
Usai menemui Rendra, Samuel pergi meninggalkan rumah sakit bersama istrinya dan juga Yuni.
"Kalian ada yang mau jalan-jalan di pusat perbelanjaan?" tanya Samuel sambil melajukan mobil menembus jalanan kota.
"Cuma jalan-jalan saja apa gunanya, ke pusat perbelanjaan masih butuh uang setidaknya datang untuk makan, jika tak ada uang rasanya percuma datang ke sana," sahut Yuni dengan wajah yang lesu. Samuel tersenyum tak peduli, ia tetap mengarahkan mobilnya pergi ke pusat perbelanjaan terbesar di kota tersebut.
"Sudahlah, lagian kakak masih bawa uang, kalaupun hanya untuk makan, seharusnya kakak masih bisa bayar," ujar Yuna yang mencoba menyenangkan hati adiknya.
Mereka pun akhirnya melihat-lihat ke dalam, terlihat ada begitu banyak barang dan semua yang diinginkan tersedia dengan lengkap, lalu tanpa sengaja Yuna melihat baju-baju bayi yang bergantungan dengan rapi di depan matanya, ia tersenyum sembari mengelus baju tersebut. "Takutnya nanti Mama tidak bisa membelikanmu pakaian yang semahal ini, tapi tidak apa, Mama akan sebisa mungkin untuk setidaknya membelikanmu pakaian seperti ini jika kau lahir nanti." Ia kembali tersenyum dan mengelus perutnya.
Samuel yang memperhatikan Yuna, berjalan mendekati istrinya. "Apa kau mau ini?" tanyanya.
"Ah, tidak. Lagian usia kehamilanku masih begitu muda, tidak baik jika terlalu cepat membeli peralatan bayi." Yuna menggeleng dengan cepat.
"Astaga, di sini terlalu banyak barang mewah dengan edisi terbatas, dia mampu menodai mataku, Kak." Terlihat Yuni yang sedang heboh dan tampak senang melihat barang-barang yang selama ini sangat ingin ia dapatkan.
"Terlalu senang untuk apa, kita juga tidak bisa membelinya, hanya melihat-lihat saja sudah cukup," jawab Yuna ketus, ia tidak ingin Yuni terlalu berisik hingga mengundang perhatian orang.
"Andai saja aku memiliki pacar yang bisa membelikanku apa pun, pasti aku akan membelikan kakak juga." Akhirnya Yuni sadar akan keterbatasan ekonomi mereka.
"Eh, Yuni. Kau ada di sini juga?" tiga wanita menepuk pundak Yuni dari arah belakang. Yuni tampak terkejut melihat kehadiran mereka di sana.
"Mampus, mereka ada di sini, bisa-bisa akan ketahuan kalau ternyata aku bukan berasal dari keluarga yang kaya." Yuni mulai menggaruk kepalanya panik.
"Yuni, mereka teman-teman kamu?" tanya Yuna.
"Eh, iya, Kak. Temen kuliah aku, kami sering kumpul-kumpul bareng kalau lagi pas weekend," jawab Yuni gelagapan.
"Hai, Kak. Kami temannya Yuni." sapa mereka dengan ramah. Yuna membalasnya dengan senyuman.
"Yun, kita shopping bareng yuk, mumpung kamu lagi ada di sini," ajak mereka.
"Em ... itu, sepertinya sekarang gak bisa deh, kakak iparku udah mau pulang soalnya," tolak Yuni secara halus, ia terpaksa harus berbohong agar identitasnya tidak terbongkar.
"Tidak apa jika kau ingin pergi sama mereka, bawa ini, kau bisa beli apa pun yang kau mau." Samuel memberikan kartu akses pusat perbelanjaan yang di mana kartu tersebut hanya bisa dimiliki oleh orang-orang tertentu. Siapa pun yang memilikinya, mereka bebas membeli apa pun di semua pusat perbelanjaan tanpa harus pusing membayarnya, hanya dengan menujunjukkan kartu itu maka barang yang kau inginkan bisa langsung dibawa pulang.
