
Mama, Yuni, ayo berangkat, sudah jam berapa ini, nanti terlambat bantu Samuel dan Yuna beres-beres rumah!" seru Pak Fandi pada istri dan anak bungsunya.
Malam ini Samuel dan Yuna akan mengadakan acara pindahan rumah, salah satu dari mereka pun tidak ada yang tahu rumah semacam apa yang dibeli oleh Samuel, yang pasti mereka menebak bahwa Samuel hanya membeli rumah kecil yang tentunya harus dibereskan terlebih dahulu sebelum ditempati.
"Pagi-pagi begini buat apa teriak-teriak? Dikira tidak akan ada tetangga yang dengar?" sergah Bu Rosi yang baru saja keluar dari kamar.
"Pagi? Jam berapa ini? Sudah hampir siang, kasian anakmu harus beresin rumah sendirian, dia lagi mengandung," balas Pak Fandi lagi.
"Lagian ada suaminya, biarkan saja Samuel yang urus, kenapa harus Yuna juga yang turun tangan." Bu Rosi menjawab acuh tak acuh.
"Ayolah, Ma. Jangan begitu pelit sama menantumu, toh cuma bantu-bantu saja apa salahnya sih? Setidaknya bisa meringankan pekerjaan mereka jika kita ikut membantu," ujar Pak Fandi memelas, berusaha membujuk istrinya agar sedikit lembut hatinya.
"Iya-iya, lagian aku sudah siap, tinggal nunggu Yuni saja."
Di sisi lain, Samuel dan Yuna telah pergi duluan menuju ke lokasi rumah baru mereka. Namun, taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah showroom mobil, yang tentunya atas permintaan Samuel.
"Kenapa berhenti di sini? Sudah sampai?" tanya Yuna kebingungan.
"Turun dulu," jawab Samuel sembari tersenyum tipis lalu membayar uang sewa taksi pada sopir.
Samuel menggandeng tangan Yuna masuk ke showroom tersebut.
"Permisi," panggil Samuel pada tim marketing yang sedang duduk membahas sesuatu yang mungkin bersangkutan dengan masalah pekerjaan mereka. Namun, salah satu dari mereka tidak ada yang menggubris panggilannya dan hanya menoleh sebentar.
"Apa kalian semua tuli?" Samuel kembali menegur. Mereka akhirnya pun saling memandang dan juga saling suruh menyuruh karena tidak ada yang ingin melayani Samuel.
"Hei, anak baru. Itu ada orang, kamu saja yang layani," ujar salah satu dari mereka yang menatap seorang wanita yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Lantas siapa lagi?" bentaknya.
"T-tapi bukankah ini pekerjaan kalian? Aku ada pekerjaan lain yang harus kukerjakan," jawab wanita itu. kebingungan.
"Kau berani membantahku, hm?" Seorang lelaki melototi wanita itu dengan geramnya.
"Baiklah." Wanita itu bergegas meninggalkan pekerjaannya dan beranjak menghampiri Samuel.
"Tuan dan Nona, apa Anda berencana untuk membeli mobil? Saya mewakili mereka untuk melayani kalian dan akan menunjukkan beberapa mobil terbaik kami." Wanita itu berusaha bicara dengan sebaik mungkin karena ia sendiri tidak memiliki keahlian dalam bidang tersebut.
Samuel hanya mengangguk membiarkan wanita itu membawanya menuju ke tempat mobil yang ingin ia tunjukkan.
"Hei-hei, orang seperti itu tidak perlu ditawarkan mobil terbaik di tempat kita, paling mereka hanya ingin membeli mobil termurah saja!" seru salah satu senior yang sengaja memperhatikan mereka.
Wanita itu menatap Samuel dan juga Yuna, lalu berbalik menuju mobil yang tampak biasa saja, ia yang tak tahu apa pun, terpaksa menurut dengan apa yang dikatakan oleh seniornya.
"Jika benar Anda ingin membeli mobil dengan harga yang terjangkau, maka ini adalah pilihan yang tepat, silahkan dilihat-lihat terlebih dahulu, Tuan." Wanita itu tersenyum ramah. Samuel sama sekali tidak berniat untuk melihat mobil tersebut karena mobil itu bukanlah tipenya.
Tak lama mereka yang tadinya sedang duduk santai tiba-tiba berhamburan menuju ke luar, setelah dilihat ternyata ada seorang tamu yang memasuki showroom tersebut.
"Halo, Tuan. Apa Anda sedang mencari sebuah mobil? Maka pilihan Anda datang ke sini adalah yang paling tepat, kami memiliki beberapa mobil keluaran terbaru yang tentunya tidak akan mengecewakan Anda." Mereka saling berebutan ingin mendapatkan pelanggan tersebut yang terlihat begitu terhormat dengan penampilannya yang glamour.
"Aku ingin mobil termahal yang ada di sini," ujarnya lantang dan sombong, melihat ada Samuel dan Yuna di sana, ia tidak mau disaingi, ingin terlihat berkuasa dan tak tertandingi.
Samuel yang tak mengenalinya, masa bodoh dengan keangkuhan pria itu, toh yang bicara bukan hanya bibir saja, tapi isi dompetlah yang akan membuktikan bahwa siapa yang lebih berpunya.