
"Ma, Pa, kalian baik-baik saja?" tanya Yuna khawatir.
"Baik apanya, yang ada aku malu semalu malunya diperlakukan seperti anjing! Semua ini gara-gara suamimu yang tak berguna itu, tak punya apa-apa malah berani cari masalah pada orang yang jauh di atas kita, benar-benar keterlaluan." Akhirnya kalimat gerutuan yang dari tadi Bu Rosi tahan tersalurkan juga setelah kepergian Tuan Daniel.
"Maaf, Ma. Ini diluar kendaliku dan aku tidak menyangka pria itu akan datang ke sini dan menindas kalian berdua, aku berjanji tidak akan ada yang kedua kalinya." Samuel menunduk dengan sedikit senyuman kecut di wajahnya.
"Maaf, maaf, dan maaf saja yang kau tau, dikira keluarga ini diberi makan olehmu. Awas saja jika ada yang kedua kalinya, jangan harap kau bisa menginjakkan kakimu di sini lagi!" hardiknya kesal.
Yuna dan ayahnya hanya terdiam, kali ini Pak Fandi tak membela Samuel karena ia sendiri pun sedikit merasa malu diperlakukan seperti itu, belum lagi para tetangga melihat mereka berlutut pada orang lain.
"Ck, sudahlah, Ma. Apa gunanya marah-marah? Sebaiknya kita masuk dan aku akan ceritakan sesuatu." Yuni menarik ibunya masuk ke kamar dan tak sabar untuk menceritakan apa yang ia tahu dari sisi Samuel yang selama ini tak pernah mereka ketahui.
"Ayo, Pa, Yuna antar masuk ke kamar. Sam, aku tinggal sebentar ya, nanti akan menemuimu lagi." Yuna masih saja tersenyum pada Samuel meski semua orang bahkan tidak ada yang membelanya, hal itu tentu saja menjadikan salah satu faktor mengapa Samuel tidak ingin meninggalkannya meski ada begitu banyak wanita cantik di luaran sana.
"Sudah cukup, kamu apa-apaan sih? Mama belum selesai memarahinya tadi, seharusnya kamu tidak menarik Mama ke sini!" gerutu Bu Rosi begitu kesal.
"Ssshtt, jangan berisik, duduk dulu." Yuni mendudukkan ibunya di tepi kasur.
"Ma, apa Mama tahu apa yang kulihat tadi sewaktu ikut Kak Yuna pergi?" Matanya mulai serius, sementara Bu Rosi malah mengernyitkan alis tak mengerti dengan pertanyaan anaknya.
"Lambang naga merah, apa Mama tahu apa itu lambang naga merah?"
"Mama pernah dengar sedikit banyak tentang itu."
"Naga merah adalah sebuah klan yang berdiri sejak beberapa tahun yang lalu, tepatnya berapa tahun Mama sendiri tidak tahu, tapi klan mafia satu ini sungguh terkenal di negara kita, dia menjadi klan mafia satu-satunya yang bahkan pemerintahan saja tidak berani menyinggungnya," jelas Bu Rosi sesuai dengan apa yang ia ketahui.
"Aku selama ini masih begitu penasaran akan klan satu ini, bahkan aku berharap bisa bertemu salah satu anggotanya dan berkenalan, tapi yang paling penting di sini, tadi aku melihat lambang itu di dalam dompetnya Samuel. Dan apa Mama tau apa itu artinya? Itu artinya Kakak ipar sebenarnya adalah anggota dari klan mafia tersebut, Kakak ipar bukanlah orang biasa seperti yang kita pikirkan." Mata Yuni semakin berbinar terang begitu bangga.
Seketika ibunya terkekeh melihat raut wajah Yuni, mau ia lihat dari segi apa pun, Samuel tetaplah lelaki yang tak berguna menurut pandangannya.
"Aku pernah mendengar sedikit banyak tentang klan itu, tidak semua anggotanya memiliki lambang klan mereka, yang boleh memilikinya hanya orang-orang tertentu dan memiliki status tersendiri di klan tersebut. Dan Samuel? Ck, dia sama sekali tak ada kualifikasi hidup di kota ini, apalagi menyangkut pautkannya dengan klan naga merah, itu sama sekali tidak lucu, Yuni." Lagi-lagi Bu Rosi terkekeh geli meski Yuni mencoba menjelaskan menurut persepsinya.
