The Greatest Mafia Lord

The Greatest Mafia Lord
Kelicikan Tuan Daniel



Keesokan hari, saat satu keluarga tengah sarapan, kembali terdengar ketukan pintu yang membuat mereka semua menoleh, penasaran siapa gerangan yang bertamu di pagi hari.


"Yuni, kamu pergi lihat," perintah ibunya. Yuni hanya mengangguk datar lalu beranjak meninggalkan sarapannya.


Tak lama kemudian Yuni kembali masuk dengan wajah yang sedikit pucat, diiringi dengan rasa penasaran mereka semua akan kedatangan siapa yang membuat Yuni berwajah tak sedap.


"Dia kembali mencari kakak ipar?" ujar Yuni merasa tertekan.


"Siapa?"


"Tuan Daniel."


Bu Rosi memukul meja pelan dan merasa geram. "Mau apa lagi bedebah itu datang ke sini? Benar-benar membuatku kehilangan kesabaran." Ia beranjak berencana untuk melabrak Tuan Daniel yang dianggapnya begitu lancang datang dan pergi dari rumahnya, meski itu sebenarnya hanyalah pencitraan saja agar Samuel mengira ia benar-benar mertua yang baik.


"Biar aku saja, dia hanya punya urusan denganku." Dengan tanpa ekspresi Samuel meninggalkan mereka dan pergi menemui orang yang sedang mencarinya. Yuna membuntuti Samuel karena khawatir akan suaminya, lalu disusul pula dengan yang lainnya.


"Selamat pagi Tuan Daniel, sepertinya pertemuan kemarin terlalu singkat hingga membuat Anda begitu terburu-buru untuk datang mencari saya kembali. Apakah Tuan Daniel yang terhormat ini masih belum mengerti akan ucapan saya kemarin?" Samuel menghadapi lelaki paruh baya itu dengan tenang sembari tersenyum.


"Kamu benar, aku memang tidak sabar untuk menemuimu hingga datang mengganggu di pagi buta, semoga kalian sekeluarga tidak terganggu dengan kedatanganku." Lalu ia tersenyum sembari menatap anggota lain yang berdiri di belakang Samuel.


"Aku datang dengan niat baik," lanjutnya sembari menyerahkan sebuah undangan kecil pada Samuel.


"Berdamai adalah yang terbaik, datanglah ke acara ulang tahunku malam ini, anakku juga ingin meminta maaf secara langsung padamu, sayangnya dia tidak bisa datang bersamaku dikarenakan keadaannya yang kurang baik, harap kalian sekeluarga sudi untuk hadir." Tuan Daniel terus tersenyum menampilkan sikap terbaiknya di hadapan Samuel.


"Jarang sekali seorang konglomerat seperti Anda bisa tertarik untuk datang langsung ke rumah ini hanya untuk memberikan kartu undangan, suatu kehormatan bagi kami atas ketulusan Anda, tapi maaf aku tidak bisa mempersilahkan Anda masuk karena itu bukan wewenangku, tapi Anda tenang saja, kami semua akan datang tepat waktu." Sebuah senyuman sebagai balasan untuk Tuan Daniel, tapi senyuman yang diberikan oleh Samuel tentu saja menyiratkan sebuah ledekan, bagaimana mungkin ia bisa percaya begitu saja pada pria itu.


"Aku hanya ingin memastikan bahwa undangannya benar-benar sampai ke tanganmu. Mendengar kalian akan datang, maka aku sedikit lega dan bisa undur diri, sampai jumpa kembali untuk malam ini." Tidak terlihat ada tanda kelicikan pada sikapnya, ia bahkan sedikit menunduk pada Samuel lalu pergi meninggalkan kediaman Pak Fandi.


"Apa kau yakin dia benar-benar hanya ingin berdamai? Aku merasa tidak semudah itu baginya untuk meminta maaf dengan cepat." Pak Fandi tampak masih begitu gelisah.


"Jika Papa tidak yakin, Papa bisa tidak ikut ke acaranya, tinggal di rumah lebih baik untuk berjaga-jaga," jawab Samuel.


"Ada kamu, untuk apa Papa cemas? Papa akan ikut, untuk berjaga-jaga barangkali mereka ingin mencelakai keluarga kita, jangan remehkan Papa, meski sudah tua Papa juga masih bisa membela diri." timpalnya tak mau kalah. Samuel hanya tersenyum sedikit senang, ternyata ayah mertuanya begitu mempercayainya.


"Astaga, apa tua bangka itu benar-benar menyukai permainan olahraga? ulang tahunnya bahkan diadakan di stadion sepak bola, seberapa banyak orang yang akan dia undang?" celoteh Yuni yang merasa kaget dengan lokasi acaranya.


