
Anda di mana, Tuan muda? Pameran akan segera dimulai." Telepon Paman Jimmy pada Samuel.
"Mulai saja, Paman. Lagian aku juga tidak mengekspos diriku di sana, sekarang masih ada di jalan, sepertinya akan terlambat beberapa menit," jawab Samuel dengan tenang.
"Baiklah, Anda hati-hatilah di jalan." Sambungan pun terputus. Samuel kini hanya menyaksikan acara tersebut lewat live melalui ponselnya, kali ini ia menaiki taksi karena mobil mertuanya digunakan oleh Yuna menghadiri pameran tersebut, sementara ia sendiri pun belum ada waktu senggang untuk beli mobil pribadi.
Setelah acara berlangsung cukup lama, Samuel baru tiba di depan gedung perusahaannya, dengan menggunakan kaos polos biasa, hal itu membuat satpam penjaga pintu mencegatnya masuk.
"Perlihatkan kartu undangannya," ujar salah satu satpam.
Samuel menghela napas kasar dan menatap kedua satpam itu, lalu mengeluarkan sebuah kartu undangan dari saku celana, kedua satpam pun tampak menatap Samuel heran, kenapa bisa ada pemuda asal-asalan yang diundang ke acara penting seperti ini, tapi mereka sendiri tak berani mengelakkan fakta bahwa Samuel memang tamu undangan yang pasti harus mereka hormati.
"Silahkan masuk, Tuan." Dengan sedikit membungkuk di hadapan Samuel.
Setelah memasuki ruangan, ternyata pemaran pun baru saja selesai dan ponsel keluaran terbaru mereka terjual dalam waktu 1 menit saja, hal itu membuat perusahaan mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat dari modal awal.
Semua orang menatap ke arah Samuel ketika ia berada di ambang pintu.
"Orang kampung mana yang tersesat di sini?" salah satu dari mereka bersuara dengan lirikan meledek ke arah Samuel, ucapannya tentu saja mengundang gelak tawa semua orang yang ikut menatap prihatin pada pemuda yang datang terlambat itu.
"Samuel? Kenapa dia bisa ada di sini?" Yuna tampak terkejut melihat kedatangan suaminya dan terlebih kenapa harus datang di waktu yang tidak tepat, sama saja sedang mempermalukan diri sendiri.
"Sepertinya dia datang hanya untuk menikmati hidangan mewah saja, tak disangka ada gembel yang bisa menerobos masuk. Bagaimana cara penjagaan perusahaan ini bekerja? Bukankah sangat teledor?" ledeknya lagi.
"Apa-apaan ini, Yuna? Jangan bilang dia datang hanya ingin menjemputmu? Dia bisa menunggu di luar dan kenapa harus masuk mempermalukan diri, apa dia tidak bisa berpikir dampaknya bisa terjadi pada keluarga Santoso dengan sikap lancangnya itu?" tegur Nyonya Santoso, merupakan istri dari kepala keluarga.
"Entah apa yang ada di otaknya sampai berani main-main di perusahaan orang, apa dia kira ia sedang meronda di sebuah pasar?" cibir Marlin dengan suara pelan. Namun, masih bisa didengar oleh Yuna.
"Tidak mungkin, aku ke sini sudah izin terlebih dahulu dan membawa mobil sendiri, tak mungkin ia datang untuk menjemputku." Yuna menggeleng pelan tak percaya bahwa suaminya datang hanya karena alasan konyol itu.
Ia segera ingin mendekati Samuel, tapi neneknya segera mencegah dan melototinya. "Mau apa kau? Ingin ikut mempermalukan diri bersamanya? Kau ingin mereka semua tahu bahwa dia adalah menantu keluarga Santoso dan membuat nama keluarga jadi jelek?" bentaknya geram.
"Tapi, jika aku tidak ke sana, Samuel akan terus dicemooh oleh mereka semua." Raut wajah khawatir tampak jelas di wajah Yuna.
"Diam dan menurutlah, aku akan menghampus namamu dari daftar anggota keluarga jika kau berani untuk datang menghampirinya," timpal Tuan Santoso mengancam. Yuna hanya bisa terdiam menatap kasihan pada suaminya.
Samuel tak menyangka, hanya terlambat beberapa menit saja, ternyata pameran pun selesai dengan cepat, sekarang ia benar-benar seperti orang asing yang sedang mempermalukan diri.
Tidak peduli lagi, meski harus dihapus dari daftar keluarga, asal bisa membantu Samuel, ia pun tak sungkan melakukannya, Yuna melangkah dengan cepat menghampiri Samuel tanpa peduli pada larangan kakek neneknya.
"Lho, bukankah itu cucu keluarga Santoso? Ternyata ada hubungan dengan pria itu. Ck, betapa tidak beruntungnya keluarga Santoso bisa memiliki cucu yang tak pandai memilah pria yang berkualitas." Mereka lagi-lagi tertawa keras.
"Dasar anak nakal, aku akan menghukumnya setelah pulang dari sini," gerutu Nyonya Santoso yang benar-benar merasa malu.
