
Yuni mengambil langkah besar dan melayangkan tamparannya ke wajah Rendra, nampak jelas dengan seketika wajah pria itu memerah dan terlukis dengan indah bentuk tangan Yuni di sana.
"Bagus! Ternyata kamu pria yang sangat pintar bermain kuda-kudaan dengan wanita murahan itu, hah! Ck, dasar pria menjijikkan! Bajingan tak tahu diri!" Segala makian akhirnya terus keluar dari bibir Yuni, takkan ia bisa memaafkan orang yang berani menghianatinya.
Plak!
Tamparan untuk yang kedua kalinya kembali mendarat di sisi wajah yang lain. "Itu untuk keluargaku karena kau berani membohongi kami semua, dasar pria keparat! Mulai detik ini kau jangan pernah menghubungiku lagi, jangan pernah kalian berdua muncul di hadapanku, atau jika tidak aku akan menyebar video tak senonoh kalian di media sosial agar semuanya tahu bagaimana sifat asli kalian yang terkenal wibawa," cibirnya kesal.
"Bagus, Yuni. Sekarang kau layak jadi adik iparku, membalasnya dengan kekerasan, sama persis dengan yang kuharapkan." Di dalam mobil, Samuel yang terus memantau mereka melalui kamera tersembunyi, tersenyum puas melihat lelaki hidung belang itu mendapat tamparan bertubi-tubi.
"Yuni, ini hanya salah paham, tidak seperti yang kamu pikirkan. A-aku dan dia tidak melakukan apa pun dan kami tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya sekedar berbincang soal bisnis baru, tidak lebih dari itu." Rendra segera membela diri agar Yuni tidak memutuskan hubungan dengannya.
"Oh, aku baru tahu bahwa membicarakan soal bisnis harus melepas semua pakaian seperti ini, kenapa aku selama ini tidak tahu mengenai budaya seperti itu? Oh benar, aku tahu sekarang, kalian sedang berbincang bisnis baru di atas kasur sambil memperagakan berbagai macam gaya yang memicu kenikmatan batin, kan? Ck, ck, kau pikir aku bisa semudah itu kau bohongi? Tidak akan, sekarang kita putus dan jangan pernah temui aku lagi!" Yuni meraih rokok yang sedang menyala dan menusukkannya ke perut Rendra yang tanpa memakai busana, membuat pria itu berteriak sakit dan kepanasan.
"Yuni, tunggu aku. Dengarkan penjelasanku terlebih dahulu!" teriak Rendra sembari mengejar Yuni keluar dari gedung hotel, tak peduli pada semua orang yang memperhatikan tubuhnya yang terbuka.
"Dasar wanita pembawa sial, berani-beraninya mengacaukan kesenanganku, jika dia tidak datang, aku dan Rendra pasti masih bisa bersenang-senang setidaknya dua atau tiga ronde lagi, menyebalkan," Yuni terus menggerutu dengan geramnya sembari memakai kembali pakaian yang sempat tergeletak begitu saja di atas lantai.
"Yuni, please, dengarkan aku sebentar saja, tolong jangan putuskan hubungan kita seperti ini, aku akan menceritakannya dengan jujur, intinya aku tetap mencintaimu, Marlin hanyalah sebagai pemuas nafsuku saja, aku tidak tertarik untuk menikah dengannya, aku hanya ingin menikah denganmu, tolong percaya padaku." Rendra terus memohon pengampunan.
"Lepaskan aku! Jadi kau berpikir aku sudi menerima lelaki yang sudah menjadi bekas perempuan lain, hah?! Melihatmu saja aku merasa jijik, menikah denganmu tidak akan pernah terjadi, camkan baik-baik!" Yuni pun masuk ke dalam mobil dengan cepat.
"Jangan mengejar lagi, kau pria busuk berani-beraninya menyakiti anakku, rasakan ini." Bu Rosi menendang tulang kering di bagian kaki Rendra membuat pria ini tak lagi mampu untuk mengejar, mereka pun meninggalkannya di tengah jalan yang sepi.
"Apa kau butuh tumpangan?" Tak lama mobil mewah berhenti di samping Rendra. Lelaki ini berusaha untuk melihat siapa pria di dalam mobil, tapi karena situasi di malam itu sangat gelap, ia tidak bisa melihatnya dengan jelas.
"Kau siapa?" tanyanya dengan alis yang mengerut.
"Anggap saja aku orang baik yang menjemput seorang Tuan muda untuk pulang ke rumah," jawab pria bertopi hitam di dalam mobil tersebut.
