
"Tuan, di sini kami memiliki satu buah mobil yang sangat direkomendasikan untuk Anda, selain desainnya yang mewah dan elegan, juga anti peluru maupun senjata tajam, sangat cocok dibawa dalam perjalanan jauh maupun dekat, tentunya ini adalah keluaran terbaru dan juga terbatas, banyak orang yang mengincar mobil ini. Namun, sayangnya setelah mereka datang, malah berbalik karena tak mampu sekedar melihat harganya, mungkin Andalah yang sebenarnya ditunggu mobil ini, kaya dan bermartabat, hanya orang seperti Anda yang mungkin mampu membeli mobil ini," ucap salah satu pegawai marketing tersebut menjelaskan dengan semangat.
"Jangan katakan mungkin, aku pastinya mampu membeli mobil ini, jangan katakan aku sebagai orang yang bermartabat jika mobil seperti ini saja tak mampu untuk kumiliki," katanya dengan lantang dan angkuh.
"Aku menginginkan mobil itu." Seketika Samuel angkat bicara dan menunjuk ke arah mobil yang tadi baru saja dipromosikan oleh tim marketing pada pria itu. Sontak saja semua orang yang ada di sana menoleh padanya sejenak, lalu sama-sama tertawa merasa lucu.
"Hei, bocah. Punya nyali juga kau ternyata," cibir pria itu sambil menyunggingkan bibir pada Samuel.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh memilikinya?" Samuel berjalan menghampiri pria tersebut dengan menggandeng tangan Yuna. Namun, Yuna mencengkram tangan Samuel dengan erat, seakan sedikit takut untuk mengikutinya, Samuel pun menoleh dan tersenyum pada istrinya. "Tidak apa-apa, serahkan padaku, aku tidak akan bertindak bodoh."
"Tapi ...."
Melihat keraguan Yuna, Samuel lagi-lagi tersenyum dan menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, jangan khawatir."
"T-Tuan, tunggu dulu!" seru wanita yang tadi melayani mereka, tapi Samuel tetap tak menoleh dan terus saja melangkah menghampiri sekelompok orang yang tadi meremehkannya.
"Hei, bocah, kuperingatkan padamu untuk jangan macam-macam denganku, aku yang lebih dulu ingin membeli mobil ini, atas dasar apa kau ingin merebutnya dariku?" sergah pria itu tak terima sembari menunjuk ke arah Samuel.
"Tidak ada kata merebut di sini, bukankah Anda belum membayarnya? Saya beritahukan pada Anda bahwa mobil ini tidak bisa dibayar kredit, jika tak mampu lebih baik keluar sana, cari mobil dengan harga standar saja, jangan berlagak begitu sombong, itu terlihat menjijikkan." Samuel balas mencibir.
"Tidak tahu siapa sebenarnya yang tidak mampu di sini, kusarankan Anda berkaca terlebih dahulu, jangan sok memiliki uang jika penampilan saja tak bisa diperbaiki." Pegawai marketing itu pun ikut mencemooh dan merendahkan.
"Jangan banyak omong, sebut saja berapa harganya," ucap Samuel tanpa ingin berdebat terlalu lama.
Pegawai tersebut pun mengeluarkan sebuah map yang di sana tercantum sebuah harga mobil yang kini sedang mereka perebutkan.
"Pasti akulah yang akan mendapatkannya terlebih dahulu." Pria itu dengan cepat merampas map tersebut untuk melihat harga yang tercantum. Namun, seketika saja ia merasakan aliran darahnya terasa begitu panas, degupan jantungnya berubah menjadi lebih cepat, pandangannya kini tak bisa lepas dari map tersebut, tangan pun ikut bergetar samar.
"Ternyata terdapat muatan 4 orang, sayangnya bukan tipeku, aku ingin mobil yang dengan muatan hanya 2 orang saja, seketika aku malas untuk membelinya." Pria itu mengembalikan map tersebut pada pegawai marketing, dengan wajah memelas seolah malas untuk melihat mobil itu.
