
"Yuna, Yuna, sini!" panggil ibunya dengan suara yang begitu pelan ketika melihat Yuna baru saja menuruni anak tangga dengan sebuah gaun pesta yang melekat di tubuhnya, sangat indah.
"Wah, anak tercinta Mama cantik sekali, kau benar-benar layak menjadi ratunya Samuel, kau baik dalam segala aspek," pujinya dengan bangga dan tersenyum lebar.
"Mama jangan terlalu memujiku, aku yang sekarang tidak bisa dibandingkan dengan Samuel, dia lebih segalanya dalam segi apapun."
"Mama tidak membandingkanmu, Mama cuma katakan kau sangat cocok menjadi istrinya."
"Mama jangan hanya melihat kakak saja, coba lihat aku, bukankah anak bungsumu juga sangatlah cantik malam ini?" Yuni menghampiri dengan gerakan anggunnya.
"Astaga anak ini, bagaimana mungkin kau berpenampilan lebih mencolok ketimbang kakakmu, kalau begini kau bisa lebih menjadi sudut perhatian orang-orang," tegur Bu Rosi dengan wajah yang sedikit kesal.
"Mama, aku sengaja melakukannya, agar teman-temanku sadar bahwa aku tidak hanya cantik, tapi juga kaya dan bisa membeli gaun dan perhiasan yang termasuk dalam kategori edisi terbatas, aku tidak mau mereka terus meremehkanku." Yuni mencondongkan bibirnya membela diri.
"Sudahlah, Ma. Biarkan saja, lagian aku juga tidak ingin terlalu mencolok dalam acara ini." Yuna segera menengahi mereka berdua.
"Oh ya, Yuna. Mama hampir lupa, Mama ingin tanya, apa kau tahu kenapa Tuan Jimmy dan para perwakilan negara itu bisa hadir? Apa kau tahu mengenai status suamimu sekarang? Mereka tidak akan datang jika tidak ada keperluan, kan?" Bu Rosi kembali berbisik.
Yuna tersenyum tipis dan juga sedikit kecut. "Sudahlah, jangan bahas itu. Ayo, kita hampiri tamu yang lain, sepertinya sudah lumayan orang yang datang." Yuna merangkul ibunya pergi ke ruang pesta agar tidak bertanya begitu banyak.
***
"Hay, Baby. Ayo-ayo, silahkan masuk ke rumah baruku." Yuni tampak begitu antusias menyambut kedatangan teman-temannya.
"Kau yakin ini rumah barumu? Kau tidak menyewanya hanya sekedar untuk pamer pada kami, kan?" Salah satu dari mereka memberikan sorot mata curiga.
"Apa-apaan, untuk apa aku menyewanya? ini benar-benar rumah yang dibeli oleh kakak iparku, aku juga akan tinggal di sini kedepannya," balasnya menyombongkan diri.
"Oh, kakak iparmu yang waktu itu memberikanmu kartu akses masuk mall?" Satunya lagi menimpali.
"Wah, beneran sekaya itu? Bukankah kartu tersebut hanya segelintir orang saja yang memilikinya?"
"Aku kan sudah katakan, identitas kakak iparku itu tidak biasa, dia sangat kaya, bisa membeli apa pun yang dia mau dalam sekejap, kelak apa pun yang kumau dia juga akan mengabulkannya untukku." Yuni terus menyanjung Samuel di hadapan teman-temannya.
"Kalau begitu, laki-laki mana pun akan sangat beruntung jika dapat menikahimu, bagaimana jika kau memilih salah satu di antara kami?" Salah satu teman lelakinya ikut bersuara.
"Selera lelakiku itu tinggi, pria yang tidak berpenghasilan lebih baik jangan terlalu berharap," balas Yuni acuh.
"Sudah-sudah, kalian terus berbicara, kapan kami masuknya? Masa cuma makan angin saja di luar?"
"Oh iya, aku sampai lupa, ayolah kita masuk." Yuni mendahului mereka masuk ke dalam.
***
"Lho, ternyata Ayah datang juga?" Bu Rosi yang tak sengaja melihat kepala keluarga Santoso, langsung segera menghampiri.
"Kau tidak suka aku datang?" jawab Kakek Santoso yang langsung menyulut.
"Bukan begitu, aku hanya tidak menyangka saja Anda akan datang setelah kejadian waktu itu."
"Apa anak itu benar-benar membeli rumah ini?" tanya Kakek Santoso sembari mengitari pandangannya ke setiap sudut.
"Iya, Ayah. Ternyata menantuku bukanlah pria yang tidak berpenghasilan, mobil yang terparkir di depan rumah itu juga miliknya," jawab Bu Rosi sembari terus tersenyum.
"Apa tidak pernah terlintas di benakmu jika anak itu hanya menyewa mobil dan rumah ini? Kurasa sulit untuk dipercaya jika dia mampu membelinya dalam satu waktu." Raut wajahnya masih saja terlihat meremehkan.
Bu Rosi hanya menghela napas kasar, kenapa sulit sekali meyakinkan ayahnya bahwa Samuel tidak seperti yang dia pikirkan.