The Greatest Mafia Lord

The Greatest Mafia Lord
Si Pembantai Lentur Telah Kembali



"Jangan sentuh aku, diam di tempatmu atau aku tidak akan melepaskanmu!" tegas Samuel dengan geramnya sembari melototi Marlin yang dari tadi tak berhenti bergelayutan di tubuhnya.


"Dan kau, pergilah sebelum aku berubah pikiran dan membuat hidupmu jadi mengenaskan." Samuel kembali menatap Rangga dengan aura pembunuhan yang mulai bangkit.


"Cih, sudah punya uang lantas berani mengancamku, aku tidak takut sama sekali." Rangga terkekeh geli penuh ledekan.


Dibalik gusarnya Samuel terhadap Rangga, ditambah semakin risih oleh Marlin yang tak mau diam, akhirnya ia pun mengeluarkan jarum peraknya dan menusukkan ke titik meridian Marlin hingga wanita itu terkulai lemas di lantai.


"Jangan salahkan aku jika tak lagi berbelas kasihan, ini kau sendiri yang memintanya, sekarang ingin meminta ampun juga tidak akan kulepaskan." Samuel akhirnya menyunggingkan bibir, kedua belah lengan kemejanya ia angkat agar lebih memudahkannya untuk bergerak, mulai melakukan pemanasan pada tulang lehernya hingga terdengar bunyi yang mengerikan, ia lebih berusaha lagi untuk membangunkan aura pemimpinnya sebagai si pembantai lentur yang selama ini begitu lama berdiam diri dalam tubuhnya.


"Sudah lama sekali aku tidak merasakan perasaan buas seperti ini, kuharap kau tidak menyesal telah berani memprovokasiku, pisauku ini sudah lama tidak menyentuh d*rah manusia." Samuel memperlihatkan sebilah pisau mengkilat yang entah dari mana datangnya, ia begitu mahir menyembunyikan senjata hingga tak ada yang menyadari bahwa ia dibekali oleh berbagai senjata bermutu, yang sewaktu-waktu bisa saja mengancam nyawa orang lain jika berani bersikap tak sopan padanya.


"K-kau mau apa?" Rangga tampak mundur beberapa langkah dengan kaki yang gemetar.


"Kenapa? Takut? Bukankah kau adalah lelaki berani yang barusan meledekku?" Wajah Samuel semakin terlihat beringas dan maju selangkah demi selangkah mendekati rangga.


"Kau mau apa? Jangan mendekat, apa kau tidak tahu resiko apa yang harus kau tanggung jika berani menggunakan senjata tajam pada orang lain?" Suara Rangga ikut bergetar, keringat di dahinya pun semakin penuh.


"Sebaiknya di masa mendatang kau harus pintar memilah lawan, jika kau bertemu orang sepertiku, kusarankan padamu untuk kabur terlebih dahulu, selamatkan diri sebelum kau reinkarnasi ke kehidupan selanjutnya." Samuel menarik kerah kemeja Rangga hingga mereka bertatapan sangat dekat, membuat Rangga sendiri tersadar betapa mengerikan pria di hadapannya ini.


Samuel berdiri dan kembali menyeret rangga ke hadapan Marlin. "Betapa beruntungnya malam ini, mendapatkan dua mangsa yang dengan sendirinya menghantarkan masa depan suramnya padaku." Samuel tersenyum sinis pada mereka berdua.


Ia kembali memperlihatkan pisau mungilnya itu pada makhluk bernyawa di hadapannya, berjongkok di tengah-tengah mereka dan berkata, "Bagaimana jika benda ini berhasil menyentuh leher kalian? Cairan apa yang akan menyembur keluar? Merah segar, ataukah coklat busuk?"


Melihat raut wajah mereka yang panik, Samuel terkekeh puas.


"Samuel, tolong, tolong maafkan aku, aku berjanji tidak akan melakukan hal bodoh ini lagi, ampuni aku Samuel." Suara Marlin bergetar hebat, bahkan sekedar ingin menelan ludahnya pun ia tak mampu.


"Bukankah sudah berulang kali kuberi kesempatan? Sekarang keinginan membunuhku sudah keluar, percuma saja meminta ampun."


"Si mungilku ini, sangat haus sekarang." Samuel mengelus pisaunya dengan hati-hati, sementara Rangga pun semakin ketakutan.