The Greatest Mafia Lord

The Greatest Mafia Lord
Berita Tragis Mengenai Rendra



"Cukup, Samuel. Jangan semakin memperkeruh suasana, kau banyak bicara di depan Yuni juga tak ada gunanya, sekarang kau masuk saja ke kamarmu, jangan mencoba membuat ulah di rumahku!" geram Bu Rosi sembari melotot pada Samuel.


"Kenapa sih, Ma? Apa yang dikatakan Samuel itu semuanya benar, Papa juga setuju dengan ucapannya, Yuni saja yang terlalu manja sampai menangisi pria pecundang seperti Rendra. Sudahlah Sam, percuma saja kita di sini memberikannya nasihat, dia tidak akan mendengarkannya, lebih baik masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Dan kau Yuni, berhenti merengek, kau menganggu ketenangan suasana di rumah ini, aku tidak suka ada keributan, kau paham?!" ujar ayahnya dengan tegas.


"Heh, berani-beraninya kau memarahi anakku, hadapi aku dulu kalau berani!" protes Bu Rosi.


"Apa? Kau mau apa? Dia anakku juga, aku berhak memarahinya, sekalipun jika Yuna yang bersikap seperti itu, aku juga pasti akan menegurnya, kau jadi seorang ibu selalu memanjakannya, lihat akibatnya sekarang, dia sama sekali tak punya etikat baik di dalam rumah." Pak Fandi kembali membalasnya.


"Jadi kau menyalahkan aku sekarang?"


"Sudahlah, aku tak ingin bicara lagi, kau uruslah dia, jangan sampai menganggu waktu istirahatku. Masih banyak pria lain di luaran sana, untuk apa menangisi pria yang tak jelas seperti jelmaan kucing garong itu." Pak Fandi pun bangkit dari tempatnya dan berlalu pergi memasuki kamar miliknya.


Samuel pun terlihat malas untuk berlama-lama di sana, ia merangkul istrinya untuk ikut masuk ke kamar.


Keesokan paginya, berita tentang kabar tragis dari Rendra tersebar di mana-mana, semua media televisi sedang hangat-hangatnya menyiarkan berita soal itu, sekarang ia berada di rumah sakit mendapatkan penanganan darurat bahkan belum sadarkan diri sampai detik itu juga.


"Pak, bagaimana pendapat Anda setelah melihat ketragisan yang menimpa putra bungsu Anda? Kami dengar kedua kakinya terluka parah, apakah masih ada kemungkinan untuk bisa berjalan kembali?" Seorang reporter mewawancarai Tuan Daniel, ayah dari Rendra.


"Kami masih belum tahu siapa dalang dan apa maksud mereka yang membuat anak kami sampai seperti ini, Rendra dibawa oleh seseorang yang tak dikenal pada tengah malam saat kami semua sedang tertidur, saat pagi seorang pelayan di rumah berteriak histeris di depan pintu, tentu saja kami ikut keluar dan ternyata anak kami telah terbaring di sana dengan kondisi yang mengenaskan, beruntungnya dia masih hidup dan kami langsung membawanya ke rumah sakit. Siapa pun dalangnya, semua akan terbongkar jika Rendra telah sadar. Dan keluarga Daniel tidak akan pernah memberi ampun pada pelaku kekerasan ini, kami yakin bahwa ini semua dilakukan dengan sengaja, jika tidak mereka tidak akan membawa tubuh Rendra pulang ke rumah. Kuperingatkan pada kalian yang berani menyakiti anakku, di mana pun kalian berusaha untuk kabur, aku pasti akan menemukan kalian, bersiaplah untuk menderita, itu akibat jika kalian berani mencari masalah dengan keluarga Daniel." Ia menjelaskan panjang kali lebar dengan raut wajah yang begitu geram.


"Ma! Mama!" Yuna yang tak sengaja melintasi televisi yang sedang menyala, seketika berteriak memanggil ibunya. Bahkan Semua orang pun ikut keluar dengan panik, tak biasanya Yuna berteriak memanggil ibunya.


"Ada apa, apa kau terluka?" Samuel sedikit cemas melihat Yuna yang berdiri mematung dan juga gemetar.


"I-itu." Yuna pun menunjuk televisi dengan foto Rendra yang sudah disensor sebelum dibawa ke rumah sakit.


Samuel menaikkan alis menatap televisi di depannya. "Jika Yuna tahu bahwa semua ini disebabkan olehku, apakah dia akan marah besar?" batinnya sembari menatap Yuna.


