
"Yuni di mana? Apa masih belum selesai?" tanya Samuel, kini mereka telah keluar dari pusat perbelanjaan dan sedang menunggu di dalam mobil.
"Beginilah jika dia diberikan kesempatan untuk belanja sepuasnya, tidak akan ingat untuk pulang." Yuna pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Yuni.
"Kau di mana? Aku dan Samuel akan pulang, kau ingin tinggal di sana berapa lama lagi?" oceh Yuna.
"Iya, Kakak sayang, aku sudah keluar menuju ke parkiran, jangan marah-marah, ibu hamil harus tahan emosi." Terdengar suara Yuni yang menggoda kakaknya, mereka seakan telah akrab begitu lama, padahal sebelum putus dari Rendra, ia tak pernah ingin bicara pada kakaknya.
"Yun, makasih traktirannya ya, lain kali jika dikasih pinjam oleh kakak iparmu, jangan lupakan kami, oke?" ujar salah satu teman Yuni yang ikut mengantarnya ke parkiran.
"Kalian tenang saja, aku tidak akan melupakan kalian." Mereka pun saling tertawa bahagia dengan kantong belanjaan yang penuh di kedua belah tangan.
"Astaga, kau beli apa saja sampai sebanyak ini? Seluruh ruang ini hanya dipenuhi oleh barang belanjaanmu." Yuna tampak kaget melihat tas belanjaan Yuni yang menggunung.
"Aish, kapan lagi aku bisa belanja sebanyak ini, kan? Selagi kakak ipar ingin berbaik hati padaku. Ini, Kakak ipar, aku kembalikan kartumu. Oh ya, kalau boleh tau, kakak ipar dapat kartu itu dari mana? Yang mengisi saldonya tiap bulan siapa? Bukankah kartu ini tidak bisa dimiliki oleh sembarangan orang?" Akhirnya Yuni mulai banyak bertanya saking penasarannya.
"Tidak penting di mana aku mendapatkannya, kau ambillah kartu itu, berhubung aku tidak suka berbelanja jadi tidak begitu membutuhkannya, sepertinya kau lebih layak memiliki kartu itu." Sembari menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan pusat perbelanjaan.
"Hah, serius? Kakak ipar tidak sedang bercanda, kan?" Yuni berteriak keras di dalam mobil membuat telinga terasa bising.
"Bicara yang pelan, kau membuat telingaku berdengung." Dengan wajah yang masam Yuna memegangi telinganya.
"Kakak ipar, sepertinya kakakku sedikit iri karena kau tidak memberikannya apa pun, malah memberikannya padaku, aku jadi tidak enak." Yuni memasang wajah tak sedap, sebenarnya ia hanya berniat untuk meledek kakaknya yang dari tadi begitu galak padanya.
"Siapa bilang?!" sanggah Yuna dengan cepat dan lantang.
"Aku sama sekali tak terpengaruh dengan hal itu." Ia pun memalingkan wajah merasa malu karena dua orang itu menatapnya secara bersamaan.
Samuel tersenyum kecil dan mengeluarkan dompetnya. "Ini, ambillah satu yang kau inginkan." Sembari menyerahlan dompetnya pada Yuna. Namun, Yuni lebih cepat beraksi dan merampas dompet tersebut dan membukanya tanpa izin.
"Silver, gold, and black. Woah!" Lagi-lagi Yuni terkejut dengan mata yang terbelalak lebar.
"Semuanya kartu limited edition, kenapa kakak ipar bisa mempunyai semua kartu ini, sebenarnya kakak ipar ini siapa? Oh, aku tahu. Kakak ipar pasti seorang konglomerat tersembunyi di kota ini dan mencoba menutupi identitasnya untuk membuat para penjahat itu tunduk pada Kakak ipar, kan?" Yuni pun semakin heboh dengan segala hayalannya.
Yuna menghela napas dan tak habis pikir dengan tingkah laku adiknya yang tak ada habis. "Urus ingusmu terlebih dahulu sebelum menanyakan banyak hal pada kakak iparmu yang dulu sangat kau benci." Sembari merampas kembali dompet Samuel dari tangan Yuni dan menyerahkannya pada Samuel.
