The Greatest Mafia Lord

The Greatest Mafia Lord
Kekuatan Yang Kokoh



"Mohon kalian jangan terlalu sungkan padaku, silahkan duduk kembali." Tuan Jovi kembali bersuara sembari tersenyum hangat. Namun, tidak ada yang mendengarkannya, semua terus membungkuk tanpa berani mendongak. Tuan Jovi hanya bisa menghela napas panjang.


"Saat ini aku bukan siapa-siapa lagi, aku hanya seorang ayah dari pengusaha muda yaitu Samuel, jika kalian masih memutuskan untuk tetap seperti itu, maka izinkan pula aku memberi hormat kembali pada kalian dengan melakukan apa yang kalian lakukan," lanjutnya sembari ingin membungkuk seperti yang mereka lakukan, tapi tiba-tiba saja semuanya berdiri dan duduk di tempat masing-masing tak membiarkan Tuan Jovi melakukan hal itu.


Suasana terasa begitu hening, tidak ada yang berani bersuara bahkan bernapas saja mereka merasa sungkan.


"Kalian kenapa? Apa wajahku terlihat begitu menakutkan hingga tidak ada yang berani bersuara? Jika kutahu akan seperti ini, lebih baik aku tidak datang dan tetap mengungsikan diri," lanjutnya.


"Pi, sudahlah. Mau bicara bagaimana pun mereka tetap tidak berani untuk bicara, meski dirimu saat ini bukan kepala keluarga Adiguna, tetap saja mereka tidak bodoh, mereka tahu bahwa kau adalah keturunan sah yang diakui, meski saat ini yang menduduki kursimu adalah orang lain, mereka tetap lebih menghormatimu karena mereka melihat darah keturunanmu, itu tidak bisa digantikan oleh siapa pun." Samuel pun mengambil alih pengeras suara dari tangan ayahnya.


"Kami bersulang untuk Anda, Tuan." Salah satu dari mereka memberanikan diri bersuara, dengan begitu yang lain pun ikut berdiri mengangkat gelas anggur masing-masing dan meminumnya dalam sekali tegukan.


"Yuna, apa kau sudah mengetahui tentang hal ini?" Bu Rosi berbisik pelan, dan Yuna pun tersenyum tipis.


"Benar-benar diluar pikiranku, siapa yang akan menyangka bahwa Samuel yang selama ini selalu Mama remehkan ternyata orang yang harus dihormati. Menurutmu, apakah Samuel akan memberi pelajaran pada Mama atas kelancangan Mama terhadapnya selama ini?" Bu Rosi tampak pucat menatap anaknya.


"Mama jangan berpikir berlebihan, meskipun Samuel berasal dari keturunan terpandang, itu tidak membuatnya sombong dan dendam terhadap keluarga sendiri, kurasa Samuel pasti bisa memaafkan Mama selama Mama meminta maaf dengan tulus padanya, tapi untuk kedua orang tua Mama dan beberapa anggota keluarga Santoso yang pernah menghinanya, aku tidak bisa menjamin dia akan memaafkannya, hanya Mama yang bisa jadi pengecualian." Yuna berusaha menenangkan ibunya yang tampak mulai berkeringat dingin.


"Apa itu artinya Samuel akan melenyapkan keluarga Santoso?" Jantungnya masih saja berpacu dengan hebat.


"Aku juga tidak tahu, tapi melihat dari wataknya, itu mungkin saja terjadi, Mama ingat mengenai kasus Tuan Daniel? Tuan Daniel saja mampu ia lenyapkan tanpa memberitahukan identitasnya, apalagi keluarga Santoso yang sudah jelas-jelas mengetahui siapa Samuel sebenarnya." Yuna pun mendengus lemah, tapi juga merasa kagum pada suaminya yang kini berdiri kokoh di atas panggung, seakan benar-benar tidak ada yang mampu menumbangkannya.