"Benar, Nenek. Hukum saja dia berani tidak mendengarkan Anda." Marlin semakin memanasi.
Dalam hiruk pikuk keramaian yang sedang membahas Samuel, tiba-tiba saja Paman Jimmy dan dua orang anak buahnya datang menghampiri Samuel, semua orang seketika hening memperhatikan.
"Maaf, kami terlambat menyambut Anda." Paman Jimmy membungkukkan badan di hadapan Samuel dan diikuti oleh anak buahnya di belakang.
"Paman, apa yang sedang kau lakukan?" batin Samuel yang merasa tak enak hati pada Paman Jimmy.
"Aku mendapat kabar bahwa kalian mengucilkan tamu terhormatku, apa aku mengundang kalian untuk hal ini?" Paman Jimmy mengedarkan pandangannya pada semua orang yang ada di ruangan. Seketika semuanya terdiam dan menunduk malu.
"Ah, Tuan Jimmy, jangan salah paham dulu, kami benar-benar tidak tahu ternyata pemuda ini adalah tamu terhormat Anda, orang penting benar-benar sangat berbeda, berpakaian biasa hingga membuat kami pun salah paham, kami sangat menyesalinya. Tuan, sudikah Anda memaafkan kami semua?" salah satu orang yang tadi menghina Samuel dengan berani mengajukan diri meminta maaf.
"Keberanianmu boleh juga. Baiklah, tidak masalah, kembali ke tempatmu," jawab Samuel. Ia tak ingin memperpanjang masalah, dibiarkan begitu saja agar dirinya tak menjadi pusat perhatian meski semua telah terlanjur terjadi.
"Anda benar-benar orang yang rendah hati." Lalu ia pun mundur dengan perasaan yang lega. Lagi pula, siapa yang berani menyinggung Jimmy? Kini perusahaan yang ia pegang menjadi salah satu yang terbesar di negara tersebut, tentulah tidak boleh mencari masalah dengannya.
"Mari ikuti saya, Tuan." Paman Jimmy lagi-lagi membungkuk hormat mempersilahkan Samuel untuk jalan terlebih dahulu.
"Yuna, kamu pulanglah terlebih dahulu, aku masih ada urusan di sini, pulang nanti akan kujawab apa yang ingin kamu tanyakan." Samuel tersenyum hangat dan mengelus bahu istrinya lembut. Yuna hanya mengangguk pelan dan menurut, membiarkan suaminya berlalu begitu saja.
Beberapa orang seketika datang menghampiri Tuan Santoso dengan senyum ramah.
"Tidak menyangka ternyata cucu Anda itu pandai memilih lelaki, pemuda yang dihormati oleh Tuan Jimmy, pastilah bukan orang sembarangan, jika mereka menikah, pastilah keluargamu akan semakin berkembang dengan baik," puji salah satu teman bisnis Tuan Santoso.
"Anda bicara apa? Mereka itu sudah menikah, dan pemuda itu sebenarnya cucu menantu kami, tentu saja kami bangga padanya." Seketika Tuan Santoso berubah sikap 180 derajat.
"Wah-wah, tidak menyangka Anda telah menyembunyikan sebuah berlian di dalam keluarga, menantu hebat pastinya telah sangat berjasa dalam keluarga, tak menyangka Anda bisa dapat keberuntungan seperti ini. Namun, saat anak itu tadi dikucilkan, kenapa Anda tidak langsung katakan saja bahwa dia adalah cucu menantumu, dengan demikian mereka mungkin tak akan berani menghinanya."
Yang benar saja, jika Tuan Santoso bersuara, tentulah ia juga akan menjadi bual-bualan mereka, tapi siapa sangka Samuel begitu disambut baik oleh Tuan Jimmy, bahkan ia sendiri pun tidak mampu membayangkan hal itu sebelumya.
"Haha, anak muda yang tangguh dan pemberani, tentunya tidak butuh pertolongan dari seorang kakek tua sepertiku, aku sengaja membiarkannya karena kuyakin dia mampu mengatasinya sendiri, lagian pemuda yang luar biasa tentu tidak suka merepotkan orang lain dalam urusan pribadinya, benar kan?" Tuan Santoso mencoba sebaik mungkin menyangkal kebenaran yang ada pada fakta sebelumnya, ia mampu melakukan pencitraan mendadak.
Setelah kejadian itu, semua tamu tampak begitu menghormati Tuan Santoso, berusaha untuk mendapatkan simpati darinya. Sementara Tuan Santoso pun semakin membanggakan diri, seakan dirinya adalah yang paling terhormat di sana, ia lupa bahwa sebelumnya sangat membenci Samuel dan bahkan tidak hadir di pernikahan cucunya saat itu, lalu sekarang, ia dengan bangganya menyebutkan diri sebagai kakek paling baik yang pantas dihormati. Hanya satu kata saja cukup untuk menggambarkan sikap Tuan Santoso saat ini. Tidak tahu malu.