
"Terimakasih sudah berkenan hadir, berharap kerjasama kita akan semakin menguntungkan di masa depan." Samuel menjabat tangan para perwakilan negara yang sudah bersiap untuk pulang.
"Sama-sama, kelak jika butuh bantuan, hubungi saja, kami akan membantu sebisanya."
Tak lama setelah kepergian mereka, Marlin datang menghampiri Samuel.
"Samuel, bisa aku minta bantuan padamu?" ujarnya memelas. Samuel hanya diam mengamati wanita itu.
"Kakek ingin berbicara empat mata denganmu, apakah kamu bersedia ikut denganku untuk menemuinya?"
"Di mana?" tanya Samuel singkat.
"Di gudang belakang," jawabnya.
Tanpa mengatakan apa pun Samuel langsung melangkah pergi, Marlin dengan cepat mengikutinya.
Setibanya di gudang tersebut, Samuel berdiri mengamati sekitar, pasti ada yang sudah direncanakan.
Benar saja, belum sempat ia berbalik, Marlin telah memeluknya dari belakang. "Samuel, menikahlah denganku." Sembari menggesekkan dadanya di punggung Samuel.
"Kau ingin melepaskan tanganmu sendiri atau aku yang melakukannya?" geram Samuel yang tertahan.
"Tidak, aku ingin tetap seperti ini sebelum kau menerima tubuhku." Bukannya takut, Marlin malah semakin berani dan mengeratkan pelukannya.
Dengan kuat Samuel melepaskan diri dan mendorong tubuh Marlin menjauh darinya. "Jangan membuatku hilang kesabaran, aku masih menghormatimu karena kau seorang wanita."
"Kenapa? Bukankah dengan aku adalah seorang wanita kau juga bebas melakukan apapun padaku? Ayolah, Samuel. Apa yang diberikan Yuna yang tak bisa kuberikan? Tubuhku bahkan lebih indah darinya." Perlahan Marlin membuka pakaian luarnya.
"Menjijikkan." Samuel memalingkan wajahnya tak ingin melihat sedikitpun.
"Apa dengan begitu lalu berpikir kau layak untuk disentuh olehku?" cibirnya sinis.
"Kenapa tidak? Aku seorang wanita yang tak kalah cantik dari Yuna, aku lebih bisa memuaskanmu, kau akan beruntung jika memperistrikan aku, anggun dan berkharisma. Apalagi yang kau inginkan yang tak ada pada diriku?" Lagi-lagi Marlin mendekat dengan meliukkan badannya, berusaha menjerat Samuel akan pesonanya.
"Wah-wah, tidak disangka datang ke sini malah melihat pemandangan seperti ini, kukira dengan identitasmu yang begitu terhormat, juga memiliki sikap yang terpuji, tapi sepertinya aku salah, kau sama bejatnya dengan para lelaki hidung belang itu. Kasihan sekali Yuna memilih lelaki sepertimu." Rangga yang cukup lama tidak memperlihatkan dirinya, kini ia datang hanya sekedar ingin memantau kehidupan Yuna, wanita yang selama ini ia taksir. Berencana untuk menenangkan diri di gudang itu setelah mengetahui identitas Samuel, tapi ia malah tak sengaja melihat Samuel bersama dengan seorang wanita yang sudah setengah b*gil.
"Awalnya aku sudah menyerah akan Yuna, tapi setelah melihat semua ini, aku jadi berpikir untuk kembali merebutnya darimu." Ia pun tersenyum tampak puas.
"Lakukanlah jika kau mampu, aku akan sangat kagum padamu jika kau berhasil mendapatkan hatinya." Samuel masih tersenyum tenang, tak ada sedikit pun kehawatiran di hatinya meski Rangga melihat kesalahpahaman itu.
"Kau benar-benar lelaki kurang ajar, beraninya menusuk Yuna dari belakang, Yuna dulu bahkan rela hidup miskin bersamamu, tapi apa yang kau lakukan? Jangan mentang-mentang sekarang kau memiliki segalanya lantas merasa bebas melakukan sesukamu. Bagaimana jika kuberitahukan Yuna mengenai pemandangan ini? Apakah menurutmu dia akan marah besar?"
"Katakanlah, aku akan sangat berterimakasih padamu jika kau mengatakannya, katakan bahwa Samuel lebih memilihku daripada dirinya." Marlin kembali bergelayutan di tubuh Samuel tanpa rasa malu sedikitpun. Samuel segera menepis tangan Marlin merasa begitu jijik jika tubuhnya disentuh oleh wanita yang menjajalkan tubuhnya pada banyak lelaki.