
"Permisi." Terdengar seseorang mengetuk pintu.
"Masuk."
"Yuna?" Samuel tampak kaget melihat yang mengetuk pintu adalah istrinya.
"Kudengar kamu ada di sini menyambut tamu, jadi kurasa tidak. ada salahnya jika aku menawarkan tamu kita untuk meminum teh. Apakah aku mengganggu?" tanya Yuna sembari menatap kedua tamunya bergantian.
"Tentu tidak, silahkan masuk." Nyonya Aurel tersenyum padanya.
"Mi, Pi, Yuna adalah istriku." Samuel langsung mengatakannya.
"Kami sudah tahu. Ayo sini, Nak. Mami ingin lihat wanita seperti apa yang mampu meluluhkan si keras kepala itu." Yuna pun mendekati ibu mertuanya, sedikit ragu karena takut ibunya Samuel tidak bisa menerimanya.
"Anak yang cantik, selama ini Mami pikir tidak akan ada wanita yang menyukai Samuel, tapi ternyata Mami salah." Nyonya Aurel berdiri memeluk menantunya dengan hangat.
"Tante, Tante sangat baik, aku minta maaf jika selama ini aku tidak begitu baik dalam mengurus Samuel." Yuna tergugup sembari membungkuk memberi hormat.
"Bicara apa? Samuel bertahan dengan rumah tangganya dan tidak meninggalkanmu itu artinya dia sangat betah, jika dia merasa diperlakukan tidak baik, dia tidak akan mempertahankanmu, Mami sangat kenal wataknya, jadi hanya dengan melihatnya bertahan, sudah bisa membuktikan bahwa kau sangat layak untuknya." Nyonya Aurel mengelus rambut Yuna dengan lembut.
"Terimakasih sudah mempercayai Yuna, Tante."
"Jangan panggil tante, panggil mami saja."
"Iya, Mi."
"Kepada para tamu undangan dan juga tuan rumah yang terhormat, saya sebagai salah satu perwakilan negara, sangat merasa senang bisa berkumpul dengan beberapa pengusaha di negara kita ini, terlebih bisa bekerjasama dengan tuan rumah, adalah suatu kehormatan bagi kami, jarang sekali bisa mendapatkan kerjasama yang sangat menguntungkan negara, belum lagi donasi yang diberikan oleh Tuan Samuel untuk negara kita ini, bisa dibilang jumlahnya tidak main-main, ia mendonasikan seperempat penghasilan perusahaan Yusa Group dalam setiap tahunnya, saya sebagai perwakilan dari masyarakat di negara ini, berterimakasih atas kemurahan hati Tuan Samuel, semoga Tuhan memberkati setiap langkahnya."
"Apa maksudnya? Kek, kenapa seorang perwakilan negara bisa datang ke sini dan mengatakan bahwa Samuel mendonasikan seperempat penghasilan Yusa Group untuk negara? Apakah itu artinya Samuel adalah pemilik perusahaan terbesar itu?" Marlin yang sungguh sangat penasaran, langsung saja bertanya pada kakeknya dengan mata yang terbeliak lebar.
"Cih, tidak mungkin." Kakek Santoso hanya bisa mengatakan dua kata tersebut dengan tangan yang berkeringat dingin sekaligus gemetar, jika semua itu memang benar, bukankah dia adalah orang yang paling tidak beruntung? Setelah mencaci maki Samuel, dengan identitas sekuat itu, tidak mungkin Samuel akan melepaskannya dengan mudah, jangankan ingin bekerjasama dengan Yusa Group, ia bisa bernapas dengan tenang setiap hari saja akan sangat baik baginya jika Samuel tidak mempermasalahkan sikapnya selama ini.
"Tidak mungkin apanya, kau pikir perwakilan negara itu bisa berbohong mengenai hal besar seperti ini? Kau pikir Samuel bisa menyogok perwakilan negara untuk mengatakan hal yang barusan yang ia katakan? Tidak perlu menipu diri lagi, sudah sangat jelas bahwa anak itu memang menutupi identitasnya dan dia benar-benar pemilik perusahaan itu." Nenek Santoso segera bicara menyadarkan suaminya agar tidak terus-terusan membohongi diri sendiri.
Setelah mendengar perkataan istrinya, Kakek Santoso semakin sulit untuk bernapas dengan normal, wajahnya seketika berubah pucat.
"Kek, apa kau baik-baik saja?" tanya Marlin yang sedikit merasa khawatir dengan raut wajah kakeknya.