
"Ini ... ceritanya cukup panjang, intinya, semua ini berawal dari keluarga Adiguna yang mengusirku," jawabnya sembari menghela napas panjang.
"Mengusir? Bukankah kamu sendiri yang ingin berhenti dari pekerjaan itu?" Yuna makin bingung, Samuel pun menatapnya, ia baru ingat bahwa Zodi saat itu memang mengatakan bahwa dia pernah bekerja di keluarga Adiguna.
"Aku tidak bekerja di sana, melainkan adalah anggota keluarga Adiguna, margaku juga Adiguna, seharusnya saat ini ayahkulah yang menduduki kursi sebagai kepala keluarga, tapi karena suatu tindakan yang kulakukan bagi mereka adalah sebuah kesalahan, jadi mereka mengusir kami dari keluarga besar, sembari mengelola pertambangan batu bara, aku juga mendirikan sebuah klan mafia, setelah beberapa tahun, aku sendiri pun tak menyangka pertambangan ini bisa sesukses sekarang dan semakin banyak yang ingin mengincarnya, sebab itu pula aku tak pernah mengekspos diriku dan juga keluargamu, itu akan membahayakan kalian, kuharap kamu bisa mengerti."
"Aku mengerti, aku akan sangat mengerti jika seandainya kamu katakan lebih awal padaku mengenai statusmu, kamu orang terhormat, Samuel. Bagaimana mungkin kamu bisa menerima segala hinaan dari keluargaku dengan statusmu sebagai keluarga bangsawan, aku benar-benar merasa malu." Yuna terus menggeleng tak percaya akan yang pernah terjadi selama ini pada suaminya, bahkan ia hanya diam ketika suaminya direndahkan oleh orang lain.
"Ck, aku juga bahkan pernah mengira kamu benar-benar pria miskin yang pengangguran, betapa naifnya aku sekarang di hadapanmu." Yuna terkekeh merasa geli pada sikap dirinya dan juga keluarganya selama ini.
"Bahkan statusmu sebagai putra mahkota di keluarga Adiguna tidak bisa dibandingkan dengan kepala keluarga Santoso, kakekku bahkan entah berapa kali meremehkan dan menghinamu, aku sebagai anggota keluarga Santoso, meminta maaf atas ketidaksopanan kami terhadapmu." Yuna segera berdiri dan membungkuk 90 derajat di hadapan Samuel.
"Yuna, apa yang kamu lakukan? Duduklah di sini, untuk apa lakukan itu?" Samuel segera menarik Yuna ke sampingnya.
"Tidak peduli apa pun statusku, kamu adalah istriku, tidak seharusnya kamu yang meminta maaf, keselamatanmu adalah yang terpenting, selama ini kamu orang yang paling tulus menerimaku, kedepannya aset pertambangan dan Yusa Group akan menjadi milikmu dan anak-anak."
"Tidak, aku tak bisa menerimanya, ini hasil kerja kerasmu, belum lagi hinaan yang kamu terima, aku tidak pantas mendapatkannya, kamu simpan saja untukmu dan juga anak-anak, tidak perlu pikirkan aku." Yuna segera menolak dengan cepat tanpa pikirkan apa pun.
"Ya sudah, kita keluar dulu lihat ruangan yang lainnya."
***
"Kenapa belum ada orang yang datang?" Bu Rosi tampak gelisah mondar-mandir di depan pintu menunggu kedatangan tamu.
"Ma, sabar dulu bisa tidak? Lagian ini baru jam berapa? sabar, sebentar lagi pasti ada yang datang." Pak Fandi mencoba untuk menenangkan.
"Jangan-jangan mereka semua pada kesasar, pasti mereka tidak yakin bahwa rumah menantu kita ada di sini, naif sekali, lihat saja setelah mereka melihatnya nanti, pasti aku akan membuatnya mati kutu." Bu Rosi tampak geram.
"Hust, jaga sikapmu, ini acara anak kita, jangan sampai kamu cari masalah dengan para tamu, biarlah saja mereka, kamu tidak perlu berlebihan."
Tak lama kemudian terdapat lima mobil mewah masuk ke pekarangan rumah. "Itu sudah ada yang datang, ayo kita masuk, kita tidak boleh terlalu merendah di hadapan tamu, biar mereka yang mendatangi kita, jika kita yang menjemput, mereka pasti merasa besar kepala, biar para pelayan saja yang menjemputnya." Bu Rosi segera menarik Pak Fandi masuk ke dalam.
"Selamat datang di kediaman Tuan Samuel, para Tuan terhormat sekalian, silahkan masuk." Terdengar suara para pelayan yang menyambut para tamu.
Bu Rosi yang tadinya duduk santai di sofa, ketika melihat Samuel berjalan keluar menyambut tamu, ia pun tak tahan untuk tidak melihat siapa gerangan tamu tersebut.
"Lho, itukan Tuan Jimmy beserta perwakilan negara, kenapa mereka bisa datang? Semegah apa acara nanti jika sampai Tuan Jimmy dan perwakilan negara pun turut hadir?" Bu Rosi tampak sedikit terkejut melihat tamu pertama yang datang.
"Selamat atas rumah barunya, Tuan Samuel, benar-benar pemilik Yusa Group, rumahnya saja tidak main-main megahnya," ujar salah satunya.
"Ah, Tuan terlalu menyanjung, mari silahkan masuk," Samuel menjabat tangan mereka satu persatu dan memeluk Tuan Jimmy sebagai tanda terimakasihnya atas jasa yang selama ini ia dapatkan.
"Tuan muda, sepertinya Tuan dan Nyonya malam ini juga akan hadir," bisik Tuan Jimmy.
"Tidak apa, malah akan lebih bagus jika mereka datang, aku akan secara langsung memperkenalkan mereka pada para tamu, juga mempertemukan mereka pada keluarga istriku," kata Samuel yang tak mempermasalahkan jika kedua orang tuanya ingin hadir.
"Anda yakin ingin mengekspos mereka? Dengan begitu bukankah identitas Anda akan terekspos juga?" tanya Tuan jimmy sekali lagi.
"Ya, aku sudah siap mengatakannya, lagian jika pun keluarga Adiguna datang mencariku, aku tidak akan mengelak lagi, persiapanku kali ini sudah matang, Paman." Sorot mata yang teguh dan serius, tidak ada keraguan lagi di matanya untuk mengungkap siapa dirinya.
"Kalian sedang membicarakan apa? Bisik-bisik begitu, kami jadi merasa bahwa sedang digosipkan," tegur salah satu perwakilan negara sembari tersenyum bercanda.
"Ah, maaf-maaf, saya tidak bermaksud mengabaikan Tuan-Tuan sekalian. Ayo-ayo, nikmati jamuan sederhana saya malam ini." Samuel segera mempersilahkan para tamunya dan menghentikan pembahasan dengan Tuan Jimmy.
"Suasana kota ini pasti akan berubah setelah beliau mengungkap identitasnya," batin Tuan Jimmy sembari menatap Samuel dengan kebanggaan.