Rendra seketika teringat akan ayahnya. "Mungkinkah dia diutus oleh ayahku? Tidak heran, dia memang ayah yang baik." Rendra pun tersenyum puas dan dengan angkuhnya masuk ke mobil.
"Duduk di depan saja," ujar pria itu lagi, Rendra pun menurut.
Sekitar 20 menit di perjalanan, pria itu seketika menghidupkan lampu di dalam mobil hingga Rendra refleks menoleh ke arahnya.
Roy akhirnya menyeringai sinis lalu membuka topi yang menutupi sedikit wajahnya. "Penglihatanmu ternyata tidak buruk, sepertinya sangat bagus jika diajak untuk berburu mangsa." Terdengar begitu menakutkan membuat seluruh tubuh Rendra semakin gemetar hebat.
"T-Tuan, tolong ampuni saya, jangan sakiti saya, silahkan Anda katakan apa yang Anda tidak suka dari saya, saya membuat kesalahan apa sampai Anda mengikuti saya? Tolong lepaskan saya, Tuan, akan saya berikan apapun yang Anda inginkan. Anda ingin uang, mobil, atau rumah? Akan saya turuti semuanya, asa Anda tidak menyakiti saya." Rendra menunduk dengan tangan yang terkatup memohon ampun pada Roy, bahkan air matanya hampir keluar saking takutnya.
"Cih." Roy seketika tergelak mendengarnya.
"Apa kau melihatku seperti sedang kekurangan uang? Mobil ini apakah jauh lebih murah dibanding mobil ayahmu sampai kau berani menawariku sebuah mobil? Mobil merk apa yang ingin kau tawarkan? Dan apa kau yakin aku akan tertarik untuk melepaskanmu?" Roy terus terkekeh geli.
Tanpa sadar Rendra benar-benar mengeluarkan air mata dan tangisannya pun ikut bergetar bersamaan dengan getaran tubuhnya. "Lalu apa yang Anda inginkan, Tuan?" Terdengar kembali suaranya yang ketakutan.
"Beraninya kau lancang menanyakan itu," cibir Roy sinis.
"Tapi tak masalah, kulihat kau terlalu takut sekarang, akan kujawab pertanyaanmu." Roy diam sejenak.
"Peranku di sini hanya sebagai seorang bawahan yang menjalankan perintah dari atasan, bosku menginginkanmu, jadi aku harus turuti kemauannya atau jika tidak maka aku yang akan dia bunuh." Roy semakin senang menakuti Rendra si pengecut itu, terlihat bertubuh kekar, tapi setelah bertemu dengan Roy tiba-tiba saja dia kehilangan nyali.
Sebenarnya bukan Rendra yang begitu penakut, tapi klan naga merahlah yang terlalu kuat sampai mampu menekan semua pebisnis di kota tersebut dan tak ada yang berani menyinggung salah satu anggota mafia yang satu ini.
Rendra terdiam dengan mata yang membulat menatap Roy. "K-kenapa bos besar menginginkan saya?" tanyanya terbata.
"Kalau soal itu, kau bisa tanyakan pada orangnya langsung, tidak perlu jauh-jauh, dia ada di belakangmu sekarang." Sembari tersenyum licik dan puas.
Mata Rendra semakin melotot panik, ia mulai sedikit ragu untuk menoleh ke belakang, bagaimana jika rupa bos klan mafia ini terlihat menakutkan dan tiba-tiba ingin membunuhnya detik itu juga?
"Kenapa tidak bertanya? Jangan bilang kau terlalu takut untuk bicara dengannya, dasar pecundang," ledek Roy dengan senyum pendeknya.
"Hey, orangnya ada di sini, beraninya kau berpaling muka setelah tahu aku ada di belakangmu, masih ingin berlagak sombong, hah?" sahut Samuel. Dari tadi ia memang ada di sana mendengarkan percakapan mereka berdua, sekarang ia mulai menyalakan sebatang rokok yang diberikan oleh Roy demi menenangkan sedikit pikirannya agar tak terlalu kejam pada lelaki yang suka bermain wanita ini.
"Suara ini? Kenapa terdengar begitu familiar? Sepertinya aku pernah mendengar suaranya, siapa dia?" batin Rendra sambil mengingat-ingat siapa pemilik suara itu.
"Hampir sama dengan ...." Suara batinnya kembali terhenti.
"Tidak, tidak mungkin si sampah itu, kan? Dia hanya orang biasa yang tak punya kemampuan apa pun, tidak mungkin dia seorang ketua mafia." Rendra kembali menepis pikirannya mengenai Samuel, mau dilihat dari arah manapun, di matanya Samuel tetaplah seorang sampah yang tak berguna, yang tentunya tak layak untuk ia samakan dengan seorang ketua mafia.