"Hust, ada banyak orang di sini, jaga sikapmu," tegur Yuna.


Kedatangan mereka disambut oleh dua orang pelayan yang akan mengarahkan jalan menuju ke kursi mereka, mereka mendapatkan tempat yang berseberangan dengan keluarga Tuan Daniel, di sana juga tampak Rendra yang masih menggunakan perban di beberapa bagian tubuhnya.


"Lihat bedebah itu, menatapnya membuatku jijik, bisa-bisanya dia bahkan mengundang selingkuhannya dan duduk bersebelahan, tidak tahu malu," cibir Yuni begitu geram melihat mantan kekasihnya dan juga Marlin.


"Tapi, Kak. Apa kau merasa tidak ada yang aneh? Ini acara ulang tahun, bukan? Kenapa tidak ada kue tart yang dihiasi lilin, dia tidak mungkin ingin membelah sebuah bola sepak sebagai kue ulang tahunnya, kan?" Entah apa yang merasuki Yuni kali ini, ia bahkan tak berhenti mencibir dan berkomentar, entah mengapa semuanya menjadi titik perhatiannya.


"Apa kau tidak bisa diam? Pulang saja jika kau ingin mempermalukan keluarga," tegur Bu Rosi sedikit geram dengan anaknya. Dan barulah Yuni tidak lagi bersuara.


beberapa menit setelah semua tamu undangan datang dan duduk dengan tentram, Tuan Daniel beranjak dan naik ke panggung yang sudah disediakan sebuah microfon, ia mengetuknya beberapa kali lalu menyapa tamu undangannya.


"Seperti yang Anda tahu, malam ini akan menjadi sebuah tontonan yang sangat menarik, pertandingan antara Zodi Tamoro yang akan melawan seseorang yang berani memusuhi keluarga Daniel, seperti yang Anda lihat. Anakku, Rendra. Ia menjadi seperti itu karena ulah seseorang. Dan masih berani menantang kami hingga terjadilah kesepakatan ini. Seperti yang kalian semua tahu, Zodi Tamoro bukan lagi nama asing yang tidak pernah kalian dengar, masing-masing pasti tahu latar belakangnya, kali ini kami menghadirkannya untuk bertarung dengan seseorang tersebut, mari kita sambut, Zodi Tamoro sang legenda dipersilahkan memasuki area." Gemuruh memuncak, suara tepuk tangan dan teriakan mereka menderu-deru tatkala melihat seseorang bertubuh tinggi dan kekar, kepala botak dan jambangnya semakin mengundang rasa ngeri tersendiri saat dilihat.


Ia seorang ahli seni bela diri dan juga memegang kandidat sebagai seorang master menakutkan, sebab entah berapa banyak lawan yang ia tumbangkan dalam setiap pertandingannya, ia juga bahkan pernah beberapa kali ditolak untuk mengikuti pertandingan karena dianggap terlalu menakutkan, membuat orang bisa menebak siapa yang akan menjadi pemenangnya hingga pertandingan dianggap tidak lagi menarik. Kali ini Tuan Daniel benar-benar menghabiskan banyak uang hanya untuk mengundang seorang master bela diri.


Tuan Daniel turun dari panggung dan dilanjutkan oleh pembawa acara.


"Mari kita sambut lawan yang menantang Tuan Zodi Tamoro. ia seorang menantu di keluarga Santoso, kepada Tuan Samuel, kami persilahkan memasuki area pertandingan!" seru pembawa acara dengan tenang, seketika beberapa lampu stadion menyorot ke arah Samuel, membuat ia menjadi pusat perhatian semua orang. Tentu saja hal itu membuat Pak Fandi sekeluarga ikut terkejut sekaligus panik.


"Apa-apaan ini? Beraninya dia menipu kita!" geram Pak Fandi tak terima, wajahnya memerah diiringi dengan keringat yang bercucur deras di dahinya.


Samuel masih tak bergeming, bahkan matanya juga tak berkedip menyorot tajam ke arah Tuan Daniel yang kini tersenyum sinis penuh ledekan.


Wajah Yuna menjadi semakin pucat, sekujur tubuhnya seakan menggigil tak karuan, ia menggenggam tangan suaminya dengan sorot mata ketakutan. "Please, jangan pergi, tetaplah di sini dan jelaskan pada semua orang bahwa ini hanya kesalahpahaman. Kumohon, Sam." Suaranya bergetar hebat sembari mengguncang tangan Samuel.


Rendra menaikkan jari tengahnya dengan tatapan menghina ke arah Samuel, membuat Samuel sendiri merasa jijik dan geram, semua orang juga menyoraki Samuel dengan kata-kata umpatan dan makian, membuat posisinya sendiri semakin terpojok.