The Greatest Mafia Lord

The Greatest Mafia Lord
Rendra Ketahuan



"Hai, Sayang. Kamu ke mana saja? Aku menunggu lama di sini." Seorang wanita cantik nan seksi memeluk tubuh Rendra dengan wajah memelas.


"Masuk dulu, nanti ada yang lihat." Rendra mengitari pandangan ke sekeliling, takut ada orang yang dikenal melihatnya di sana.


"Ayo."


Roy terus mengikuti mereka, sementara Rendra, terus waspada terhadap orang-orang di sekitarnya.


"Bos, benar yang Anda katakan, mereka memboking satu kamar hotel, sekarang saya sedang berusaha untuk masuk ke kamar mereka lewat jalur dalam, akan saya hubungi kembali jika sudah selesai," ujar Roy via telepon.


"Kerja bagus, kembalilah setelah kau melakukan tugasmu."


"Sayang, aku merindukanmu." Wanita cantik itu, tak lain dan tak bukan adalah Marlin, mereka menjalin hubungam semenjak pertemuan keluarga kemarin, ini bukan pertama kalinya mereka berada di kamar hotel berdua.


"Tadi kamu kenapa ada di sana? Kamu tahu kan kita tidak boleh menunjukkan sikap yang bisa mencurigakan mereka? Bagaimana jika rencanaku gagal? Aku tidak akan bisa dapat apa-apa dari keluarga Yuni, setelah aku mendapatkannya, aku janji hanya akan menjadikanmu wanita satu-satunya dalam hidupku, mengerti, kan?" Rendra mengelus wajah Marlin dengan lembut.


"Iya, maaf. Aku hanya merindukanmu, jika tidak begitu, kamu pasti tak akan mau bertemu denganku malam ini," ucap Marlin manja.


"Mana mungkin aku tidak mau menemui wanita paling cantik di keluarga Santoso, aku hanya sedikit sibuk hari ini, makanya tidak datang menemuimu, maaf ya." Rendra mengecup wajah Marlin sambil menggoda wanita itu.


"Sialan si brengsek ini, berani-beraninya dia bermain licik dan menyakiti Yuni, akan kuremukkan tubuhmu setelah ini, bersenang-senanglah sebelum kau menemui penderitaanmu." Samuel meremas ponsel yang baru ia beli, ponsel tersebut terkoneksi dengan kamera yang dipasang oleh Roy di kamar itu, ia dapat melihat dan mendengar semua apa yang mereka ucapakan dan lakukan.


Samuel mengirimkan vidio singkat itu pada Yuni, beserta alamat hotel di mana mereka berada sekarang, agar Yuni bisa langsung ke sana untuk melihat langsung bagaimana brengseknya pria yang ia junjung tinggi itu.


"Ma! Mama!" Dari dalam kamar, Yuni berteriak histeris mendapat kiriman video dari Samuel, setengah mati ia tak terima atas apa yang ia lihat.


"Ada apa sih, Yuni? Teriak-teriak tengah malam begini, kamu bisa saja membangunkan yang lain." Bu Rosi datang memarahi Yuni.


"Coba Mama lihat ini, bagaimana mungkin aku bisa diam saja mendapat video seperti itu." Yuni memberikan ponselnya pada Bu Rosi.


"Rendra? Ini bukankah Rendra, sialan ni anak, berani-beraninya dia ada main sama si Marlin wanita murahan itu. Yuni, sekarang kita labrak dia, Mama tidak terima kamu diperlakukan seperti ini olehnya, ayo." Bu Rosi menarik tangan Yuni begitu geram.


"Mama, Yuni, kalian mau ke mana malam-malam begini?" tanya Yuna yang baru keluar dari dapur.


"Nanti saja Mama cerita, kamu jaga papa di rumah, jangan ke mana-mana, paham?" sahut Bu Rosi.


"Baik, Ma." Yuna hanya bisa mengangguk bingung dengan sikap mereka.


Tiba di depan pintu kamar yang dipesan oleh Rendra, Bu Rosi mengetuknya dengan keras. Dan Marlin membukanya dengan hanya menggunakan sebuah handuk yang menutupi tubuhnya yang tidak mengenakan busana.


Seketika Marlin terbelalak ke arah mereka berdua. "Kalian, kenapa ada di sini?" tanya Marlin kelimpungan.


"Mana Rendra?" Yuni pun masuk, terlihatlah Rendra yang sedang duduk santai di pinggir ranjang sambil merokok, dan dalam keadaan bertelanjang dada.


"Yuni?" Rendra tiba-tiba beranjak dari tempatnya tak percaya dengan kedatangan Yuni yang tiba-tiba. Dari mana bisa tahu bahwa dia ada di sana, terlebih lagi saat ini ia sedang bersama Marlin.