"Dasar orang kaya yang hanya besar nyali, bilang saja tak mampu untuk membelinya setelah melihat harga mobil ini." Raut wajah pegawai itu seketika tampak meremehkan pria yang tadinya sangat ia pandang tinggi, teman-temannya yang lain pun ikut mundur dan tak ingin membuang waktu pada orang yang hanya besar mulut saja.
"Berikan padaku." Samuel mengulurkan tangan meraih map tersebut.
"Ini lagi satu, seekor kelinci yang menganggap dirinya raja hutan, benar-benar tak habis pikir dengan orang-orang seperti kalian, kau layanilah orang bodoh ini, sungguh malas melihatnya." Pegawai tersebut pun memalingkan wajah dan berbalik meninggalkan mereka.
"Sam, sebaiknya jangan." Yuna mencoba untuk membujuk.
"Bawa aku untuk melakukan prosedur pembayarannya," ujar Samuel pada wanita yang dari tadi terus mendampinginya.
"Anda serius, Tuan?" tanya wanita itu yang sedikit tak percaya.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" jawab Samuel datar.
"Sam, dari mana kita mendapatkan uangnya? Keluarkan seluruh tabunganku pun juga tidak akan cukup untuk membayarnya," bisik Yuna panik.
"Mari ikuti saya, Tuan."
Samuel menarik Yuna mengikuti wanita itu tanpa menjawab pertanyaan istrinya.
"Dia tidak benar-benar mampu membayarnya, kan?" Pegawai marketing itu mulai bergosip dengan temannya yang lain.
"Dia hanya berlagak saja."
"Bagaimana jika dia benar-benar berhasil melakukan transaksi dan mendapatkan mobil itu, bukankah kita benar-benar sudah membuang kesempatan dan bonus yang sangat besar?" Salah satunya mulai ragu.
Setelah berhasil melakukan beberapa prosedur penandatanganan dan juga pembayaran secara langsung, Samuel pun mendapatkan kunci mobil yang ia inginkan, tak lupa pula memberi bonus pribadi untuk wanita itu karena tidak memandang rendah dirinya, sehingga wanita itu mendapatkan bonus yang berlipat-lipat dari penjualan mobil tersebut.
"Apa aku bilang? Dia benar-benar memiliki uang untuk membeli mobil itu." Salah satu pegawai tadi melayangkan kepalan tangannya di udara merasa begitu menyesal.
"Dia benar-benar membelinya?"
"Ternyata bukan seekor kelinci yang sedang menyamar, tapi kebalikannya, sang raja hutan yang sedang menyamar menjadi seekor kelinci, bisa-bisanya aku melewatkan sosok emas seperti dia." Mereka pun semakin gelisah.
"Kenapa kita mendadak menjadi dungu berjamaah seperti ini?" Yang lainnya ikut melongo melihat Samuel berhasil menaiki mobil termahal di showroom itu.
Tiba di luar Showroom, Samuel melihat pria tadi ternyata masih ada di sana, ia memelankan kecepatan mobil yang paling rendah dan tersenyum pada pria tersebut melalui kaca jendela yang sengaja ia buka lebar.
"Bagaimana? Masih ingin berpura-pura dengan mengatakan mobil ini bukan tipemu? Sekarang aku yang mendapatkannya, berharap orang yang katanya bermartabat itu tidak menyesal setelah mobil ini menjadi milik orang lain." Samuel tersenyum penuh ledekan terhadap pria itu, ia memainkan pedal gas sehingga mobil mengeluarkan asap yang cukup untuk membuat pria itu tersedak, lalu ia melaju kencang menerobos jalan raya dengan mobil barunya, sekali-kali memperlihatkan kekuatannya pada orang yang telah meremehkannya bukanlah suatu masalah, kelak tidak akan ada yang berani merendahkan dirinya terutama istri dan keluarganya.
Sementara pria tadi hanya bisa terbatuk mendapatkan asap mobil Samuel, tak dapat berkata-kata lebih banyak lagi.