"Astaga! Apakah karma itu benar-benar nyata?" gumam Yuni yang seketika terbelalak lebar melihat berita tentang Rendra.


"Mampus, biar mati sekalian!" umpat Bu Rosi dengan raut wajah yang begitu senang.


"Berhubungan sesama jenis? Bisa jadi sih, mungkin ada seorang pria yang tanpa sengaja melihatnya di tengah jalan tanpa mengenakan busana terus ia menculiknya, tapi mungkin karena Rendra menolak, makanya pelaku tersebut membuat kakinya tak bisa berjalan," timpal Yuni.


"Masuk akal," kata Bu Rosi.


"Ah, tapi sudahlah. Lagian siapa yang akan peduli dengannya? ini karma yang harus ia dapatkan karena berani membohongi keluarga kita, berjanji akan menikahi Yuni, tapi malah menyetubuhi si Marlin wanita murahan itu, benar-benar lelaki brengsek," lanjutnya.


Samuel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, mereka tidak tahu saja bahwa pelaku sesungguhnya yang sedang mereka terka-terka sebenarnya ada di depan mata mereka.


"Kamu kenapa, Sam? Sepertinya sedang tidak enak badan, apa kamu tidak bisa melihat gambaran yang berdarah seperti itu?" sahut Yuna yang tiba-tiba menyadari perubahan ekspresi Samuel.


"Dasar laki-laki lemah, baru lihat yang begituan sudah lunglai duluan, kamu laki-laki apa banci?" cibir Bu Rosi dengan sinisnya, entah kenapa ibu mertuanya itu selalu saja suka mencari bahan pembicaraan yang menimbulkan kesan merendahkan pada Samuel, sang pembantai lentur yang sering membunuh banyak orang, dianggap takut akan darah, jika Roy mendengarnya, ia pasti akan tertawa terpingkal-pingkal.


"Iya, Ma. Maafkan aku, sebagai lelaki baik yang tak pernah menyakiti tubuh orang, tentu saja aku sedikit tidak terbiasa melihat pemandangan mengerikan itu." Sembari tersenyum malu, Samuel sengaja berpura-pura seperti itu agar identitasnya semakin tertutup rapat, lagian ia akan meninggalkan kesan buruk jika sampai Yuna mengetahui bahwa dia adalah orang yang kejam.


"Hm, Yuna. Hari ini kita ke rumah sakit untuk kontrol kehamilan kamu, masuklah untuk bersiap-siap," ucap Samuel dan Yuna seketika mengerutkan alisnya.


"Kenapa tiba-tiba sekali? Kamu tidak membicarakannya terlebih dahulu sebelumnya."


"Karena aku tidak tahu kapan aku akan punya waktu luang, hari ini aku tidak ada kegiatan di luar, pekerjaan rumah juga sudah kukerjakan semua, jadi waktunya aku meluangkan waktu untukmu." Samuel pun merangkul Yuna untuk masuk ke kamar, tampak Pak Fandi begitu senang melihat Samuel yang begitu perhatian pada anaknya.


"Jika aku mendapatkan lelaki yang begitu perhatian seperti Samuel, mungkin hidupku akan bahagia," gumam Yuni yang ikut tersenyum melihat kemesraan mereka yang sederhana tapi membuat hati Yuni seketika luluh lantah.


Plak!


Seketika Bu Rosi memukul bahu Yuni dengan keras. "Apa-apaan kau ini, jangan bilang kau juga ingin memberikan Mama menantu miskin seperti kakakmu, kau sudah ingin luluh hanya dengan melihat perhatian yang seperti itu? Asal kau tahu saja, Mama lebih berpengalaman dibandingkan kamu ataupun kakakmu, hidup dengan perhatian saja tidak cukup, uang jauh lebih dari segalanya, awas saja jika kau berani mencari suami yang miskin, sia-sia Mami membesarkanmu menjadi wanita cantik dan menarik jika tak bisa memikat lelaki kaya. Mama yakin kakakmu itu sebentar lagi pasti akan mencampakkan suaminya yang miskin itu." Bu Rosi terus mengoceh tanpa henti.


"Benarkah, tapi kurasa kakak akan menuruni sifat Mama, bukankah Mama juga tidak mencampakkan Papa meski Papa miskin? Bahkan Mami rela meninggalkan keluarga besar hanya karena ingin menikah dengan Papa, benarkan?" Yuni balik menyerang. Dan ayahnya pun ikut terkekeh mendengarnya.


"Kau tidak tahu apa-apa, jangan sok tahu." Bu Rosi pun segera meninggalkan mereka dengan wajah yang memerah karena malu.