The Greatest Mafia Lord

The Greatest Mafia Lord
Ketemu Marlin



"Tidak apa, Tante. Biar saya yang bayar," ucap Rendra sambil mengambil alih bill rersebut dari tangan Yuna.


"Tapi, Rendra, seharusnya kami yang bayar." Bu Rosi merasa tak enak hati.


"Tak apa, Tente. Sudah seharusnya sebagai laki-laki harus bertanggung jawab, tidak mungkin saya bisa tenang di saat wanita keluarkan uang untuk makanan yang saya makan juga." Sambil melirik ke arah Samuel menyindir.


"Wah, Kamu benar-benar pria sejati, beruntung Yuni mendapatkanmu, tidak seperti menantu yang satunya, bisanya cuma menyusahkan perempuan saja, otot besi, tapi tanggung jawab tidak ada." Bu Rosi ikut menyindir.


Bukannya tersinggung, Samuel hanya tersenyum kecil menanggapi hinaan mereka, ia sendiri sudah kebal bahkan hampir bosan mendengar kata itu lagi dan lagi, ia tidak tersindir karena ia tak merasa bahwa dirinya seperti yang dikatakan oleh mereka itu.


~~


"Malam ini Tante sekeluarga berterimakasih sekali sama kamu, Rendra, tapi lain kali Tante pasti akan ajak kamu dan Tuan Daniel untuk makan malam bersama, Tante janji akan bayar semuanya tanpa merepotkan kamu, sekarang Tante minta maaf, ya." Mereka kini telah keluar dari restoran dan tengah berbincang santai sembari menuju ke tempat parkiran.


"Tidak apa-apa, Tante. Saya senang karena bisa membantu. Mumpung sekarang kita sedang berkumpul, bagaimana jika kita jalan-jalan sebentar di toko tas sana? Saya ingin belikan Yuni dan Tante sebuah hadiah, Tante dan Yuni bebas mau pilih yang mana, saya yang bayar, bagaimana, mau tidak?"


"Ah, yang benar? Kok jadi semakin merepotkan begini, tidak usahlah," tolak Bu Rosi malu-malu, sebenarnya jauh di lubuk hati, ia sangat ingin jika diberikan secara gratis.


"Tidak apa-apa, Tante. Ayo."


"Emm ... maaf, sepertinya saya tidak bisa ikut, saya ada pekerjaan lain, pulang dulu ya," sahut Daniel.


"Iya, Papa juga mau pulang, sudah tua begini rasanya tidak tahan terlalu lama di luar." Pak Fandi ikut menimpali.


"Lho, Kok pada mau pulang? tanya Bu Rosi.


"Kamu mau ke mana? Tidak sopan sekali, Rangga mau ajak kita jalan ke toko tas itu, kenapa malah mau pulang?" bisik Bu Rosi dengan penuh penekanan.


"Kak, Papa dan Om Daniel ingin pulang karena mereka memiliki alasan untuk pulang, Kakak kenapa malah ikut-ikutan?" bentak Yuni tak suka.


"Sudahlah, kita ikut mereka saja," ujar Samuel tak keberatan.


"Tapi, Sam."


"Ada aku, tidak perlu khawatir." Samuel meyakinkan.


Tiba di toko tersebut, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Marlin.


"Oh, ternyata kalian ke sini juga? Apa kabar, sejak malam itu, kita tidak pernah bertemu lagi, ya." Ucapan Marlin itu, seperti tidak mencakup pada mereka semua, tapi hanya mencakup pada Rendra, belum lagi kerlipan mata genitnya yang membuat Yuni kesal setengah mati.


"Kak Marlin yang terhormat, bisa tidak Anda kontrol tatapan Anda dari suami saya? Tidak sopan," protesnya.


"Owh, suami? Kenapa Rendra tidak pernah memberitahuku soal dia yang sudah menjadi seorang suami? Dia yang berbohong, ataukah kamu yang terlalu berharap?" sindir Marlin sinis.


Wajah Yuni seketika merah padam mendengar cibiran Marlin, tentu saja tidak terima jika lelakinya mulai dilirik oleh wanita genit seperti itu.


"Sudahlah, simpan saja amarahmu itu, tidak penting bagiku." Marlin menepuk bahu Yuni perlahan sembari melangkah menghampiri Rendra, saat ini pria itu hanya bisa berdiri kaku.


"Aku merindukan desahanmu malam itu, yang mengatakan bahwa kau sudi untuk mati di atas tubuhku," bisiknya di telinga Rendra sambil tersenyum puas.