
Keesokan hari, kabar Rangga yang ditemukan di depan rumah sakit sekaligus masuknya Marlin ke rumah sakit jiwa menggemparkan media sosial dan juga televisi, pihak polisi telah menelusuri kasus tersebut. Namun sampai detik ini masih tidak dapat menemukan pelakunya.
"Sam, apa kau sudah melihat berita?" Yuna datang menghampiri.
Samuel hanya menggeleng, lebih tepatnya ia tak peduli akan berita apapun, ia tahu pasti soal Rangga.
Yuna pun memperlihatkan ponselnya. "Siapa?" tanya Samuel berpura-pura.
"Kamu sudah lupa? Ini Rangga yang dulu jadi atasanku di kantor, kamu juga sempat pernah makan sama dia waktu itu." Yuna menjelaskan.
"Oh, yang itu."
"Kira-kira siapa yang sudah tega berbuat seperti itu dengannya? Tidak tahu apakah dia bisa selamat, pasti dia merasa hidupnya tidak akan berguna." Yuna tampak iba.
"Jika dia tidak mencari masalah lebih dulu, kurasa pelakunya juga tidak akan sesadis itu, kamu tahu sendiri bagaimana wataknya, kan?" kata Samuel dengan datar.
"Apa kamu kenal dengan pelakunya?"
Pertanyaan Yuna seketika membuat Samuel menoleh dengan cepat menatap istrinya. "Kenapa bertanya denganku? Kamu beranggapan bahwa aku terlibat?"
"Bukan, bukan begitu. A-aku hanya bertanya, barang kali kamu juga menelusuri kasus ini, aku tidak bermaksud menuduhmu, maaf jika ucapanku barusan menyinggungmu."
"Lalu jika seandainya aku adalah pelakunya, bagaimana tanggapanmu?" Samuel menatap lekat ke netra Yuna.
Yuna pun tergelak mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana mungkin kau yang melakukan itu, meski kamu orang yang berkuasa, kau juga tidak akan sesadis itu, kan?"
"Tapi memang aku yang melakukannya." Samuel berkata jujur tanpa menutupi apapun.
Seketika Yuna merasa napasnya tertahan sejenak, menatap Samuel tanpa berkedip sedikit pun.
"Tapi kenapa?" Suaranya bergetar sambil menahan rasa mual yang tiba-tiba datang.
"Tidak, apapun alasannya, bagaimana mungkin kau bisa sesadis ini?" Yuna melanjutkan tanpa mendengar jawaban Samuel.
"Yuna, kamu tahu aku adalah ketua dari klan mafia, seharusnya kamu juga tahu bahwa aku sering melakukan hal seperti ini, apa yang kulakukan pada Rangga masih belum seberapa, aku sudah melalui banyak pengalaman yang jauh lebih mematikan."
"Tapi kau mengatakan bahwa kau dan pasukanmu tidak pernah melakukan kejahatan, tapi sekarang kau baru mengatakan bahwa pekerjaanmu adalah seperti ini, siapa yang membayarmu untuk melakukannya?" Wajah Yuna tampak merah menahan kegusaran di hatinya.
"Klanku berdiri tanpa menerima bayaran dari siapa pun, aku memang tidak pernah melakukan kejahatan pada orang-orang yang tidak bersalah, tapi aku tidak mengatakan bahwa aku tidak melakukan kejahatan pada orang-orang yang mencari masalah denganku, kau harusnya tahu bahwa aku membenci orang-orang yang memprovokasiku tanpa alasan hanya karena mereka iri dengan kehidupanku." Samuel memalingkan wajahnya tak ingin melihat wajah Yuna yang sedang memarahinya.
"Lalu bagaimana dengan Mama dan keluargaku yang lainnya, apa kau juga akan memberi perhitungan pada mereka? Apa kau akan lebih sadis dari ini?"
"Aku peringatkan padamu, Sam. Jika kamu berani menyentuh orang tuaku, meski dengan statusmu yang sekarang, sampai mati pun aku akan menentangmu dan membela mereka." Yuna berkata dengan mantap.
Samuel terkekeh merasa lucu. "Kau akan menentangku sampai mati? Yuna, selama ini aku selalu berharap lebih darimu, kukira kau akan terus membelaku apapun yang terjadi, di saat ibumu mencela, mencaci maki, dan juga menghinaku, apa kamu pernah berkata bahwa kamu akan menentang ibumu jika tidak berhenti bersikap tak baik padaku? Jadi selama ini kau hanya ingin aku diam dan tak boleh membela diri? Kau lebih senang jika aku direndahkan oleh mereka?"
"Kenapa kau jadi berbalik menyalahkan aku? Dia ibuku, sudah sepantasnya aku membelanya."
"Lalu aku siapa? Bukan suamimu yang tak berhak untuk kau bela?"
Yuna pun terdiam, tidak tahu ingin menjawab apa.
"Sudahlah, dari awal aku tidak pernah bermaksud mempermasalahkan sikap ibumu padaku, aku tidak akan bersikap seperti ini jika kau tidak lebih dulu menuduhku. Aku kecewa padamu." Samuel beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Yuna sendirian. Ia sendiri tak bermaksud untuk berdebat, ia sudah berusaha menjadi suami yang baik dengan tidak menutupi satu masalahpun dari istrinya, tapi ternyata Yuna sama sekali tak mendukung apapun yang ia lakukan, selalu saja dirinya yang salah.
Kini Yuna benar-benar menahan sesak di dadanya, sedikit merasa menyesal kenapa ia terlalu kasar berbicara pada Samuel, di satu sisi ia juga takut ibunya dihakimi.