
"T-Tuan Zodi Tamoro?" Tampak wajah sang kakek semakin menegang saat Zodi menghampirinya.
"Lama tidak bertemu Kakek tua." Zodi menepuk pundak Kakek Santoso dan tersenyum.
"Kenapa Anda bisa ada di sini?" tanyanya dengan gugup.
"Apa aku tidak boleh di sini?"
"B-bukan, bukan begitu, hanya saja sedikit tidak pantas jika Anda berada di rumah rongsokan seperti ini, Anda adalah orang yang terhormat Tuan Zodi, jika Anda mau, saya bisa menyediakan tempat yang lebih bagus dan yang pasti lebih layak untuk Anda tinggali, pergi ke kediaman saya juga boleh, Anda bisa pilih mau tinggal di tempat mewah mana saja, saya yang akan mengurusnya." Ia kembali mencoba untuk mencari muka dan menjilat di hadapan Zodi demi kepentingannya di masa depan.
"Oh, sepertinya Anda begitu banyak uang hingga bisa menyediakan tempat mewah untukku, kuterima niat baik itu, tapi bukankah sedikit sayang jika menghabiskan uang hanya untuk menyewa tempat? Bagaimana jika uang itu Anda berikan saja pada keluarga ini? Toh bukan orang lain, kan? Mereka anak dan cucumu, tidak ada salahnya memberikan apa yang sudah menjadi hak mereka." Seketika wajah Yuni berbinar mendengar ucapan Zodi, ia pun tak menyiakan kesempatan untuk ikut menimpali.
"Apa yang dikatakan Tuan Zodi benar, lagian Tuan Zodi datang ke mari untuk bertemu teman lamanya yaitu kakak ipar, jika tiba-tiba Kakek membawanya tinggal di tempat lain bukankah sedikit lancang dan tidak menghormati? Lebih baik kakek berikan saja sedikit uang pada Mama agar bisa menjamu Tuan Zodi dengan baik dan tanpa kekurangan, dengan begitu Kakek juga ikut andil dalam menjamu Tuan Zodi yang terhormat, benar kan?" ucapnya dengan sedikit licik dan memancing.
"Kek, jangan dengarkan ucapannya, apa Kakek lupa niat awal kita datang ke sini? Jika Kakek benar-benar ingin memberikan uang, lebih baik kita pulang saja, aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku." Marlin tampak mendesak Kakek Santoso agar tidak mendengarkan hasutan.
"Diam kau!"
Seketika Marlin terbungkam mendapat bentakan, ia masih mengira bahwa kakeknya akan mendengarkannya mengingat bahwa dia adalah cucu kesayangan di keluarga Santoso, tapi hari ini malah mendapat perlakuan tak terduga saat kakeknya berhadapan dengan Zodi.
"Cih, dasar pelakor. Bagaimana rasanya setelah menjadi selingkuhan untuk beberapa hari. Namun, tiba-tiba si lelaki bangkrut dalam semalam dan sekarang masih berani datang dengan wajah sok cantik. Untuk apa kau datang ke sini, hm? Ingin menggoda kakak ipar? Ck, kalau begitu tergantung bagaimana caramu bersikap, lagian bahkan kakak iparku saja mungkin merasa jijik melihat tampangmu yang menggelikan." Yuni menyunggingkan bibir dengan raut menghina.
"Cih, kau terlalu memandang tinggi kakak ipar sampahmu itu, jangan bilang hanya karena berhasil menang di pertandingan malam tadi lantas kau mengira aku akan tergila-gila padanya. Haha, menggelikan sekali, justru aku sangat kasihan padamu, orangtuamu sudah dicampakkan dari keluarga besar dan kau hingga tumbuh sebesar ini masih saja tetap miskin, mendapat kakak ipar pun bukannya bisa diandalkan, tapi malah menyusahkan. Ck, lebih baik kau menikahi seorang pemulung saja agar hidupmu semakin sempurna, dan aku di sini akan siap menertawakanmu kapan pun dan di mana pun." Marlin tergelak dengan puasnya, menyisakan sebuah raut kekesalan di wajah Yuni terhadap hinaannya tersebut.
"Kau! Ke mari kau, biar kucakar-cakar wajahmu!" teriak Yuni dengan tersulut, Yuna dan ibunya begitu cepat memegangi tubuhnya agar tidak membuat keributan itu semakin heboh.
"Apa? Dasar anak miskin, sudah miskin masih belagu, Huu!" Marlin pun semakin senang meledeknya.
"Tutup mulutmu, aku akan mencabut semua fasilitas yang kau miliki jika berani bicara sepatah kata lagi," sentak Kakek Santoso sambil melotot tajam pada Marlin.