"Ini apa?" tanya Yuni yang tak tahu apa pun.
"Astaga, Yuni. Kau ini orang kaya yang sedikit udik, bagaimana mungkin kartu itu saja kau tidak tahu, sini biar kujelaskan padamu. Ini adalah kartu akses untuk semua pusat perbelanjaan, dengan adanya ini, kau bebas membeli apa pun selama limitnya tidak habis, ternyata kakak iparmu sungguh peduli padamu, aku jadi ingin punya kakak ipar sepertinya." Mereka tampak heboh setelah melihat kartu pemberian Samuel untuk Yuni, kini mereka tidak lagi ragu mengenai identitas Yuni, pastilah keluarganya sangat kaya.
Yuni tampak tertawa kegirangan, ia dan teman-temannya pun pergi bersama meninggalkan Yuna dan Samuel.
"Kau mendapatkan itu dari mana?" tanya Yuna sedikit curiga.
"Tidak usah berpikir terlalu jauh, intinya aku memiliki sesuatu yang saat ini belum bisa kuberitahukan padamu, aku berjanji setelah anak kita lahir, aku akan memberitahumu semuanya tentang diriku, tapi kau harus berjanji untuk tidak marah apalagi meninggalkanku begitu saja, apakah bisa?" Samuel menatap Yuna dengan raut wajah yang serius.
"Dari awal bertemu, aku sudah tahu kau itu pria yang misterius, tapi aku juga tidak bisa menolak bahwa hatiku malah mencintaimu, jadi aku tidak akan meninggalkanmu seperti apa pun kondisinya." Yuna tersenyum hangat dan memeluk Samuel. dengan erat.
"Saat ini dan kedepannya, aku memiliki banyak musuh dan aku sendiri masih belum bisa berhenti untuk mengurus klanku, aku takut jika membongkar identitas ini, maka kau dan orang-orang terdekat lainnya akan menjadi incaran mereka. Karena di saat mereka tahu bahwa aku memiliki keluarga, maka mereka akan tahu kelemahanku." Samuel membatin, tak peduli betapa kejam dirinya, di dalam hati ia tetaplah memiliki rasa takut, takut kehilangan orang-orang yang selama ini ia lindungi.
"Di tempat umum begini malah berpelukan, kalian ini sedikit tidak menghargai orang bukan?" Terdengar suara seorang lelaki yang menegur mereka.
Mereka pun akhirnya menoleh pada pria itu, entah mengapa selalu ada saja kebetulan yang terjadi, kini kembali bertemu dengan Rangga.
"Apa kabar, Yuna? Sepertinya kau sangat menikmati waktu cutimu, ya. Sudah bisa shopping setelah mendapat bonus dari perusahaan, aku ikut terharu melihat kebahagiaanmu." Ucapan dan ekspresi Rangga penuh akan ledekan, ia yang tak suka akan kebijakan perusahaan, tentu saja mulai tak puas terhadap Yuna, apalagi wanita itu selalu menolak cintanya dan tetap memilih setia pada Samuel.
"Apa kau ada masalah dengan pasangan suami istri yang sedang bahagia? Tunggu, aku tebak kau sepertinya sedang iri pada kebahagiaan orang, kan? Hidupmu tak sebahagia yang kau bayangkan, tentu saja semuanya terlihat menyedihkan dan kau selalu tak puas pada kami yang hidup tentram." Samuel balik meledek dengan senyuman yang membuat Rangga semakin jengkel.
Samuel merangkul Yuna untuk pergi dari hadapan Rangga, tapi Rangga yang tidak tahu malu itu pun meneriakinya. "Hei, sampah! Kau mau ke mana? Apa kau merasa yakin bahwa kau mampu untuk membeli barang di sini? Orang yang tak punya uang lebih baik jadi babu saja sana di rumah, membuat malu diri sendiri bahkan masih ingin menyeret wanita, dasar tak tahu malu!" hardiknya dengan sambil menunjuk ke arah Samuel.
