
"Ini kamar kita, sesuai yang pernah kamu ceritakan, ini kamar impianmu, kan?" Sembari membuka pintu memperlihatkan desain megah bernuansa tradisional. Namun, begitu elegan.
Yuna tersenyum haru melihat pemandangn di hadapannya, selama ini yang hanya ada dalam angan-angan, ternyata dapat terwujudkan tanpa ia duga.
Yuna pun menelusuri setiap sudut ruangan tersebut, benar-benar keindahan yang tak terbatas. Beberapa menit kemudian, kembali tersadar akan satu hal, ia pun perlahan menarik tangan Samuel untuk ikut duduk bersamanya di pinggiran kasur.
"Sam, maafkan aku jika pertanyaan ini membuatmu tak enak hati, tapi ini sangat mengganjal pikiranku, bisakah beritahu aku mengenai semua ini? Kamu membeli mobil dengan begitu mudahnya, diwaktu bersamaan juga memberi kami semua kejutan yang tak ternilai seperti ini, kamu juga bisa lihat sendiri bagaimana keluargaku yang tampak begitu senang dan gembira mendapat kejutan darimu, asal-usul semuanya bukankah aku juga berhak tau?" Pandangannya tampak teduh, kembali berharap bahwa Samuel tidak akan menutupi apa pun lagi darinya, setelah apa yang terjadi, Yuna semakin merasa bahwa Samuel memiliki identitas yang tidak mudah.
Samuel menatap Yuna cukup lama, lalu mengalihkan pandangannya dengan hembusan napas berat merasa bersalah karena terlalu lama menyembunyikan jati dirinya.
"Aku tidak tahu, tak tahu apakah setelah kukatakan kamu akan senang ataupun sedih, atau mungkin juga akan khawatir."
"Katakan saja, apa pun itu aku akan berusaha untuk menerimanya, asalkan kamu berada di jalan yang benar, aku akan selalu mendukungmu."
"Aku adalah seorang ketua dari sebuah klan mafia, pasukan naga merah adalah orang-orangku." Akhirnya Samuel pun mengatakan salah satu identitasnya yang sekarang.
"Klan mafia?" Yuna mengerutkan alisnya tak menyangka.
"Lalu uang yang kamu hasilkan adalah uang haram?" Kerutan dahinya semakin mendalam.
"Yang dilakukan orang-orang mafia itu adalah kejahatan, dari mana lagi mereka mendapatkan pemasukan jika bukan dengan membuat ulah." Yuna terus membantah.
"Baiklah jika itu adalah pandanganmu, percaya atau tidak itu terserah padamu, aku sudah menjelaskan, itu hakmu jika tak ingin percaya, inilah salah satu alasan kenapa aku tak ingin mengatakan identitasku, kau dan yang lainnya juga akan menganggapnya salah."
"Bukan begitu, kamu jangan salah paham dulu, maksudku itu hanya tidak ingin kamu berada di jalan yang salah." Yuna mencoba untuk kembali membujuk.
"Uang untuk membeli semua ini kuhasilkan dari perusahaan pertambangan batu bara dan juga dari Yusa Group, tidak ada campuran dari penghasilan sebagai ketua mafia, aku sama sekali tidak pernah lagi menerima hasil dari klan mafiaku."
"Perusahaan pertambangan dan Yusa Group? Maksud kamu perusahaan terbesar yang baru saja berdiri di negara kita ini?" Yuna bertanya sekali lagi untuk meyakinkan.
"Memangnya perusahaan mana lagi yang bernama Yusa Group?"
Yuna masih terdiam dan tercengang tak percaya. "Maksudnya ...."
"Ya, aku adalah pemilik dari dua perusahaan itu, Tuan Jimmy adalah bawahan ayahku dan sekarang ia bekerja denganku, sebab itulah malam itu dia menyambutku secara langsung dan mengatakan bahwa aku adalah tamu terhormatnya." Satu persatu identitasnya pun ia sebutkan di hadapan Yuna, wanita itu saat ini hanya bisa mengedipkan mata beberapa kali semakin tercengang, seakan dirinya saat ini begitu ringan sehingga dapat terbang di udara, semua terasa kosong, tak mampu mencerna semua itu sekaligus.
"B-bagaimana bisa?" Ia pun kembali tertegun tanpa bergerak dari tempatnya.