"Ah, Tuan Zodi, Anda jangan salah paham, aku datang ke sini sebenarnya ingin menjaga silaturahmi agar tetap terjaga, mengunjungi mereka karena merasa bahwa mereka tetap harus mendapat dukungan dariku, aku awalnya memang ingin memberikan sedikit hadiah untuk putriku, kebetulan sekali ternyata bisa bertemu langsung dengan Anda di sini." Tuan Santoso tersenyum kaku dan salah tingkah akan apa yang harus ia katakan selanjutnya.
"Baguslah kalau begitu, itu artinya pertemuan kita ternyata ada baiknya." Tentu saja Zodi paham, jika kakek tua itu tidak melihatnya di sana, tentulah ia tidak akan bersikap baik dan tak akan tiba-tiba ingin memberi hadiah pada keluarganya sendiri, ia hanya merasa sungkan karena Zodi begitu di hormati di kota ini.
"Rosi, kau tunggu apa lagi, cepat berikan aku nomor rekeningmu, akan kutransfer uang lebih, hitung-hitung untuk menjamu Tuan Zodi dengan hidangan mewah dan tempat tidur yang nyaman."
Mendengar hal itu, Bu Rosi tampak celingukan menatap beberapa orang di sana, tak menyangka ayahnya benar-benar akan memberikan uang padanya, tentu saja Bu Rosi begitu bersemangat menyebutkan nomor rekening yang ia miliki.
Setelah pengiriman berhasil, Kakek Santoso tampak menghela napas kasar dan menatap Bu Rosi dengan perasaan tak senang. "Uang sudah berhasil dikirim, kalau begitu aku pamit undur diri dulu, masih ada begitu banyak pekerjaan yang harus dikerjakan."
"Aku cukup prihatin, sudah begitu tua, Anda masih harus bekerja begitu keras, Anda memiliki banyak anak dan cucu, tapi apa satu orang pun tidak ada yang bisa membantu agar Anda bisa memulai waktu pensiun yang cukup tenang?"
"Haha, jaman sekarang, tidak peduli tua ataupun muda, mereka tetap akan huru-hara bekerja keras demi mencapai apa yang diinginkan, dengan begitu barulah bisa hidup tenang, lagipula anak-anak juga sudah berkeluarga, tidak enak jika terus merepotkan mereka, kan?" Sembari tersenyum canggung.
"Anda memang orang tua yang berpikiran luas, saya cukup salut. Oh ya, jika tak salah dengar, tadi Anda mengatakan ada perlu dengan teman lama saya, ada apakah gerangan?" Zodi kembali mengungkitnya.
"Benar, Kakek. Tadi Anda mengatakan ada urusan dengan Samuel, kenapa tidak bicarakan saja langsung? Bukankah Anda datang ke sini memang bertujuan untuk itu?" timpal Yuna.
"Ah, tidak-tidak. Mana ada aku bilang begitu, sebenarnya aku hanya ingin mengatakan selamat pada Samuel, dia berhasil menang dalam pertandingan, benar-benar di luar dugaan." Kakek Santoso terpaksa berubah haluan, niat awal ingin mendakwa Samuel dengan berbagai cercaan, tapi malah tidak berani mengutarakan karena ada Zodi di sana.
"Tidak masalah, kebetulan juga Anda datang, beberapa hari lagi mungkin akan ada undangan yang datang ke kediaman Anda, kami mengundang Anda untuk datang ke rumah baru saya dan Yuna, semoga Anda beserta anggota keluarga yang lainnya dapat hadir di acara kami," ujar Samuel yang akhirnya mulai bersuara, jujur ia sangat malas jika ingin berdebat, beruntung ada Zodi yang disegani oleh kakek tua itu, barulah masalah tidak melebar ke mana-mana.
"Ah, tidak masalah, aku akan menyempatkan waktu untuk datang, kalau begitu kami undur diri dulu." Tuan Santoso pun berbalik badan dengan tongkatnya diiringi oleh Marlin yang terlihat begitu jengkel karena tak berhasil mencapai keinginannya untuk mencari masalah.
"Dasar keluarga brengsek, aku malah datang mempermalukan diri di depan Tuan Zodi. Kau juga, kenapa sebelum mengajakku datang malah tidak menyelidiki tentang mereka, bagaimana bisa begitu ceroboh dan malah bertemu dengan seorang master bela diri di rumah mereka, aku bahkan harus merelakan uangku untuk diberikan secara cuma-cuma." Langsung saja setelah masuk ke dalam mobil Tuan Santoso terus mengumpat begitu geram dengan wajahnya yang kini telah memerah.
"Maaf, Kakek. Aku terlalu gegabah sampai tidak tahu cara menjalankan rencana dengan sukses, aku berjanji akan lebih berhati-hati lagi." Marlin menundukkan kepala merasa takut karena kakeknya terus melotot tajam, dapat disimpulkan mungkin ia akan dihukuman setelah tiba di kediamannya nanti.