Tak hanya sampai di situ, melihat Samuel yang mengabaikannya begitu saja, ia kembali berseru, "Lihat saja, akan kubuat kau ditendang keluar dari sini!"
Rangga akhirnya menghubungi seseorang dengan ponselnya, sembari terus mengikuti Samuel dan Yuna.
"Dia benar-benar seperti seorang penjahat dengan menguntit kita seperti itu," bisik Yuna pada Samuel, sedikit tidak suka karena Rangga benar-benar tak menghiraukan privasi seseorang.
Tak lama seorang pria paruh baya datang dengan dua satpam yang berjalan di belakangnya. "Ada masalah apa?"
"Itu, mereka ingin mencuri di tempat Anda, Tuan. Tangkap dan usir saja dia." Rangga menunjuk ke arah mereka.
"Apakah ada buktinya mereka mencuri?" tanya pemilik mall tersebut.
"Anda tidak seharusnya meragukan saya, coba Anda lihat pakaian pria itu, sangat tidak layak dipandang, mau ngapain dia di sini jika tidak untuk mencuri?" Rangga mencoba meyakinkan pemilik mall tersebut.
Pria paruh baya itu pun menghampiri Samuel dan Yuna yang sedang melihat-lihat barang. "Permisi, saya mendapat laporan kalau kalian mencuri barang, kami akan menggeledah tas Anda."
"Kena kau, bagaimana rasanya dipermalukan di tempat umum? Rasakan akibatnya." Rangga tersenyum puas dan senang.
Saat Samuel berbalik badan, seketika pria itu terbelalak kaget dengan jantung yang berdetak cepat. "T-Tuan muda, Anda ada di sini?" Ia pun mulai gugup berhadapan dengan Samuel.
Mata elang milik Samuel menyiratkan sebuah kebencian pada mereka semua yang berani menuduhnya mencuri. "Berlutut sekarang," titahnya begitu geram. Tak peduli pria itu mengetahui idetitasnya sebagai apa, berani memanggilnya Tuan muda, ia pasti tahu sesuatu tentang kehidupannya.
Seketika tanpa pikir panjang pria itu pun bersujud di kaki Samuel meminta ampun karena berani menuduhnya, tak perlu ditanyakan lagi bagaimana reaksi Rangga ketika melihat pemilik mall itu seketika bersujud di depan seseorang yang ia anggap sebagai sampah, terlebih memanggilnya dengan sebutan Tuan muda, itu tak bisa diterima dengan akal sehatnya.
"Kau benar-benar membuatku kehabisan kesabaran, besok kau tidak perlu pergi bekerja lagi, kupastikan perusahaan akan memecatmu detik ini juga," cibir Samuel begitu dingin, ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Pak Baskoro, direktur utama di perusahaan Rangga bekerja.
Tak sampai dua menit setelah pesan terkirim, ponsel Rangga tiba-tiba berdering dan ia sampai melotot tak percaya akan keputusan atasannya yang memecat tanpa alasan.
Usai Pak Baskoro menutup teleponnya, Rangga seketika jatuh berlutut di hadapan Samuel, tubuhnya terasa kaku dan gemetar. "T-Tuan, tak peduli apa pun identitas Anda, tolong jangan pecat saya, tolong katakan pada Pak Baskoro untuk menerima saya kembali, saya mohon." Kini Rangga sudah paham bahwa Samuel benar-benar bukan orang yang bisa diprovokasi seenaknya, identitasnya terlalu berharga sampai semua orang tampak tunduk padanya.
"Sekarang ingin menjilat pun tak ada gunanya, pulang dan renungi kesalahanmu, akan kupertimbangkan kembali setelah kau benar-benar sadar siapa dirimu dan siapa pula aku." Samuel pun pergi meninggalkan mereka yang masih berlutut, masih tak berani untuk mendongakkan kepala karena terlalu takut untuk sekedar melihat ekspresi Samuel.