"Itu artinya Samuel memang memiliki kedudukan tersendiri di klan itu, jika tidak mana mungkin ada lambang naga merah di dalam dompetnya, sementara lambang itu tidak diperjual belikan untuk siapa pun." Yuni masih begitu percaya bahwa Samuel pasti. bukan orang sembarangan.
"Paling dia mencuri," desis Bu Rosi sinis.
"Kau serius? Lalu kenapa selama ini dia tidak pernah mengatakan bahwa dia memiliki semua itu? Atau karena dia takut hartanya habis kita ambil?" Bu Rosi memutar bola mata berpikir.
"Tidak tahu, yang jelas aku sudah katakan pada Mama dan menyarankan Mama untuk tidak sembarang bicara dan bertingkah di depan Samuel, jika benar dia adalah anggota klan mafia, bisa mampus kita, sebisa mungkin jaga sikap Mama dan berbuat baiklah padanya," bisik Yuni serius. Dan Bu Rosi pun mengangguk pelan dan mengerti.
"Ya sudah, kamu bantu Mama masak di dapur untuk makan malam, mulai sekarang jangan biarkan Samuel bekerja di rumah seperti babu apalagi memasak untuk kita, jika benar apa yang kamu katakan, mungkin saja dia juga akan berbaik hati memberikan Mama sesuatu yang berharga." Ia pun tersenyum lebar membayangkan sesuatu.
"Ck, ujung-ujungnya harus aku juga yang bantu." Yuni berdecak dan keluar dari kamar menuju dapur.
Tak lama setelah mereka berkutat di dapur, Samuel datang dan melihat mereka.
"Eh, ada menantu Mama, kamu mau apa, Nak? Mau minum? Atau mau makan? Kebetulan sudah ada beberapa lauk yang sudah matang, duduk dulu." Bu Rosi menyapa dengan ramah dan girang.
Samuel yang mendapat perlakuan terbalik dari biasanya itu pun tampak bingung menatap mereka berdua, terlebih pada mertuanya yang kini tiba-tiba saja mau menganggapnya sebagai menantu dan menawarkan makan dan minum, ada apa gerangan? Pikirnya.
"Tadi Samuel bermaksud ingin memasak untuk makan malam, Yuna tertidur setelah pulang tadi, jadi aku tidak ingin membangunkannya," jawab Samuel masih dengan pandangan yang tampak bingung.
"Haish, jangan begitu, kau dan Yuna tidak perlu repot memasak, ada Mama dan juga Yuni yang akan menyelesaikannya, kamu kembalilah istirahat, masalah dapur serahkan pada kami, nanti kita makan malam sama-sama." Bu Rosi berkata dengan semangat sembari mengelus pundak Samuel lembut, sengaja mencari muka.
Samuel tersenyum kecut ketika Bu Rosi mendorong tubuhnya pelan untuk meninggalkan dapur, ia pun sekali lagi menoleh ke arah dapur sebelum ia masuk kamar.
"Ada apa dengan mereka?" batinnya heran.
Samuel kembali mendapat panggilan telepon dari Paman Jimmy, ia pun segera keluar rumah agar tidak ada orang yang mendengar percakapannya.
"Ya, Paman, ada apa?"
"Tuan muda, Paman ingin menyampaikan kabar baik padamu, ponsel keluaran terbaru kita sudah siap lounching dan Paman berencana untuk melakukan pameran tiga hari lagi di perusahaan baru, orang-orang yang kau sewa itu benar-benar begitu cepat menyelesaikan proyek pembangunan perusahaan, tiga hari lagi kita bisa pindah ke sana sekaligus memperkenalkan produk pertama kita pada rekan dan pejabat tinggi negara. Apa kau setuju?" Terdengar suara Paman Jimmy yang begitu bersemangat.
"Aku percayakan semuanya pada Paman, tapi aku ingin paman mengatur acara perkenalanku dengan pejabat negara secara tertutup dan tanpa ada paparazi, apakah bisa?" ujar Sam sedikit berbisik.
"Itu bisa diatur, tapi bukankah ada baiknya jika Tuan muda mengumumkan siapa Anda secara terbuka di acara pembukaan nanti? Agar semua orang mengenal Anda dan Anda bisa memberi pukulan balik pada keluarga Adiguna yang telah mengusir Anda dan Tuan besar," saran Paman Jimmy.
"Aku mengerti maksud Paman, tapi ini belum saatnya, masih ada banyak hal yang ingin kupersiapkan." ujar Samuel dengan mantap. Paman Jimmy hanya bisa menghela napas pasrah dan membiarkan tuan mudanya melakukan sesuai dengan jalan pikirnya sendiri.