
Bu Rosi tak dapat berkata apa pun lagi setelah Samuel mengucapkan kata-kata itu, entahlah, ia pun tak yakin sepenuhnya akan perkataan menantu yang selama ini ia kenal sebagai pria miskin. Namun, tetap berharap bahwa ucapannya akan menjadi kenyataan.
"Dasar sombong, sebaiknya berkaca lebih dulu sebelum berucap omong kosong, buang-buang waktuku saja, benar-benar tidak tahu menggunakan kesempatan dengan baik. Ayo, kita pulang, percuma saja bicara sama orang yang tak berpendidikan," desis Kakek Santoso begitu marah.
"Siapa yang kurang berpendidikan sudah bisa diketahui, meminta bantuan dengan cara memaksa apakah bisa dikatakan sebagai orang yang berpendidikan?" balas Samuel mencibir.
"Aku sudah menawarkan sesuatu yang sangat setimpal, dari mananya kata memaksa itu datang? Kau saja yang kurang otak." Kakek Santoso semakin meeggeram dengan menunjukkan wajah yang begitu menyeramkan.
"Aku sudah katakan aku tidak ingin dan menolak secara halus, lantas kenapa masih bersikap tidak sopan dan marah-marah di rumah orang? Lalu apa namanya jika bukan karena Anda yang kurang pendidikan?" Samuel semakin menantang membuat Kakek Santoso pun naik pitam, tak peduli ada siapa pun di sana, Kakek Santoso ingin sekali memukul wajah Samuel yang menurutnya begitu kurang ajar.
"Sudah, Ayah. Sebaiknya jangan memperpanjang masalah, dia tetaplah menantu kami, Yuna sedang mengandung, tak apa jika Ayah tidak memandangku, tapi setidaknya jagalah perasaan Yuna, dia juga cucumu, anak dikandungannya masih membutuhkan sosok Samuel sebagai ayah kandungnya." Bu Rosi secepatnya menengahi pertengkaran mereka, tidak akan pernah ada habisnya jika terus seperti itu, mereka sama-sama tidak ada yang ingin mengalah, dari pada keluarganya jadi sasaran kemarahan Kakek Santoso.
"Cih." Kakek Santoso menghentakkan tongkatnya ke lantai begitu geram lalu keluar begitu saja disusul oleh istrinya.
"Haih ...." Bu Rosi menghela napas berat setelah kepergian Kakek Santoso.
"Samuel, lain kali tolong jaga sikapmu, kau berdebat seperti itu sangat mengancam keluarga ini, bagaimana jika aku lagi-lagi dikeluarkan dari keluarga besar? Di mana lagi kita akan berteduh jika bukan di keluarga Santoso?" Raut wajah Bu Rosi tampak begitu lelah akan kejadian yang selalu saja tak menguntungkannya.
"Kau selalu begitu, selalu memintaku untuk tenang dan tenang, kau tidak tahu betapa pusingnya memikirkan semua ini, jika bukan karena Yuna sedang mengandung anakmu, aku pasti akan mengusirmu dari rumah ini." Bu Rosi beranjak dari tempatnya, meninggalkan mereka semua. Sementara Pak Fandi, Yuna, dan Yuni, hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata-kata.
"Pa, sampaikan ucapan maafku pada Mama, katakan padanya bahwa aku tidak akan mengecewakannya lagi." Samuel berbalik menatap ayah mertuanya.
"Aku pun berharap seperti itu, jujur sebenarnya Mamamu itu wanita baik, hanya saja ia terlalu sering mengalami hal sulit sampai bersikap kasar dan perhitungan, ia hanya memikirkan tentang kebaikan keluarga kita, jadi Papa berharap kamu bisa menutupi kesalahan hari ini dengan tidak mengecewakannya di masa mendatang." Pak Fandi pun berdiri dengan lemah, pergi menghampiri istrinya yang entah apakah akan sulit untuk di ajak bicara seperti biasanya.
"Kak, aku ke kamar dulu." Yuni pun tak ingin berlama-lama dengan kecanggungan itu, beranjak pergi seperti yang dilakukan kedua orang tuanya.
"Apa keputusanku tadi salah?" tanya Samuel pada istrinya.
Yuna menggeleng pelan dan tersenyum hangat. "Apa pun keputusanmu, aku percaya kamu melakukan yang terbaik untuk hidupmu, aku maupun keluargaku, tak berhak melarangmu untuk melakukan sesuai yang kamu inginkan, apalagi kamu lakukan itu untuk mempertahankan harga diri dan tidak mengemis di hadapan orang lain."
"Aku tidak akan mengecewakanmu dan keluargamu." Samuel memeluk istrinya penuh kehangatan, hanya Yuna yang selalu begitu lembut terhadapnya, setelah melewati begitu banyak kekejaman dan kekerasan dalam kehidupan, ia hanya mendapatkan perasaan dicintai hanya pada istri dan kedua orang tuanya.