya.


mereka yang masih berada di meja makan seketika menoleh dan terkejut setelah tahu bahwa yang datang adalah ayah dari Bu Rosi.


Bergegas Bu Rosi meninggalkan meja makan dan menemui ayahnya tersebut. "Ayah, kenapa Anda tiba-tiba saja datang tanpa memberitahukanku terlebih dahulu?" Bu Rosi tampak sopan.


"Kenapa? Aku tidak boleh berkunjung?" tukas Tuan Santoso sinis.


"B-bukan, bukan begitu, jika kutahu Anda akan ke sini, saya bisa menjamu Anda dengan layak, jika datang mendadak begini kan, aku pun merasa sedikit canggung karena tidak bersiap untuk kedatangan Anda." Bu Rosi kembali menjelaskan.


"Hng, menjamu dengan layak? Kau lihat kondisimu sekarang setelah menikah dengan si sampah itu, bahkan rumah saja seperti ini, lantas kata layak semacam apa yang kau maksud untuk menjamuku?" Tuan Santoso menatap Pak Fandi dengan raut yang menghina.


Samuel baru saja ingin berucap membela ayah mertuanya, tapi Pak Fandi segera mencegah dan menggeleng pelan pada Samuel. "Sudahlah, ini sudah sering terjadi, tidak apa-apa," ujarnya pasrah.


"Tapi, Pa."


"Sudahlah, jangan ikut campur, Papa tak ingin kau terlibat."


"Ayah duduklah dulu, aku akan suruh anak-anak siapkan teh untukmu."


"Tidak usah, aku datang bukan untuk berbasa basi di rumah jelekmu ini, aku ada perlu dengan menantumu." Kakek Santoso berpindah menatap Samuel.


"Jika Kakek ingin cari masalah, lebih baik tidak usah repot jauh-jauh datang ke sini, kami tidak ada waktu untuk bersantai meladeni Anda." sungut Yuna yang sedikit kesal karena lagi-lagi selalu saja Samuel yang menjadi sasaran.


"Lancang kau!" teriak Kakek Santoso sembari menunjuk Yuna.


Bu Rosi semakin panik. "Ayah, maafkan Yuna, dia masih tidak tahu apa-apa."


"Yuna, minta maaf pada kakek." Bu Rosi menyikut tangan Yuna memberi isyarat.


"Bagaimana sebenarnya caramu mendidik anak, bisa-bisanya begitu tidak menghormati orang tua, apa perlu aku yang mengajarinya, hah?!" bentaknya semakin geram.


"Lalu orang tua yang membuang anaknya apakah bisa disebut orang tua yang baik?" sindir Yuna yang tak ada kata takut sedikit pun.


"Kau!" Seketika tangan itu telah bersiap ingin memukul Yuna saking geramnya. Namun, beruntung Zodi yang sedang mengamati di meja makan tiba-tiba melempar sebuah sendok ke arah Tuan Santoso dan tepat mengenai tangannya hingga tak jadi memukul, malah merintih kesakitan.


"Ternyata seorang kepala keluarga Santoso yang terhormat juga berani memukul wanita, bahkan cucunya sendiri, haruskah aku prihatin akan sikapmu ini kakek tua?" Zodi berjalan santai menghampiri mereka dan tersenyum mengejek, hal itu membuat Kakek Santoso berubah sikap dan wajahnya memucat seketika.