
"Biar kulihat bagaimana cara darahnya keluar." Samuel meletakkan pisaunya di leher Rangga, lalu menyayatnya perlahan hingga kulitnya tergores, cairan merah segar nampak keluar dari goresan tersebut.
"Wow, menyenangkan sekali, ternyata merah segar." Samuel tersenyum sinis melihat leher rangga yang terluka. Sementara wajah Rangga memerah ketakutan, matanya melotot tak mampu berucap apa pun saking takutnya.
"Tolong." Rangga terus memohon, ia tak menyangka bahwa Samuel benar-benar melakukannya, meski hanya goresan kecil, itu cukup terasa sakit dan membuatnya semakin yakin bahwa Samuel tak peduli akan hidup matinya.
Sementara Marlin, ia seketika memejamkan mata menangis gemetar, ia takut Samuel juga melakukan hal itu padanya.
Samuel membuka kancing celana Rangga, memang di situlah letak sasarannya, ia ingin memberi pelajaran pada pria itu agar merasakan bagaimana jika hidup tanpa barang antik yang ada di ****** ******** itu.
"Cih, menjijikkan sekali." Samuel menatap letak kejantanan Rangga yang kini dibasahi oleh air seni sebab tak tahan karena ketakutan hingga mengompol.
"Awalnya aku ingin memotongnya dengan tanganku sendiri, kau membuat moodku hancur sekarang." Samuel kembali berdiri dan mengangkat kerah baju Rangga di bagian belakang dan menyangkutkannya ke tiang yang terdapat sebuah paku, Rangga pun bergantungan di tiang tersebut. Tak lupa Samuel meletakkan besi runcing di lantai tepat di bawah Rangga.
"Bergeraklah jika kau ingin besi itu menancap ke perutmu." Lalu ia berbalik badan menghampiri Marlin.
Rangga merasa hidupnya benar-benar terancam sekarang, baru saja selamat dari kematian mengerikan, kini malah dihadapkan lagi dengan kematian, hanya caranya saja yang berbeda, akhirnya ia pun takut bergerak sedikit pun, jika ia sampai bergerak maka bajunya akan semakin robek dan tubuhnya bisa saja langsung terjatuh.
Lalu Samuel mendekatkan pisaunya di wajah Marlin, mengambil sedikit air mata yang terus mengalir dengan menggunakan pisau tersebut. "Apa ini air matamu? Wanita sepertimu ternyata bisa menangis juga? Ck, tidakkah sekarang kau benar-benar terlihat murahan?" Kembali menyunggingkan bibirnya tersenyum sinis.
"Tenang saja, aku tidak akan memberi pelajaran langsung pada kalian berdua, aku masih sangat menyayangkan tanganku, tidak pantas jika digunakan untuk menghancurkan orang rendahan seperti kalian, tugas ini akan kuserahkan pada yang lain." Samuel kembali menyimpan pisaunya, berbalik ke arah pintu keluar di gudang itu.
"Roy, aku ada misi untukmu, datang ke gudang dekat rumahku, ada sepasang manusia yang harus kau tangani," ujar Samuel memberi perintah via telepon.
"Mau diapakan, Bos?" Tanya Roy yang tampak semangat.
"Aku ingin kau memotong barang antik pria itu, biarkan dia berteriak menahan sakit kehilangan adik kecilnya, lalu buang dia di depan rumah sakit biar segera ditolong, meski dapat hidup, ia juga merasa hidupnya tidak akan berguna."
Samuel kembali menoleh ke belakang melihat Rangga yang masih tak berani untuk bergerak. "Aku sudah memberimu kesempatan untuk pergi, tapi kau dengan beraninya menantangku dan mencoba mendambakan Yuna, rasakanlah akibatnya." Samuel membatin.
"Lalu yang wanita mau diapakan, Bos?" Suara Roy berhasil membuat Samuel kembali tersadar.
"Tidak perlu disakiti, menurut aturan lama saja, tidak usah membuatnya terluka, jika seorang wanita mencari masalah, cukup ikat dia di depan rumah keluarganya tanpa busana, agar keluarganya tahu bahwa seperti itulah kelakuan anak perempuan mereka. Hobi melepas busana di hadapan banyak lelaki."