Tiba di dalam komplek perumahan, mereka melihat ada dua mobil yang parkir di luar pagar. "Mobil siapa? Sangat tidak mengenal aturan." gerutu Yuni.
Mobil mereka pun memasuki halaman rumah dan di sanalah mereka melihat ada beberapa orang berbaju hitam yang berdiri di depan rumah.
"Ada apa dengan mereka? Kenapa malah berdiri di depan rumah kita?" bisik Yuni pada kakaknya.
"Apa Anda memiliki masalah dengan keluarga kami?" tegur Samuel pada Tuan Daniel yang kini duduk santai di teras rumah, sementara ayah dan ibu mertuanya sedang berlutut di hadapan pria tua itu. Ketika melihat Samuel tiba, ia memukul meja cukup keras.
"Akhirnya kau berani pulang juga!" hardiknya dengan tersungut.
Samuel tak peduli akan Tuan Daniel, ia terus berjalan menghampiri kedua mertuanya dan membantu mereka untuk berdiri.
"Tidak ada yang boleh membuat mereka berlutut, termasuk Anda. Punya akses apa hingga berani datang untuk menindas anggota keluarga saya?" cibir Samuel dengan raut wajah yang tenang, tetapi terlihat begitu tegas.
"Cih, beraninya membicarakan soal akses, lalu aku tanya padamu sekarang, kau punya akses apa sampai berani membuat anakku terluka parah?" Tuan Daniel balik mencibir dengan wajah yang merendahkan Samuel.
"Saya? Membuat Rendra terluka parah? Apa ada bukti yang bisa menguatkan tuduhan Anda terhadap saya?" tantang Samuel berani.
"Rendra sendiri yang mengatakan padaku bahwa kau yang menyewa orang untuk membuatnya terluka parah, butuh bukti apa lagi?" Tuan Daniel tampak begitu geram dengan tangan yang terkepal kuat.
"Anda mengatakan hal semacam itu, percaya atau tidak, orang-orang akan mengira bahwa Anda sedikit bodoh, menuduh orang tanpa bukti dan hanya mendengar dari pengakuan tak berdasar itu, Anda terlalu naif, Tuan Daniel." Samuel tertawa sinis dengan air muka penuh ledekan.
"Kau!" Tuan Daniel semakin tersulut hingga menunjuk ke arah Samuel semakin geram.
"Anda mungkin juga tahu bahwa Rendra sangat tidak menyukai saya, tentu saja dia sengaja menggunakan kesempatan terlukanya dengan menuduh saya, yang tidak masuk akalnya lagi, Anda bahkan tahu sendiri bagaimana saya, saya menantu tak berguna di keluarga ini, saya tidak memiliki apa pun baik harta maupun kedudukan, menurut Anda, siapa yang rela bekerja tanpa dibayar? Apa menurut Anda saya benar-benar mampu membayar seseorang untuk mencelakainya?"
Ya, memang benar apa yang dikatakan Samuel, tidak ada orang yang mau bekerja tanpa dibayar, tetapi masalahnya akan berbeda jika dialah yang menjadi bosnya.
"Saya memiliki satu pertanyaan untuk Anda, Bukankah Rendra mengatakan bahwa saya menyewa seseorang untuk mencelakainya, kira-kira apa dia mengatakan siapa orang yang saya sewa? Bagaimana jika kita datangkan orangnya ke sini? Katakan siapa? Saya memiliki beberapa teman yang memiliki akses ke beberapa klan mafia, barangkali dengan bantuan klan mafia, bisa menemukan siapa pelaku sebenarnya, bagaimana? Saya sudah begitu baik ingin membantu Anda, tidakkah Anda sedikit terharu?" Lagi-lagi Samuel tersenyum sinis dan terlihat licik.
Wajah Tuan Daniel seketika pucat pasi, mengingat bahwa Rendra menyebutkan klan naga merah, tentu saja ia tidak berani menerjunkan dirinya dalam masalah yang semakin dalam. "Tunggu saja kau." Ia terus menunjuk ke arah Samuel sembari melangkah pergi menarik kembali para bawahannya meninggalkan mereka semua.